Dilarang keras menyalin, menjiplak, atau mempublikasikan ulang karya ini dalam bentuk apa pun tanpa izin penulis. Cerita ini merupakan karya orisinal dan dilindungi oleh hak cipta. Elara Nayendra Aksani tumbuh bersama lima sahabat laki-laki yang berjanji akan selalu menjaganya. Mereka adalah dunianya, rumahnya, dan alasan ia bertahan. Namun semuanya berubah ketika seorang gadis rapuh datang membawa luka dan kepalsuan. Perhatian yang dulu milik Elara perlahan berpindah. Kepercayaan berubah menjadi tuduhan. Kasih sayang menjadi pengabaian. Di saat Elara paling membutuhkan mereka, justru ia ditinggalkan. Sendiri. Kosong. Hampir kehilangan segalanya—termasuk hidupnya. Ketika penyesalan akhirnya datang, semuanya sudah terlambat. Karena ada luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan kata maaf. Ini bukan kisah tentang cinta yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
Arsen menatap jam di pergelangan lengannya untuk kesekian kali. Angka di layar terus bergerak, tapi orang yang ia tunggu tak kunjung muncul. Sudah hampir sepuluh menit Arsen berdiri di area parkiran sekolah, bersandar di samping mobilnya dengan raut wajah datar. Biasanya Elara tak pernah terlambat. Gadis itu selalu tepat waktu, bahkan sering datang lebih awal. Itulah yang membuat dada Arsen terasa sedikit tak nyaman.
Ia menghela napas pelan, matanya menyapu sekitar parkiran, berharap melihat sosok yang familiar. Namun yang muncul justru seseorang yang sama sekali tak ia harapkan.
Vira.
Arsen langsung mengalihkan pandangan, seolah keberadaan gadis itu tak penting. Menurutnya, Vira adalah tipe manusia paling sok akrab yang pernah ia temui. Terlalu banyak senyum palsu, terlalu banyak basa-basi, dan terlalu sering ikut campur urusan orang lain. Dan Arsen tak menyukai semua itu.
“Arsen,” sapa Vira sambil melangkah mendekat, suaranya dibuat lembut. “Aku denger-denger kamu pacaran sama El ya?”
Arsen diam. Tatapannya tetap lurus ke depan, tak sedikit pun menoleh. Seolah Vira hanya udara.
Namun Vira tak menyerah. Ia justru tersenyum kecil, lalu melipat kedua tangannya di dada.
“Kok kamu mau sih pacaran sama El?” lanjutnya. “Aku liat-liat, kayaknya dia tipe cewek yang… sasimo gitu loh.”
Alis Arsen sedikit bergerak. Tangannya yang sejak tadi dimasukkan ke saku jaket perlahan mengepal. Ia benci nada meremehkan itu. Terlebih saat nama Elara disebut dengan cara seperti itu.
Arsen akhirnya menoleh. Tatapannya dingin, tajam, dan tanpa senyum sedikit pun.
“Ya terus urusannya sama lo apa?” ucapnya tiba-tiba.
Vira terdiam sejenak, jelas tak menyangka Arsen akan bereaksi secepat itu.
“Aku cuma—”
“Udah,” potong Arsen. Suaranya rendah, tapi penuh tekanan. “Gue udah duga dari awal.”
Ia melangkah maju satu langkah, membuat Vira refleks mundur.
“Lo cewek bermuka dua,” lanjut Arsen tanpa ragu. “Dan satu hal lagi, stop ngejelek-jelekin Elara di hadapan gue.”
Vira menelan ludah. Wajahnya mulai menegang.
“Arsen, aku cuma ngingetin—”
“Gak perlu,” potong Arsen lagi. “Gue lebih tau Elara dibandingkan siapa pun. Gue sahabat kecilnya. Dari kecil.”
Ia menatap Vira dengan sorot merendahkan.
“Dan dibandingkan kuman kayak lo, posisi elara jelas jauh lebih berarti.”
Kalimat itu menusuk. Vira terdiam, bibirnya bergetar menahan emosi. Namun Arsen tak peduli. Ia sudah muak.
Tanpa berkata apa pun lagi, Arsen berbalik. Ia membuka mobilnya, lalu berjalan menjauh dari parkiran. Keputusannya sudah bulat. Jika Elara belum datang, ia akan menunggu di halte depan sekolah saja. Tempat yang lebih tenang, jauh dari orang-orang yang suka mencampuri hidup orang lain.
Saat langkahnya menjauh, Arsen kembali melirik jam tangannya.
“Ke mana lo, El…” gumamnya pelan.
Di balik sikap dinginnya, ada rasa khawatir yang ia sembunyikan rapat-rapat. Dan satu hal yang pasti—siapa pun yang mencoba merendahkan Elara, akan berhadapan langsung dengannya.
★★★
Di jalan menuju rumah Kaizen, Nayomi bersandar di kursi mobil sambil menatap lampu-lampu jalan yang berlalu satu per satu. Pikirannya masih tertinggal pada kejadian tadi siang. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, perasaan yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata.
