NovelToon NovelToon
BALAS DENDAM SANG IBLIS SURGAWI

BALAS DENDAM SANG IBLIS SURGAWI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Transmigrasi / Fantasi Timur / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zen Feng

Guang Lian, jenius fraksi ortodoks, dikhianati keluarganya sendiri dan dibunuh sebelum mencapai puncaknya. Di tempat lain, Mo Long hidup sebagai “sampah klan”—dirundung, dipukul, dan diperlakukan seperti tak bernilai. Saat keduanya kehilangan hidup… nasib menyatukan mereka. Arwah Guang Lian bangkit dalam tubuh Mo Long, memadukan kecerdasan iblis dan luka batin yang tak terhitung. Dari dua tragedi, lahirlah satu sosok: Iblis Surgawi—makhluk yang tak lagi mengenal belas kasihan. Dengan tiga inti kekuatan langka dan tekad membalas semua yang telah merampas hidupnya, ia akan menulis kembali Jianghu dengan darah pengkhianat. Mereka menghancurkan dua kehidupan. Kini satu iblis akan membalas semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zen Feng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: ROH PENUH DENDAM

WHOOOOSH!

Gao Shan dan Gao Shui berpencar—berlari ke arah berlawanan dengan Qinggong maksimal. Kaki mereka hampir tidak menyentuh tanah.

Dari sela-sela pepohonan, mereka menyerang.

SLASH! SLASH! SLASH!

Tebasan Qi Bayangan meluncur dari berbagai arah—kiri, kanan, depan, belakang.

Tapi Ryoken sang Tengu Api Neraka hanya tersenyum.

Dia mengayunkan pedang raksasanya melingkar—satu putaran santai.

WHOOOOOSH!

Tebasan api menyebar 360 derajat! Dinding api raksasa meluncur ke segala arah—tidak ada yang aman!

Gao Shan melompat tinggi—tubuhnya melayang di udara, tebasan api melewati kakinya dengan jarak kurang dari sejengkal!

Gao Shui meluncur sangat rendah—tubuhnya menyeret tanah, tebasan api melewati punggungnya begitu dekat sampai jubahnya terbakar!

Mereka mendarat beberapa puluh meter jauhnya, napas terengah. Qi hampir habis.

"Ini mulai membosankan," kata Ryoken sambil berjalan santai. Pedangnya bertumpu di pundak, api masih berkobar di bilahnya. "Sampai kapan kalian berlarian seperti tikus?"

"SIALAN!" Gao Shan mengumpat keras.

Dia dan saudaranya berlari lagi—kali ini mendekat satu sama lain. Saat berpapasan di tengah, keduanya tidak berhenti.

Transmisi Qi singkat dari Gao Shui: "Tahap kedua."

Gao Shan tersenyum lebar. Mengangguk.

Dengan gerakan cepat, mereka berbelok tajam—mengubah arah, langsung mendatangi Tengu!

Mereka melesat! Melompati dahan, bebatuan, tanah yang terbakar!

‘Qi kami berdua tak akan cukup untuk membantu Tuan Muda, pikir Gao Shui saat berlari. Tapi bagaimanapun kita harus selamat! Kita harus kembali—paling tidak untuk meminta bantuan!’

Ryoken tertawa melihat dua saudara itu maju mendekat.

Qi hitam mulai menyelimuti tubuh mereka berdua. Perlahan semakin pekat. Lalu membentuk siluet—dua naga raksasa!

"Naga... Kembar?" Ryoken menyeringai. Matanya berkilat. "Menarik!"

Pedangnya terayun—

WHOOOOM!

Tebasan api besar meluncur ke arah dua naga hitam itu!

Tapi dua naga itu berpencar!

Satu meliuk terbang ke atas—sayap bayangan mengepak, melesat dengan kecepatan mengerikan!

Satu melesat sangat rendah di tanah—begitu cepat sampai membuat debu beterbangan seperti badai!

Ryoken tertawa penuh semangat.

Api kini tidak hanya menyelimuti bilah pedangnya—tapi merambat ke seluruh tubuhnya! Dari kaki, pinggang, dada, hingga sayap!

Dia berubah menjadi Tengu berapi!

Naga bayangan yang terbang menukik tajam dari atas—mulut terbuka, taring Qi menyala!

