Di tengah gelapnya dunia malam, seorang Gus menemukan cahaya yang tak pernah ia duga dalam diri seorang pelacur termahal bernama Ayesha.
Arsha, lelaki saleh yang tak pernah bersentuhan dengan wanita, justru jatuh cinta pada perempuan yang hidup dari dosa dan luka. Ia rela mengorbankan ratusan juta demi menebus Ayesha dari dunia kelam itu. Bukan untuk memilikinya, tetapi untuk menyelamatkannya.
Keputusannya memicu amarah orang tua dan mengguncang nama besar keluarga sang Kiyai ternama di kota itu. Seorang Gus yang ingin menikahi pelacur? Itu adalah aib yang tak termaafkan.
Namun cinta Arsha bukan cinta biasa. Cintanya yang untuk menuntun, merawat, dan membimbing. Cinta yang membuat Ayesha menemukan Tuhan kembali, dan dirinya sendiri.
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang dipertemukan di tempat paling gelap, namun justru belajar menemukan cahaya yang tak pernah mereka bayangkan.
Gimana kisah kelanjutannya, kita simak kisah mereka di cerita Novel => Cinta Seorang Gus.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Arsha menutup pintu kamarnya rapat-rapat, menguncinya dari dalam seolah ingin menghalau gema suara Abah yang masih terngiang di telinganya. Kamar itu terasa asing. Rak-rak yang penuh dengan kitab Turats, sajadah yang terbentang rapi, dan aroma kayu gaharu yang biasanya menenangkan, kini terasa menghimpit.
Ia jatuh terduduk di lantai, bersandar pada pintu kayu yang kokoh. Napasnya tersengal. Kalimat Abah tentang 'noda' dan 'martabat pesantren' terus berputar seperti kaset rusak. Arsha menatap tangannya yang masih sedikit gemetar. Di sana, di balik kulitnya, mengalir darah Kiai Hafidz - darah yang kini ia rasa sedang ia khianati.
Ia meraih ponsel di saku koko putihnya. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi pesan dari Ayesha yang masuk satu jam lalu.
"Sudah sampai? Kabari ya kalau sudah ketemu keluarga. Have a safe day, Sha !"
Arsha memejamkan mata. Pedih. Ia tahu Ayesha sedang menanti dengan penuh harapan di apartemennya yang dingin di Jakarta. Ayesha, wanita yang tidak mengerti konsep nasab, tidak paham beratnya beban sebuah gelar seorang Gus, dan yang paling utama, Ayesha yang masih memegang teguh keyakinan lamanya namun tetap haus akan kasih sayang Tuhan.
Arsha menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan detak jantungnya. Ia tidak boleh terdengar hancur. Ia tidak ingin Ayesha merasa menjadi beban. Dengan gerakan pelan, ia menekan ikon telepon.
Hanya dua kali nada sambung, suara riang itu meledak di telinganya.
"Arsha! Akhirnya!"
Suara Ayesha terdengar begitu cerah, kontras dengan kegelapan yang menyelimuti kamar Arsha. Di seberang sana, terdengar suara musik akustik Barat yang diputar pelan, mungkin dari speaker kecil di sudut ruang tamu apartemen Ayesha.
"Halo, Yesha. Maaf ya baru telepon sekarang," ucap Arsha. Ia memaksa tenggorokannya untuk rileks, mengatur intonasi agar terdengar seperti Arsha yang biasanya - tenang dan teduh.
"Ih, aku kira kamu lupa jalan pulang atau malah langsung dijodohkan sama santriwati di sana begitu turun dari mobil!" Ayesha tertawa renyah. "Gimana perjalanannya? Macet nggak di daerah pantura?"
"Lancar, Alhamdulillah. Aku sampai sebelum Maghrib tadi," jawab Arsha. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap ke arah masjid pesantren yang lampu-lampunya mulai menyala. "Di sini lagi adem banget, anginnya semilir."
