Ganti judul: Bunda Rein-Menikah dengan Ayah sahabat ku
"Rein, pliss jadi bunda gue ya!!" Rengek Ami pada Rein sang sahabat.
"Gue nggak mau!" jawab Rein.
"Ayolah Rein, lo tega banget sama gue!"
"Bodo amat. Pokok nya, gue nggak mau!!" tukas Rein, lalu pergi meninggalkan Ami yang mencebik kesal.
"Pokoknya Lo harus jadi bunda gue, dan jadi istri daddy gue. Titik nggak pake koma!" ujarnya lalu menyusul Rein.
Ayo bacaa dan dukung karya iniii....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mey(◕દ◕), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Bab 4 sudah revisi.
Alur ada perubahan, semoga suka:)
Happy Reading!
Satu bulan telah berlalu, dan setelah kejadian memalukan itu Rein tidak pernah menginjakan kaki dirumah Ami, meskipun gadis itu merengek agar dirinya bermain disana. Sungguh rasanya dia masih malu jika harus bertemu dengan Davin.
Rein baru saja selesai masak. Nasi goreng dengan toping telur mata sapi itu sudah tersaji dengan indah diatas meja. Namun belum sempat duduk, Rein mendengar suara pintu diketuk dengan tidak sabar. “Tunggu sebentar!” gadis itu melepas handuk yang terlilit dikepala nya lalu melangkah untuk membuka pintu.
“Eh-pagi bu. Ada yang bisa saya bantu?” Rein menyapa pemilik kontrakan yang pagi-pagi sudah datang kesini dengan senyum ramah. Perasaan nya jadi tidak enak, semoga saja tidak ada apa-apa.
“Ya pagi juga. Saya tidak mau basa-basi, jadi kapan kamu akan lunaskan sisa tunggakan kontrakan? Ini sudah dua bulan, saya kurang baik apa lagi sama kamu?”
“Bu saya boleh minta waktu tambahan, nggak? Saya janji bu, pasti saya lunasin kok. Ini saya juga lagi usaha untuk cari pinjaman!” Rein memelas menatap pemilik kontakan, membuat Wanita paruh baya itu merasa iba. “Haduh kamu ini, bisa bangkrut saya kalau kamu minta waktu terus!” ujar Wanita itu. Sebenar nya beliau merasa kasian, namun jika semua yang mengontrak dengan nya seperti itu, lama-lama bisa bangkrut juga.
“Saya janji bu, minggu depan pasti saya lunasin. Ya buuu!” Rein mengatupkan kedua tangan nya memohon agar diberikan waktu. “Kamu kemarin juga bilang begitu ya, tapi sampai sekarang belum kamu kasih tu!” Wanita paruh baya itu berucap membuat Rein meringis pelan.
"Janji bu, pasti minggu depan saya bayar kok." Wanita paruh baya itu menghela nafas kemudian mengangguk mengiyakan. “Oke. Minggu depan semua harus lunas, kalau nggak siap-siap aja kamu angkat kaki dari kontrakan saya!” Rein mengangguk sembari berucap terimakasih, kemudian wanita paruh baya itu pamit pergi.
“Harus cari uang dimana lagi! Apa aku minta sama papah!” gumam nya, sambil memijat keningnya. Baiklah, tidak ada jalan lain, selain menemui pria tua itu. Bagaimana pun dirinya masih tanggung jawab pria tua itu. Rein segera bersiap untuk kekampus, karena siang ini ada jadwal kuliah, mungkin pulang nanti, dia akan singgah kesana.
***
Rein berjalan menuju kelasnya. Hari ini Ami tidak masuk karena sedang sakit. Tadi rencananya dia akan menjenguk sepulang dari kampus, namun sepertinya tidak akan jadi, mengingat dia akan pulang untuk menemui pria tua itu.
Kelas sudah berlangsung tiga puluh menit, Rein menatap kedepan namun pikiran nya bekelana memikirkan nasib nya kedepan. Apakah mungkin, pria tua yang sial nya menjadi ayah nya itu mau memberikan uang untuk nya.
"Baik, kelas hari ini sampai disini saja. Saya ada rapat, jadi tugas kalian yaitu merangkum kembali apa saja yang saya jelaskan hari ini! Nanti kalian kumpul dengan Rein, biar dia yang antar ke ruangan saya!” mendengar namanya disebut, Rein yang tadi melamun langsung menatap dosen muda tersebut.
“Kok saya pak? Itu tugas komti!” ujar nya protes, membuat seluruh pasang mata dikelas itu menatap nya.
“Udah nggak papa Rein, cuma antar tugas aja, bukan gantiin aku jadi komti!” ujar Noven selaku komti sembari melirik Rein heran.
Rein yang mendengar itu, menghela nafas pelan sembari mengangguk. “Baik pak, besok saya antar.” Dosen muda bernama satria itu mengangguk sembari tersenyum kecil menatap Rein. Tentu saja tidak Rein ketahui.
