Demi biaya pengobatan ibunya, Alisha rela bekerja di klub malam. Namun kepercayaannya dikhianati sang sahabat—ia terjerumus ke sebuah kamar hotel dan bertemu Theodore Smith, cassanova kaya yang mengira malam itu hanya hiburan biasa.
Segalanya berubah ketika Theodore menyadari satu kenyataan yang tak pernah ia duga. Sejak saat itu, Alisha memilih pergi, membawa rahasia besar yang mengikat mereka selamanya.
Ketika takdir mempertemukan kembali, penyesalan, luka, dan perasaan yang tak direncanakan pun muncul.
Akankah cinta lahir dari kesalahan, atau masa lalu justru menghancurkan segalanya?
Benih Sang Cassanova
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu.peri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENEMUI THEA
Satu Bulan Berlalu
Hari-hari berlalu begitu cepat. Suasana di studio pemotretan mulai kembali normal, meski bayang-bayang kejadian kelam sebulan lalu masih meninggalkan bekas di benak sebagian besar orang.
Alisha telah kembali bekerja. Ia mencoba menjalani harinya seperti biasa—menyambut awal yang baru dengan senyuman tipis dan semangat yang dipaksakan. Hari ini, pemotretan berjalan lancar. Tak ada gangguan. Tak ada kekacauan. Tak ada Nolan. Dan juga... tak ada Theo.
Sudah hampir satu bulan sejak kejadian itu. Theo tak pernah lagi terlihat di perusahaan. Tidak satu kabar pun terdengar darinya. Seolah ia menghilang begitu saja—seperti kabut pagi yang sirna ditelan matahari.
Bukan hanya Theo. Nolan pun ikut lenyap. Pria itu seakan ditelan bumi tanpa jejak. Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi. Elsa, yang sempat mencoba mencarinya, bahkan sampai melibatkan pihak kepolisian. Tapi hasilnya nihil. Nol. Seolah pria itu menghilang dari peta dunia.
Bukan karena Elsa khawatir. Sama sekali bukan.
Ia hanya ingin... keadilan. Ia ingin Nolan merasakan akibat dari perbuatannya. Lelaki itu bukan hanya menghancurkan kepercayaannya, tapi juga menginjak-injak harga diri seorang perempuan yang tak pernah menyakitinya—Alisha.
Elsa duduk di kursi ruang rias, matanya menerawang. Tangan kanannya menggenggam botol air mineral yang isinya sudah tak seberapa. Wajahnya masih terhias makeup tipis, namun sorot matanya tampak sendu.
Pintu ruang rias terbuka, menampakkan sosok Alisha yang baru saja selesai berganti pakaian. Ia mengenakan gaun hitam wajahnya polos tanpa riasan. Ia tampak jauh lebih tenang sekarang, meski bekas luka di hatinya belum sepenuhnya hilang.
"Elsa..." panggilnya pelan.
Elsa menoleh.
"Kau sedang memikirkan sesuatu? Apa kau... memikirkan Nolan?" tanya Alisha hati-hati, lalu mendekat sambil merapikan tasnya.
Elsa tersenyum miris. Ia meneguk air mineralnya, lalu menggeleng pelan.
"Aku cuma..." ia menghela napas panjang, "Aku cuma tidak habis pikir, Alish. Dia menghilang begitu saja. Sudah aku cari ke mana-mana. Bahkan polisi pun tidak bisa melacak jejaknya. Seolah... seolah dia telah diculik alien atau dilempar ke dimensi lain."
Alisha menunduk, tak menjawab. Ia tahu Elsa masih merasa kecewa. Luka karena dikhianati oleh orang yang sudah bersamanya selama tiga tahun... bukan sesuatu yang mudah disembuhkan.
Elsa menatap Alisha lekat-lekat. "Kau tahu, aku pernah mengabaikan kata-katamu. Waktu kamu bilang Nolan bukan orang baik... aku malah marah. Aku bela dia mati-matian. Bahkan... aku sempat menuduhmu cemburu. Tapi ternyata... yang buta itu aku."
