Niat hati ingin menghilangkan semua masalah dengan masuk ke gemerlap dunia malam, Azka Elza Argantara justru terjebak di dalam masalah yang semakin bertambah rumit dan membingungkan.
Kehilangan kesadaran membuat dirinya harus terbangun di atas ranjang yang sama dengan dosen favoritnya, Aira Velisha Mahadewi
Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua? Apakah hubungan mereka akan berubah akibat itu semua? Dan apakah mereka akan semakin bertambah dekat atau justru semakin jauh pada nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musoka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Aira yang sedari tadi terlelap di dalam alam mimpi secara perlahan-lahan mulai membuka mata. Ia berkedip beberapa kali guna menormalkan kembali indera penglihatan yang masihlah sangat buram pada saat ini, lantas sedikit mengerutkan kening ketika merasa sangat asing dengan tempat keberadaannya kini.
Perempuan berparas cantik itu secara perlahan-lahan mengalihkan pandangan ke sekeliling ruangan, berusaha mencari petunjuk agar mengetahui dirinya sekarang berada di mana. Ia semakin mengerutkan kening sempurna, saat menyadari bahwa semua benda di sekelilingnya ini sering dirinya lihat—saat sedang menjenguk seseorang di dalam rumah sakit.
Begitu menyadari keberadaannya, Aira berusaha mengingat kembali kejadian yang mengakibatkannya sekarang berada di tempat ini. Namun, itu tidak berlangsung lama, lantaran suara rintihan penuh kesakitan mulai keluar dari dalam bibir mungilnya saat tiba-tiba saja rasa pusing mulai melanda seluruh bagian di dalam kepalanya.
“Argh … pusing banget … apa yang sebenarnya udah terjadi …,” gumam Aira dengan suara serak khas orang baru bangun dari dalam alam mimpi, sembari menggerakkan tangan kanan untuk memberikan elusan serta pijatan lembut pada kepalanya.
Beberapa menit berlalu, suara pintu masuk ruangan sedang dibuka oleh seseorang dari arah luar terdengar, membuat Aira seketika menghentikan aktivitasnya, kemudian segera mengalihkan pandangan ke arah sana untuk mengetahui sosok orang yang sedang mengunjunginya.
Dari tempatnya berada sekarang, Aira dapat melihat sosok Azka sedang melangkahkan kaki mendekat sambil mengukir senyuman manis penuh akan kebahagiaan dan juga kelegaan.
Azka menghentikan langkah kaki tepat di samping kanan Aira, lantas segera mendudukkan tubuh di sebuah kursi yang berada di sana. “Akhirnya anda sadar juga, Bu.”
Aira menatap wajah tampan Azka sambil mengedipkan mata beberapa kali, masih berusaha mencerna semua hal yang telah terjadi hingga membuatnya kembali terbaring di dalam ranjang rumah sakit.
Akan tetapi, itu tidak berlangsung lama, lantaran Aira sesegera mungkin merintih kesakitan saat rasa pusing kembali masuk dan melandanya kala dirinya berusaha untuk mengingat semuanya.
Melihat hal itu, Azka dengan sigap bangun dari atas tempat duduk, lantas memberikan elusan lembut di puncak kepala Aira—berusaha membuat sang dosen merasakan kenyamanan di antara rasa pusing yang sedang melanda sekarang.
“Ibu, jangan dipaksa … nanti pusingnya makin men—”
“Lepasin saya …,” potong Aira dengan terdengar sangat ketus meskipun rasa sakit terus-menerus melandanya, “Ngapain kamu di sini? Belum puas kamu ngehancurin hidup dan kepercayaan saya selama ini?”
Mendengar hal itu, membuat Azka sontak terdiam seribu bahasa. Ia menghentikan elusannya pada puncak kepala Aira, lantas kembali mendudukkan tubuh di tempat semula sambil mengalihkan pandangan ke arah perut sang dosen yang masihlah sangat ramping—tidak berani membalas tatapan tajam milik Aira.
Azka menggigit bibir bawahnya cukup kencang, berusaha menahan sesuatu di dalam dirinya, sebelum pada akhirnya secara perlahan-lahan mulai membuka suara. “Maaf … maaf karena kelakuan saya waktu itu … andai saya nggak mabuk … mungkin … mungkin … mungkin Ibu nggak harus hamil anak saya sekarang ini.”
Aira sontak melebarkan mata, tatapannya yang begitu sangat tajam seketika berubah menjadi sangat sulit untuk diartikan—seolah dirinya sangat terkejut karena Azka mengetahui tentang kehamilannya sekarang ini. Ia mematung dengan seluruh tubuh terasa sangat kaku, seakan dunia tiba-tiba saja berhenti berputar.