Naga bayangan di bawah melesat ke atas—siap menerkam dari bawah!

Ryoken hendak mengayunkan pedangnya—

WHOOOOSH!

Tubuhnya meledak menjadi asap!

Hilang!

"APA?!"

Kedua naga itu tidak bisa berhenti! Momentum terlalu besar!

BOOOOM!

Keduanya bertabrakan tepat di tempat Ryoken berdiri sedetik lalu!

Ledakan Qi tercipta! Debu dan serpihan kayu beterbangan!

Kedua naga itu terpental—meluncur tak terkendali, menabrak pohon demi pohon! Lima pohon, sepuluh pohon, lima belas pohon!

Akhirnya mereka berhenti beberapa puluh meter jauhnya.

Bayangan naga perlahan memudar.

Kini tampak dua saudara Gao berdiri dengan terengah. Darah mengalir dari sudut bibir mereka. Tubuh penuh luka.

"KEMANA BURUNG SIALAN ITU?!" teriak Gao Shan kesal sambil menatap ke segala arah. "AKU HAMPIR MENCABIKNYA!"

Gao Shui diam. Otaknya bekerja keras.

‘Jika Tengu itu menghilang... apa sang pemanggil kehabisan Qi? Atau...’

Dia tersenyum lebar.

"Sepertinya Tuan Muda berhasil mengalahkan Haikun!"

Sementara itu, saat yang sama di sungai pertarungan sengit belum berakhir.

SLASH! SLASH! SLASH!

Hu Wei dan Tengu panggilan Yuto menyerang dengan kombinasi mematikan!

Keduanya terbang—menukik, menyerang, menebas, menghindar! Sayap mereka mengepak dengan indah namun brutal!

Sementara Yuto di tepi sungai, tangannya membentuk segel mudra.

WHOOOOSH!

Api menyembur dari mulutnya—bantuan dari roh api di alam! Api itu meluncur seperti ular, mengincar wajah Kappa!

Darah mengalir dari hidung Yuto. Dia memaksakan kekuatannya meskipun luka dalam belum sembuh.

Kappa menggeram marah.

Tangannya terangkat tinggi-tinggi. Air sungai naik—membentuk bola air raksasa sebesar rumah!

"KALIAN AKAN MATI!"

Bola air itu berputar dengan kecepatan mengerikan. Tekanan spiritual menguar dari dalamnya—cukup untuk menghancurkan batu besar!

Kappa melempar—

Tapi tiba-tiba—

SPLASH!

Bola air itu jatuh! Terpecah jadi ribuan tetes!

Dan Kappa—

WHOOOOSH!

Tubuhnya meledak menjadi asap pekat! Hilang sepenuhnya!

Hu Wei membeku di udara, bingung.

Yuto menyadari sesuatu. Matanya membelalak.

"HAIKUN TELAH KALAH!" teriaknya.

Sebelum Hu Wei sempat merespons—

WHOOP! WHOOP!

Dua orang melompati dinding tanah yang dibuat Kappa tadi—meluncur tinggi, lalu mendarat sempurna di batu tengah sungai.

Gao Shan dan Gao Shui.

Keduanya penuh luka. Jubah terbakar di beberapa bagian. Tapi mata mereka menyala dengan kemenangan.

"Ayo kita susul Tuan Mo Long!" kata Gao Shui sambil menatap Hu Wei.

Di Gua Gunung Mayat, pertarungan telah berakhir, menyisakan keheningan.

Kegelapan.

Mo Long berlutut di samping mayat Yaohua.

Wanita itu terbaring kaku. Mata terbuka lebar—membelalak dengan ekspresi horor yang membeku. Mulut terbuka sedikit, seolah hendak berteriak tapi tidak ada suara yang keluar.

Kulitnya pucat. Urat-urat hitam masih terlihat di wajahnya—jejak racun pengendali pikiran dan Seni Pembalik Aliran Qi yang menghancurkannya dari dalam.

Mo Long menatap wajah itu.

Wajah yang pernah tersenyum padanya. Wajah yang pernah membuatnya merasa hangat—perasaan asing yang tidak pernah dia rasakan sebagai Guang Lian.

Tapi sekarang...

Tidak ada apa-apa.

