Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 5 - Menuju Wangsa Cafe
Tok Tok Tok .
"Ayah, Yah!"
Suara Mila tampak terdengar panik sembari mengetuk pintu ruang kerja sang ayah.
Robi dengan sigap segera membukakan pintu sebelum adiknya itu semakin histeris.
"Mila? Kok ke sini? Bukannya tadi lagi di toko sama Bunda?" tanya Robi heran melihat adiknya berdiri terengah-engah dengan wajah pucat, masih mengenakan apron cokelatnya yang sedikit terkena noda tepung.
Mila tidak mempedulikan pertanyaan abangnya. Ia langsung menerobos masuk.
"Ayah! Ayah harus tolong Mila! Laptop Mila mati total, Yah!" seru Mila hampir menangis sambil mengangkat laptop tipisnya yang gelap gulita. "Isinya draf revisi bab dua yang harus dikirim ke Prof Ramzi sore ini. Kalau nggak dikirim, Mila nggak bisa ikut jadwal bimbingan besok. Dan kalau besok nggak bimbingan karena sibuk jemput Oma, Mila nggak bakal lulus tepat waktu!"
Ayah Faul menghela napas lega, meskipun ia tahu bagi mahasiswa tingkat akhir, laptop mati adalah kiamat kecil. Ia lalu teringat bahwa ia tidak sedang sendirian.
Mila baru menyadari ada sosok pria paruh baya lain yang sedang duduk tenang di sofa tamu. Ia langsung mengerem kalimatnya, wajahnya memerah karena malu. "Eh... maaf. Mila nggak tahu Ayah lagi ada tamu penting," cicit Mila pelan sembari menunduk sopan.
"Nggak apa-apa, Nak. Om mengerti sekali rasanya dikejar deadline skripsi," sahut pria itu ramah.
"Mila, kenalkan, ini Om Fildan, sahabat lama Ayah," ucap Ayah Faul memperkenalkan.
Mila tersenyum kaku dan mengangguk. "Mila, Om. Maaf ya Om, Mila lancang."
"Sangat tidak apa-apa, Mila. Kebetulan sekali," Papa Fildan melirik Ayah Faul, memberi kode rahasia. "Laptop kamu mati ya? Putra Om sedang ada di kafenya, sepuluh menit dari sini. Valen namanya. Dia sangat paham soal komputer. Tadi dia juga sempat mampir ke tokomu, kan?"
Mila terbelalak. Jadi cowok ganteng pembawa kopi tadi adalah anak Om Fildan?
"Duh, gimana ya... Mila nggak mau sendirian ke sana!" rengek Mila mendadak manja sambil memegang lengan kemeja Robi. "Abang harus temenin! Ayah juga!"
Ayah Faul terkekeh, lalu menatap Papa Fildan. "Gimana, Fil? Kita sekalian pindah tempat meeting ke kafe putra kamu saja? aku penasaran dengan kafe barunya."
"Ide bagus, Faul!" jawab Papa Fildan antusias.
Ayah Faul segera menghubungi istrinya. "Bun, ajak Mutia juga ya. Kita semua kumpul di Wangsa Cafe sekarang. Toko biar diurus staf Mila dulu sebentar. Ini masalah darurat laptop Mila."
Ayah Faul, Papa Fildan dan Robi juga Mila segera bersiap turun menuju mobil mereka. Sementara di seberang sana, Bunda naik mobil bersama Mutia menuju wangsa cafe.
Sepuluh menit kemudian, dua mobil mewah memasuki area parkir Wangsa Cafe, sedangkan bunda Selfi dan Mutia sudah sampai lebih dulu, tampak keduanya sedang mengamati bangunan kafe itu. Setelahnya, ayah menghampiri.
Begitu rombongan besar itu masuk, aroma kopi arabika dan kayu yang maskulin menyambut mereka. Valen yang sedang berdiri di balik meja bar, tampak terkejut melihat ayahnya datang bersama rombongan besar keluarga Hardianto.
"Papa? Om Faul? Robi?" tanya Valen bingung, namun matanya tak bisa berbohong saat tanpa sengaja bertemu pandang dengan Mila yang bersembunyi di balik punggung Robi.
"Gini, Len. Ini si Tuan Putri laptopnya mati total," jelas Robi sambil menarik Mila agar maju.
Papa Fildan menepuk bahu putranya. "Valen, bantu Mila ya. Papa, Om Faul, dan Tante Selfi mau lanjut bicara di ruang VVIP di atas. Tolong siapkan kopi terbaik buat kami."
"Siap, Yah, nanti staff Valen yang mengantar ke atas," balas Valen kembali tersenyum dan setelahnya menyalami ayah Faul, bunda Selfi dan tak lupa papanya.
Setelah Valen berpesan pada staff nya untuk mengantar para orang tua ke ruang VVIP dan berpesan membuat kopi terbaik, kini Valen membimbing Mila, Robi, dan Mutia menuju deretan meja di pojok yang tenang. Namun, langkah Robi tiba-tiba terhenti saat melihat dua orang wanita sedang sibuk dengan laptopnya di meja besar dekat jendela.
"Sayang?" panggil Robi.
_______
Ditunggu part selanjutnya ya, Guys!
Love you, All❤️