Alya, gadis sederhana dan salehah yang dijodohkan dengan Arga, lelaki kaya raya, arogan, dan tak mengenal Tuhan.
Pernikahan mereka bukan karena cinta, tapi karena perjanjian bisnis dua keluarga besar.
Bagi Arga, wanita berhijab seperti Alya hanyalah simbol kaku yang menjemukan.
Namun bagi Alya, suaminya adalah ladang ujian, tempatnya belajar sabar, ikhlas, dan tawakal.
Hingga satu hari, ketika kesabaran Alya mulai retak, Arga justru merasakan kehilangan yang tak pernah ia pahami.
Dalam perjalanan panjang penuh luka dan doa, dua hati yang bertolak belakang itu akhirnya belajar satu hal:
bahwa cinta sejati lahir bukan dari kata manis… tapi dari iman yang bertahan di tengah ujian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Lama di Meja Rapat
Pagi yang hangat menyelimuti halaman panti sosial itu. Udara terasa lembut, matahari memancar lembut melalui pepohonan mangga tua di sudut halaman. Suara tawa anak-anak bersahutan, riang dan polos. Di tengah keceriaan itu, Alya duduk bersila di teras, di depannya beberapa anak kecil memegang iqra’ dan mushaf kecil, membaca dengan suara lantang meski masih terbata.
“Baik, coba sekarang ganti giliran, siapa yang mau membaca surat Al-Fatihah?” tanya Alya lembut.
Seorang bocah perempuan berkerudung merah muda mengangkat tangan, “Saya, Kak Alya!”
“Baik, Aisyah dulu ya,” Alya tersenyum, memperhatikan setiap makhraj huruf dan tajwid yang keluar dari mulut mungil muridnya itu. Ketika Aisyah selesai, Alya menepuk lembut kepala gadis kecil itu.
“MasyaAllah, bagus sekali. Tapi huruf ‘dh’ masih agak kurang tebal ya, coba ulangi nanti di rumah,” katanya dengan nada lembut.
Anak-anak tertawa riang saat Alya mengeluarkan beberapa permen kecil sebagai hadiah kecil bagi yang sudah mengaji dengan baik. Setelah sesi mengaji selesai, Alya menemani mereka bermain bola plastik di halaman, dan kemudian membantu Bu Norma membagikan makanan ringan.
“Terima kasih ya, Alya. Sejak kamu sering ke sini, anak-anak jadi lebih semangat belajar dan panti ini terasa lebih hidup,” ucap Bu Norma sambil tersenyum, menepuk bahu Alya.
Alya tersenyum, “Saya juga bahagia, Bu. Mereka seperti pengingat saya untuk terus bersyukur.”
Namun, sebelum Alya sempat beranjak, Bu Norma kembali bersuara.
“Oh ya, besok ada acara bakti sosial bersama pondok pesantren Al-Ma’arif. Anak-anak panti diundang juga. Katanya, acara itu diadakan langsung oleh putra kyai-nya, Gus Fawwaz. Kamu tahu kan, pondok itu yang tidak jauh dari sini.”
Alya menatap Bu Norma, lalu tersenyum lembut. “Wah, bagus sekali, Bu. Anak-anak pasti senang.”
“Iya, tapi kami butuh seseorang untuk mendampingi anak-anak di sana. Dan kalau boleh, kami ingin kamu ikut. Tapi tentu saja, kalau sudah izin suamimu,” kata Bu Norma bijak.
Alya mengangguk, “InsyaAllah, Bu. Saya akan minta izin dulu pada Mas Arga nanti.”
Bu Norma mengangguk senang, “Baik, semoga diizinkan ya. Karena anak-anak pasti senang kalau Kak Alya ikut.”
Alya tersenyum kecil, namun hatinya mulai berpikir bagaimana harus menyampaikan hal ini dengan cara yang baik kepada Arga. Ia tahu betul Arga sangat perhatian, terutama sejak mereka semakin dekat beberapa hari terakhir.
Sementara itu, di pusat kota Jakarta, lantai tertinggi Maheswara Grup sedang bersiap untuk rapat penting.
Pukul 10.00 tepat, satu per satu para kolega mulai masuk ke ruang meeting besar yang berdinding kaca, menampilkan panorama kota yang megah.
Dinda datang lebih dulu. Sebelum berangkat tadi pagi, Dinda sudah mempersiapkan semuanya dengan cermat. Di apartemennya yang mewag, ia menatap pantulan dirinya di cermin panjang, lipstik lembut, parfum wangi yang segar, dan ekspresi percaya diri yang nyaris menutupi rasa gugup yang tidak ingin ia akui.
“Maheswara Grup, huh…” gumamnya pelan sambil menyemprotkan parfum di pergelangan tangan. “Sudah lama sekali.”
Di kepalanya terlintas wajah Arga. Ia tidak tahu mengapa jantungnya berdetak lebih cepat setiap memikirkan pertemuan itu.
Saat tiba di gedung Maheswara, Dinda melangkah anggun melewati lobi megah dengan langkah yang mantap, meski di balik kaca mata hitamnya tersimpan rasa campur aduk, antara nostalgia, penasaran, dan mungkin sedikit perasaan lama yang belum sepenuhnya padam.
