Kisah dewasa (mohon berhati-hati dalam membaca)
Areta dipaksa menjadi budak nafsu oleh mafia kejam dan dingin bernama Vincent untuk melunasi utang ayahnya yang menumpuk. Setelah sempat melarikan diri, Areta kembali tertangkap oleh Vincent, yang kemudian memaksanya menikah. Kehidupan pernikahan Areta jauh dari kata bahagia; ia harus menghadapi berbagai hinaan dan perlakuan buruk dari ibu serta adik Vincent.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Areta menatap wajah Vincent untuk terakhir kalinya.
Pria itu tampak begitu tenang dalam tidurnya, gurat kelelahan dan beban berat yang ia pikul selama ini seolah sirna sejenak.
Dengan sangat perlahan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara, Areta melepaskan diri dari pelukan Vincent.
Ia turun dari kapal dengan langkah terburu-buru, jantungnya berdegup kencang karena takut Vincent akan terbangun.
Sesampainya di villa, Areta segera masuk ke kamar dan mengambil tas kecil yang sudah ia siapkan.
Tangannya bergetar saat ia meraih secarik kertas dan pena di atas meja kerja suaminya.
Dengan air mata yang mulai membasahi pipi, ia menuliskan pesan singkat yang menghancurkan hatinya sendiri:
"Maafkan aku, Vin. Aku mencintaimu, tapi kehadiranku hanya akan menjadi titik lemahmu. Aku tidak sanggup melihatmu terluka atau hancur karena melindungiku dan bayi ini. Biarkan kami pergi demi keselamatanmu. Jangan cari aku."
Ia meletakkan surat itu tepat di atas tempat tidur, di tempat yang pasti akan dilihat oleh Vincent.
Dengan sisa keberaniannya, Areta keluar melalui pintu belakang villa, menghindari penjagaan regu bayangan yang lebih fokus pada perimeter luar.
Ia menuju ke dermaga kecil di sisi lain pulau, tempat seorang nelayan lokal yang telah ia suap dengan perhiasannya sudah menunggu.
Saat perahu kecil itu mulai menjauh dari bibir pantai pulau pribadi tersebut, Areta menutup wajahnya dengan kedua tangan, terisak tanpa suara.
Ia meninggalkan pria yang sangat ia cintai, demi cinta itu sendiri.
Beberapa jam kemudian, Vincent tersentak bangun. Ia meraba sisi ranjang di atas kapal yang kini terasa dingin.
"Areta?" panggilnya dengan suara serak, namun hanya suara deburan ombak yang menyahut.
Firasat buruk menghantam dadanya. Ia segera berlari turun dari kapal dan menyerbu masuk ke dalam villa.
"Areta! Sayang!" teriaknya kalut.
Langkahnya terhenti di depan tempat tidur saat matanya menangkap secarik kertas putih.
Vincent meraih surat itu. Begitu membaca baris demi baris kata perpisahan dari istrinya, tubuh tegap itu bergetar hebat.
"TIDAK! ARETA!" raungannya pecah. Amarah yang liar dan tangis kepedihan meledak bersamaan.
Ia menghantam meja rias hingga hancur berkeping-keping.
Tanpa membuang waktu, ia mengambil radio komunikasinya.
Suaranya terdengar mengerikan, seperti iblis yang haus darah.
"Jonas! Perintahkan seluruh armada De Luca sekarang juga! Tutup semua akses laut dan udara! Jangan biarkan satu burung pun terbang meninggalkan wilayah ini! Jika istriku tidak ditemukan dalam satu jam, aku akan membakar seluruh kota ini!"
Sementara itu, di sebuah dermaga kecil daratan utama, Areta melangkah turun dari perahu dengan tubuh lemas.
Di tengah kegelapan, seorang pria muncul dari balik bayangan.
"Abizar? Kamu di sini?" tanya Areta terkejut melihat mantan kekasihnya berdiri di sana.
Abizar mengangguk dengan senyum yang tampak tulus.
"Aku di sini untuk menolongmu, Areta. Aku tahu kamu dalam kesulitan. Ayo ikut aku sebelum orang-orang Vincent menemukanmu."
Areta merasa lega sesaat, mengira ia menemukan perlindungan. Namun, saat ia melangkah mendekat, sorot mata Abizar berubah dingin.
