NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:118
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Konsekuensi & Penerimaan

​Satu bulan pasca Pensi yang legendaris itu, atmosfer di rumah keluarga Pradana mengalami perubahan iklim yang signifikan. Dari yang tadinya sedingin Kutub Utara, kini mulai menghangat menjadi... ya, setidaknya seperti musim semi di Eropa Utara. Masih dingin, tapi ada matahari.

​Sabtu sore.

​Di ruang tamu yang biasanya steril dan sunyi, kini ada pemandangan ganjil. Buku-buku pelajaran berserakan di meja kaca. Laptop menyala menampilkan grafik fungsi kuadrat. Dan di karpet bulu mahal, duduklah Alea dengan pose tidak anggun (kaki bersila lebar) sambil menggigiti ujung pensil.

​"Ini nggak masuk akal, Jul," keluh Alea. "Kenapa x harus dicari kalau dia udah jelas-jelas ada di situ?"

​Julian, yang duduk di sofa sambil memeriksa hasil latihan soal Alea, menghela napas sabar. "Itu filosofis, Alea. Secara matematis, kita mencari nilai dari x."

​"Nilai gue udah cukup, Pak Guru. Try Out kemaren gue dapet rata-rata 8,8. Kurang apa lagi?"

​"Target kita 9,0," koreksi Julian tanpa ampun. "Ingat kontrak di tisu bakso?"

​Alea mengerang panjang, menjatuhkan kepalanya ke meja. "Lo pacar apa sipir penjara sih?"

​"Dua-duanya," Julian tersenyum geli, mengelus kepala Alea sekilas. "Ayo semangat. Lima soal lagi, terus kita latihan gitar."

​Tiba-tiba, suara pintu depan terbuka. Langkah kaki berat terdengar mendekat.

​Tubuh Alea langsung tegak kaku. Wajahnya pucat. Mode santainya lenyap seketika, digantikan mode "Menantu Idaman Siap Diinspeksi".

​Dokter Prasetyo masuk ke ruang tamu, masih mengenakan jas putih dokternya yang tersampir di lengan. Wajahnya lelah setelah seharian membedah otak orang, tapi matanya tetap tajam saat melihat "tamu" di rumahnya.

​"Sore, Pa," sapa Julian, berdiri menyambut ayahnya.

​"Sore," jawab Dokter Prasetyo singkat. Matanya beralih ke Alea yang sudah berdiri dengan sikap sempurna (seperti mau upacara bendera).

​"Sore... Om," sapa Alea gugup. Suaranya mencicit.

​Dokter Prasetyo menatap meja yang berantakan, lalu menatap Alea.

​"Kamu di sini lagi?" tanya beliau datar.

​"I-iya, Om. Belajar bareng. Persiapan UN," jawab Alea cepat. "Nggak macem-macem kok, Om! Pintunya dibuka lebar-lebar!"

​Dokter Prasetyo berjalan mendekat ke meja. Alea menahan napas, takut buku-bukunya dibakar atau dia diusir pakai sapu lidi.

​Namun, Dokter Prasetyo justru mengambil kertas hasil latihan soal Alea yang tadi diperiksa Julian. Beliau memindai kertas itu dengan teliti.

​"Nomor 14 salah," komentar Dokter Prasetyo tiba-tiba.

​Alea melongo. "Hah?"

​"Logaritma basis 2 dari 32 itu 5, bukan 6. Kamu kurang teliti menghitung pangkat," koreksi Dokter Prasetyo, lalu meletakkan kertas itu kembali. "Kalau mau masuk Universitas Negeri, kesalahan elementer begini bisa fatal."

​Alea mengerjap. "O-oh... iya, Om. Maaf, Om."

​"Julian," panggil ayahnya.

​"Ya, Pa?"

​"Jangan cuma diajarkan rumusnya. Ajarkan cara berpikirnya. Dia ini tipe visual, jelaskan pakai grafik, jangan cuma angka," nasihat ayahnya.

​Julian dan Alea saling pandang, kaget. Dokter Prasetyo... memberi tips mengajar?

​"Baik, Pa. Akan Julian coba," jawab Julian, berusaha menyembunyikan senyumnya.

​Dokter Prasetyo hendak beranjak ke kamarnya, tapi beliau berhenti lagi.

​"Ngomong-ngomong soal band kalian..."

​Jantung Alea kembali berdegup kencang. Mati gue. Pasti dilarang.

​"...Om dengar lagu kalian masuk chart radio lokal minggu ini?" tanya Dokter Prasetyo tanpa menoleh.

​"Iya, Om!" jawab Alea antusias, lupa rasa takutnya. "Lagu 'Langit Abu-Abu' masuk top request. Kita juga lagi proses rekaman demo mini album."

