NovelToon NovelToon
REVENGE; The Mad Twin'S

REVENGE; The Mad Twin'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Identitas Tersembunyi / Keluarga / Teen School/College / Crazy Rich/Konglomerat / Dendam Kesumat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Ketika Arbiyan Pramudya pulang untuk melihat saudara kembarnya, Abhinara, terbaring koma, ia bersumpah akan menemukan pelakunya. Dengan menyamar sebagai adiknya yang lembut, ia menyusup ke dalam dunia SMA yang penuh tekanan, di mana setiap sudut menyimpan rahasia kelam. Namun, kebenaran ternyata jauh lebih mengerikan. Di balik tragedi Abhinara, ada konspirasi besar yang didalangi oleh orang terdekat. Kini, Arbiyan harus berpacu dengan waktu untuk membongkar semuanya sebelum ia menjadi target berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Hari itu merupakan hari yang paling mengerikan didalam hidup Biyan. Hari dimana ia kehilangan sebagian dari dirinya yang paling ia sayangi. Mungkin akan menjadi hari yang takkan pernah Biyan lupakan seumur hidupnya. Bahkan untuk pertama kalinya Biyan meruntuhkan tembok tak kasat matanya dan terlihat begitu rapuh juga hancur. Melihat dengan mata kepalanya sendiri, jasad sang adik yang diangkat dan di bawa ke ruang mayat.

Ia pikir setidaknya semua akan baik-baik saja ketika ia pulang kembali. Mengembalikan semuanya lagi seperti sedia kala dan menghukum orang-orang yang menyakiti adiknya. Biyan pikir kehadirannya sudah cukup menjadi penenang untuk Abhi, nyatanya tidak.

Bahkan Laras sang ibu menjerit histeris dan berteriak memanggil-manggil nama Abhi sekuat tenaga. Tidak memperdulikan kerongkongannya yang mungkin saja robek. Wanita itu terus saja menangis dan berteriak, tidak percaya jika jasad itu adalah salah satu putra kembarnya.

Bukankah semua baik- baik saja?

Bukankah Abhi bangun dari koma dan tertawa ceria seperti biasanya?

Lalu kenapa?

Kenapa tiba-tiba nekat melakukannya?

***

Ara dan Ares berlari sekuat tenaga menuju tempat dimana Biyan berada. Ketika di beritahu apa yang terjadi, mereka langsung meninggalkan kelasnya begitu saja. Sepanjang perjalananpun, Ara tak bisa berhenti untuk menangis. Ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi.

Langkahnya berhenti dengan napas memburu saat melihat presensi Biyan yang berdiri dengan tatapan kosong didepan ruangan mayat. Setelah di periksa, Dokter mengatakan tidak ada tindak kekerasan kecuali bekas kekerasan yang lalu. Maka dipastikan bahwa kecelakaan itu adalah murni bunuh diri.

Dilihat dari posisi kursi yang berada disamping mayat Abhi, bisa dibilang bahwa Abhi memecahkan jendela Rumah sakit lalu melompat begitu saja.

Tidak ada yang dapat mempercayai hal itu.

Bagaimana mungkin anak secerah Abhinara sampai nekat untuk bunuh diri?

Bahkan Biyan yakin Abhi tidak menunjukkan gejala apa pun ketika ia bangun.

Lalu kenapa?!

Ara mendekati Biyan dengan isakkan pelan. Ia menghadap anak itu dan kembali menangis saat melihat wajah pucat Biyan yang basah oleh airmata. Maka gadis itu langsung memeluk Biyan erat sekali dan mulai menangis. Sementara Ares hanya berdiri dibelakang mereka dengan tangisan pelan.

Awalnya Biyan tidak merespon, ia bahkan mengabaikan kehadiran Ara. Tapi tangisan gadis itu seperti menyadarkannya, membuat Biyan langsung membalas pelukannya dan menangis layaknya anak kecil disana.

Ah, dia hancur.

Dirinya hancur sehancurnya hingga tak bersisa.

Gadis itu bisa merasakan tubuhnya yang dipeluk erat lalu mendengar tangisan Biyan yang begitu menyayat. Seolah ia bisa ikut merasakan setiap rasa sakit yang diderita oleh Biyan. Tangisan yang terlalu keras, hingga Biyan jatuh berlutut dan terus menangis tanpa henti.

Ia bahkan memukul dadanya sendiri untuk menghilangkan sesak yang seperti membunuhnya.

Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Biyan seolah kehilangan alasan untuk melanjutkan hidupnya.

Haruskah ia ikut menyusulnya?

Lalu bagaimana dengan ibu mereka?

Ah, sial!

***

Ara berdiri dibelakang Biyan sembari memegang dua minuman kaleng juga sebungkus roti. Sedangkan Ares sedang bersama dengan Laras untuk menemani wanita itu agar tidak melakukan hal-hal berbahaya yang tak diinginkan.

