"Aku ingin menikah denganmu, Naura."
"Gus bercanda?"
***
"Maafin kakak, Naura. Aku mencintai Mas Atheef. Aku sayang sama kamu meskipun kamu adik tiriku. Tapi aku gak bisa kalau aku harus melihat kalian menikah."
***
Ameera menjebak, Naura agar ia tampak buruk di mata Atheef. Rencananya berhasil, dan Atheef menikahi Ameera meskipun Ameera tau bahwa Atheef tidak bisa melupakan Naura.
Ameera terus dilanda perasaan bersalah hingga akhirnya ia kecelakaan dan meminta Atheef untuk menikahi Naura.
Naura terpaksa menerima karna bayi yang baru saja dilahirkan Ameera tidak ingin lepas dari Naura. Bagaimana jadinya kisah mereka? Naura terpaksa menerima karena begitu banyak tekanan dan juga ia menyayangi keponakannya meskipun itu dari kakak tirinya yang pernah menjebaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bani Tau Siapa Rendra
Lima hari pasca persalinan darurat itu, akhirnya dokter memperbolehkan Laras dan bayinya pulang. Tubuh Laras memang masih lemah, tapi wajahnya terlihat jauh lebih tenang. Nyawa yang Allah titipkan di rahimnya kini terbaring hangat dalam balutan kain putih di gendongannya.
Bani berdiri di samping ranjang, tangannya sigap merapikan tas dan perlengkapan bayi. Tatapannya tak lepas dari Laras—ada syukur, ada lega, dan ada ketakutan yang belum sepenuhnya pergi.
“Pelan-pelan ya, Mas,” lirih Laras saat Bani membantunya bangkit.
“Iya. Pegang aku,” jawab Bani lembut, nadanya protektif tanpa sadar.
Bani menggendong bayi mereka lebih dulu. Tangannya sedikit kaku—seperti pertama kali, namun penuh kehati-hatian. Ia membuka pintu mobil, memastikan jok bayi sudah siap, lalu kembali membantu Laras masuk.
Begitu mobil berhenti di halaman rumah, suara kecil yang begitu dirindukan menyambut.
“BUNDAAA!” “PAPAAA!”
Ameera dan Naura berlari kecil, namun segera dihentikan oleh Umi Nafisah yang mengangkat tangannya. “Pelan-pelan, sayang. Ada adik bayi.”
Naura langsung berhenti, matanya membulat penuh takjub. Ameera refleks menggenggam tangan adiknya.
“Adiknya Naura?” bisik Naura nyaris tak terdengar.
Bani tersenyum tipis. “Iya, sayang.”
Umi Nafisah mendekat, matanya berkaca-kaca saat melihat bayi mungil itu. Abi Zaki berdiri di sampingnya, wajahnya penuh haru yang ditahan. “MasyaAllah…” Nafisah berbisik. “Alhamdulillah… akhirnya pulang juga.”
Bani menyerahkan bayi itu perlahan pada Umi Nafisah.
“Inilah… Arsyan Zavier Atmadja.”
Umi Nafisah menutup mulutnya, air mata jatuh tanpa bisa dicegah. “Nama yang indah… semoga dia tumbuh menjadi anak yang kuat dan penuh keberkahan.”
Naura mendekat perlahan, seolah takut napasnya saja bisa mengganggu.
“Umi… boleh Naura lihat dekat?”
Nafisah mengangguk. Naura menunduk, matanya berbinar. “MasyaAllah… adik Arsyan ganteng.”
Ameera ikut mencondongkan badan. “Ameera janji bakal jagain adik.”
Laras yang duduk di kursi roda didampingi Bani—menatap pemandangan itu dengan mata basah. Tangannya refleks menggenggam jemari Bani. “Terima kasih, Mas,” ucapnya lirih.
Bani menoleh, lalu mengangguk pelan. “Alhamdulillah… kamu kuat.”
Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang masih tertinggal di dada Bani. Ingatannya kembali pada hari-hari di rumah sakit—tatapan Rendra yang terlalu cemas, perhatian yang berbeda antara Ameera dan Naura, dan kegelisahan yang tak sempat ia tanyakan.
Bani menatap Ameera yang kini berdiri paling depan, wajahnya bersinar penuh kebahagiaan.
"Semoga ini hanya perasaanku," batinnya.
"Aku tidak boleh curiga tanpa alasan. Keluargaku sudah cukup melewati banyak badai."
Ia menghela napas panjang, lalu melangkah masuk ke rumah—membawa harapan baru, bersama bayang-bayang konflik yang perlahan mulai mengetuk.
***
Hubungan Aurel dan Rendra, dari luar tampak baik-baik saja. Senyum mereka terlihat serasi di hadapan banyak orang. Namun di dalamnya, ada jarak yang tak pernah benar-benar terjembatani.
Rendra tak pernah lagi memandang Aurel dengan mata yang sama seperti dulu. Ada kekecewaan yang mengendap, tumbuh menjadi dinding sunyi di antara mereka. Ia tak bisa melupakan bagaimana Aurel bersama ayahnya telah menghancurkan pernikahannya dengan Laras. Pernikahan yang dulu ia jaga dengan sepenuh hati, kini tinggal kenangan yang sesekali menyayat tanpa peringatan.
Saat kebenaran itu terungkap—bahwa anak yang dikandung Aurel kala itu bukanlah darah dagingnya, Rendra ingin pergi. Ia ingin bercerai. Ingin mengakhiri semuanya. Namun takdir kembali menahannya.
Aurel hamil.
Kali ini, benar-benar anak kandungnya.
Rendra terdiam di persimpangan yang sama menyakitkannya. Ia tak sanggup mengulangi kesalahan yang sama. Ia tak ingin meninggalkan anaknya lagi, seperti dulu ia kehilangan Laras dan tanpa ia sadari kehilangan Ameera juga.
Akhirnya, Rendra bertahan.
Bukan karena cinta yang utuh. Bukan karena bahagia. Melainkan karena tanggung jawab.
Ia ingin anak keduanya tumbuh dengan orang tua yang lengkap. Ia ingin menjadi ayah yang hadir, meski hatinya tak sepenuhnya ada. Meski cintanya pada Aurel tak pernah benar-benar pulih, bahkan mungkin tak pernah ada sejak awal.
Hubungan mereka pun berjalan apa adanya—formal, datar, dan dingin. Tak ada kehangatan, hanya komitmen. Tak ada pelukan penuh rasa, hanya peran yang dijalani dengan kewajiban.
Dan di sudut hatinya yang paling sunyi, Rendra masih menyimpan satu nama yang tak pernah pergi.
Laras.
Nama yang tetap hidup, meski waktu terus berjalan. Nama yang menjadi luka, sekaligus pengingat, bahwa tidak semua yang dipertahankan berakhir dengan bahagia.
***
Seminggu setelah Arsyan pulang ke rumah. Hari ini rumah Bani ramai oleh lantunan shalawat dan doa. Aqiqah Arsyan digelar sederhana namun khidmat. Beberapa kerabat dekat, santri pesantren, serta keluarga Nafisah–Zaki hadir memenuhi rumah. Laras duduk di ruang tengah, memangku Arsyan yang terlelap tenang. Wajahnya pucat namun damai.
Bani berdiri tak jauh dari istrinya, menyambut tamu satu per satu. Senyumnya ramah, sikapnya tenang. Namun di dalam dadanya, ada sesuatu yang mengeras sejak pagi.
Rendra dan Aurel datang bersama.
“Assalamu’alaikum,” sapa Rendra sopan.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Bani singkat.
Tatapan mereka bertemu. Datar. Kaku. Tidak ada senyum persahabatan seperti dulu—hanya dua lelaki yang sama-sama tahu, hari ini bukan sekadar acara aqiqah.
Aurel menyalami Laras lebih dulu.
“Selamat ya, Laras. Anaknya ganteng.”