​Dokter Prasetyo mengangguk pelan.

​"Bagus. Tapi ingat satu hal," kata beliau, berbalik menatap mereka berdua serius. "Industri musik itu kejam. Jangan cuma modal bakat. Pelajari kontraknya. Jangan sampai kalian ditipu label rekaman seperti kasus Rian menipu sekolah. Baca setiap klausul dengan teliti. Kalau ada kontrak yang mencurigakan..."

​Beliau menggantung kalimatnya sejenak, membetulkan letak kacamatanya.

​"...bawa ke Papa. Papa punya kenalan pengacara spesialis Hak Kekayaan Intelektual yang bisa bantu review."

​Hening.

​Mulut Alea terbuka lebar saking kagetnya. Julian tersenyum haru.

​Itu adalah bentuk dukungan tertinggi yang bisa diberikan seorang Dokter Prasetyo. Bukan tepuk tangan heboh, bukan pujian manis, tapi perlindungan hukum dan logika praktis.

​"Makasih, Pa," ucap Julian tulus.

​"Makasih banyak, Om!" seru Alea. "Om keren banget sumpah!"

​Dokter Prasetyo mendengus, menyembunyikan senyum tipis di wajahnya yang kaku.

​"Sudah. Lanjutkan belajarnya. Jangan berisik. Papa mau istirahat."

​Beliau berjalan naik ke lantai dua.

​Setelah bayangan Dokter Prasetyo menghilang, Alea langsung merosot ke karpet, memegangi dadanya.

​"Gila... bokap lo... dia barusan nawarin pengacara?" bisik Alea tak percaya.

​"Iya," Julian duduk kembali di sofa, tampak puas. "Itu cara dia bilang dia peduli, Le. Dia mulai nerima lo."

​"Gue kira dia bakal ngusir gue," Alea tertawa lega. "Ternyata dia... tsundere ya?"

​"Apa itu tsundere?" tanya Julian polos.

​"Itu lho, yang luarnya galak tapi dalemnya perhatian. Persis kayak lo!" Alea mencubit pipi Julian gemas.

​Julian menepis tangan Alea pelan, tapi wajahnya merah. "Sudah, jangan bahas itu. Kerjakan soal logaritma nomor 14 tadi. Ayah benar, kamu salah hitung pangkat."

​"Ah elah, ngerusak momen aja!"

​Sore itu berlanjut dengan sesi belajar yang diselingi tawa dan snack yang diam-diam dibawakan oleh Bi Inah (atas perintah Dokter Prasetyo, katanya).

​Kehidupan Julian perlahan menemukan keseimbangannya.

Dia tetap belajar keras untuk mengejar mimpi ayahnya (dan sekarang mimpinya juga) menjadi dokter—atau mungkin fisikawan medis, Julian belum memutuskan. Tapi di sela-sela rumus dan buku tebal, dia punya escape.

​Dia punya gitar hitam di sudut kamar.

Dia punya Alea yang selalu mengingatkannya untuk napas.

Dan dia punya ayah yang, meski tidak akan pernah ikut moshing di konser, setidaknya sudah tidak lagi membenci suara distorsi di rumah itu.

​"Jul," panggil Alea saat mereka sedang istirahat, duduk di balkon kamar Julian melihat matahari terbenam.

​"Hm?"

​"Lo bahagia?"

​Julian menatap langit sore yang berwarna jingga keunguan. Langit yang sama dengan lirik lagu mereka.

​Dulu, pertanyaan ini sulit dijawab. Dulu, bahagia itu konsep abstrak yang harus dicapai dengan nilai 100. Tapi sekarang, bahagia itu sederhana.

​Bahagia itu adalah bisa menjadi Julian si calon ilmuwan dan Phantom si gitaris dalam satu tubuh, tanpa harus bersembunyi.

​Julian menoleh ke Alea, menggenggam tangan gadis itu.

​"Sangat," jawab Julian. "Variabel kebahagiaan saya sudah lengkap."

​"Gombal lo makin jago ya," cibir Alea.

​"Diajarin pacar saya yang preman," balas Julian.

​Mereka tertawa bersama. Di bawah langit Jakarta, di rumah yang tidak lagi sepi, Julian Pradana akhirnya berdamai dengan masa lalunya, dan siap menyambut masa depannya.

​Tentu saja, perjalanan belum selesai. Masih ada UN, SBMPTN, dan drama kuliah nanti. Tapi Julian yakin, selama dia punya rumus ini—kerja keras, sedikit pemberontakan, dan banyak cinta—semua soal kehidupan pasti bisa dipecahkan.

...****************...

Bersambung .......

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!