Ia sempat meremat pelan kedua minuman kaleng tersebut sebelum melangkah maju dan duduk disebelah Biyan. Menoleh lalu menyerahkan minuman kaleng itu juga roti tapi Biyan hanya diam. Maka Ara mengambil tangan Biyan dan meletakkan minuman serta roti pada tangannya.

"Setidaknya kau harus makan sesuatu," ucap Ara.

Biyan menunduk melihat minuman dan roti ditangannya lalu tersenyum miris. "Apa Abhi dapat menikmati makanannya disana?"

"Biyan."

Remaja itu menjatuhkan kedua benda itu lalu ia beranjak pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun pada Ara.

***

Pemakaman hari itu hanya di hadiri oleh keluarga dekat mereka saja. Bahkan sang kakek juga paman mereka datang dari Amerika segera setelah mendengar kabar kematian Abhinara. Kakek mereka sampai jatuh pingsan tak sadarkan diri hingga harus di larikan ke Rumah Sakit segera karena serangan jantung mendadak akibat syok. Untungnya masih dapat diselamatkan dan tidak terjadi hal buruk lainnya.

Laras terus saja menangis sembari memeluk batu nisan yang bertuliskan nama Abhinara di sana. Masih tidak percaya jika salah satu putranya telah tiada. Wanita itu sempat pingsan beberapa kali hingga harus di bawa ke Rumah sakit terdekat. Bahkan Ara tak bisa berhenti menangis sama sekali, ia mengenggam jemari Biyan yang berdiri di sebelahnya. Remaja itu hanya diam tanpa berekspresi sama sekali saat prosesi pemakaman dimulai.

"Biyan, kau harus kuat demi ibumu," ucap sang Paman sembari meremat pundaknya untuk menguatkan anak itu. Lalu ia beranjak pergi untuk menyusul Laras— ibu sikembar. Sedangkan Kakek mereka tidak mengatakan apapun karena ia tahu bukan hal itu yang Biyan butuhkan. Hatinya sedang hancur dan kata penyemangat bukan hal yang tepat baginya. Maka pria tua itu hanya menepuk halus pundak Biyan dan pergi juga disusul oleh Dean, Eve, dan Neo. Mereka tahu saat ini Biyan butuh waktu untuk sendirian.

Kini hanya tersisa Ares, Ara, dan Biyan saja disana. Gadis itu tahu Biyan ingin sendirian tapi entah kenapa ia tak mau meninggalkannya sendirian. Ia tak mau jika Biyan menangis sendirian ditempat ini.

"Biyan," panggil Ara pelan.

Remaja itu tidak menjawab, tapi ia melepas genggaman Ara tanpa menoleh kearahnya.

"Ara, tolong tinggalkan aku sendirian."

Ara tercekat. "Ta-tapi—" ucapannya terhenti ketika Ares menyentuh lengannya lembut hingga atensi Ara berbalik ke arahnya. Ares menggeleng pelan seperti menyuruhnya untuk jangan mengatakan apapun dan menurut saja.

Meski ragu tapi Ara menurut. Ia menghela napas pelan dan kembali menyentuh tangan Biyan lagi sebelum melepasnya.

"Aku akan menunggumu," ucap Ara lalu ia beranjak pergi bersama Ares.

Saat semua orang sudah pergi, Biyan masih tetap berdiri di tempatnya sembari terus menatap batu nisan Abhinara. Masih tidak percaya bahwa kini sang adik terbaring tak bernyawa di dalam tanah dingin itu.

"Abhi, tidakkah disana dingin? Kau ingin keluar? Aku bisa membantumu. Tidak, aku akan mengeluarkan mu dari sana. Kau tidak boleh meninggalkanku, Abhi. Bukankah kau berjanji untuk tetap bersamaku? Lalu apa ini? Kenapa melanggar janjimu, Abhinara?!" teriaknya marah diakhir.

Napasnya memburu begitu cepat dengan bibir bergetar. Biyan benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Berikutnya ia malah tertawa terbahak-bahak seperti orang yang kehilangan kewarasannya, atau mungkin itu memang benar.

Tawa itu terhenti begitu saja lalu kembali hening.

Biyan mengambil rokok dari saku celananya, mengeluarkan sebatang dan mengapit di mulutnya. Menyalakan pemantik untuk membakar ujungnya hingga asap mulai mengepul.

Kemudian ia tersenyum. "Bukankah kau benci melihatku merokok, Abhi? Ayo bangun dan marahi aku. Jika tidak, aku akan terus merokok hingga kerongkonganku hancur."

Hening.

Maka Biyan menjatuhkan rokok itu dan menginjaknya. Kemudian ia mengambil satu lagi dan kembali menyalakannya, menghisapnya dan menjatuhkannya lagi. Begitu terus selama beberapa kali hingga puntung rokok terlihat mengotori sekitar situ.

