"Mbak, aku mau beli mainan, boleeeh?"
Seorang pria dewasa yang ditemukannya terbangun dan tiba-tiba merengek sepeti seorang anak kecil. Luaticia atau Lulu sungguh bingung dibuatnya.
Selama sebulan merawat pria itu, akhirnya dia mendapat informasi bahwa sebuah keluarga mencari keberadaan putra mereka yang ciri-ciri nya sama persis dengan pria yang dia temukan.
"Ngaak mau, aku nggak mau di sini. Aku mau pulang sama Mbak aja!" pekik pria itu lantang sambil menggenggam erat baju Lulu.
"Nak, maafkan kami. Tapi Nak, kami mohon, jadilah pengasuhnya."
Jeeeeng
Sampai kapan Lulu akan mengasuh tuan muda tersebut?
Akankah sang Tuan Muda segera kembali normal dan apa misteri dibalik hilang ingatan sang Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malu 29
Ughhhh
Ditrian mengerang kesakitan dalam tidurnya. Ia memegang kepalanya dengan begitu kuat. Bahkan Ditrian menjambak rambutnya dengan kencang agar rasa sakit itu bisa berkurang.
"Kepala Didit sakit, ughhh," ucapnya lirih. Dia seketika teringat dengan Luaticia, air matanya sampai keluar karena ingin memanggil Luaticia namun tidak bisa dia lakukan.
Saat sedang sakit selama kehilangan ingatan, Ditrian pasti akan memancari Luaticia. Baginya Luaticia mampu meredakan rasa sakit yang dirasakannya. Tapi mengingat tadi siang Luaticia nampak kesal terhadapnya, Ditrian pun urung untuk mendatangi Luaticia.
"Uggg Mbak Lulu, kepala Didit sakit banget,"rintihnya lagi.
Ditrian sampai menenggelamkan kepalanya pada bantal, berharap rasa sakit itu berkurang. Dia berpikir, tidak mungkin hanya karena sebuah benturan pintu membuatnya sakit parah.
"Didit nggak mungkin kena sakit mematikan kayak di sinetron-sinetron yang ditonton Nek Asih pas di kampung kan. Ughhh tapi asli sakit banget ini, hu hu hu."
Ditrian hanya bisa menahannya sendiri. Dia tidak ingin membuat Luaticia khawatir seperti tadi siang. Dan pada akhirnya dia hanya merasakannya sendiri rasa sakit tersebut.
Teeeeeng
Bak ada sebuah lonceng yang berdenting di telinga dan kepalanya, Ditrian merasa kepalanya semakin sakit. Akan tetapi ada beberapa bayangan yang muncul.
"Kau tahu kan, kalau kita nerima tawaran dari perusahaan itu bisa bikin GoodFood berkembang lebih besar lagi karena keuntungan yang kita dapet lebih gede!"
"Aku tahu, tapi itu mengkhianati prinsip yang aku buat selama ini dan juga rencana awal pendirian GoodFood. Aku maunya buat makanan yang beneran non sugar and gluten free. Dan makanan yang kita buat juga nggak ada bahan pengawetnya. Aku mau bikin makanan atau jajanan sehat buat orang-orang. Kalau kita nrima tawaran itu berarti kita akan pake pemanis, pengawat, gluten dan sejenisnya yang dari awal kita hindari."
"Aku setuju sama Ditrian. Itu udah jadi prinsip kita dari awal."
"Iya tahu, tapi sampai kapan kita cuma mau sedekah kayak gini. Kita nggak banyak dapat untuk. Ini disini, kalian tahu itu kan!"
Nguuung
Kali ini bukan lagi suara lonceng tapi telinga Ditrian berdengung dengan sangat keras. Bahkan seolah membuatnya merasa tuli.
Setelah bayangan pertikaiannya dengan pria yang bernama Steven, akan suatu hal. Bayangan lain pun muncul. Yakni dimana dirinya yang hendak pulang tiba-tiba di pukul dari belakang oleh orang yang menggunakan pakaian serba hitam. Tempat itu adalah halaman dengan banyak mobil di sana.
"Ughhh apa ini?" ucap Ditrian di tengah-tengah rasa sakitnya. Beberapa ingatannya muncul. Bukan hanya saat dia menjadi Ditrian namun ketika dia menjadi Didit pun terlihat jelas bagaikan slide sebuah video.
"Astaga, apa yang udah aku lakuin pada gadis itu?" ucap Ditrian dengan wajah merah. Wajah yang menunjukkan antara sakit kepala yang di deritanya dan juga malu atas perlakuannya yang seperti bocah itu.
"Tapi dia beneran baik karena mau nerima aku yang orang asing. Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan. Menunjukkan diriku yang sesungguhnya atau tetap berperan sebagai orang yang tidak tahu apa-apa. Cuman, aku belum tahu juga siapa yang menginginkan nyawaku," ucapnya lagi di tengah rasa sakit kepalanya yang luar biasa itu.
