Sebuah jebakan kotor dari mantan kekasih memaksa Jenara, wanita karier yang mandiri dan gila kerja, untuk melepas keperawanannya dalam pelukan Gilbert, seorang pria yang baru dikenalnya. Insiden semalam itu mengguncang hidup keduanya.
Dilema besar muncul ketika Jenara mendapati dirinya hamil. Kabar ini seharusnya menjadi kebahagiaan bagi Gilbert, namun ia menyimpan rahasia kelam. Sejak remaja, ia didiagnosis mengidap Oligosperma setelah berjuang melawan demam tinggi. Diagnosis itu membuatnya yakin bahwa ia tidak mungkin bisa memiliki keturunan.
Meskipun Gilbert meragukan kehamilan itu, ia merasa bertanggung jawab dan menikahi Jenara demi nama baik. Apalagi Gilbert lah yang mengambil keperawanan Jenara di malam itu. Dalam pernikahan tanpa cinta yang dilandasi keraguan dan paksaan, Gilbert harus menghadapi kebenaran pahit, apakah ini benar-benar darah dagingnya atau Jenara menumbalkan dirinya demi menutupi kehamilan diluar nikah. Apalagi Gilbert menjalani pernikahan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TILU PULUH OPAT
Cahaya matahari menyusup malu-malu melalui celah tirai sutra di apartemen mewah milik Hilya. Di balik selimut down feather yang lembut, Hilya terbangun dalam kungkungan lengan Nicolas yang kekar. Semalam, mereka kembali menghabiskan malam dalam pusaran gairah yang seolah tak ada habisnya. Banyak jejak kemerahan yang tertinggal di bahu dan ceruk leher Hilya, memberikan kontras yang tajam pada kulitnya yang putih porselen.
Nicolas, yang merasakan pergerakan tubuh Hilya, perlahan membuka matanya. Ia mengeratkan pelukannya, menghirup aroma rambut Hilya yang masih berantakan.
"Masih pagi, Beibh. Ayo tidur lagi sebentar?" bisik Nicolas dengan suara serak khas bangun tidur.
Hilya mencoba melepaskan diri, meski tubuhnya masih terasa lemas. "Aku harus bekerja, Sayang. Jalang itu benar-benar membuatku tidak bisa hidup santai. Kegagalan di Semarang kemarin benar-benar menguras emosiku."
Cup.
Nicolas mengecup bahu Hilya yang polos. "Kan sudah kita bahas tadi malam, jangan terlalu berambisi sampai merusak kecantikanmu. Cepat atau lambat, Jenara pasti akan hancur. Kita sudah menanam banyak ranjau untuknya."
Tangan Nicolas mulai bergerak nakal, merayap turun ke pinggang Hilya. Hilya melenguh manja, menutup matanya sejenak. Nicolas selalu tahu bagaimana cara mematikan logika Hilya dan menggantinya dengan sensasi yang membara.
"Sarapan dulu, Sayang, agar kau kuat menjalani hari yang berat ini," gumam Nicolas sembari membalikkan tubuh Hilya agar menghadapnya.
"Oh, Nico... kamu selalu tahu cara membuatku bergairah kembali," desah Hilya saat jemari Nicolas mulai menyentuh titik sensitifnya, membuat rencana kerja yang tadinya tersusun rapi di kepalanya mendadak buyar dalam seketika.
"Kamu suka kan, Sayang?"
...*********...
Berbeda dengan suasana gelap di apartemen Hilya, Jenara melangkah masuk ke lobi PT Digdaya Guna dengan senyum yang terus merekah. Pagi ini, aura wajahnya terlihat sangat segar, seolah semua beban dunia telah terangkat dari bahunya. Gilbert, pria yang biasanya sedingin es batu itu, benar-benar berhasil mendamaikan hatinya semalam setelah drama kedatangan Raina.
Ingatan Jenara melayang pada kejadian subuh tadi. Gilbert tidak membiarkannya lepas begitu saja. Pria itu membawanya ke dalam kamar mandi, menahan tubuhnya di bawah kucuran air hangat, dan memakannya habis-habisan dalam keintiman yang luar biasa. Desahan yang Jenara keluarkan pagi tadi adalah bentuk penyerahan totalnya pada dominasi Gilbert yang tak terduga.
"Selamat pagi, Bu Jenara," sapa resepsionis dengan sopan. "Ada kiriman paket untuk Ibu."
Jenara menghentikan langkahnya. "Paket? Dari siapa?"
"Buket bunga, Bu. Tadi diantar oleh kurir sebelum Ibu datang." Resepsionis itu menyerahkan sebuah buket besar bunga Lily putih dan Mawar merah yang sangat segar.
"Dari siapa pengirimnya?" tanya Jenara sembari menerima bunga itu.
"Tidak tahu, Bu. Tidak ada nama pengirim di catatan pengirimannya."
