Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Ujian Akreditasi
BAB 34: Ujian Akreditasi
Pagi di pertengahan Maret 2026 itu terasa lebih kaku dari biasanya. Dua buah mobil sedan hitam dengan plat nomor resmi pemerintah terparkir di depan jalan akses Sektor 12-B. Dari dalamnya keluar empat orang pria dan wanita berseragam rapi, membawa papan klip dan wajah yang tampak seperti hakim di pengadilan tinggi. Mereka adalah Tim Verifikasi Standar Pendidikan, yang datang setelah munculnya desakan dari asosiasi profesi yang merasa "Akademi Arsitektur Rakyat" telah melangkahi wewenang mereka.
"Selamat pagi, Ibu Maya," sapa ketua tim, seorang pria bernama Dr. Hamzah. "Kami di sini untuk menindaklanjuti laporan terkait kegiatan belajar-mengajar tanpa izin resmi. Menurut regulasi tahun 2025, setiap institusi yang menggunakan istilah 'Akademi' atau 'Arsitektur' wajib memiliki sertifikasi standar nasional dan fasilitas laboratorium yang terakreditasi."
Maya menyambut mereka dengan tenang, meskipun ia tahu ini adalah perang dingin jilid baru. Ia tidak membawa mereka ke kantor pengelola, melainkan langsung ke aula utama di mana kelas sedang berlangsung.
"Silakan, Dr. Hamzah. Laboratorium kami ada di sini," ucap Maya sambil menunjuk ke arah aliran sungai dan tumpukan bambu di sudut ruangan.
Dr. Hamzah menaikkan kacamatanya, menatap sinis ke arah Siti dan teman-temannya yang sedang sibuk menghitung tegangan pada model jembatan bambu skala 1:10. "Ini bukan laboratorium, Ibu. Ini bengkel kayu. Mana peralatan pengujian tekan digitalnya? Mana sistem pemodelan komputer berlisensi?"
"Peralatan kami adalah gravitasi dan air sungai, Dokter," sahut Maya tegas. "Siswa kami tidak hanya belajar di depan layar. Mereka belajar bagaimana bambu bereaksi terhadap kelembapan udara Jakarta secara nyata. Mereka belajar bagaimana struktur kita tidak roboh saat dihantam arus sungai setinggi dua meter tahun lalu. Apakah simulasi komputer Anda bisa memberikan pengalaman batin seperti itu?"
Tim verifikasi mulai berkeliling. Mereka memeriksa setiap sudut bangunan dengan teliti, mencoba mencari celah. Namun, mereka justru menemukan hal-hal yang tidak ada di kampus-kampus mewah. Mereka melihat perpustakaan yang penuh dengan catatan teknis tulisan tangan Aris yang sangat presisi, melampaui standar buku teks mana pun.
Puncaknya terjadi saat Dr. Hamzah menguji Siti. "Nak, jika balok ini diberi beban lateral sebesar lima ratus kilogram, di mana titik retaknya?"
Siti tidak menjawab dengan angka rumit. Ia mengambil sebuah potongan bambu, menekannya dengan cara tertentu, lalu menunjuk ke satu serat kecil yang mulai merenggang. "Di sini, Pak. Karena bambu ini tumbuh menghadap timur, serat sisi baratnya lebih padat tapi lebih rapuh. Kami tidak butuh komputer untuk tahu itu, kami hanya perlu merasakannya."
Dr. Hamzah terdiam. Ia melihat ke sekeliling, pada dinding-dinding Rumah Senja yang kokoh meski dibangun dari material "murah". Ia menyadari bahwa ia sedang berdiri di dalam sebuah mahakarya yang tidak bisa diukur dengan formulir verifikasinya yang kaku.
"Ibu Maya," Dr. Hamzah menutup papan klipnya di akhir kunjungan. "Secara administratif, tempat ini memang melanggar banyak aturan. Tapi secara substansi... tempat ini adalah masa depan yang kita cari. Saya tidak akan menutup tempat ini. Sebaliknya, saya akan merekomendasikan tempat ini sebagai 'Laboratorium Terbuka Eksperimental'. Dengan begitu, kalian tidak butuh akreditasi formal untuk tetap mengajar."
Kemenangan kecil ini dirayakan dengan sederhana oleh warga dan para siswa. Maya menatap makam Aris dari kejauhan. Ia merasa Aris sedang tertawa melihat para birokrat itu kebingungan menghadapi logika bambu. Namun, di balik kemenangan itu, sebuah bayangan lama kembali muncul. Maya menerima sebuah surat pribadi dari penjara: Baskoro ingin bertemu.
"Dia ingin menyampaikan sesuatu yang tidak bisa ia katakan di pengadilan," ucap Yudha sambil menyerahkan surat tersebut.
Maya tahu, babak ini belum benar-benar selesai. Ada satu potongan puzzle terakhir dari masa lalu Aris yang mungkin hanya diketahui oleh sang musuh bebuyutan.