Kata ‘hamil’ yang keluar dari mulut Azka bergema berkali-kali di dalam kepala Aira, menciptakan sensasi hangat yang menjalar turun ke tengkuk dan membuat rasa pusingnya semakin menjadi-jadi.
“Ap-apa yang kamu bilang barusan?” tanya Aira dengan suara terdengar sangat pecah. Bukan hanya terkejut, tetapi juga karena dipenuhi oleh ketakutan yang selama ini berusaha susah payah untuk dirinya sembunyikan.
Azka mengangkat kepala secara perlahan-lahan—mata indahnya yang gelap tampak bergetar keras—seolah sedang menahan rasa bersalah yang sudah berminggu-minggu terus-menerus menghantuinya.
“Saya tahu, Bu … saya tahu Ibu hamil. Saya tahu itu anak saya. Saya lihat sendiri waktu Ibu pingsan di depan toilet kampus tadi … dan dokter bilang ada tanda-tanda kehamilan … bahkan hasil lab tadi juga ada ….” Azka menelan air liurnya dengan sangat susah payah. “Buat mengkonfirmasi semuanya.”
Aira menggenggam selimut yang sedang menutupi tubuh bagian bawahnya dengan sangat erat, sampai kuku-kuku jari tangannya berubah menjadi putih. Napasnya mulai tersengal, seperti paru-parunya tiba-tiba saja menolak untuk bekerja secara normal.
“Kamu gila … jangan asal ngomong,” bisik Aira dengan begitu sangat lirih, meskipun nada suaranya bergetar tidak stabil sama sekali.
“Saya nggak asal ngomong, Bu.” Azka menggelengkan kepala pelan. “Saya udah lama curiga … cara Ibu muntah di toilet, muka Ibu yang pucat, gampang pusing … saya udah cari tahu semuanya. Saya—”
Azka berhenti sejenak, suaranya terdengar sangat parah, sebelum kembali membuka suara. “Saya tajur banget waktu lihat Ibu pingsan. Saya kita akan kehilangan Ibu untuk selama-lamanya.”
Aira memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan degup jantungnya yang menghentak terlalu keras. Rasa pusing, rasa takut, rasa marah—semuanya bercampur menjadi satu.
“Kamu seharusnya nggak tahu apa pun,” ucap Aira pelan dan penuh akan luka, “Ini semua urusan saya. Kamu nggak perlu ikut campur … apalagi setelah apa yang kamu lakukan waktu itu.”
Azka meremas ujung celananya sendiri, menahan rasa sakit yang menghantam dadanya saat mendengar kata-kata itu. “Saya tahu … saya salah. Saya sadar banget saya keterlaluan. Saya nyesel siang malam. Tapi … kalau ini benar-benar hamil … saya nggak mungkin tinggal diam gitu aja. Itu anak saya, Bu. Anak kita berdua.”
Aira sontak membuka matanya, menatap wajah tampan Azka dengan sorot mata penuh guncangan. “Jangan panggil ‘anak kita’! Jangan sok peduli!”
“Kenapa?” tanya Azka pelan, suaranya bergetar hebat sekarang, “Karena saya mahasiswa Ibu? Karena umur saya masih dua puluh? Atau karena Ibu takut saya nggak bakal tanggung jawab?”
Aira terdiam seribu bahasa, pertanyaan itu menancap terlalu tepat di dalam dadanya. Ia menggigit bibir, tak mampu segera memberikan jawaban.
Azka menarik napas panjang, berusaha mengatur emosinya, sebelum kembali membuka suara.
“Saya tahu Ibu benci saya … dan mungkin Ibu berharap malam itu nggak pernah terjadi. Tapi kenyataannya sudah terjadi. Dan saya .…” Azka menggenggam kedua tangannya dengan sangat erat. “Saya siap tanggung jawab apa pun. Termasuk kalau Ibu benci saya seumur hidup.”
Kali ini, mata Aira mulai berkaca-kaca saat mendengar hal itu—seakan janin yang ada di dalam kandungannya sedang ingin ikut dalam pembicaraan yang sangat menguras energi serta tenaga ini.
Azka merubah tatapan menjadi sangat sendu, lalu dengan gerakan pelan dan penuh kehati-hatian mulai menggenggam kedua tangan Aira yang berada di atas pangkuan.
“Tolong … jangan jauhin saya dari Ibu … dan jangan jauhin saya dari anak saya sendiri, Bu … saya benar-benar mohon sama Ibu ….”
Aira , terima dong biar belum cinta usaha jalani sama-sama . cinta akan datang seiring waktu