Spion Off "Tuan Muda Amnesia"
Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.
Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.
Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan
Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma
Keheningan menemani sepasang kekasih di dalam mobil yang melaju perlahan. Sesekali suara klakson dan rintik hujan menyapa ruang sepi di antara mereka usai pertengkaran kecil terjadi. Atau mungkin lebih tepatnya bentakan Arumi pada Liam akibat sikap pria itu yang menurutnya tidak baik.
Rintik hujan dan embun di kaca mobil menjadi pusat perhatian Arumi, sesekali helaan napas terdengar. Sedangkan di sampingnya ada Liam yang perhatiannya tertuju pada Arumi saja.
"Sayang," panggil Liam lembut dan begitu tenang. Pria itu menyentuh pundak Arumi.
Arumi pun menoleh dengan mata berkaca-kaca, tanpa kata Liam langsung menarik wanita itu kepelukannya dan mengumamkan maaf berulang kali.
"Aku nggak suka sikap mas yang arogan dan nggak menghargai orang lain."
"Mas akhir-akhir ini menunjukkan banyak perubahan yang kadang membuatku terkejut dan bertanya," omel Arumi dalam pelukan kekasihnya, air matanya terus berjatuhan dan sesekali mencubit kecil lengan Liam.
Namun, pria itu tidak bicara atau pun mengeluh. Hanya mengelus punggung Arumi dan sesekali mengecup keningnya.
Liam pun bingung dengan sikap dan tingkahnya yang susah ia kendalikan di saat-saat tertentu dan akan menyesalinya beberapa jam kemudian. Ini bermula sejak dia tahu alasan Aruminya dalam bahaya.
Seolah tubuh dan pikirannya merespon orang-orang sekitarnya sebagai ancaman yang harus dia siagai.
Dan Liam hanya bisa memendam keresahan itu sendiri karena tidak ingin dianggap aneh oleh siapapun, termasuk orang tua dan Aruminya.
Merasa Arumi mulai tenang dalam pelukannya, Liam melerai dan tersenyum pada wanita yang sangat dicintainya.
"Mas salah dan mas minta maaf. Jika hal seperti ini terjadi lagi, tegur mas."
"Aku hanya nggak mau jati diri mas yang sebenarnya menghilang karena sebuah trauma." Menyentuh tangan Liam yang berada di pipinya. "Masih kontrol ke dokter kan?"
"Iya Sayang."
"Apa katanya?"
"Semakin membaik."
Dan yap Liam baru saja membohongi orang yang sangat dia sayangi. Dokter mengatakan bahwa trauma akibat kehilangan malam itu semakin buruk dan hampir menguasai pikiran dan tubuhnya. Di tambah kenyataan bahwa sahabat bagai saudara kandung mengkhianati dan menyimpan rasa membuat Liam kadang tanpa sadar menarik diri pada sesama jenis karena mengira orang itu adalah ancaman.
Sinyal diotaknya selalu mengatakan ... Hal seperti ini pernah terjadi dalam hidupku, dan akan terjadi lagi suatu hari nanti.
"Salam buat om dan tante," ujar Liam, mengecup sudut bibir Arumi sebelum wanita itu turun dari mobil. Padahal rumah mereka berdekatan.
....
Arumi menghempaskan tubuhnya di ranjang setelah mengganti baju. Dia mengambil ponselnya dan mencari kontak Ronald, orang yang Liam abaikan tadi.
Terkait sikap mas Liam tadi, aku minta maaf. Dia nggak bermaksud mengabaikanmu.
Santai saja Rum, siapa sih cowok yang nggak cemburu liat pacarnya bicara dengan cowok setampan aku
Iya deh iya, tapi sekali lagi maaf ya.
Oke
Arumi menarik napas panjang, merasa lega Ronald tidak tersinggung dengan sikap Liam. Wanita itu berjalan menuju balkon, kebetulan balkon kamarnya menghadap kediaman Alexander. Dari tempatnya berpijak, dia dapat melihat Leona dan Liam sedang tertawa di depan rumah.
"Karena trauma mas bagian dari kesalahanku, maka aku berjanji akan membuat mas keluar dari trauma itu," guman Arumi. Dia hanya menunggu sampai tangan Liam sembuh setelahnya akan mengelar pernikahan sesederhana mungkin seperti permintaan Liam.