"Enak banget ya kedengarannya. Aku di sini cuma bisa dengar suara musik dan televisi," keluh Ayesha manja, namun tetap terdengar bahagia. "Terus, gimana orang tuamu? Kamu sudah cerita soal... aku?"
Pertanyaan itu seperti tusukan jarum tepat di jantung Arsha. Ia terdiam sejenak, menelan ludah yang terasa pahit.
"Sudah," jawab Arsha singkat, namun penuh penekanan agar tidak terdengar ragu. "Aku sudah bicara sama Abah dan Ummi."
"Terus? Terus?" Ayesha terdengar antusias. "Mereka marah nggak kalau tahu kamu berteman dekat sama orang kayak aku? Maksudku... ya, kamu tahu sendiri, aku bukan siapa-siapa, dan kita beda 'jalur' dalam berdoa. Apa mereka oke?"
Arsha memaksakan sebuah tawa kecil, tawa yang sebenarnya adalah bentuk dari luka yang disamarkan. "Abah itu orangnya memang serius, Yesha. Tapi beliau bijaksana. Ummi juga... tadi beliau sempat kaget, tapi wajar kan? Namanya juga baru pertama kali dengar putranya punya teman dekat wanita yang bukan dari lingkungan pesantren."
"Kagetnya gimana? Kaget yang 'apa-apaan ini' atau kaget yang 'oh, oke'?" Ayesha mengejar, suaranya sedikit cemas namun masih didominasi rasa penasaran.
"Kaget yang... kaget saja," Arsha berbohong demi menjaga kewarasan wanita itu. "Tapi semuanya terkendali. Kami mengobrol banyak di perpustakaan tadi. Suasananya tenang sekali, dikelilingi ribuan kitab."
"Wow, perpustakaan? Keren banget. Aku pengen deh kapan-kapan diajak ke sana. Tapi kayaknya aku bakal langsung pusing lihat tulisan Arab gundul semua," canda Ayesha.
Arsha duduk di tepian tempat tidur, memijat pangkal hidungnya. Air matanya hampir jatuh, namun ia menahannya sekuat tenaga. "Kamu pasti bakal suka. Ada satu sudut di perpustakaan yang jendelanya langsung menghadap ke kebun mawar Ummi. Kalau pagi, cahayanya bagus banget buat baca."
"Duh, Arsha... kamu bikin aku makin pengen ke sana," suara Ayesha melembut. "Tapi aku takut, Sha. Takut kalau kehadiran aku malah merusak kesucian tempat kamu. Kamu tahu kan, aku masih sering bingung kalau ditanya soal Tuhan. Aku bahkan masih sering lupa nggak makan daging babi kalau lagi refleks pesan makanan."
Arsha tersenyum tulus kali ini, meski pahit. Kepolosan Ayesha adalah alasan mengapa ia begitu mencintai wanita ini. Ayesha tidak berpura-pura suci. Ia jujur dengan segala kekurangannya.
"Tuhan nggak melihat seberapa sering kamu lupa, Yesha. Dia melihat seberapa keras kamu berusaha untuk ingat," bisik Arsha lembut. "Jangan takut soal pesantren. Di sini tempat untuk siapa saja yang ingin mencari ketenangan, bukan cuma buat mereka yang sudah merasa benar."
"Makasih ya, Sha. Kamu selalu punya cara buat bikin aku tenang," Ayesha menghela napas lega. "Oh iya, tadi aku baru beli buku yang kamu saranin kemarin. Itu lho, tentang sejarah peradaban. Tapi bahasanya berat banget! Masa aku baru baca tiga halaman sudah mengantuk?"
Arsha terkekeh, dan kali ini terasa lebih nyata karena ia benar-benar bisa membayangkan wajah bingung Ayesha. "Itu memang buku berat. Pelan-pelan saja bacanya. Kalau ada yang nggak paham, catat, nanti kita bahas lewat telepon atau pas aku balik ke Jakarta."
