Ah, sialan!
Liga berusaha tetap terlihat biasa saja walau kenyataannya perasaannya sangat gugup sekarang. "Aku hanya mengunjunginya saja dan tidak melakukan apapun. Tapi di--"
"Mengunjungi?" Mafia menyela, menatap Liga cukup intens, membuat ucapan Liga terhenti dan berganti anggukan.
"Iya. Aku hanya ingin mengunjunginya saja. Tap--"
"Sejak kapan kamu suka mengujungi tahanan?" sela Mafia lagi yang tanpa diketahui berhasil membuat jantung Liga berdebar kencang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Mafia menepuk dadanya dengan keras sampai terasa nyeri. Buru buru mengambil gelas dan menuang air putih dari teko ke dalam gelas itu. Meminumnya sampai habis agar cuilan singkong yang tertahan ditenggorokan turun ke perut. Satu, dua, tiga gelas, Mafia bernapas lega, duduk di kursi makan dengan napas terengah engah.
Mafia melirik Vair yang kini berjalan mendekatinya dengan kesal. Untung yang tadi membuat dia kaget adalah wanita yang dia cintai. Andai saja orang lain, Mafia sudah membantainya habis habisan. Bahkan tulang belulangnya tidak Mafia biarkan utuh.
Vair menaikan satu alis melihat ekspresi Mafia yang sangat mengenaskan, dia menatap kearahnya dengan tatapan yang Vair tidak tahu apa artinya. Ada rasa kasihan yang muncul tapi lebih banyak rasa ingin tertawa kencang. Baru kali ini Vair melihat tuan kejam tersedak singkong. Lucu sekaliii...hahaha...
"Apa? Kok natap aku begitu banget?" akhirnya Vair tidak tahan juga dengan tatapan Mafia yang sulit diartikan. Tatapan Mafia bukan tatapan marah, jengkel, atau ingin membunuh. tapi...ah, Vair tidak tahu pasti, tapi menurutnya aneh saja.
Mafia membuang napas, baru kali ini dia mengalah dengan orang lain. Ingin marah, ingin memaki maki, dan ingin berkata kasar, tapi yo ndak mampu. Untuk mendapatkan Vair berada disisinya saja butuh waktu bertahun tahun. Jadi Mafia tidak mau jika sampai gegabah dalam bertindak maupun berkata yang bisa memicu kepergian Vair lagi. Cukup kemarin dia kehilangan, kali ini tidak boleh lagi.
"Kamu sengaja mau bunuh aku hm?"
Setelah sekian lama diam dan hanya melayangkan tatapan, Mafia bersuara, bertanya pada sesosok perempuan yang sekarang sudah duduk dikursi depannya dengan wajah yang terlihat santai, wajah cantik itu sama sekali tidak terlihat merasa bersalah sedikit pun. Benar benar menguji kesabaran Mafia yang hanya punya kesabaran setitik noda hitam di pipi.
Dengan wajah tanpa dosanya Vair mencibir, lalu menatap Mafia dengan tawa yang berusaha dia tahan. Mafia menyadari itu, tapi tidak apa apa. Anggap saja ejekan Vair itu adalah hiburan setelah tadi hampir saja mati tersedak cuilan singkong.
"Ish... Aku tadi cuma tanya, nggak minat ngagetin atau apapun. Tapi kamunya aja yang kagetan. Lagian sih, kamu cuma makan singkong aja kaya makan apaan."
Sangat menyepelekan, padahal dulu, disaat dia masih kecil dan hanya sendirian. Hidupnya tidak jauh seperti yang tadi Vair bicarakan. Dia juga sempat ada dimomen seperti itu. Makan singkong satu potong rasanya nikmat sekali. Bahkan dia sengaja makan separuh dan menyimpannya untuk esok hari. Sampai singkong rebus yang dia temukan di tong sampah sedikit bau dan berair.
Namun, sepertinya Vair sudah lupa dengan semua itu karena dia sudah punya segalanya sekarang. Vair mencubit sebelah pipi Mafia dengan gemas. Sentuhan pertama tanpa paksaan setelah berapa tahun tidak bertemu. Yang tidak Vair ketahui sentuhan kecilnya membuat degup jantung Mafia menggila.
Jantungku lagi lagi seperti ini.
Mafia meraba dadanya sendiri, sambil menatap Vair yang tidak lagi misuh misuh seperti baru datang ke sini tadi. Mungkin Vair sudah menerima untuk tinggal disini lagi. Semoga saja seperti itu, Mafia senang karena itu yang dia harapkan.