Baru saja hendak melangkah keluar kelas, setelah perdebatan singkat tadi. Namun Rein kembali berhenti karena ada yang memanggilnya, gadis itu menghela nafas kesal. Ada apa lagi coba, batin nya kesal. Seorang pria dengan kacamata tebal menatap Rein dengan nafas tersengal, sebut saja Tejo. “Rein, kamu di panggil ibu Tri ke ruangan nya, sekarang!” ujar nya, membuat kening Rein berkerut bingung. Cobaan apalagi ini Tuhan!
Seingat nya ibu Tri bekerja di bagian biro kemahasiswaan yang biasanya menangani permohonan keringanan, penurunan, atau pun cicilan UKT. “Oke, makasih info nya.” Rein tersenyum kecil pada pria itu, kemudian berlalu dari sana.
***
Setibanya diruangan dengan plang nama Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Rein langsung mengetuk. Setelah membuka pintu, Rein menemukan bu Tri yang sibuk dengan layar laptop nya, entah sedang mengerjakan apa. Ah itu bukan urusannya, yang ia pikirkan saat ini adalah, kenapa wanita itu memanggil nya kesini. “Permisi bu, saya Rein. Tadi kata teman saya, ibu mencari saya!”
“Kamu Rein. Silahkan duduk dulu, ada yang mau saya sampaikan.” Rein dengan senyum kecil segera duduk dihadapan bu Tri yang juga menatap nya dengan senyum.
“Kamu sudah tahu, kenapa saya panggil kamu ke sini?” tanya bu Tri basa-basi, membuat Rein spontan menggeleng. “Nggak bu. Kalau boleh tahu, saya di panggil untuk apa ya?” tanya Rein sopan.
“Jadi begini. Sebentar lagi kalian akan mengikuti UAS setelah itu kalian akan libur panjang, dan seperti biasanya kalian harus melunaskan UKT untuk bisa mengambil KRS untuk mengakses perkuliah, ujian, praktikum dan lain sebagainya. Jika tidak dibayar, maka kamu dianggap cuti pada semester berikutnya.” Rein mengerutkan kening nya heran, seharus nya urusan administrasinya sudah selesai. Apakah pria tua itu lupa atau bagaimana! Pikirnya bingung.
“Baik bu, pasti segera saya urus. Maaf sudah merepotkan ibu.”
“Nggak papa Rein, sudah tugas saya mengingatkan mahasiswa. Jangan lupa ya segera dibayar.” Rein mengangguk lalu menyalami bu Tri dan berpamitan keluar.
***
Rein menatap bangunan didepan nya yang masih sama. Hanya beberapa bagian yang berubah pikirnya. Gadis itu segera melangkah masuk, saat tiba didalam, pandangan nya jatuh pada tiga orang yang sedang berkumpul sembari bercanda.
“Pah…” Panggil Rein membuat ketiga nya menoleh. Tidak ada kata sambutan maupun pelukan hangat yang diberikan. Rein hanya tersenyum kecil, sudah biasa.
“Ngapain balik kesini kamu? Baru ingat punya rumah?” pertanyaan itu terasa menusuk ditelinganya. Decihan keluar dari bibir nya, sembari menatap mereka bertiga.
Rein mengabaikan ucapan wanita yang berada disebelah papahnya, meskipun rasanya dia ingin membalas. Namun teringat tujuan nya kesini, Rein kembali menelan kekesalannya. “Kakak ngapain balik kesini?” Tisa adik tirinya bertanya dengan manis. Namun Rein memutar mata malas, sudah biasa melihat sifat manis adiknya ketika ada papah nya didekat mereka.
“Bukan urusan kamu! Pah, aku boleh minta uang? Aku harus bayar uang kontrakan sama UKT ku, papah lupa kalau aku masih kuliah?” tanya Rein pada pria paruh baya itu.
Tisa berdecak kesal sembari menggenggam tangan ibu nya. Lisa, wanita yang dulu papah nya bawa kerumah ini, setelah seminggu kematian ibu nya. “Kamu yang pilih keluar dari rumah ini, terus tiba-tiba balik minta uang. Kamu pikir papah kamu bank berjalan?” Lisa angkat suara kembali sembari menatap Rein.
“Saya nggak minta sama tante, mending tante diam!” Lisa berdecak sembari menggengam tangan suami nya. “Mas liat anak mu itu, nggak ada sopan santun nya!”
Pria paruh baya itu menatap Rein tajam. “Rein yang sopan kamu sama mamah mu!” ujar nya membuat Rein berdecak. “Dia bukan mama, sampai kapan pun mama Rein cuma satu!” balas Rein tajam, suara nya hampir seperti teriakan.
“Rein…!!” Wisnu membentak Rein, membuat Rein menatap tidak percaya kepadanya.
“Papah bentak aku cuma karena masalah ini?” tanya Rein kesal. Rasanya ingin menangis ketika melihat orang yang dulu selalu ia harapkan menjadi pelindung nya malah membela orang lain.
“Aku masih anak papah kan?” tanya Rein dengan air mata yang sudah mengalir.
'mas kenapa?
"pengenpeluk!