Jenara membawa bunga itu ke dalam dekapan tangannya. Harumnya begitu menenangkan. Ia menemukan sebuah kartu kecil terselip di antara kelopak bunga.
Selamat pagi, Jenara.
Semoga harimu menyenangkan.
With love, your secret admirer.
Jenara terdiam sejenak, menebak-nebak siapa pengirimnya. "Apa Gilbert?" batinnya ragu. "Ah, tidak mungkin. Pria itu tidak seromantis itu. Dia lebih suka memberikan aset tanah daripada bunga."
Meski diliputi rasa penasaran, Jenara tetap membawa bunga itu ke ruangannya. Ia segera memanggil Alexa untuk fokus pada pekerjaan. "Alexa, siapkan semua dokumen perizinan untuk proyek Semarang. Kita gunakan lahan baru yang ada di perbatasan. Pastikan semua berkasnya siap dalam dua hari."
Jam makan siang tiba, namun selera makan Jenara masih belum sepenuhnya pulih. Ia memilih untuk duduk di sudut kantin perusahaan yang lebih tenang, hanya memesan sepiring nasi dan sayur yang sejak tadi hanya ia aduk-aduk dengan malas.
Tiba-tiba, sosok pria dengan kemeja biru muda yang rapi muncul di hadapannya. Albani Gunawan.
"Maaf, apa aku mengganggu waktu makanmu?" tanya Albani dengan senyum ramahnya yang khas.
Jenara sedikit tersentak. "Ah, Pak Albani. Tidak, silakan duduk. Maaf saya sedang makan siang sederhana di sini."
Albani duduk di hadapan Jenara, matanya menatap tajam ke arah wajah Jenara. Ia merasa pagi ini Jenara terlihat jauh lebih cantik, ada binar kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan dari matanya. "Kenapa makanannya tidak dimakan? Sepertinya kau hanya sedang melakukan penelitian terhadap nasi itu."
Jenara terkekeh pelan. "Tidak apa-apa, hanya sedang tidak terlalu berselera saja."
"Ingin makanan yang lain? Aku bisa mencarikan apa pun yang kau inginkan di luar sana," tawar Albani tulus.
Jenara sempat terdiam. Ia secara refleks mengelus perutnya yang masih rata di balik blazer. Tiba-tiba saja, ia sangat mendambakan soto ayam panas dengan kucuran jeruk nipis yang melimpah, persis seperti rasa soto yang pernah ia makan saat di London kemarin. Namun, ia segera menepis keinginan itu. Albani tidak boleh tahu tentang kehamilannya.
"Tentang perpindahan lahan ke perbatasan Semarang itu... apa kau tidak masalah dengan perubahan desainnya?" tanya Jenara mencoba mengalihkan pembicaraan.
Albani menggeleng mantap. "Sama sekali tidak masalah, Jen. Justru menurut analisisku, lahan baru ini jauh lebih baik. Areanya lebih luas, topografinya cocok untuk konsep eco-green, dan yang paling penting, lokasinya di perbatasan memudahkan kita dalam pengelolaan limbah tanpa mengganggu pemukiman padat. Kau membuat keputusan yang sangat cerdas."
"Terima kasih, Al. Aku senang kau mendukungnya."
Dialog mengalir dengan lancar. Albani sesekali melontarkan lelucon ringan yang membuat Jenara tersenyum tulus. Suasana di antara mereka terasa begitu hangat, seolah dinding pembatas profesionalitas sedikit menipis.
Tanpa disadari oleh Jenara maupun Albani, di lantai dua kantin yang memiliki area balkon terbuka, seseorang tengah berdiri di balik pilar besar. Orang itu memegang sebuah ponsel dengan posisi kamera yang sangat stabil, merekam setiap detik kebersamaan Jenara dan Albani.
Kamera itu melakukan zoom saat Albani tertawa dan Jenara tersenyum lebar sembari mengelus perutnya. Dari sudut pengambilan gambar itu, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berbagi rahasia manis di jam makan siang.
"Dapat," gumam sosok misterius itu dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Sosok itu mengenakan jaket hoodie hitam dan topi yang menutupi sebagian besar wajahnya. Ia tidak langsung pergi. Ia menunggu sampai Albani menyentuh tangan Jenara sebentar untuk menekankan poin bicaranya, sebuah gestur yang sebenarnya biasa, namun di depan kamera bisa diartikan sangat berbeda.
"Foto ini akan menjadi kado yang sangat indah," bisiknya lagi sembari mengirimkan file video berdurasi dua menit tersebut ke sebuah alamat email yang dienkripsi.
biasanya abis ini bakal ada kejadian dardedor soalnya 😭
tapi di mata jenara mah emang kamu kok yg paling ganteng 🙈
dia bisa mengimbangi amarahmu 🤭🤭 apalagi di ranjang nanti #eh
ada sebab pasti ada juga akibat, kenapa Jenara bisa sedingin dn seangkuh itu...