Storm adalah gadis bar-bar dengan kemampuan aneh—selalu gagal dalam ujian, tapi mampu menguasai apa pun hanya dengan sekali melihat.
Ketika meninggal pada tahun 2025, takdir membawanya hidup kembali di tubuh seorang narapidana pada tahun 1980. Tanpa sengaja, ia menyembuhkan kaki seorang jenderal kejam, Lucien Fang, yang kemudian menjadikannya dokter pribadi.
Storm yang tak pernah bisa dikendalikan kini berhadapan dengan pria yang mampu menaklukkannya hanya dengan satu tatapan.
Satu jiwa yang kembali dari kematian. Satu jenderal yang tak mengenal ampun. Ketika kekuatan dan cinta saling beradu, siapa yang akan menaklukkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Keesokan harinya.
Storm memasuki ruangan sambil membawa nampan berisi obat. Begitu ia melangkah masuk, ia melihat Lucien duduk di kursi rodanya dengan raut wajah serius, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.
"Jenderal, waktunya ganti obat," ujar Storm lembut.
Lucien mengangkat pandangan.
"Ah Zhu, bagaimana dengan lukamu?" tanyanya.
"Sudah membaik," jawab Storm singkat sambil menyiapkan obat-obatan.
Lucien mengangguk pelan.
"Kelak, kau pasti bisa menjadi dokter yang hebat."
Storm tersenyum tipis.
"Aku masih harus banyak belajar."
Saat Storm tengah menata peralatan medis, Lucien mendorong sebuah kotak kayu kecil ke arahnya.
"Ambil ini. Gunakan saja saat kau membutuhkannya," kata Lucien datar.
Storm tertegun.
"Apa ini, Jenderal?" tanyanya sambil membuka penutup kotak itu.
Di dalamnya terbaring rapi kalung mutiara, gelang emas, dan beberapa batang emas—barang-barang yang sangat bernilai, terlebih di era 80-an.
Storm spontan menutup kembali kotak itu.
"Jenderal, kenapa Anda memberikan perhiasan seperti ini padaku?" tanyanya kaget.
"Itu bayaran atas jasamu," jawab Lucien tenang. "Selama ini kau mengobatiku. Dan semalam… kau juga menyelamatkan nyawaku."
Storm menatap kotak kayu itu lama. Jantungnya berdegup pelan.
"Jenderal…" ucapnya lirih.
Ia menggeleng perlahan.
"Aku tidak bisa menerima ini."
Ia mendorong kembali kotak itu ke arah Lucien.
"Aku menolong Anda bukan karena bayaran. Aku melakukan itu karena memang seharusnya."
Lucien menatapnya dalam. Untuk sesaat, sorot matanya melunak—jarang sekali terlihat.
"Ah Zhu," katanya perlahan,
"di dunia ini, tidak semua kebaikan bisa dibiarkan tanpa balasan."
Storm terdiam.
Dan tanpa ia sadari, sejak saat itu, hubungan mereka telah melangkah ke sesuatu yang lebih dalam dari sekadar Jenderal dan tabib.
"Aku adalah seorang dokter," ujar Storm dengan suara tenang namun tegas. "Dan menyelamatkan Anda adalah kewajibanku. Anda adalah pahlawan negara. Jadi apa yang aku lakukan adalah sesuatu yang sangat wajar."
Lucien menatapnya lama, lalu menggeleng pelan.
"Bagaimanapun, ini untukmu," katanya. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Setidaknya kita harus punya persiapan."
Ia mendorong kotak kayu itu sedikit lebih dekat.
"Jika peperangan benar-benar terjadi dan tidak bisa dicegah, maka melarikan diri ke luar negeri adalah pilihan terbaik. Suatu hari… kau akan sangat membutuhkannya."
Storm terdiam. Tangannya mengepal pelan.
"Bukankah dia sedang membantuku… dengan memberiku banyak barang berharga agar aku bisa menyelamatkan diri?" batinnya.
