Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.
Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.
Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.
"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.
Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Ada Mahkluk Lain di Perutku
Alissa termangu membaca kertas di genggamannya. Hasil medis yang menerangkan hasil positive itu entah mengapa membuat hatinya bergetar.
"Saya ucapkan selamat, Nyonya. Sebentar lagi anda akan menjadi seorang ibu."
Walaupun telah menyiapkan mental dan sudah memprediksi, tetap saja Alissa merasa terkejut dengan berita ini. Bahwa sebenarnya hati kecilnya tidak menginginkan kandungan ini.
Maksudnya, Alissa hanya takut jika janin ini akan menjadi boomerang untuknya di kemudian hari.
Ia sentuh perutnya yang masih rata. Dokter mengatakan jika usia kandungannya baru menginjak empat minggu. Masih sebesar biji wijen. Alissa usap perutnya dengan perasaan yang campur aduk. Semuanya terjadi secara tiba-tiba.
Tiba-tiba dia terjebak di dalam dunia novel. Tiba-tiba dia memiliki suami yang dituliskan akan membunuh istrinya sendiri. Dan sekarang, tiba-tiba dia akan menjadi seorang...ibu.
Hah. Entah takdir macam apa yang semesta tulis untuknya.
"Alissa?"
Merasa ada seseorang yang memanggil namanya, Alissa yang tengah duduk di kantin rumah sakit seketika mendongak. Lalu ia melihat seorang laki-laki berjas putih tengah menatapnya dengan senyumnya yang merekah.
Satu kata yang Alissa ujarkan dalam hati ketika melihat laki-laki yang ia simpulkan berprofesi sebagai dokter itu. Tampan.
Tampannya setara dengan Sean. Jika suaminya itu memiliki paras tampan yang dingin dan penuh wibawa, maka laki-laki di depannya ini memiliki wajah yang hangat dan humble.
Eh, kenapa tiba-tiba dia membandingkan laki-laki asing ini dengan si Sean gila itu.
Menyadari kebodohannya, Alissa gelengkan kepalanya ribut. Dan itu tak luput dari penglihatan laki-laki yang tadi memanggil namanya.
"Alissa kau baik-baik saja? Kenapa ada di rumah sakit?" tanyanya santai seolah mereka memang akrab sebelumnya.
Laki-laki itu duduk di kursi depan Alissa yang dibatasi oleh meja di tengah-tengah mereka.
"Oh, atau kau sengaja kemari? Kau merindukanku?" ujarnya dengan nada jenaka.
Kening Alissa berkerut bingung. Ia mencoba mengingat-ingat isi novel yang menceritakan tentang kehidupan Alissa asli. Figuran yang akan berakhir tragis di tangan suaminya ini.
Sayangnya, seberapa keras mencoba mengingat, perempuan itu tidak menemukan apapun. Nasib menjadi figuran membuat kehidupan Alissa asli tidak begitu disorot.
"Kau mengenalku?" persetan jika laki-laki di depannya ini menganggapnya aneh. Dia memang tidak mengenalnya.
"Kau lupa padaku? Jahat sekali." dokter itu cemberut.
"Apa karena aku tidak datang ke pernikahanmu dan kini kau ingin membalaskan dendam padaku?" ucapnya yang semakin membuat Alissa bertambah bingung.
"Kau siapa?"
"Astaga Alissa! Aku Ellard!
"Oh...Ellard." angguk Alissa mengerti.
"Hm, kau sudah mengingatku sekarang?"
Alissa abaikan celotehan laki-laki yang mengaku bernama Ellard itu yang menurutnya sangat berisik.
Tapi---tunggu. Alissa seperti tidak asing dengan nama itu. Ellard, dia seperti pernah mendengarnya.
"Ellard...Ellard Vernandes?!" pekik Alissa setelah mengingat nama yang begitu penting di dalam novel.
"Ya! Aku Ellard Vernandes. Teman masa kecilmu."
"Apa?!" astaga. Apa ini termasuk plot twist?!
Tokoh utama pria dan tokoh Alissa asli saling mengenal?! Bahkan mereka adalah teman masa kecil.
Ya! Benar sekali. Yang kini duduk di depan Alissa ini adalah protagonis laki-laki. Pantas saja dia sangat tampan. Rupa-rupanya----
"Hei, kertas apa yang kau pegang. Sini aku lihat!"
Ellard merebut hasil medis milik Alissa. Gerakannya yang cepat membuat Alissa tak dapat mencegahnya. Perempuan itu menyipitkan mata tak suka. Apa protagonis laki-laki ini tidak mempunyai sopan santun?!
"Oh, astaga Alissa! Kau hamil?!" pekik Ellard seolah-olah tak percaya dengan apa yang dibacanya.