"Kamu tahu? Tadi aku gemes banget liat pipi kamu yang memerah. Aku juga menikmati polahmu yang kelabakan mengambil air minum, malah sampai habis tiga gelas, hahahaaa...lucu deh, hihihi..."
Vair tidak bisa untuk tidak tertawa, baginya, kejadian tadi adalah momen lucu, hiburan kecil untuknya, bukan momen menegangkan. Padahal Mafia menganggap tadi itu kejadian memalukan sekali, sekaligus menyakitkan. Tapi liat, Vair yang menganggap tadi adalah hiburan, Mafia rela tersedak lagi agar wanita didepannya tersenyum bahagia.
Terkesan bodoh memang, tapi itulah cinta.
"Tua----"
Kasim yang baru saja masuk ke dapur karena ingin memanggil tuannya terkejut melihat adegan romantis dimeja makan. Kasim merasa iri dengan pasangan itu. Sama sama cantik dan tampan. Tapi Kasim juga merasa tidak enak hati karena takut dikira lancang datang diwaktu tuannya sedang bermesraan dengan kekasihnya.
Eh, apa benar mereka sudah menjadi sepasang kekasih? Aku masih ingat dengan taruhan berapa tahun berlalu. Kira kira, siapa yang bakal cucikan baju selama seminggu ya? hihihi...
Lihat, tangan Nona Vair yang menyentuh pipinya, lalu tatapan mereka berdua bertemu, menyorotkan isyarat yang sama. Kasim yakin, tuan dan nona Vair pasti sudah bersatu. Semoga saja begitu. Nanti Kasim akan ngomong sama Haru.
Vair yang masih menyentuh pipi Mafia tidak sengaja melihat bayangan seseorang diambang pintu dapur sana. Vair buru buru menarik tangannya dan berdeham kencang. Mafia menunduk masih berusaha menormalkan detak jantungnya.
Kenapa jantungku selalu seperti ini jika wanita satu ini menyentuhku? Ah, aku bener bener tidak mengerti.
"Ssttt..."
Vair menyenggol kaki Mafia yang ada dibawah meja makan dengan ujung jempol kakinya, Mafia yang merasa, mendongak, menatap Vair dengan kening berkerut. Syarat tanya tanpa bersuara.
Vair menunjuk kearah belakang Mafia dengan dagunya. Memberi tahu jika dibelakangnya ada orang lain. Mafia tidak paham dengan isyarat yang Vair berikan. Mafia hanya menoleh kebelakang dan disitulah baru Mafia sadari jika ada Kasim yang berdiri, mungkin itu yang ingin Vair beritahu padanya. Jika diruangan ini ada Kasim juga.
"Ngapain kamu disitu?" Satu alis Mafia terangkat menatap Kasim tak suka. Mengganggu momen berduanya dengan sang pujaan hati.
"Anu tuan, maaf mengganggu." Kasim nyengir. "Diluar ada seseorang yang mencari Anda," menunduk hormat.
"Siapa?"
"Saya tidak tahu tuan,"
"Ya seharusnya kamu tanya dia siapa dan dari mana?!"
"Maaf, saya tadi sudah bertanya, tapi dia tidak memberitahu, malah mengancam akan bunuh saya jika tidak memanggil tuan untuk keluar menemuinya,"
Rahang Mafia mengeras tatapan teduh nan lembut berubah setajam belati, kedua tangan mengepal. Mafia berdiri dan beranjak dari dapur untuk keluar rumah, ingin menemui seseorang yang cukup berani mengeluarkan ancaman didaerah kekuasaannya.
Vair juga mengikuti Mafia dibelakangnya. Penasaran, kiranya siapa yang datang dengan membawa ancaman menakutkan seperti yang Kasim ceritakan barusan. Setelah tuan dan nona berjalan melewatinya, Kasim juga mengekor di belakang, dia juga cukup penasaran dengan sosok itu. Orang yang baru dia lihat sekali ini.
Di luar, Haru menodong dengan senjata runcingnya pada leher seseorang yang memaksa masuk karena tidak sabar menunggu tuan Mafia keluar. Tatapan keduanya menunjukan permusuhan, sama sama tajam dan sama sama mengerikan, tidak ada sorot mengalah dan damai sama sekali.
"Ehem!"
Haru dan orang itu beralih tatap. Menatap pada seseorang yang kini berdiri menjulang di ambang pintu utama.
"Akhirnya kamu keluar juga Mafia."
"Siapa kamu?"