“Terima kasih,” jawab Laras pelan, menjaga jarak.
Namun sejak langkah pertama memasuki rumah itu, Bani memperhatikan satu hal yang mengganggu pikirannya.
Tatapan Rendra.
Bukan pada Arsyan. Bukan pada Aurel.
Tatapan itu—berulang kali—jatuh pada Laras.
Dan… Ameera.
Setiap Ameera berlari kecil menyambut tamu, setiap ia tertawa polos di dekat ibunya, mata Rendra selalu mengikutinya. Ada getar yang tak bisa disembunyikan. Ada kehati-hatian berlebihan. Ada rasa… kehilangan.
Dan Bani melihat semuanya.
Saat Ameera duduk di dekat Rendra untuk mengambil kue, Rendra refleks merapikan hijab Ameera yang sedikit miring. Gerakan kecil. Naluriah. Terlalu naluriah untuk sekadar “ayah temannya”.
“Pelan-pelan makannya,” ucap Rendra lembut.
Bani mengepalkan tangan.
Beda.
Perhatian itu beda dengan yang Rendra berikan pada Naura. Pada Naura, Rendra bersikap ramah—wajar, sopan, seperti orang dewasa pada anak kecil. Tapi pada Ameera… ada kelembutan yang lahir dari darah.
Dan Bani tahu.
Dadanya sesak.
Bukan cemburu.
Bukan marah.
Takut - Takut kehilangan.
Tak lama kemudian, acara doa aqiqah dimulai. Semua duduk bersila. Arsyan digendong Laras, Ameera duduk di sisi kanan ibunya, Naura di sisi kiri. Bani duduk tepat di belakang mereka.
Rendra berada di seberang.
Saat doa dipanjatkan, Bani menunduk. Tapi matanya terbuka. Ia melihat Rendra memejamkan mata erat—dan air mata jatuh diam-diam saat ustadz mendoakan anak-anak agar menjadi penyejuk mata orang tua.
Air mata itu jatuh… tepat ketika ustadz menyebut kata anak.
Deg!
Setelah acara selesai, Bani mendekat ke Rendra. “Pak Rendra,” ucapnya tenang, terlalu tenang.
“Bisa bicara sebentar?”
Rendra mengangguk. “Tentu.”
Mereka melangkah ke teras belakang. Jauh dari keramaian.
“Tatapan Anda ke istri saya,” kata Bani pelan tapi tajam, “dan ke Ameera… berbeda.”
Rendra terdiam.
“Saya tidak bodoh,” lanjut Bani. “Dan saya bukan orang yang gampang dibohongi.”
Rendra menghela napas panjang. Wajahnya menegang. “Kalau begitu… sepertinya memang waktunya saya jujur.”
“Jujur tentang apa?” suara Bani bergetar tipis.
Rendra menatap ke dalam rumah—ke arah Ameera yang sedang tertawa bersama Naura. “Saya adalah bagian kelam dari masa lalu Laras, istri anda Pak Bani. Bahwa ada dosa besar di masa lalu,” ucapnya lirih. "Tanpa sengaja, saya menyakitinya dan Laras pergi saat tengah mengandung. Dan Ameera… adalah anak saya.”
Udara seakan berhenti.
Bani tak bergerak. Tak berteriak. Tak memukul.
Namun sesuatu di dalam dirinya runtuh perlahan. “Mulai detik ini,” ucap Bani akhirnya, suaranya dingin dan tegas,
“Ameera adalah anak saya. Secara hukum. Secara agama. Secara hidup.”
Rendra menunduk. “Saya tidak berniat mengambilnya.”
“Tapi tatapan Anda,” balas Bani tajam, “mengatakan sebaliknya.”
Rendra mengangkat wajahnya, matanya merah. “Saya hanya ingin… dia tau siapa saya.”
“Tidak,” potong Bani. “Yang dia tau hanya satu ayah. Dan itu saya.”
Sunyi.
Dari dalam rumah, terdengar tangis kecil Arsyan.