"Kalau peperangan memang tak bisa dicegah… dan dia tetap menjadi korban dalam baku tembak itu… bagaimana aku bisa pergi begitu saja."
"Jenderal…" Storm mengangkat wajahnya, hendak berkata sesuatu.
"Jangan membantahku," potong Lucien dengan nada tegas. "Ini perintah."
Storm menghela napas pelan.
"Baiklah. Aku akan menyimpannya," katanya akhirnya. "Terima kasih."
Lucien tampak sedikit lega.
Beberapa detik hening menyelimuti ruangan, sebelum Lucien kembali bersuara—kali ini lebih pelan, lebih hati-hati.
"Seandainya peperangan kali ini bisa kita lalui dengan selamat," ucapnya, "dan kita menang… apakah kau bersedia tinggal di sini selamanya?"
Storm terkejut.
"Selamanya?" ulangnya lirih.
Lucien mengangguk.
"Mungkin terdengar aneh," katanya jujur. "Tapi aku tidak ingin menyembunyikannya lagi."
Ia menggenggam tangan Storm.
"Ah Zhu," lanjutnya, menatapnya dalam, "aku ingin menikahimu."
Storm terpaku.
"Jenderal… apakah Anda sadar dengan apa yang Anda katakan?" tanyanya, napasnya tercekat.
"Aku sangat sadar," jawab Lucien tanpa ragu. "Setelah semuanya berakhir, aku ingin hidup tenang. Menikah… dan menjalani hari-hari bersamamu."
Genggaman tangannya menguat, seolah takut Storm akan menghilang begitu saja.
Di dada Storm, jantungnya berdegup tak beraturan.
"Kau tidak perlu memberiku jawaban sekarang," ujar Lucien pelan. "Setelah semuanya berakhir, barulah kau memberitahuku jawabanmu."
Storm menatapnya ragu.
"Jenderal… kenapa harus aku?" tanyanya lirih.
Lucien tersenyum—senyum tipis yang jarang sekali ia tunjukkan.
"Mungkin karena sudah lama aku mengenalmu," jawabnya jujur. "Dan karena aku telah memahami sifatmu. Bersamamu… aku merasa nyaman. Aku juga percaya padamu."
Kata-kata itu menghantam dada Storm lebih keras dari peluru mana pun.
Ia menunduk, mencoba menenangkan napasnya sendiri.
"Baru pertama kali ini jantungku berdebar secepat ini… "batinnya.
"Apakah aku juga… telah jatuh cinta padanya?"
Storm menggenggam jemarinya sendiri, bingung antara akal dan perasaan.
Ia datang dari masa depan dengan tanpa sengaja.
Namun kini, sejarah justru menawarkan sesuatu yang tak pernah ia perhitungkan,
cinta yang lahir di waktu yang salah.
"Aku masih ada urusan yang harus kuselesaikan di luar kota selama beberapa hari," ujar Lucien. "Tolong jaga kediamanku saat aku tidak ada."
Storm langsung menegakkan tubuhnya.
"Beberapa hari?" tanyanya. "Aku akan menyiapkan obat untuk Anda. Dan aku akan meminta Max mengganti obatnya dua hari sekali."
Lucien mengangguk.
"Baiklah."
"Kalau aku pergi kali ini… aku tidak tahu apakah masih ada kesempatan untuk kembali," batin Lucien.
"Akhir-akhir ini mimpi buruk itu semakin sering datang. Perang, darah, dan wajah-wajah yang tak bisa kuselamatkan…"
Tangannya mengepal pelan di atas sandaran kursi roda.
"Setidaknya, sebelum aku pergi," lanjutnya dalam hati, "aku telah menyerahkan sesuatu yang berharga pada Ah Zhu. Agar kelak, jika keadaan memburuk… dia bisa pergi dari sini, menjauh dari bahaya, dan memulai hidup baru di negara lain."
trus itu gmn?
jadinya
semoga semua akan baik-baik saja...
dan berakhir bahagia.....🤲
kasian juga q am ortux tp klo.yg begitu tiba2 ngilang, pasti sepi n sedih