Memikirkan tentang pernikahan ia jadi teringat rumah baru yang menjadi bagian dari kehidupan bahagia mereka.
"Aku akan mengajak mas Liam untuk melihat rumah kita." Arumi berbalik hendak masuk ke kamar untuk mengambil ponselnya dan saat itulah dia menemukan sang adik berdiri di balkon ruang keluarga lantai dua.
"Lagi nunggu siapa dek?" Arumi mengulum senyum. Dia tahu siapa yang Devina tunggu di jam-jam seperti ini, dia bertanya hanya untuk menjahili adiknya.
"Nunggu ayah pulang."
"Bukan nunggu mas-mas pakai payung itu kan?" Arumi menunjuk Arhan yang baru saja keluar dari rumah menggunakan payung. Beberapa menit lagi adzan ashar jadi tentu saja Arhan akan ke masjid yang otomatis melewati rumah mereka.
"Nggak kok, mbak saja ...." Devina tidak melanjutkan ucapannya ketika Arumi sudah menghilang di balkon kamar.
Namun, siapa yang mengira fotografer terkenal itu sekarang berada di depan pagar dan menyapa Arhan yang hampir melewati rumah mereka.
"Tante Rahma ada di rumah?" tanya Arumi basa-basi.
"Ada mbak," jawab Arhan dengan kepala menunduk.
"Oh oke nanti aku ke rumah. Btw bisa tunggu sebentar nggak? Vina mau shalat di masjid tapi malu jalan sendiri, bisa nggak bareng kamu?"
"Bisa, saya tunggu di sini."
"Oke, makasih ya."
Arumi pun menemui adiknya dan memaksa gadis itu agar shalat di masjid saja agar bisa dekat dengan Arhan, pemuda yang sibuk dengan dunianya sendiri.
"Jangan aneh-aneh deh mbak," bisik Devina sebelum menyusul Arhan.
"Gerimis, kenapa nggak bawa payung?" tanya Arhan setelah berjalan pelan beriringan dengan jarak aman bersama Devina.
"Lupa mas."
Dan yap, siapa yang menyangka Arhan memayungi Devina meski tangan pria itu harus sedikit membentak karena jarak di antara mereka.
"Nggak usah mas, nggak bakal basah sampai di masjid kok." Mendorong batang payung agar kembali pada pemiliknya.
"Bukan basahnya, tapi sakitnya. Sekarang lagi musimnya orang flu."
"Iya." Devina mengangguk, dan beralih mengambil payung Arhan atau dia akan tergeletak di jalan akibat tidak bisa mengendalikan jantungnya yang berdebar sebab perlakuan kakak sepupunya tersebut.
Dan ya, Arhan menggunakan sajadah dipundaknya sebagai penahan gerimis mengenai kepala. Keduanya seperti pengantin baru yang hendak beribadah di masjid.
Sedangkan orang yang membuat mereka berduann sedang cekikikan menyaksikan keduanya dari kejauhan. Wanita itu segera menempelkan benda pipih di telinga ketika mendapatkan panggilan dari sang kekasih.
"Kenapa berdiri di pinggir jalan? Kalau ada mobil salah arah gimana?"
Arumi lantas menoleh dan mendapati kekasihnya sedang berdiri di pinggir jalan sepertinya.
"Ini baru mau masuk mas."
"Ya udah masuk dulu, baru mas juga masuk."
"Siap tuan muda."
Dan benar saja, setelah Arumi memasuki rumah, Liam pun melakukan hal yang sama.
"Dari mana mas?"
"Depan Ma, tadi mas nggak sengaja liat Arumi di pinggir jalan."
"Di suruh masuk?"
"Iya." Liam mengangguk. "Kenapa mama natap mas sampai segitunya?"
"Jangan terlalu mengatur kehidupan Arumi mas. Mama tahu mas sangat mencintainya, tapi ...."
"Nggak kok Ma, mas hanya mau memastikan keselamatan Arumi bukan mengatur. Mas nggak mau kehilangan Arumi untuk kedua kalinya."
"Mama tahu, tapi mama hanya mengingatkan mas." Mama Liora mengelus lengan putranya.
Wanita paruh baya itu takut apa yang dikatakan dokter terjadi. Di mana trauma yang Liam alami membuatnya mengatur hidup Arumi dengan dalil takut kehilangan.
....
Alea bijak banget sih jadi Ibu