Meski agaknya Ditrian sudah mulai kembali mengingat siapa dirinya, namun masih banyak juga hal yang belum diingatnya.
Ditrian merasa gamang dengan apa yang hendak dia lakukan setelah menyadari siapa dirinya.
"Haah sial, aku ngerasa haus banget,"ucapnya lirih.
Sambil memegangi kepalanya yang masih berdenyut hebat, dia berjalan menuju ke dapur. Ditrian juga berjalan dengan perlahan sambil berpegangan pada dinding.
"Brengsek, kenapa juga kamarku ada di lantai dua sih,"gerutunya kesal saat menuruni tangga. Dia merasa sudah jalan sedari tadi namun seolah tak kunjung sampai.
"Dit? Kamu ngapain? Kamu mau apa tengah malam gini ke dapur?"
Eh?
Luaticia terkejut saat melihat tatapan Ditrian yang sangat berbeda pada malam ini. Entah karena saat ini cahaya lampu hanya termaram, sehingga membuat sorot mata Ditrian terasa begitu tajam.
Sebenarnya Luaticia sendiri tidak ada keperluan ke dapur. Hanya saja dia yang sedang terbangun, mendengar suara pintu kamar sebelah yakni kamar Ditrian terbuka. Dan juga ada langkah kaki.
Luaticia yakin itu adalah Ditrian. Akhirnya dia memutuskan untuk mengikutinya. Biasanya juga Ditrian akan mengetuk pintu kamarnya jika membutuhkan sesutu.
"Dit? Didit kenapa?" tanya Luaticia lagi. Dia memastikan keadaan Ditrian. Gadis itu melihat bahwa wajah Ditrian sedikit pucat.
Karena tak kunjung mendapat jawaban, Luaticia pun mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening Ditrian. Dia khawatir ada efek yang ditimbulkan setelah kepala Ditrian terbentur pintu tadi sore.
Namun lagi dan lagi Luaticia dibuat terkejut saat Ditrian menghindar dari tangannya yang hendak menyentuh itu.
"Kenapa? Didit masih marah sama Mbak ya yang soal tadi siang. Mbak minta maaf, Mbak nggak akan ninggalin Didit kok. Hanya saja nanti kalau Didit udah sembuh, ya Mbak tetep harus pulang ke kampung. Tapi seperti yang Mbak bilang, Mbak akan tetep di sini sampai Didit sembuh. Jadi jangan marah ya, sini Mbak periksa kepala Didit,"ucap Luaticia lembut.
Degh!
Ucapan yang terlontar dari bibir gadis itu entah mengapa membuat Ditrian melemah. Dia bahkan membiarkan tangannya di genggam dan dibawa duduk. Ya Luaticia mendudukkan Ditrian di kursi lalu memeriksa kening Ditrian.
"Apa sakit hmmm?" tanya Luaticia,
"Nggak, nggak sakit kok. Cuman Didit haus,"jawab Ditrian.
Luaticia tersenyum, dia lalu membalikkan badannya untuk mengambil air putih. Dan apa yang dilakukan Ditrian? Dia menutup wajahnya dengan tangan. Rasanya begitu memalukan memanggil namanya sendiri seperti itu.
Tapi ada satu hal yang akhirnya diputuskan olehnya. Yakni untuk sementara ini dia masih harus berpura-pura hilang ingatan. Ada beberapa hal yang harus dia pastikan dan juga dicari tahu.
"Nah, ini air nya,"kata Luaticia sambil memberikan segelas air putih.
Luaticia kembali menyentuh kening Ditrian, sekali lagi memeriksa bahwa pria itu baik-baik saja dan tidak mengalami demam.
"Kalau sudah minumnya, balik ke kamar yuk. Besok Didit harus bangun pagi karena kita harus berangkat ke perusahaan. Besok Didit harus 'akting' lagi,"ucap Luaticia.
"Iya, ayo kita balik ke kamar,"jawab Ditrian sambil mengingat bahwa kedatangannya ke perusahaan adalah untuk akting sesuai rencana Vindra.
Sepanjang jalan dari dapur ke kamar, Luaticia terus berpikir bahwa ada yang aneh dari pria jangkung yang berjalan di sisinya itu. Dia merasa aura Ditrian sangat berbeda. Tapi Luaticia tak mau ambil pusing, karena besok dia harus bekerja keras agar Ditrian bisa melakukan aktingnya dengan sangat baik.
"Mungkin cuma perasaanku aja ada yang berbeda dari Didit,"batinnya.
TBC
mual aku dgn ucapan manis Steven ke Daria 🤢
masakan calon menantu enakan Mama Dhea dan Papa Drake 😁