Bani menoleh sebentar—lalu kembali menatap Rendra.
“Jangan pernah ulangi kesalahan yang sama,” katanya dingin. “Karena kali ini… saya tidak akan diam.”
Bani melangkah pergi, meninggalkan Rendra berdiri sendiri.
Di balik pintu, Laras menutup mulutnya menahan isak.
Ia tau… badai besar baru saja dimulai.
Dan aqiqah Arsyan—yang seharusnya penuh berkah menjadi awal dari konflik paling menyakitkan dalam hidup mereka.
***
Sore saat baru saja aqiqah telah selesai, rumah terasa lebih tenang dari biasanya. Arsyan tertidur pulas setelah disusui, sementara Naura sibuk menggambar di ruang tengah. Ameera duduk di samping Laras, memeluk bantal kecilnya. Sejak aqiqah adiknya, Ameera terlihat lebih banyak diam. Tatapannya sering kosong, seolah ada pertanyaan yang ia simpan terlalu lama.
“Bunda…” panggil Ameera pelan.
“Iya, sayang?” Laras menoleh, tersenyum lembut.
Ameera memainkan ujung bajunya. Napasnya naik turun kecil, jelas gugup. “Siapa papa kandung Ameera?"
Deg!
Laras membeku.
Pertanyaan itu akhirnya datang. Pertanyaan yang selama ini ia takutkan, ia tunda, ia kubur dalam doa-doa panjang setiap malam.
“Kan Bunda, sudah pernah mengatakan, bahwa papa kandung Ameera sudah meninggal.” jawab Laras hati-hati.
Ameera mengangguk pelan, lalu kembali bertanya dengan suara lebih lirih, “Terus… kenapa waktu di acara aqiqah kemarin… Om Rendra selalu lihat Ameera lama banget?”
Jantung Laras berdegup tak beraturan. Tangannya refleks menggenggam jemari Ameera.
“Kamu kenapa mikir begitu?” tanyanya berusaha tenang.
“Soalnya… waktu Ameera jatuh hampir nabrak meja, Om Rendra langsung lari ke Ameera. Cara dia pegang Ameera tuh beda, Bun. Kayak… kayak Papa Bani kalau pegang Naura.”
Mata Laras mulai basah. Anak sekecil itu ternyata peka. Terlalu peka. “Ameera…” Laras menarik Ameera ke pelukannya. “Dengar ya sayang, apapun yang terjadi, Ameera itu anak yang sangat dicintai. Sama Bunda. Sama Papa Bani.”
Ameera bersandar di dada Laras. “Tapi Ameera punya ayah lain ya, Bun?” tanyanya polos, tanpa tuduhan. Hanya ingin tahu.
Air mata Laras akhirnya jatuh. Diam-diam, tanpa suara. “Ameera…” suaranya bergetar. “Kalau suatu hari nanti Bunda cerita semuanya, Ameera janji gak benci Bunda?”
Ameera mengangkat wajahnya, mengusap pipi Laras yang basah. “Ameera gak pernah bisa benci Bunda. Bunda yang paling baik sama Ameera.”
Tangis Laras pecah dalam pelukan anaknya.
Dari ambang pintu kamar, Bani berdiri terpaku. Ia baru saja hendak masuk ketika mendengar percakapan itu. Kata-kata Ameera terngiang jelas di kepalanya.
‘Om Rendra pegang Ameera kayak Papa pegang Naura…’
Dadanya terasa sesak. Potongan-potongan kejadian mulai menyatu: tatapan Rendra, sikap protektifnya pada Ameera, kegugupannya setiap Laras sakit.
Bani mengepalkan tangan.
Di dalam kepalanya hanya satu kalimat yang berulang. “Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku?”
Malam itu, Bani tau—kebenaran tak bisa lagi ditunda.
Dan ketika kebenaran itu terungkap, tak ada jaminan hatinya akan tetap utuh seperti sebelumnya.