"Kenapa tidak bangun, Abhi?! Ayo bangun!  Bangun dan marahi aku! Katakan kalau kau hanya bercanda dan ingin menakutiku saja! Aku bilang bangun, Abhi! Abhi! ABHINARA!"

Hening lagi.

Kemudian Biyan jatuh berlutut dengan airmata mengalir juga senyumannya yang terlihat begitu menyayat.

"Kenapa kau begitu kejam padaku, Abhi? Apakah ini pembalasanmu karena aku meninggalkanmu? Maafkan aku, maafkan aku, aku mohon maafkan aku," lirih Biyan dengan isakkan pelan.

Pada akhirnya Biyan hanya terus menangis di sana tanpa henti.

***

Biyan pulang kembali ke Rumah setelah ia mengambil barang-barang milik Abhinara dari Rumah sakit. Laras sendiri tengah berada di Rumah Sakit karena tak sadarkan diri, ia ditemani oleh paman mereka, Dean juga sang kakek.

Ketika di Rumah, Biyan memasuki kamar Abhi dan melihat sekitar dengan pandangan tak terbaca. Kamar ini tidak tersentuh lagi setelah di bersihkan hari itu semenjak Abhi masuk rumah sakit. Bahkan ia masih bisa menghirup aroma parfum yang sering di gunakan adiknya dikamar ini. Seolah Abhi masih berada di kamar ini.

Biyan duduk di pinggir ranjang sembari memegang kardus berisi barang-barag Abhi. Membukanya dan melihat ada beberapa buku juga ponsel miliknya. Biyan mengambil ponsel itu dan tersenyum ketika kodenya masih sama seperti dulu. Senyumannya semakin lebar ketika melihat wallpaper ponselnya ternyata foto mereka berdua ketika lulus SMP. Mereka sama-sama tersenyum begitu lebar dan cerah. Mau tak mau Biyan ikut tersenyum lagi.

Ia membuka album foto dan kembali tersenyum melihat masih banyak tersimpan foto-foto lama mereka disana. Lalu pandangannya jatuh pada satu video yang berada di paling atas. Keningnya mengerut bingung dan melihat tanggal video itu dibuat yaitu sehari sebelum Abhi bunuh diri.

Ia langsung membuka video itu dan hal pertama yang Biyan lihat adalah wajah pucat Abhi.

"Hai, kak. Aku tahu kau yang akan mengambil barang-barangku saat aku tiada, jadi aku merekam video ini untukmu."

Hening sesaat.

Abhi tampak gugup. Matanya terus bergerak ke arah lain, seolah memastikan sesuatu di luar kamera.

“Aku takut, kak. Aku tidak tahu harus bicara pada siapa lagi. Semua orang di sini seperti... berbeda. Aku tidak tahu harus percaya siapa.”

Ia berhenti sebentar. Menarik napas.

“Mereka bilang aku aneh. Mereka mempermalukanku karena aku mencintai laki-laki. Tapi bukan itu yang menakutkanku, kak. Yang menakutkanku adalah—”

Abhi menoleh tiba-tiba. Tatapannya panik ke arah pintu, seperti melihat seseorang di sana. Suara samar terdengar di latar: sesuatu seperti langkah sepatu di lantai rumah sakit, lalu suara pintu berderit.

Abhi kembali ke kamera. Matanya berkaca.

“Maaf karena aku pengecut. Tolong jaga Ibu. Maafkan aku. Aku ingin hidup, kak. Aku ingin hidup, tapi mereka mengancamku. Aku takut, kak Biyan. Selamatkan aku. Mereka mengincarku. Tolong hati-hati. Jangan percaya siapa pun. Maafkan aku.”

Video berhenti di situ.

Biyan terpaku. Tubuhnya gemetar. Ia memutar ulang video itu lagi dan lagi. Tapi setiap kali, bagian terakhir terasa sedikit berbeda — ada suara samar di latar, seperti seseorang berbisik nama “Abhi.”

Biyan memejamkan mata. Napasnya berat.

Lalu ia bergumam lirih, “Kau tidak bunuh diri, kan?”

Dan untuk pertama kalinya sejak hari itu, di antara isakannya yang tertahan, muncul sesuatu yang berbeda di wajah Biyan—bukan hanya duka. Tapi juga amarah.

1
Ryo gunawan
dabel up lah thor
Helmi Sintya Junaedi
beruntung abhi punya kakak yg sangat menyayanginya,,, cari pelakunya sampai dapat balas kn perbuatan nya,,
CutiePie
next! 😊
CutiePie
curiga sih mereka pelakunya 😡
CutiePie
heh 😂😂
CutiePie
bguss
CutiePie
Ini bagus sekali!
Tidak sabar untuk selanjutnya!
semangat ya!
CutiePie
😍😍
CutiePie
😭😭
CutiePie
semangat!
QueenBwi
💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!