"Sudahlah, Elsa," ucap Alisha lembut. "Yang penting sekarang kamu tahu siapa dia sebenarnya. Dan kamu sudah keluar dari lingkaran itu."
Elsa tertawa kecil, tapi tawanya hambar. "Tapi aku masih penasaran... Tuan Smith... membawanya ke mana, ya? Apa benar-benar dibuang ke tengah samudera? Atau mungkin ke... segitiga Bermuda? Hilang lenyap tanpa jejak. Tak bersisa." Ia mengangkat bahu.
Alisha tersenyum tipis, lalu menyentuh lengan Elsa.
"Sudahlah... ayo pulang. Hari ini kita sudah bekerja keras. Dan rasanya, kita berdua butuh tidur yang panjang."
Elsa mengangguk, berdiri dari kursinya dan meraih tas. Ia melirik ke cermin besar di depannya. Sekilas, ia bisa melihat pantulan dirinya—wanita yang lebih kuat daripada sebulan lalu. Luka hatinya masih terasa, tapi setidaknya kini ia berdiri di tempat yang lebih terang.
Dan Nolan?
Mungkin memang lebih baik dia tetap hilang. Dunia tak perlu tahu di mana dia sekarang. Karena pria sebusuk itu... tak pantas lagi muncul di kehidupan siapa pun.
*
Di Tempat Berbeda
Sementara Elsa masih dihantui rasa penasaran tentang keberadaan Nolan, pria yang dimaksud justru tengah menjalani hari-harinya dalam neraka yang diciptakan oleh Theo sendiri.
Nolan tidak mati ditembak saat kejadian itu. Theo memang sempat mengarahkan pistol ke arahnya, tapi peluru itu hanya mengenai kaca mobil, pecah berderai dengan suara yang cukup untuk membuat Nolan kehilangan kendali atas tubuhnya—secara harfiah.
Ia berlutut ketakutan di jok mobil, air matanya bercampur dengan peluh dan... Bahkan Nolan sampai terkencing-kencing dibuatnya.
Hari itu, Nolan dibawa ke sebuah tempat tersembunyi—markas gelap Draken. Di sanalah ia kini berada, di balik jeruji, di dalam sel pengap yang hanya diterangi lampu kecil yang menggantung dari langit-langit beton.
Sudah hampir satu bulan ia di sana. Dan setiap hari... Theo datang.
"Ampun... Tuan... tolong, lepaskan saya... saya sudah bilang berulang kali, saya tidak melakukan apa-apa pada Alisha... saya tidak menyentuhnya! Demi Tuhan... saya bersumpah..." Suara Nolan serak, nyaris kehilangan tenaga, tubuhnya menggigil saat melihat sosok pria bertubuh tegap itu masuk ke dalam ruangan dengan cambuk di tangan.
Theo tidak menjawab. Tatapannya datar, dingin, penuh kemuakan.
Ia hanya mendekat, perlahan, kemudian mengayunkan cambuk yang menggulung di tangannya.
Cetas!
Cetas!
"Aaaakhh!" jerit Nolan, tubuhnya kembali menegang. Luka lama yang belum kering kembali terbuka. Tubuhnya telah penuh lebam dan bekas cambukan, beberapa bagian bahkan tak lagi bisa dikenali.
Theo menatap puas hasil dari amarahnya.
"Aku belum puas menyiksamu. Kau berpura-pura menjadi kekasihnya... dan menyentuh wanitaku. Kau pikir aku akan membiarkannya begitu saja?"
Nada suaranya penuh dendam. Ia menatap Nolan seolah pria itu bukan manusia, melainkan sampah yang pantas diinjak-injak.
Setiap kali selesai menyiksa, Theo akan memanggil tim medis pribadinya untuk mengobati luka Nolan—bukan karena iba, melainkan agar Nolan tidak mati terlalu cepat. Ia ingin pria itu merasakan tiap tetes penderitaan, setiap helaan napas penuh sesal, setiap jeritan yang tidak akan pernah ada yang dengar.
