"Hi, Señorita!" Nero tersenyum miring seraya mengacungkan senjata api tepat di kening Elle.
"Kau ingin membunuhku?!" Elle terisak ketakutan saat pria itu hendak menarik pelatuk senjata apinya. Sebentar lagi dia akan mati.
DOR!
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nero ingin melenyapkan wanita yang sangat dicintai.
Penasaran? Ikuti terus kisahnya. Dan jangan lupa, Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah lagi?
"Kau ingin menikah lagi?!" tatapan Gloria sudah seperti busur panah yang siap diluncurkan ke papan target saat menatap suaminya.
"Tidak, Glo! Astaga!" Ben segera menjawab sambil menggeleng. "Satu saja tidak habis, untuk apa nambah lagi," selorohnya yang langsung mendapatkan cubitan keras dari istrinya. "Aduh!!" pekik Ben saat istrinya mencubit perutnya.
"Rasakan itu!" balas Gloria, puas. "Lalu untuk apa kau mengajakku ke sini dan bertemu dengan pemuka agama?" tanya Gloria saat mereka memasuki gereja terbesar di Kota tersebut.
"Untuk mengurus pernikahan Nero dan Elle," jawaban Ben membuat Gloria sangat syok.
"Apa?! Kenapa kau tidak bilang sejak awal padaku?!" protes Gloria, bersedekap di dada, menatap tajam suaminya.
"Ah, aku ingin membuat kejutan untukmu," jawab Ben, santai.
"Dasar gila!"
"Hei, kau berani sekali mengumpati suamimu sendiri!" Ben mendelik marah pada istrinya.
"Ya, habisnya, aku kesal padamu! Masa hal sepenting ini kau baru memberitahuku!" balas Gloria tak kalah marah.
"Oke, maaf, Sayang." Ben mengakhiri perdebatan mereka.
Gloria menghela nafas panjang, lalu mengikuti langkah suaminya, lebih masuk ke dalam gereja itu untuk mengurus pernikahan Elle dan Nero. Sebenarnya ia agak keberatan, tapi Nero kaya raya, putrinya tidak akan kekurangan suatu apa pun kalau menikah dengan pria itu, terlebih lagi Nero tampak mencintai Elle. Ya, meskipun ada sisi gelap dari Nero, tapi ia tidak mempermasalahkannya.
*
"Hei, wajahmu jelek kalau cemberut seperti itu," goda Nero sembari menangkup wajah Elle dengan sebelah tangan.
"Sana pergi! Untuk apa kau di sini!" Elle marah dan kecewa karena Nero tidak menjawab kata cintanya. Padahal dia sudah mengumpulkan keberanian dan menurunkan ego-nya. Elle melengos, tidak mau menatap Nero, bahkan ia menepis tangan itu agar menjauh darinya.
"Jangan marah, aku hanya..." ucapannya terhenti ketika melihat Elle merebahkan diri seraya menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Elle ..." panggil Nero lembut.
"Aku ingin istirahat, tinggalkan aku sendiri!" ucap Elle menahan tangis di balik selimut tersebut. Tidak ada sahutan, tapi ia mendengar suara langkah kaki menjauh dari tempat tidur pasien dan tak berselang lama suara pintu tertutup.
Elle masih mempertahankan posisinya, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, tapi kali ini ia sambil menangis sedih.
Mungkin benar kalau Nero tidak lagi suka padanya, apalagi wajahnya kini cacat. Walaupun sudah melakukan operasi, tapi ia takut gagal.
*
"Aku ingin menemui Elle. Glam menitipkan sesuatu untuknya," kata Damon saat melihat Nero keluar dari ruangan VIP itu.
Nero segera mencegah, membentangkan kedua tangan di depan pintu, "besok saja, karena Elle sedang istirahat." Ekspresi Nero seperti seorang kesatria yang sedang melindungi Tuan Putri dari serangan musuh, tetap waspada.
"Ck! Ya sudah, aku titipkan saja padamu. Karena aku harus segera kembali ke Barcelona hari ini juga." Damon menyerahkan paperbag itu pada Nero.
"Kau serius ingin kembali ke Barcelona? Setidaknya menginaplah semalam di sini," ucap Nero, dengan nada memohon pada boss-nya itu.
"Tidak bisa, Nero. Aku harus sampai sana sebelum malam, karena putraku tidak bisa tidur kalau tidak aku bacakan dongeng," jawab Damon, serius.
Nero mengerutkan alis, lalu menatap boss-nya lekat-lekat. "Anda serius, Tuan? Ini seperti bukan Anda." Nero kaget sekali melihat perubahan sikap Damon. Bagaimana tidak, dulu pria dihadapannya itu terlihat kaku, dingin, tidak memiliki hati, apalagi empati, tapi kini, Damon tampak sedikit hangat, lucu dan menggemaskan. Banyak sekali perubahan dari Damon yang membuat Nero tercengang.
"Apa maksudmu? Apa kau sedang meledekku?" Damon menjawab dengan nada jengkel, seraya bersedekap di dada.
"Ha ha ha, tidak, Tuan. Jangan tersinggung. Sepertinya Anda sekarang terlihat bahagia ya. Benar 'kan kataku kalau Nona Glam adalah wanita yang tepat untuk Anda." Nero terkekeh pelan, sambil menjabat tangan Damon, tak lupa mengucapkan selamat untuk yang ke sekian kalinya.
"Tentu aku sangat bahagia. Dan, kau juga harus bahagia." Damon menepuk pundak Nero beberapa kali, setelah itu ia pamit pulang ke Barcelona karena istri dan anak-anaknya menunggunya.
Nero menatap punggung tegap boss-nya itu penuh arti. Ya, dia juga sedang menanti momen itu. Ia tak sabar menjadi seorang ayah. Ia ingin juga merasakan kebahagiaan yang di rasakan boss-nya sekarang.
jd ap yg paman botak inginkan 🤔🤔
berta udah mo nikah lo dgn camorra
km. sii sok jaim🤣🤣🤣