"Menurutmu?" dengus Alissa sebal. Ia rebut kembali kertas miliknya sebelum menyimpannya di tas.
"Cepat sekali. Kalian baru menikah tiga bulan, dan sekarang kau sudah hamil saja."
Tiga bulan pernikahan. Setidaknya Ellard membawa berita penting ini untuknya. Karena di dalam novel menjelaskan, bahwa Sean akan membunuh istrinya di usia pernikahan yang baru menginjak setengah tahun.
"Itu berarti, waktuku untuk pergi dari kehidupan Sean tinggal tiga bulan lagi."
"Well, aku ucapkan selamat untukmu. Jangan sungkan hubungi aku jika kau membutuhkan bantuan."
Alissa pandangi tatapan hangat yang Ellard berikan. Di tatap Alissa seperti itu membuat Ellard semakin melebarkan senyumnya.
"Aku menyayangimu." serunya. Mengusap kepala atas Alissa dengan telapak tangannya yang besar itu.
Alissa menjauhkan kepalanya pelan, agar Ellard tidak tersinggung. Perempuan itu tidak merasa nyaman dengan salah satu tokoh penting ini.
Karena, selain Sean yang gila karena mecintai adik kandungnya sendiri, protagonis laki-laki juga gila. Dia melakukan tipu dayanya untuk menjerat protagonis wanita agar tetap disisinya.
Pasti saat ini dia sedang melancarkan siasatnya supaya Stella mau tinggal bersama dengannya. Setelah itu mereka akan melakukan banyak adegan dewasa. Ellard akan menggunakan kata-kata manisnya agar Stella mau melakukannya.
Tapi, sudahlah. Itu bukan urusannya. Alissa sudah mengatakan pada dirinya sendiri untuk tidak mau ikut campur tentang alur novel. Karena yang terpenting untuknya adalah menyelamatkan nyawanya sendiri.
Maka dari itu, Alissa tersenyum kecil untuk menganggapi Ellard. Hanya agar terkesan sopan saja.
"Terimakasih Ellard. Dan tolong, sembuyikan kehamilanku dari siapapun. Aku ingin Sean yang pertama tahu kabar gembira ini."
.
.
"Dari mana kau!" hampir jantung Alissa copot karena terkejut.
Ia tatap kesal Sean yang sedang duduk di sofa single dengan gayanya yang seperti biasanya. Arogan dan angkuh.
"Bukan urusanmu." ketus Alissa.
Ia ingin segera naik ke atas dan pergi dari hadapan Sean. Berada di dekat suaminya itu, membuat dirinya merasa tak aman. Sean bisa membunuhnya kapan saja bukan.
"Aku belum menyuruhmu pergi, Alissa." suara bariton milik Sean kembali mengudara. Kali ini dengan nada yang menekan.
"Oh, apakah aku harus meminta ijinmu terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu, begitu?" sengit Alissa menatap Sean tak suka.
"Tentu saja." laki-laki itu menyunggingkan smirknya. "Kau budak pela-curku. Kau lupa hal sepenting itu?" sambungnya dengan pongah.
"Aku istrimu, sia-lan!" balas Alissa tak terima. Tatapan berubah tajam. Enak saja dirinya dianggap sebagai budak bahkan pela-cur.
Jika itu Alissa yang dulu, mungkin dia akan terima-terima saja. Tapi tidak untuk Alissa yang sekarang. Harga diri di atas segalanya. Setidaknya, jika kau tidak punya apa-apa, setidaknya kau masih punya harga diri.
Mendengar akuan itu dari mulut Alissa, diam-diam Sean tersenyum kecil. Sangat kecil sampai Alissa tidak menyadarinya.
"Itu kau tau. Kau istriku dan aku suamimu. Kenapa tidak menurut untuk tetap berada di rumah?"
Alissa bersedekap dada dan membuang muka. "Aku mengurus perceraian kita." ucapnya bohong.
Karena hari ini, ia hanya pergi ke rumah sakit. Ia juga belum mencari berkas-berkas yang diperlukan untuk mengajukan perceraian.
Mendengar pengakuan Alissa, membuat Sean menghela nafas jengah. "Oh, ayolah Alissa. Kenapa kau selalu membicarakan hal tak masuk akal seperti itu?"
Alissa menatap Sean dengan tatapan datarnya. "Karena aku masih ingin hidup." ujarnya sebelum naik ke atas.
"Alissa."
"Apalagi?!" kesal perempuan itu saat Sean kembali menghentikan langkahnya.
"Tidak adakah sesuatu yang ingin kau katakan padaku?" tanya Sean ambigu.
"Ada."
"Apa itu?" Sean berujar semangat. Seolah dia memang menanti suatu kabar dari istrinya itu.
"Aku membencimu, Sean Balrick!"