Tidak ada air mata. Tidak ada kesedihan. Tidak ada penyesalan.

Hanya kekosongan.

Mata kiri Mo Long—mata yang baru—berkedip. Kilatan merah samar muncul di pupilnya.

‘Apa ini efek mata Haikun?’ pikirnya datar. ‘Atau memang aku sudah seperti ini sejak awal?’

Tangannya terangkat. Jari-jarinya menyentuh kelopak mata Yaohua dengan lembut.

Dia mengusap mata itu hingga tertutup.

"Beristirahatlah dengan tenang," ucapnya hampir tanpa ekspresi. Suaranya datar—terlalu datar untuk seseorang yang kehilangan kekasih. "Sekarang suamimu tak bisa mengganggumu lagi."

Dia bangkit. Berbalik.

Mayat Haikun terbujur beberapa meter jauhnya.

Tubuhnya terbelah dari dalam—daging robek, tulang patah, organ tersebar. Keempat matanya mengkerut—tertutup rapat dengan kelopak berlipat-lipat. Dan mata kelima...

Hilang.

Hanya menyisakan lubang besar di tengah dahi. Lubang itu gelap, dalam, seolah menembus tengkorak hingga ke otak.

"Jadi pria itu bukan ilusi," gumam Mo Long sambil mendekati mayat.

Wajah pria cantik berkulit putih bercahaya muncul di ingatannya. Senyum penuh arti yang terakhir dia lihat sebelum pingsan.

‘Siapa dia? Kenapa dia membantuku? Dan apa maksudnya dengan 'Iblis Surgawi yang kami nanti'?’

Tapi tidak ada jawaban.

Mo Long berhenti di samping mayat. Mata kirinya—mata Haikun—berkedip.

Lalu dia melihatnya.

Sesuatu menggeliat di dalam lubang di dahi Haikun.

Hitam. Panjang. Seperti cacing.

Serangga Parasit Induk.

Senyum tipis muncul di bibir Mo Long.

‘Inilah yang menjadi tujuanku.’

Tangannya meraih—jari-jarinya masuk ke lubang, menyentuh serangga itu.

Ingatan Guang Lian muncul.

‘Laporan dari pendekar Sekte Gunung Hua—saat pendekar Kultus Iblis mengambil serangga ini, dia 'membasuh' cacing itu di tangannya dengan Qi tipis. Saat cacing mulai berhenti menggeliat dan menjadi tenang, dia membiarkan cacing itu merambat masuk ke hidungnya.’

Mo Long melakukan persis seperti itu.

Dia menarik serangga itu keluar—basah, berlendir, menggeliat hebat di telapak tangannya. Panjangnya hampir sepuluh sentimeter, hitam legam dengan bintik-bintik merah di tubuhnya.

Qi Bayangan mengalir dari jari-jarinya—tipis, lembut, membasuh serangga itu.

Serangga mulai tenang. Geliatan melambat. Lalu berhenti.

Mo Long mengangkat tangannya ke wajah. Serangga itu mulai bergerak lagi—perlahan merayap di telapak tangannya, naik ke pergelangan, ke lengan, ke bahu, ke leher...

TAP TAP TAP TAP!

Langkah kaki mendekat dari lorong gua!

Gao Shan, Gao Shui, Hu Wei, dan Yuto muncul—berlari dengan napas terengah!

"Tuan Muda!" panggil Hu Wei.

Mereka berhenti melihat pemandangan di depan—mayat Haikun yang mengenaskan, mayat Yaohua yang pucat, dan Mo Long yang berdiri dengan serangga merayap di lehernya.

Yuto melihat serangga itu hendak masuk ke hidung Mo Long.

Matanya membelalak. Wajahnya pucat.

"TIDAK!" teriaknya panik.

Dia berlari—tangan terangkat, hendak menghentikan Mo Long!

Tapi—

WHAM!

Hu Wei bergerak lebih cepat. Kakinya menjegal Yuto!

Yuto tersungkur ke tanah batu dengan keras!

CRACK!

Hu Wei menginjak punggung Yuto—keras, brutal, tidak ada belas kasihan.

"GAAKH!"

Yuto memuntahkan darah. Tulang rusuknya retak.

"T-Tuan Mo Long... j-jangan...!" bisiknya dengan suara lemah.

