NovelToon NovelToon
Istri Balas Dendam CEO Winter

Istri Balas Dendam CEO Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / CEO / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: S. N. Aida

Winter Alzona, CEO termuda dan tercantik Asia Tenggara, berdiri di puncak kejayaannya.
Namun di balik glamor itu, dia menyimpan satu tujuan: menghancurkan pria yang dulu membuatnya hampir kehilangan segalanya—Darren Reigar, pengusaha muda ambisius yang dulu menginjak harga dirinya.

Saat perusahaan Darren terancam bangkrut akibat skandal internal, Winter menawarkan “bantuan”…
Dengan satu syarat: Darren harus menikah dengannya.

Pernikahan dingin itu seharusnya hanya alat balas dendam Winter. Dia ingin menunjukkan bahwa dialah yang sekarang memegang kuasa—bahwa Darren pernah meremehkan orang yang salah.

Tapi ada satu hal yang tidak dia prediksi:

Darren tidak lagi sama.
Pria itu misterius, lebih gelap, lebih menggoda… dan tampak menyimpan rahasia yang membuat Winter justru terjebak dalam permainan berbeda—permainan ketertarikan, obsesi, dan keintiman yang makin hari makin membakar batas mereka.

Apakah ini perang balas dendam…
Atau cinta yang dipaksakan takdir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 — “Skandal di Halaman Utama”

​Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela penthouse seharusnya terasa hangat setelah malam yang penuh pengakuan, namun bagi Winter Alzona, pagi itu justru terasa seperti siraman air es. Ia terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh deretan panggilan tak terjawab dari Adrian dan getaran ponsel yang tak kunjung berhenti.

​Winter meraih ponselnya dengan mata setengah terpejam, namun seketika terbelalak saat melihat tajuk utama di salah satu portal berita bisnis terbesar di tanah air.

​"PERNIKAHAN ATAU TRANSAKSI? BOCORNYA DRAFT KONTRAK PERNIKAHAN CEO ALZONA GROUP DAN DARREN REIGAR."

​Di bawah judul sensasional itu, terpampang foto dokumen yang sangat familiar—kontrak pernikahan mereka. Meskipun beberapa bagian disensor, klausul tentang pembagian aset, durasi pernikahan, dan kesepakatan non-romantis terlihat jelas bagi siapa pun yang membacanya.

​"Tidak mungkin..." bisik Winter. Jantungnya berdegup kencang, kali ini karena kemarahan yang meluap-luap.

​Darren masuk ke kamar dengan wajah yang sama tegangnya. Ia sudah mengenakan kemeja, namun dasinya masih tersampir di bahu. "Kau sudah melihatnya?"

​"Siapa, Darren? Siapa yang melakukan ini?!" Winter bangkit dari tempat tidur, mengabaikan rasa lemas di kakinya. "Hanya ada empat orang yang memegang dokumen ini: aku, kau, Adrian, dan... Lysandra."

​"Lysandra sudah berada di bawah pengawasan ketat sejak kemarin sore. Tidak mungkin dia merilisnya dari dalam ruang isolasi keamanan tanpa bantuan luar," sahut Darren. Ia berjalan mendekat, mencoba menenangkan Winter, namun Winter menepis tangannya.

​"Ini menghancurkan segalanya, Darren! Reputasiku sebagai CEO, integritas merger kita... semua orang akan menganggap aku pengecut yang membeli suami untuk menyelamatkan perusahaan! Dan para pemegang saham... mereka akan mengamuk!"

​Winter segera menyambar ponselnya dan menghubungi Adrian. "Adrian! Siapkan tim krisis sekarang juga. Aku ingin tahu dari mana dokumen itu bocor. Lacak alamat IP pengirimnya, hubungi dewan direksi, dan katakan bahwa kita akan mengeluarkan pernyataan resmi dalam dua jam!"

​Di kantor pusat Alzona Group, suasana sudah seperti sarang lebah yang diganggu. Para wartawan sudah berkumpul di lobi, kamera-kamera mereka siap membidik setiap inci wajah Winter saat ia turun dari mobil. Bisik-bisik di koridor kantor terasa lebih tajam daripada biasanya. Tatapan para karyawan yang biasanya penuh hormat kini berubah menjadi penuh penilaian dan keraguan.

​"Nona Winter, saham kita turun empat persen di pembukaan perdagangan pagi ini," lapor Adrian saat Winter melangkah masuk ke ruang kerjanya. "Dewan direksi menuntut klarifikasi. Tuan Hendrawan bilang, jika pernikahan ini hanya rekayasa kontrak untuk memanipulasi nilai pasar, itu bisa dianggap sebagai penipuan publik."