“Pasti hancur banget perasaannya si Ezra,” ucap Nayomi pelan, memecah keheningan.
Kaizen yang tengah fokus menyetir hanya menghela napas singkat. “Aku udah duga dari awal. Persahabatan itu gampang hancur gara-gara orang baru atau perasaan yang gak pernah dibicarakan dengan jujur.”
Nayomi menoleh ke arah Kaizen, menatap sisi wajahnya yang terlihat dingin tapi selalu terasa aman. “Ngomong-ngomong soal orang baru… menurut kamu si Vira gimana?”
“Gak gimana-gimana,” jawab Kaizen singkat.
Nayomi mendengus pelan. “Maksud aku sifatnya. Kalau menurut aku nih ya, dia itu cewek bermuka dua.”
Kaizen melirik sekilas ke arah Nayomi sebelum kembali menatap jalan. Tangannya terulur mengusap rambut Nayomi dengan lembut, kebiasaan kecil yang sering ia lakukan tanpa sadar. “Kok kamu yakin Vira kayak gitu?”
“Udah kelihatan,” jawab Nayomi cepat. “Waktu ulangan hari pertama aja, aura playing victim-nya kuat banget. Kamu inget kan waktu Elara dituduh nyontek? dan dia orang pertama yang nuduh elara”
nayomi terdiam beberapa detik. “Tapi kalian mau aja sama Vira. Ke mana-mana aja bareng, apalagi kamu kai, dia itu selalu ngikutin si arsen atau kamu kemana aja."
“jadi kamu cemburu karena kamu pikir aku suka sama dia?” tanya kaizen
Nayomi langsung menoleh tajam. “Ya jelaslah, aku bakal marah selamanya."
Kaizen tertawa kecil. “Mana ada aku suka sama dia. Tipe aku itu kayak kamu. Cantik, imut… tapi aku paling suka kalau kamu lagi marah-marah.”
“Jadi kamu mau wajah aku jadi tua karena marah terus?” balas Nayomi dengan kesal.
“Bukan gitu,” jawab Kaizen sambil terkekeh.
Nayomi memalingkan wajahnya lagi ke jendela. “Udah deh. Aku cuma pengin tahu kenapa si Vira itu diizinin dekat sama kalian.”
Kaizen menghela napas panjang, lalu mulai menjelaskan. “Awalnya Ezra bilang ibunya Vira minta dia dijagain dan ditemenin. Katanya Vira punya penyakit. Terus dia pindah ke sekolah ini karena gak nyaman di sekolah lamanya.”
“Penyakit?... penyakit apa." tanya Nayomi, kali ini suaranya terdengar lebih pelan.
“Gak tahu. aku gak inget,” jawab Kaizen sambil mengangkat bahu.
Mobil kembali hening. Hanya suara mesin dan lampu sein yang terdengar ritmis. Namun di kepala Nayomi, pikirannya semakin ramai. Ia tiba-tiba teringat satu hal yang sejak lama ia pendam.
Elara sudah punya hubungan yang jelas. Sedangkan dirinya dan Kaizen… tidak. Mereka bukan pacar, bukan tunangan. Hanya terikat oleh perjodohan dua keluarga besar yang bahkan tidak bisa ia jelaskan dengan sederhana pada orang lain. Nayomi menelan ludah, lalu memberanikan diri bicara.
“Kamu mikir gak sih… hubungan kita itu gak jelas?”
Kaizen menoleh singkat. “Gak jelas gimana?”
“Maksudnya gini,” Nayomi mulai gelisah. “Kalau dari pandangan orang, kita itu pacaran juga bukan, tunangan juga enggak.”
Kaizen memperlambat laju mobilnya. “Aku gak butuh pandangan orang lain,” ucapnya datar namun tegas. “Yang penting kita ngejalaninnya dengan penuh cinta.”
Tangannya meraih tangan Nayomi dan mengecupnya singkat, penuh makna.
Nayomi menatap tangan mereka yang saling menggenggam. “Mungkin menurut kamu gak penting,” ucapnya lirih. “Tapi buat aku penting. Kalau suatu hari aku ditanya orang, hubungan kita apa, aku harus jawab apa? Hanya sebatas Perjodohan?”
Mobil berhenti. Mereka sudah tiba di depan rumah Kaizen. Nayomi langsung membuka pintu dan turun lebih dulu, perasaannya campur aduk. Kaizen ikut turun menyusulnya.
Nayomi berdiri membelakangi Kaizen, menatap pintu rumah besar itu. Ia merasa lelah, bukan secara fisik, tapi secara batin. Hubungan yang ia jalani terasa menggantung, tanpa status, tanpa kejelasan, meski perasaannya sudah terlanjur dalam.
Kaizen menatap punggung Nayomi lama. Ia tahu, kali ini Nayomi tidak sedang marah biasa. Ada ketakutan yang tak terucap, dan Kaizen pun mulai menyadari bahwa cinta saja mungkin tidak cukup tanpa kepastian.