Dari balik punggung Abizar, muncul beberapa pria bertubuh kekar dengan senjata lengkap.
Mereka adalah anak buah musuh bebuyutan Vincent yang selama ini memantau Areta.
"Maaf, Areta. Tapi kamu adalah tiket emas bagi kami," bisik Abizar licik.
Sebelum Areta sempat berteriak, salah satu pria itu menyergapnya dari belakang, menutup mulutnya dengan kain beraroma bahan kimia yang menyengat.
Areta memberontak sejenak sebelum kesadarannya hilang akibat bius yang kuat.
"Kerja bagus, Abizar. Bawa wanita ini ke bos sekarang!" perintah salah satu pria itu.
Mereka segera menggendong tubuh Areta yang lunglai ke dalam mobil hitam yang sudah menunggu, menghilang ke dalam kegelapan malam tepat saat armada Vincent mulai mengepung wilayah tersebut.
Jonas berdiri di dermaga dengan wajah tegang saat anak buahnya menyisir setiap sudut lokasi.
Tak jauh dari bibir pantai, salah satu dari mereka menemukan tas milik Areta yang terjatuh di pasir dan sebuah kain sapu tangan yang masih menyengat bau obat bius.
Jonas segera mengambil barang bukti tersebut dan langsung menghubungi Vincent.
"Tuan, kami menemukan tas Nyonya Areta dan sapu tangan bius di dermaga daratan utama. Ada jejak ban mobil yang mengarah ke pinggiran kota. Sepertinya Nyonya tidak pergi atas kemauannya sendiri setelah tiba di sini."
Mendengar laporan itu, Vincent yang sudah berada di atas helikopter pribadinya langsung memerintahkan pilot untuk mendarat di titik koordinat Jonas.
"Tunggu aku di sana. Jangan biarkan siapapun menyentuh jejak itu sampai aku tiba!"
Hanya dalam hitungan menit, helikopter Vincent mendarat dengan suara bising yang membelah keheningan malam.
Vincent melompat keluar bahkan sebelum baling-baling berhenti berputar.
Matanya merah, wajahnya menunjukkan kemarahan yang bisa menghancurkan apapun di depannya.
Ia menyambar tas Areta dan mencium aroma bius dari sapu tangan itu.
Giginya bergemeretak, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol.
"Sialan!" umpat Vincent dengan suara rendah namun mematikan.
"Mereka berani menyentuh milikku. Mereka berani menyentuh istri dan anakku!"
Vincent melihat ke arah jejak ban mobil yang tersisa di tanah.
"Jonas, periksa semua rekaman CCTV di sekitar jalan ini. Aku ingin tahu siapa bajingan yang menjemputnya. Jika ada satu helai rambutnya yang hilang, aku akan memastikan mereka memohon untuk mati."
Vincent menggenggam tas Areta erat-erat, sementara auranya memancarkan haus darah yang luar biasa.
Ia tahu ini bukan sekadar pelarian istrinya, tapi sebuah jebakan yang sangat terencana.
Sementara itu di tempat lain Areta perlahan membuka matanya, rasa pening luar biasa menghantam kepalanya akibat sisa bius.
Ia mendapati dirinya terikat di sebuah kursi di ruangan yang gelap dan lembap.
Sayup-sayup, ia mendengar suara Abizar yang sedang berbicara di telepon dengan nada licik.
"Ya, Bos. Wanita ini sudah di tangan kita. Vincent pasti akan menyerahkan seluruh wilayah kekuasaannya demi jalang ini dan bayi di kandungannya," ucap Abizar sambil tertawa sinis.
"MMMMPPHH!!"
Areta mencoba berteriak di balik lakban yang menutup mulutnya, tubuhnya meronta sekuat tenaga.
Abizar menoleh, wajahnya yang dulu terlihat lembut kini penuh kebencian.
Ia berjalan mendekat sambil membawa alat penyetrum listrik.
"Diamlah, Sayang. Kamu hanya akan mempersulit dirimu sendiri," desisnya, lalu menempelkan alat itu ke lengan Areta.
ZAP!
Tubuh Areta kejang seketika dan ia kembali jatuh pingsan karena syok listrik yang kuat.
Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka kasar. Ronald, bos mafia saingan berat Vincent, melangkah masuk dengan seringai kemenangan.
"Sangat cantik sekali," gumam Ronald sambil mengelus pipi Areta yang tak sadarkan diri.
Ia menatap Abizar dengan dingin. "Tutup pintunya dan jangan ganggu aku."
Abizar membungkuk hormat dan segera keluar. Di dalam ruangan, Ronald mulai kehilangan akal sehatnya.
Obsesinya untuk menghancurkan Vincent kini berpindah pada istrinya.
Ia mulai membuka pakaian luar dan dengan kasar merobek pakaian Areta.
"Malam ini kita akan bersenang-senang, Sayang. Akan aku buat Vincent menangis darah karena tidak bisa menjagamu," bisik Ronald penuh nafsu.
Ia naik ke atas tubuh Areta yang lunglai, bersiap melakukan aksi kejinya.
BRAAAKK!!!
Pintu ruangan hancur berkeping-keping.
"DOR!!"
Satu tembakan dilepaskan ke udara, membuat debu langit-langit berjatuhan.
Vincent berdiri di ambang pintu dengan mata merah menyala dan aura kematian yang begitu pekat hingga memenuhi ruangan. Pistolnya kini terarah tepat ke pelipis Ronald.
"HENTIKAN, ATAU PELURU INI MENEMBUS KEPALAMU SEKARANG JUGA!" raung Vincent dengan suara yang menggetarkan seluruh gedung.
Ronald membeku, tangannya yang masih memegang sobekan baju Areta gemetar hebat.
Ia tidak menyangka Vincent bisa menemukan tempat ini secepat itu.
Vincent melangkah maju, setiap langkahnya seperti lonceng kematian yang berbunyi bagi siapa pun di dalam ruangan itu.
Tanpa ragu sedikit pun, Vincent melompat ke arah Ronald.
Ia mencengkeram leher bos mafia itu dan menghujamkan pukulan demi pukulan ke wajah Ronald dengan kekuatan penuh.
Suara tulang yang retak terdengar di ruangan itu, namun Vincent seolah kehilangan akal sehatnya; ia terus menghajar Ronald hingga pria itu terkulai lemas, bersimbah darah dan sekarat.
Jonas segera merangsek masuk ke dalam ruangan.
Ia dengan cepat menutupi tubuh Areta yang pakaiannya terkoyak dengan jas hitamnya, lalu melepaskan ikatan tali yang mengekang Areta.
"Nyonya, sadarlah," gumam Jonas sambil memeriksa denyut nadi Areta yang masih pingsan.
Di saat yang sama, Abizar yang bersembunyi di balik bayangan pintu mencoba menyerang Vincent dari belakang dengan sebilah pisau.
Ia mengira Vincent sedang lengah karena emosi. Namun, insting pembunuh Vincent terlalu tajam.
Tanpa menoleh sedikit pun, Vincent mengacungkan pistolnya ke belakang melalui celah ketiaknya.
DOR! DOR!
Dua tembakan dilepaskan dengan presisi luar biasa. Peluru-peluru itu bersarang tepat di kedua kaki Abizar.
"AAAARRGGHHH!!" Abizar terjatuh dan tergeletak di lantai, mengerang kesakitan saat darah mengucur deras dari kedua kakinya. Pisau di tangannya terlepas begitu saja.
Vincent berbalik perlahan, menatap Abizar dengan tatapan yang lebih dingin dari es.
"Kamu pikir aku tidak tahu kau ada di sana, pengkhianat?" desis Vincent.
Ia melangkah mendekati Abizar yang meronta, lalu menginjak salah satu luka tembak itu dengan sepatu botnya.
"Kamu berani menyentuhnya dengan alat setrum itu, kan? Aku akan memastikan kau merangkak seumur hidupmu jika aku membiarkanmu hidup hari ini."
Vincent kemudian menoleh ke arah Jonas yang sedang menggendong Areta.
"Bawa dia ke rumah sakit terbaik sekarang! Pastikan dokter memeriksa kandungan dan kondisinya secara menyeluruh. Aku akan membereskan tikus-tikus ini."
semngat terus Thor, kutunggu karyamu selanjutnya 🙏🙏
lanjut Thor💪😘