Hari ini pun sama.
Namun berbeda dari biasanya, saat Theo kembali mengangkat cambuk untuk menyiksa, terdengar suara langkah masuk.
“Kau melakukan ini, karena kau mencintai wanita itu kan, Theo??” ucap suara yang sudah tak asing lagi—Juna.
Theo menoleh sekilas. Ia menatap Juna dengan mata tajam, lalu melempar cambuk itu ke lantai, suara logam bergema di ruangan kosong.
"Kau tahu apa soal cinta, Juna?" katanya dengan nada dingin, sambil melangkah keluar dari ruangan penyiksaan. Ia mencuci tangannya di wastafel luar, lalu duduk di sofa kulit hitam dengan tubuh tenggelam dalam lelah yang tak terlihat.
Juna mengikuti di belakangnya dan duduk di sampingnya, wajahnya santai namun penuh makna.
"Aku tahu cukup banyak. Dan yang kulihat sekarang... kau sedang jatuh cinta," kata Juna tenang. "Cuma kau terlalu bodoh untuk mengakuinya."
Theo menghela napas panjang. "Cinta? Cintaku sudah mati sejak Cleo menikah dengan Xander. Sejak hari itu... aku tidak pernah percaya lagi pada hal semacam itu."
Juna tertawa sinis. "Itu bukan cinta, itu obsesi. Kalau kau benar-benar mencintai Cleo, kau tidak akan mengubah diri jadi cassanova sampai kau bertemu dengan wanita itu."
Theo tak menjawab. Ia hanya menatap ke depan, namun pikirannya berkelana. Sejak malam itu... sejak ia menyentuh Alisha, tidak ada satu pun perempuan yang bisa ia lihat dengan cara yang sama. Bahkan membayangkan tidur dengan wanita lain pun tak sanggup ia lakukan. Wajah Alisha... selalu hadir. Tatapan matanya yang takut, tubuh mungilnya yang menggigil saat berada di bawah kungkungannya, entah mengapa... terus terbayang.
Dan saat ia bertemu Alisha lagi, sebulan lalu, Theo tertegun. Wanita itu semakin cantik. Dan semakin... jauh dari jangkauannya.
"Kau diam. Itu artinya, ucapanku benar," ujar Juna, menyeringai. "Saranku... nikahilah dia."
Theo menggeleng, lalu berkata sinis, "Kau lihat sendiri, dia bahkan tega membawa pria lain ke hadapanku. Pria itu... mengaku sebagai kekasihnya. Kau pikir aku sebodoh itu percaya? Dari cara mereka saling menatap saja sudah terlihat—itu cuma akting murahan."
Ia berhenti sejenak. Mengingat kembali kejadian di ruang ganti. Saat Nolan mencoba melecehkan Alisha. Untung saja Gerry, sahabat kepercayaannya, memberi informasi soal Nolan sebelum semuanya terlambat.
"Untung aku sudah pasang CCTV dan mengawasinya sejak awal. Kalau tidak, mungkin aku tidak akan datang tepat waktu."
Juna mengangguk pelan, lalu menepuk bahu Theo. "Kurasa... dia masih belum sepenuhnya percaya padamu. Kalau kau memang ingin mendapatkan dia... pergilah temui dia. Tunjukkan niatmu."
Theo memandang kosong. "Aku bahkan tidak tahu di mana dia tinggal."
Juna langsung berdiri dan menunjuk Theo. "Kau ini... mafia macam apa?! Alamat saja tidak tahu! Kau lebih baik pensiun saja, Theo! Lama-lama, bukan tambah berbahaya, kau malah jadi bodoh. Apalagi dalam urusan cinta."
Selesai berkata, Juna berbalik dan melangkah pergi dengan kesal.
"Juna! Aku belum selesai bicara!" teriak Theo, bangkit dari duduknya.
"Aku sudah selesai!" balas Juna, tanpa menoleh.
Theo terdiam di tempat. Nafasnya berat. Pikirannya kacau.