***
Malam setelah acara aqiqah Arsyan selesai terasa sunyi, meski tadi di penuhi oleh tamu acara aqiqah.
Tangisan bayi sudah reda. Ameera dan Naura tertidur pulas.
Hanya ada mereka berdua di ruang keluarga.
Bani duduk di sofa, punggungnya tegak, wajahnya tenang—terlalu tenang.
Laras berdiri di dekat pintu, jemarinya saling menggenggam, dadanya sesak. “Mas…”
Suaranya gemetar. Bani menoleh perlahan. “Duduk, Laras.”
Nada itu bukan marah.
Justru itulah yang membuat Laras semakin takut.
Laras duduk di ujung sofa, menjaga jarak.
Keheningan kembali menekan. “Aku sudah tau semuanya,” kata Bani akhirnya.
“Tentang Rendra.”
Tentang Ameera.”
Deg
Air mata Laras langsung jatuh. “Mas…”
“Aku mau dengar dari kamu,” potong Bani pelan. “Bukan dari orang lain. Bukan dari potongan cerita. Dari kamu.”
Laras menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian yang selama ini ia simpan. “Aku ingin cerita, Mas saat aku tau masa lalu itu kembali,” ucapnya lirih. “Sungguh. Di hari ulang tahun anak Rendra… aku sudah berniat. Tapi… aku belum sempat. Aku kontraksi. Aku panik. Aku takut kehilangan Arsyan.”
Bani mengepalkan tangannya. “Dan sebelum itu?”
Tangis Laras pecah. "Aku gak tau sama sekali bahwa rekan bisnis kamu itu adalah Rendra. Kalau aku tau, aku pasti akan langsung cerita sama kamu, Mas. Itu luka lama yang gak mau aku ingat lagi. Aku juga gak tau kenapa mereka hadir lagi dalam hidup aku."
Bahu Laras bergetar. “Aku takut kehilangan Ameera!”
“Aku takut kamu berubah memandangku!”
“Aku takut hidup yang susah payah aku bangun… hancur lagi!”
Ia menutup wajahnya. “Aku sudah kehilangan segalanya waktu itu. Ibuku. Rumah. Pernikahanku. Harga diriku.”
“Ameera satu-satunya alasanku bertahan.”
Bani berdiri. “Kamu berhak takut,” katanya tertahan.
“Tapi aku juga berhak tau.”
Ia menghela napas panjang. “Aku menerima kamu dengan masa lalu. Dengan luka. Dengan Ameera.”
“Tapi bukan dengan kebohongan.”
Laras menatapnya, mata sembab. “Aku tidak pernah berniat membohongimu selamanya.”
“Ameera adalah anakku, Mas. Aku yang mengandung, melahirkan, membesarkan.”
“Rendra tidak pernah ada di hidup kami.”
“Namun darahnya tetap ada,” jawab Bani pelan.
Sunyi.
“Aku tidak ingin Ameera diambil,” lanjut Laras gemetar.
“Kalau itu yang Mas pikirkan… aku akan mati-matian mempertahankannya.”
Bani menatap istrinya lama.
Ada luka. Ada kecewa.
Tapi juga ada cinta yang belum padam.
“Ameera adalah anakku,” ucapnya tegas. “Ayah bukan hanya soal darah.”
“Ayah adalah orang yang menjaga, melindungi, dan pulang.”
Laras tersedu.
“Tapi kamu harus janji satu hal,” lanjut Bani. “Tidak ada lagi rahasia.”
“Apa pun. Seberat apa pun.”
Laras mengangguk cepat. “Aku janji, Mas. Aku bersumpah.”
Bani menutup matanya sejenak, lalu membuka kembali—lebih basah, lebih manusiawi.
"Aku tau kamu tidak ingin membuka luka itu lagi. Tapi aku janji, luka dari masa lalu itu tidak akan mengusik kita lagi. Aku akan terus di samping kamu, sayang."
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah lama, mereka menangis bukan karena ingin pergi—melainkan karena ingin bertahan.