"Janji ya? Jangan lama-lama di sana. Aku merasa nggak punya 'rem' kalau nggak ada kamu yang ingetin aku buat nggak clubbing lagi," suara Ayesha terdengar tulus, penuh ketergantungan yang manis namun membebani.
"Aku janji," ucap Arsha lirih. Matanya menatap langit-langit kamarnya yang putih. Di dalam benaknya, ia sedang menyusun strategi bagaimana menghadapi Abah esok hari. Bagaimana ia harus menjelaskan bahwa Ayesha bukan sekadar "noda", melainkan jiwa yang sedang mencari jalan pulang.
"Arsha? Kamu masih di situ?"
"Iya, aku masih di sini."
"Kamu kedengarannya capek banget. Apa gara-gara debat sama Abah?" tanya Ayesha, instingnya mulai bekerja.
Arsha terhenyak. Ia segera memperbaiki posisi duduknya. "Cuma capek perjalanan saja, Yesha. Dan tadi memang banyak tamu yang datang menyambut, jadi energi agak terkuras. Biasalah, urusan pesantren."
"Oh, kirain. Ya sudah, kamu istirahat ya. Jangan sampai sakit. Aku nggak mau Gus kesayanganku ini tumbang cuma gara-gara kurang tidur."
"Iya, kamu juga ya. Besok ada jadwal apa?"
"Besok aku mau coba cari kerjaan baru yang lebih... ya, kamu tahu lah, yang lebih 'normal' jam kerjanya. Biar bisa bangun pagi terus."
"Bagus itu. Aku doakan semoga dilancarkan ya."
"Amin! Eh, boleh ya aku bilang Amin? Hehe."
Arsha tersenyum, kali ini air matanya benar-benar luruh satu tetes, membasahi pipinya. "Boleh, Yesha. Sangat boleh."
"Ya sudah, selamat malam, Arsha. Sampaikan salamku buat Ummi dan Abah ya... eh, tapi jangan bilang dari 'si pendosa' ini, bilang saja dari temanmu yang lagi belajar jadi orang baik."
"Akan kusampaikan. Selamat malam, Ayesha."
Setelah panggilan itu berakhir, Arsha menjauhkan ponsel dari telinganya. Keheningan kembali menyerbu, lebih pekak dari sebelumnya. Ia menatap layar ponsel yang kini gelap, mencerminkan wajahnya yang kuyu.
Ia telah berhasil membohongi Ayesha. Ia telah membangun sebuah istana ilusi bahwa semuanya baik-baik saja, padahal di bawah kakinya, tanah Al-Falah sedang merekah, siap menelannya bulat-bulat.
Arsha bangkit, melangkah menuju tempat wudhu di sudut kamarnya. Ia perlu bicara pada Pemilik Hati. Jika dunia menutup pintu untuk Ayesha, maka Arsha harus memastikan pintu langit tetap terbuka lebar untuknya, meski ia harus mempertaruhkan seluruh hidupnya sebagai jaminan.
"Ya Allah," bisiknya saat air dingin menyentuh wajahnya. "Hamba tidak memilih ini karena nafsu. Hamba hanya melihat satu jiwa yang malang, yang Engkau titipkan lewat pertemuan ini. Jangan biarkan hamba menjadi penyebab ia menjauh kembali dari-Mu karena penolakan keluarga hamba."
Malam itu, di bawah langit Jombang yang bertabur bintang, Arsha memulai perang sucinya. Bukan dengan pedang, melainkan dengan sujud yang tak berkesudahan. Sementara di Jakarta, Ayesha tertidur lelap dengan senyum di bibir, memimpikan sebuah rumah kayu di tengah pesantren, tanpa tahu bahwa rumah itu sedang berada di tengah badai yang paling hebat.
...----------------...
Next Episode.....
duh Gusti nu maha agung.... selamatkan keduanya.