Ia menunduk, menatap telapak tangannya yang basah setelah dicuci, namun tetap terasa kotor karena luka batin yang lebih menyakitkan dari noda darah.
Selama sebulan ini, Theo memang tidak mengurusi perusahaan. Ia menghilang. William, sang ayah, terpaksa turun tangan mengurus semuanya. Jika bukan karena proyek kerja sama besar, William mungkin akan menutup mata. Tapi sekarang, semuanya kacau. Bahkan untuk urusan bisnis pun, Theo kehilangan minat.
Hanya satu hal yang memenuhi pikirannya saat ini.
Alisha.
***
Setelah dari markas, Theo kini kembali ke apartemennya. Ia malas untuk pulang ke mansion, karena pasti Megan akan mencecar banyak pertanyaan padanya.
Jadi Theo memilih kembali ke apartemennya.
Saat turun dari mobil, Theo mengurungkan niatnya untuk masuk ke apartemen. Ia memutar arah, ke mini market yang terletak di samping gedung apartemennya. Tiba-tiba saja, ia teringat dengan gadis kecil yang mencuri hatinya. Ia merindukan Thea, dan berniat membelinya permen.
Dengan wajah riang Theo berjalan menuju apartmen tempat tinggal Thea. Ia bahkan lupa untuk menghubungi Jimy untuk meminta alamat alisha.
Setelah sampai, Theo memencet bel apartemen. Tak lama pintu terbuka, Seorang wanita paruh baya membuka pintu.
Bibi Marta, mengernyitkan dahinya saat melihat pria asing didepan pintu.
"Mau cari siapa?," Tanya bibi Martha bingung.
"Aku ingin bertemu... Thea" ucap Theo dnegan sopan.
Thea yang berdiri dibawah kaki bibi Martha, langsung bersuara ketika mendengar suara familiar, yang sangat ia rindukan.
"Uncle bau.. Thea disini," jerit Thea disela kaki bibi martha.
Theo tersenyum, sedangkan bibi martha menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah cucu angkatnya itu.
"Ayo, uncle kita masuk, " Thea langsung menarik lengan Theo dan membawanya duduk disofa.
Bibi Martha ingin melarang, tapi melihat Thea yang antusias, apalagi Theo langsung dibawa masuk sehingga membuat bibi Martha tak bisa berkutik lagi.
"Ini adalah apartemen mommy, tidak.. tidak.. tapi apartemen orang.. kami hanya tinggal disini sementara, kata mommy.. setelah tiga bulan, kami akan kembali ke California, dan tinggal di rumah besar kami," ucap Thea yang langsung berceloteh padahal Theo belum bertanya apapun.
"Thea.." bibi martha melirik Thea, memberi isyarat agar Thea tidak bicara lagi, tapi dasarnya si bocah Lima tahun yang belum mengerti. Hanya acuh dan terus bicara, bahkan bibi Martha hanya bisa mengelus dada.
Melihat dari wajah mereka yang sangat mirip, bibi martha sangat yakin. Jika didepannya ini, ada hubungannya dengan masa lalu Alisha.
"Uncle, apa yang ada ditangan uncle itu? Permen ya? Untuk Thea?," Gadis itu mendekat dan duduk di pangkuannya.
"Ya.. ambillah, uncle membelikan ini khusus untukmu," ucap Theo sambil mengelus kepala Thea. Hatinya merasa tenang, jika berdekatan dengan gadis kecil itu.
"Terima kasih uncle," ucapnya, kemudian mencium pipi kiri Theo.
Cup..
"Itu, sebagai ucapan terima kasih Thea. Kata mommy, kita harus membalas kebaikan orang yang baik sama kita, dan Thea.. sudah membalasnya sekarang," ucap anak itu sambil tersenyum.
Tiba-tiba pintu apartemen terbuka, masuklah dua wanita muda dengan wajah terkejut.
"Mommy!! Aunty!! "
takutnya dak bisa tidur malam ne karna penasaran 🤭🤭🤭
aq bacanya Sampai tahan nafas
seru banget kak💪💪💪