Tapi terlambat.

Serangga itu merambat masuk ke hidung Mo Long.

Dia menutup mata. Merasakan serangga menggeliat dalam kepalanya—merayap melalui rongga hidung, naik ke tengkorak, menuju otak.

Rasa sakitnya luar biasa.

Seperti ribuan jarum menusuk otaknya dari dalam. Seperti cacing memakan jaringan otaknya perlahan.

Tapi Mo Long hanya berdiri diam.

Wajahnya tenang—terlalu tenang.

‘Rasa sakit ini tak ada apa-apanya,’ pikirnya, ‘dibandingkan saat mata Haikun menyatu dengan mataku.’

Dia bahkan tersenyum sedikit—seolah menikmati "gelitikan" cacing itu.

Beberapa detik berlalu.

Cacing itu berhenti menggeliat. Tenang. Seolah tidur di dalam otaknya.

Lalu Mo Long merasakannya.

Keberadaan serangga-serangga budak lainnya.

Sembilan serangga. Tersebar di berbagai tempat—beberapa dalam tubuh manusia, beberapa disimpan di tempat tersembunyi.

Dia bisa merasakan lokasi mereka. Bisa merasakan keberadaan inang mereka.

Dan yang paling penting—dia bisa mengendalikan mereka.

Senyum Mo Long melebar.

‘Dengan pengikut yang setia, pikirnya, selangkah lebih dekat mencapai tujuan. Balas dendam. Menghapus Fraksi Ortodoks. Menghancurkan Klan Guang.’

Dia menoleh. Menatap Yuto yang masih terinjak di bawah kaki Hu Wei.

"Yuto," panggilnya dengan suara dingin.

Kepala Yuto berkedut.

Dalam sekejap—dia meronta! Kekuatan tiba-tiba meledak dari tubuhnya!

WHAM!

Kaki Hu Wei yang menekan keras terlepas! Hu Wei hampir terjatuh mundur!

Yuto bangkit—tapi tidak untuk kabur.

Dia berjalan dengan kaku—seperti boneka dikendalikan tali.

Lalu berlutut di depan Mo Long.

Kepala menunduk. Tangan terlipat rapat di dada.

Seperti budak yang setia.

"Tuan," bisik Yuto. Suaranya bergetar—bukan karena takut, tapi karena melawan kendali yang tidak bisa dilawan. "Hamba... siap melayani."

Mo Long tersenyum puas.

"Bagus." Dia menunjuk ke salah satu sudut gua yang gelap. "Sekarang ambilkan aku serangga-serangga budak lain. Aku merasakan keberadaan mereka di sana."

Yuto bangkit. Berjalan kaku ke sudut gua.

Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan sebuah kotak kecil kayu berukir kompleks.

Dia membuka kotak itu.

Di dalamnya, tujuh ekor serangga budak menggeliat—hitam dengan bintik merah, lebih kecil dari parasit induk tapi tetap mengerikan.

"Ini barang berharga," kata Yuto dengan suara datar—suara orang yang kehilangan kehendak bebas. "Hanya dimiliki Tao level tinggi. Sangat sulit dibuat."

Mo Long mengambil kotak itu.

"Sekarang ini milikku."

Mereka semua hendak beranjak.

Hu Wei melirik ke arah mayat Yaohua. Mulutnya terbuka—hendak bertanya tentang wanita itu, tentang apakah mereka akan membawa mayatnya.

Tapi saat dia melihat wajah Mo Long...

Saat dia melihat mata kiri Mo Long dengan kilat merah samar di pupilnya...

Bergidik ngeri merayapi tulang punggungnya.

Ada sesuatu yang salah dengan Tuan Mudanya.

Sesuatu yang sangat salah.

Hu Wei mengurungkan niatnya. Dia diam saja.

Tapi dari belakang mereka—

KREEEEK...

Suara aneh. Seperti listrik statis. Seperti sesuatu yang menyala.

Energi mengerikan muncul.

Udara bergetar. Suhu tiba-tiba turun—sangat dingin sampai napas mereka mengepul.

CRACK! CRACK! CRACK!

Kilat-kilat gelap muncul dari berbagai sudut ruangan!

Dari mayat-mayat anak yang tersebar di sudut gua!

Dari mayat pendekar yang terbunuh untuk ritual!