​Winter menggebrak meja. "Ini bukan penipuan! Ini adalah strategi restrukturisasi!"

​"Tapi publik tidak melihatnya begitu, Nona. Mereka melihatnya sebagai sandiwara emosional untuk menutupi kelemahan Alzona pasca meninggalnya ayah Anda," tambah Adrian pelan.

​Winter memijat pelipisnya. Ia merasa terpojok. Selama ini ia selalu bangga dengan transparansi dan ketegasannya, namun kini ia terjerat dalam jaring yang ia buat sendiri. Ia menoleh ke arah Darren yang berdiri di sudut ruangan, menatap layar monitor yang menampilkan pergerakan saham.

​"Kenapa kau diam saja?" tuntut Winter pada Darren. "Bukankah kau yang paling ahli dalam urusan strategi publik?"

​Darren memutar kursinya, menatap Winter dengan ketenangan yang hampir membuat Winter semakin marah. "Aku sedang melacak dalangnya, Winter. Dokumen yang bocor itu bukan versi asli yang kita tandatangani pertama kali. Itu adalah versi revisi yang kau buat untuk memperpendek masa kontrak kita."

​Winter tertegun. "Addendum itu?"

​"Ya. Hanya ada satu orang yang bisa mengakses addendum itu selain kita berdua dan Adrian," ujar Darren. Matanya menyipit. "Sekretaris pribadimu, Maya. Dia yang menyiapkan berkasnya untuk ditandatangani hari itu, bukan?"

​Winter merasa dunianya berguncang lagi. Maya sudah bekerja dengannya selama lima tahun. "Maya? Tidak mungkin. Dia sangat setia."

​"Dalam bisnis ini, kesetiaan sering kali hanya masalah harga, Winter," sahut Darren dingin. "Aku sudah meminta tim IT-ku memeriksa log aktivitas Maya. Dia mengirim email ke alamat anonim tepat satu jam setelah kita berangkat ke Tokyo."

​Amarah Winter kini memiliki sasaran baru. Ia merasa dikelilingi oleh musuh. Lysandra, Ethan Wray, dan sekarang Maya. Ia merasa seolah-olah setiap orang yang ia percaya telah menusuknya dari belakang.

​"Cari dia. Aku ingin dia di depan mataku sekarang juga!" perintah Winter.

​Namun, Maya sudah menghilang. Ia tidak masuk kerja hari itu dan apartemennya sudah kosong. Kebocoran ini adalah serangan yang direncanakan dengan sangat matang untuk menghancurkan Winter tepat saat ia merasa telah menang.

​Winter duduk di kursinya, merasa lelah yang luar biasa. "Apa yang harus kita lakukan? Jika aku membantahnya, mereka akan meminta bukti lebih banyak. Jika aku mengakuinya, karirku selesai."

​"Kita tidak akan membantah atau mengakui," ujar Darren, berjalan mendekat dan berdiri di depan meja Winter. Kali ini ia tidak meminta izin untuk mengambil tangan Winter. "Kita akan mengubah narasi ini. Mereka ingin drama, kita akan berikan mereka kenyataan yang lebih kuat dari sekadar kertas."

​"Maksudmu?"

​"Media bertanya apakah pernikahan ini transaksi? Kita akan tunjukkan bahwa meskipun awalnya mungkin begitu, sekarang tidak lagi. Kita harus tampil di depan mereka, Winter. Bersama."

​Winter menatap Darren. Di tengah skandal yang mengancam untuk menghanguskan hidupnya, pria ini tetap berdiri tegak, tidak goyah sedikit pun. Namun, harga diri Winter masih memberontak. Ia benci kenyataan bahwa ia kembali bergantung pada Darren untuk menyelamatkan wajahnya di depan publik.

​"Kau ingin kita berakting lebih jauh lagi?" tanya Winter sinis.

​"Ini bukan lagi akting, Winter. Dan kau tahu itu," balas Darren dengan nada dalam. "Kau marah karena rahasia kita bocor, atau kau marah karena dunia tahu bahwa kau sebenarnya tidak sehebat itu dalam membenciku?"

​Winter terdiam, tidak mampu menjawab. Di luar, suara riuh wartawan terdengar hingga ke lantai atas. Skandal di halaman utama ini bukan hanya mengancam perusahaan, tapi memaksa Winter untuk memilih: tetap bersembunyi di balik kontrak yang sudah hancur, atau berdiri di samping pria yang kini menjadi satu-satunya pelindungnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!