NovelToon NovelToon
Bara Dalam Diam Istriku

Bara Dalam Diam Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rara Jiwa

Setelah tujuh tahun nikah, Aris itu tetap saja sedingin es. Kinanti cuma bisa senyum, berusaha sabar. Dia cinta banget, dan dia yakin suatu hari nanti, es di hati suaminya itu bakal luntur.

Tapi, bukannya luntur, Aris malah jatuh hati sama cewek lain, cuma gara-gara pandangan pertama.

Kinanti tetap bertahan, mati-matian jaga rumah tangganya. Puncaknya? Pas ulang tahun Putri, anak semata wayang mereka yang baru pulang dari luar negeri, Aris malah bawa Putri buat nemenin cewek barunya itu. Kinanti ditinggal sendirian di rumah kosong.

Saat itulah, harapan Kinanti benar-benar habis.

Melihat anak yang dia besarkan sendiri sebentar lagi bakal jadi anak cewek lain, Kinanti sudah nggak sedih lagi. Dia cuma menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anak, dan pergi dengan kepala tegak. Dia nggak pernah lagi nanyain kabar Aris atau Putri, cuma nunggu proses cerai ini kelar.

Dia menyerah. Kinanti kembali ke dunia bisnis dan, nggak disangka-sangka, dirinya yang dulu diremehin semua orang...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Berdarah di Tengah Hujan

"Kamu..."

Kinanti mengulurkan tangannya seraya berkata, "Terima kasih atas bantuannya selama ini."

Farel masih belum tersadar, tapi tetap menjabat tangan Kinanti, lalu berkata, "Sama sama."

Selesai membereskan barangnya di kantor, Kinanti pun pergi. Farel tidak percaya Kinanti akan benar benar pergi.

"Ngapain bengong?" seru Rio sambil menepuk pundak Farel.

"Kinanti resmi keluar dari perusahaan."

"Benaran?" ucap Rio tak percaya.

Kinanti benar benar rela meninggalkan perusahaan? Kenapa ini terasa tidak nyata? Rio lantas mencibir, berkata, "Sekarang dia memang pergi, tapi bukan berarti dia nggak bisa kembali lagi. Kita lihat aja, nggak butuh waktu lama, kok. Nenek Keluarga Anggasta pasti akan membantunya kembali."

Farel terdiam tak membalas ucapan Rio. Meski agak tidak percaya, sikap Kinanti belakangan ini membuat Farel merasa kalau wanita itu benar benar serius.

Setelah meninggalkan Grup Anggasta, Kinanti langsung pulang ke rumahnya.

Selama dua hari berikutnya, dia tidak mendapatkan telepon dari Putri. Yah, mungkin saja putrinya itu sedang fokus pada Dinda.

Keesokan hari saat tengah malam, Raisa demam. Kinanti menutup buku yang dia baca dan segera mengambil kunci mobil pergi ke kediaman Raisa. Hujan turun sepanjang hari ini. Saat ini, masih turun hujan lebat sekali.

Raisa tinggal di kawasan Kota Tua. Saat ini, hanya sedikit orang dan mobil yang lalu lalang.

Kinanti mau membeli obat di apotek dekat tempat tinggal Raisa. Saat melipat payungnya dan hendak masuk ke dalam mobil, kursi penumpang di sebelahnya tiba tiba terbuka dan sosok pria tinggi masuk ke dalam.

Jantung Kinanti sontak berdebar kencang. Begitu menoleh, moncong pistol berwarna hitam sudah diarahkan tepat padanya.

"Jangan bergerak."

Pria itu mengenakan pakaian hitam, memakai masker dan bertopi. Ujung topinya ditarik ke bawah membuat wajahnya tak terlihat jelas. Namun, sorot matanya tajam dan dingin menatap Kinanti.

Kinanti mengangkat tangannya dan tidak bergerak. Pria itu mengambil tas dan ponsel Kinanti, lalu berkata, "Aku nggak akan menyakitimu. Antar aku ke tempat yang aku mau, lalu kamu boleh pergi."

Tanpa menunggu jawaban Kinanti, pria itu lanjut berkata, "Cepat jalankan mobilnya."

Tak ada seorang pun di sekitar, tidak ada mobil atau pun orang, apotek pun cukup jauh... Saat memikirkan kemungkinan yang terjadi, dia menyadari bau amis darah di dalam mobil.

Kinanti tertegun sejenak, lalu menyalakan mesin mobil dan bertanya, "Ke mana?"

"Lurus aja ke Dermaga Teluk Timur. Aku akan kasih tahu arahnya," ucapnya.

"Nggak perlu, aku tahu jalan."

Selesai mengatakannya, Kinanti pun menginjak pedal gas mobilnya.

Dalam perjalanan, Kinanti fokus menyetir, sedangkan pria itu tak mengatakan sepatah kata pun. Suasana di mobil terasa hening. Jarak ke Dermaga Teluk Timur berjarak setengah jam dari tempat semula. Sepanjang perjalanan, Kinanti tampak tenang dan fokus mengemudi, tidak salah jalan sekali pun.

Pria itu menggenggam pistol di tangannya. Tatapan matanya perlahan berubah saat menatap Kinanti. Hanya saja, Kinanti tidak menyadarinya.

Tak lama kemudian, pria itu berkata, "Berhenti di bawah pohon beringin di depan situ."

"Oke."

Mobil pun berhenti perlahan, sementara pistol itu masih mengarah pada Kinanti. Saat pria itu hendak turun, Kinanti mengambil tasnya kembali dan membuka tasnya di depan pria itu. "Aku punya obat," ucap Kinanti.

Dalam waktu setengah jam, bau amis darah di dalam mobil semakin kuat. Dia tahu pria itu terluka parah. Pria itu tertegun sejenak. Dia memilih tak menggubris Kinanti dan langsung turun dari mobil. Sosoknya pun menghilang dengan cepat di dalam kegelapan.

Yah, karena pria itu menolak, Kinanti tidak memaksanya dan segera memutar balik mobilnya untuk pergi dari lokasi itu.

Beberapa menit kemudian, pria itu menaiki perahu yang menunggunya dan melepas topi serta maskernya. Tepat pada saat ini, ponselnya berdering. Sambil menyuruh orang mengobatinya, dia mengangkat telepon itu.

Pria itu belum sempat mengatakan sesuatu, tiba tiba terdengar suara Gading di ujung telepon. "Dani, gimana keadaanmu? Orang suruhanku bilang, kamu nggak ada saat mereka menjemputmu, kamu di mana?" tanya Gading.

"Ada hal tak terduga terjadi, sekarang aku di dermaga."

"Baiklah kalau begitu. Gimana ini bisa terjadi? Aku kaget banget!"

Setelah beberapa saat, telepon pun ditutup. Dani menatap ke arah pohon beringin tinggi di kejauhan. Agaknya dia sedang memikirkan sesuatu. Dia baru saja ditolong oleh wanita yang selama ini dia benci.

Setengah jam pun berlalu, Kinanti akhirnya tiba di rumah Raisa.

Begitu Raisa minum obat dan makan habis buburnya, dia akhirnya merasa lebih baik. Hanya saja, dia mulai mengerutkan keningnya. "Kecium bau darah nggak sih, Nan? Kamu terluka?" ucap Raisa.

"Nggak."

Pria itu terluka parah. Saat mengambil ponsel serta tas miliknya, darah pria itu menempel pada barangnya. Sebenarnya setelah pulang, Kinanti sudah mengelap sisa darah itu. Namun sepertinya belum sepenuhnya bersih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!