NovelToon NovelToon
Ku Balas Pengkhianatanmu Dengan Bismillah

Ku Balas Pengkhianatanmu Dengan Bismillah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor / Pelakor jahat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Queen_Fisya08

Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.


Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...


Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?

Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Hasil Keputusan Sidang Zahra Dan Genta

Ruang sidang itu terasa lebih hening dari biasanya, tidak ada bisik-bisik, tidak ada gerakan gelisah...

Semua yang hadir seolah memahami, hari ini bukan tentang debat, melainkan tentang akhir..!

Hakim masuk, semua berdiri..

Zahra merapatkan jemarinya di pangkuan, napasnya teratur, tidak ada doa panjang di kepalanya hanya satu keyakinan sederhana: apa pun hasilnya, ia akan menerimanya..

Hakim membuka berkas terakhir, lalu mulai membacakan putusan..

"Berdasarkan seluruh bukti, keterangan saksi, dan pengakuan para pihak…” Suara itu mengalir datar, tegas, tanpa emosi.

Zahra mendengar tiap kata dengan jernih.

"Maka majelis hakim memutuskan: mengabulkan gugatan penggugat.”

Kata-kata itu jatuh seperti pintu yang akhirnya tertutup pelan, tapi pasti..

"Menetapkan perceraian antara penggugat dan tergugat, mengabulkan hak-hak penggugat sesuai ketentuan hukum yang berlaku.”

Genta menutup mata, bahunya jatuh, seolah beban yang ia pikul selama ini akhirnya dilepaskan meski menyisakan luka yang harus ia tanggung sendiri.

Zahra tetap diam, tidak ada air mata, tidak ada senyum berlebihan, hanya satu tarikan napas panjang seperti seseorang yang baru keluar dari ruang sempit setelah bertahun-tahun terkurung..

Hakim melanjutkan beberapa poin administratif, lalu menutup sidang dengan ketukan palu yang pelan namun final..

Selesai.

Di bangku pengunjung, Bu Ratna duduk kaku, tidak ada lagi yang bisa ia bantah, tidak ada lagi ruang intervensi, keputusan itu berdiri sendiri tanpa butuh persetujuannya.

Saat semua orang mulai beranjak, Bu Ratna tetap duduk, pandangannya kosong, menatap meja hakim yang kini tak berpenghuni.

Ia benar-benar merasa tidak punya kuasa apa-apa di hadapan hakim..

Zahra keluar ruang sidang dengan langkah tenang, Mbak Rima menepuk pundaknya ringan.

“Kamu menjalaninya dengan sangat berkelas.”

“Terima kasih, karena aku tidak ingin keluar dari sini sebagai pemenang yang rusak.” jawab Zahra

Zahra berdiri dari kursinya dengan langkah tenang, tidak ada air mata, tidak ada senyum kemenangan, hanya napas panjang, seolah sebuah beban besar akhirnya diletakkan..

Di luar ruang sidang, udara terasa berbeda, lebih lapang..

Zahra berjalan bersama pengacaranya dan ibunya namun sebelum ia benar-benar melangkah pergi, sebuah suara menghentikannya.

“Zahra.”

Zahra menoleh, Genta berdiri beberapa langkah di belakangnya, wajahnya terlihat lelah, lebih kurus dari terakhir kali mereka berbicara...

Tidak ada lagi wibawa, tidak juga amarah, hanya sisa-sisa kelelahan dari pertarungan yang akhirnya ia kalah, bukan oleh Zahra, melainkan oleh kenyataan..

“Selamat, kamu menang.” ucap Genta pelan

Zahra menatapnya tanpa emosi.

“Ini bukan pertandingan, Mas Genta.”

Genta mengangguk kecil, lalu tersenyum miris.

“Ya… mungkin buatmu tidak tapi buatku, ini kekalahan besar.”

Ia menarik napas, lalu melanjutkan dengan nada yang sengaja dibuat ringan, meski jelas terasa dipaksakan.

"Semoga kamu bahagia nantinya, bersama pria lain..! Pria selingkuhan mu.”

Kalimat itu meluncur seperti duri, dingin, sengaja, dan penuh tuduhan.

Zahra tidak langsung menjawab, ia menatap Genta lurus, tatapannya tajam dan menohok, membuat Genta tanpa sadar menghindari pandangannya..

“Kamu masih memilih percaya pada kebohongan yang dibuat oleh ibu mu sendiri dan itu kamu yang masih tidak berubah Mas, masih tetap sama dalam kendali Mak Ratna” ucap Zahra akhirnya, suaranya datar tapi tegas..

Genta mengerutkan kening.

“Jadi kamu menyangkal? Dan masih berani menuduh Mak seperti itu"

Zahra menggeleng pelan.

“Aku tidak perlu menyangkal apa pun, hdup ku tidak lagi berada dalam pembelaan.”

Ia melangkah setengah langkah mendekat.