Dan kilat besar—sangat besar—dari mayat Haikun!

Semua kilat itu melesat menuju satu titik!

Mereka menoleh—

Di atas mayat Yaohua, bola menyala merah kehitaman terbentuk!

Bola itu berputar dengan kecepatan gila! Kilat-kilat dari seluruh ruangan, dari semua mayat, menyatu ke dalam bola itu!

Bola semakin besar! Semakin terang! Energi spiritual yang memancar darinya membuat tanah retak!

"I-ITU!" Yuto tercekat. Matanya membelalak tidak percaya. "Terbentuknya roh baru, dan ini roh tingkat—"

BOOOOM!

Bola itu meledak!

Asap pekat menyebar—begitu tebal sampai tidak bisa melihat apa-apa!

Dari dalam asap, siluet muncul.

Sosok seseorang. Tinggi ramping. Rambut panjang terurai.

Mo Long yang tadinya akan pergi membeku.

Matanya membelalak—lalu berubah menjadi senyum.

Dia mengenali sosok itu.

WHOOOOSH!

Dalam sekejap, asap melesat ke arah Mo Long!

Dari dalam asap, tangan pucat muncul—kuku merah panjang tajam seperti pisau!

Tangan itu mencengkram leher Mo Long!

Mencekiknya erat!

"GAAAKH!"

Mo Long terangkat dari tanah. Kaki menggantung. Napas tercekat.

Asap memudar.

Roh wanita terbentuk sepenuhnya.

Wajahnya... sangat mirip Yaohua. Tapi rambutnya kini putih perak—panjang mengalir seperti air terjun. Pupil matanya merah menyala—tidak ada lagi warna ungu yang lembut. Kuku tangannya merah panjang—begitu tajam sampai membuat darah Mo Long menetes dari lehernya yang tercengkam.

Dia mengenakan qipao merah indah—seperti pakaian pengantin yang ternoda darah.

Roh Yaohua.

Atau lebih tepatnya—jiwa dendam Yaohua.

Wajahnya penuh kemarahan. Mata merah menyala menatap Mo Long dengan kebencian murni.

"BERANINYA KAU!" teriaknya.

Suaranya bergema—bukan suara satu orang, tapi suara puluhan orang berteriak bersamaan.

Mo Long menyeringai meskipun dicekik.

Darah mengalir dari lehernya. Tapi di wajahnya—ada sesuatu yang menyerupai... kelegaan.

Seolah ini persis yang dia harapkan.

1
Dina Li
Mantab mo feng nerima ganjarannya
Abil Amar
bukan hot tp soplakkkk krna g up psti ujung2ny berhenti alias g dlnjutkan
Zen Feng: Sabae broo pasti lanjut kok, ini lagi sibuk kerjaan aja 😌
total 1 replies
AELION
saran bang zeng , ini lebih keren lagi kalau kata menjerit di rubah jadi meraung bang 👍. Meraung itu untuk amarah yg menggebu. dan jujur menurutku pribadi kata meraung lebih tepat. untuk setelahnya, ku serahkan balik ke bang zen 👍
AELION: /Smile/
total 3 replies
Ren
Lucunyeee wkwkwk
Santos
Makin hot 🥵
Subasa
Wahhh yaohua cantik
Zen Feng
Silahkan tinggalkan komentar kritik dan saran untuk novel ini agar saya semakin semangat menulis, wahai para pembaca 😁
Abil Amar
ah kyak cerita naruto waktu kekashi dsalip am uchiha itachi am mata sharinggan
Zen Feng: Ah iya bang terinspirasi dari itu emang 😅
total 1 replies
Ragil Prasetyo
bagus tidak membosankan
Zen Feng: Terimakasih atas komentarnya mas ragil 🫡
total 1 replies
Meliana Azalia
Pahlawan berhati iblis 😭
Meliana Azalia
Jadi orang songong banget siy
Nanik S
Ternyata Hiroshi penegak Hukum malah lebih jahat
Santos
Gara” cewek sampe perang 😭
Ren
Gara-gara cewek 😭
Ren
Emang udah jodoh wkkwkw
Ren
Sadees bener bener iblis
Ren
Uhuuy
Nanik S
Anak buah Haikun
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Lanjutkan Tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!