“Yang perlu kamu pahami, Mas Genta… aku pergi bukan karena pria lain, aku pergi karena aku tidak lagi aman di rumahmu, tidak lagi dihormati dan tidak lagi dianggap manusia.”

Genta terdiam, tangannya mengepal, tapi tidak ada bantahan.

“Dan soal bahagia, aku tidak butuh restumu untuk itu” lanjut Zahra dengan nada lebih pelan namun menusuk,

Zahra lalu mundur, menatap Genta untuk terakhir kali..

“Semoga suatu hari kamu berhenti mencari kesalahan di luar dirimu sendiri.”

Tanpa menunggu jawaban, Zahra berbalik dan berjalan pergi bersama ibunya, langkahnya mantap, tidak menoleh lagi.

Genta berdiri kaku di tempatnya, kata-kata Zahra berputar-putar di kepalanya, menghantam lebih keras daripada putusan hakim.

***

Di sisi lain kota, suasana yang sangat berbeda terjadi..

Di rumah besar yang dulu selalu ramai oleh perintah dan kendali, Bu Ratna mengurung diri di kamar, tirai tertutup rapat, lampu dimatikan meski hari masih terang.

Pintu kamar terkunci dari dalam..

Dini berdiri di depan pintu dengan wajah cemas.

“Mak… buka pintunya, Mak. Dini khawatir.” ucap Dini

Tidak ada jawaban.

Dini mencoba lagi, mengetuk lebih keras.

“Mak, ini Dini, tolong jawab.”

Dari dalam kamar, suara Bu Ratna akhirnya terdengar pelan, bergetar, seperti berbicara pada dirinya sendiri..

“Semua sudah pergi… semua berani melawan…”

Dini menelan ludah.

“Mak, ini cuma perceraian, Mak masih punya kami.”

Tawa kecil terdengar dari balik pintu, tawa yang tidak utuh.

"Perceraian? Kamu pikir ini cuma soal itu?” teriak Bu Ratna

Ia duduk di lantai kamar, punggungnya bersandar pada ranjang, rambutnya terurai berantakan, tangannya gemetar memegang ponsel..

"Zahra sudah lepas, tidak apa-apa, dia bukan apa-apa lagi.” ucapnya lagi, seperti meyakinkan dirinya sendiri

Ia menatap layar ponselnya, membuka kontak yang masih tersisa.

“Masih ada Rena..! Rena masih mau menurut, masih mau mendengar.” bisiknya

Bu Ratna tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip upaya bertahan daripada kebahagiaan.

“Dan Genta...! Ia sudah kembali padaku.” lanjutnya lirih

Ia memeluk dirinya sendiri.

“Anakku tidak akan pergi lagi, tidak mungkin.”

Di luar pintu, Dini duduk bersimpuh, matanya berkaca-kaca.

“Mak... kalau semua ini membuat Mak sendirian, kenapa Mak tidak berhenti saja?” ucapnya dengan suara hampir menangis

Di dalam kamar, Bu Ratna memejamkan mata, untuk sesaat, wajahnya terlihat rapuh, tapi hanya sesaat..

“Berhenti Dini? Aku belum kalah.” teriak nya

Ia membuka mata, sorotnya kembali keras.

“Selama Genta masih di sisiku, aku masih punya kendali.”

Dan di titik itulah, dua dunia yang pernah terikat oleh satu pernikahan kini benar-benar berpisah arah..

Zahra melangkah menuju hidup yang tidak lagi ia pertahankan dengan luka.

Sementara Bu Ratna, terkurung dalam kamar gelapnya sendiri, masih memeluk ilusi bahwa kendali adalah satu-satunya cara untuk tidak merasa kehilangan..!

***

Malam nya Zahra membereskan barang-barang terakhir yang masih tersisa, ia tidak membuang semuanya, beberapa kenangan ia simpan sebagai pelajaran, bukan sebagai luka.

Ia berdiri di depan jendela, memandang lampu kota yang berkelip.

Tidak ada euforia, tidak ada balas dendam yang manis, hanya ketenangan yang jujur.

Ia membentangkan sajadah, lalu bersujud lama mengucapkan syukur karena ia telah melalui masa-masa berat dipersidangan dengan tenang..!

Di luar sana, dunia tetap berjalan, namun bagi Zahra, satu bab telah resmi ditutup, dan lembar baru menunggu,

bersih dari luka yang tak perlu dibawa..!

1
Anonymous
sebaiknya cepat dimasukkan ke rumah sakit hewan
Anonymous
akhirnya sidang yang berlarut larut berakhir juga
Anonymous
dan ternyata ego+cemburu mu menutup mata mu dan kembali ke ketek emak ya genta..
Anonymous
segera berakhir ya sidang nya
Queen_Fisya08: ya kak gak lama lagi dan Bu Ratna pun akan kena batunya 🙏
total 1 replies
Umi Asijah
lanjut
rian Away
SEMUA NYA AKAN BERHENTI KETIKA KAU MENGHILANG TUA BANGKA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!