Pintu ruang meeting terbuka, Arga masuk terakhir bersama Clara dan Bima.
Clara tampak sibuk membawa berkas-berkas penting, sementara Bima membawa laptop dan menatap layar.
Arga hari ini terlihat tenang, bahkan lebih hangat dari biasanya. Begitu masuk, ia hanya menatap sekilas ke arah Dinda, singkat, namun cukup membuat Dinda merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.
“Baik, kita mulai rapatnya,” ucap Arga datar, duduk di kursinya di ujung meja.
Dinda berusaha terlihat profesional, menyodorkan berkas presentasi desain sementara Batavia Tower. “Ini konsep sementara yang kami ajukan, kami masih menunggu arahan dari pihak Maheswara untuk tahap lanjutan.”
Arga mengangguk kecil, memperhatikan tanpa emosi berlebih. Aura dinginnya terasa, namun ada sisi berbeda, bukan dingin karena benci, tapi lebih karena ia benar-benar sudah memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan.
Dinda menatapnya diam-diam. Dia berubah... tapi entah kenapa aku semakin tertarik.
Sementara itu, Bima yang duduk di sisi kanan ruangan memperhatikan Dinda dengan tatapan penuh kewaspadaan. Ia mengingat pertemuannya dengan wanita itu semalam.
---
Flashback
Restoran itu tidak terlalu ramai malam itu, hanya ada alunan musik jazz lembut, denting sendok garpu, dan aroma kopi hitam yang pekat.
Dinda duduk di salah satu meja dekat jendela, rambutnya yang bergelombang rapi tergerai di bahu, menambah kesan profesional sekaligus elegan. Ia baru saja selesai menghadiri rapat dengan tim perusahaannya terkait proyek Batavia Tower, proyek besar yang membuatnya harus kembali ke Indonesia setelah tiga tahun bekerja di Eropa.
Dinda membuka laptopnya, meninjau ulang desain konsep yang tadi ia presentasikan. Namun, pikirannya sesekali melayang pada satu nama: Arga Maheswara.
Nama yang tidak pernah benar-benar hilang dari kepalanya, meski sudah bertahun-tahun berlalu.
“Sendirian aja, arsitek cantik?”
Suara bariton yang familiar memecah lamunannya.
Dinda menoleh, dan matanya membulat sedikit. “Bima?”
Bima terkekeh kecil, menepuk pelan bahunya sebelum duduk di kursi seberang. “Lama banget nggak ketemu. Masih suka kopi hitam tanpa gula?”
“Masih,” jawab Dinda sambil tersenyum kecil, “dan lo masih suka ganggu orang di waktu istirahat rupanya.”
Bima tertawa, memanggil pelayan untuk memesan minuman. “Nggak nyangka lo balik ke Jakarta. Dengar-dengar lo yang bakal pegang desain tambahan Batavia Tower?”
Dinda menutup laptopnya. “Ya, sementara itu rencananya. Gue ditunjuk langsung dari kantor pusat. Tapi gue belum tahu bakal lancar atau nggak, tergantung Maheswara Grup juga.”
Nada suaranya berubah lembut tapi sarat makna. “Jadi… Arga masih terlibat di proyek ini, kan?”
Bima mengangguk. “Masih. Dia yang pegang kendali penuh.” Ia menatap Dinda, senyum tipis muncul di bibirnya. “Dan gue tahu lo pasti udah tahu itu.”
Dinda tidak menyangkal. Ia hanya menatap cangkir kopinya. “Gue dengar dia sudah menikah.”
“Benar.”
Jawaban Bima pendek, tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka sedikit berubah.
Dinda menatap keluar jendela, menahan napas sejenak sebelum bertanya, “Bagaimana dia sekarang? Masih… dingin seperti dulu?”
Bima tertawa kecil, nada suaranya setengah menggoda. “Masih dingin, tapi bukan yang dulu. Sekarang ada seseorang yang bikin dia pulang lebih cepat dari kantor, dan senyum kecilnya kadang nggak bisa disembunyikan.”
Tatapan Dinda sedikit goyah, tapi ia tersenyum sopan. “Lo bicara soal istrinya?”
“Ya. Alya.” Bima bersandar di kursinya, melipat tangan di dada. “Lo tahu, Dinda, gue udah lama kerja sama Arga. Tapi baru kali ini gue lihat dia benar-benar berubah tanpa sadar. Kadang masih keras kepala, tapi... ada sesuatu yang beda sejak Alya datang.”
Dinda mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan rasa getir di dadanya. “Gue senang mendengarnya,” ucapnya dengan suara pelan.
Namun, Bima tahu, ada sedikit kekecewaan di sana.
“Gue nggak tahu lo balik dengan niat profesional aja atau… ada urusan lain,” kata Bima sambil menatapnya dengan senyum separuh menggoda, separuh serius.
“Tapi kalau lo datang untuk proyek, aku rasa semuanya bakal baik-baik aja. Asal nggak ada masa lalu yang ikut campur.”
Dinda menatapnya tajam, lalu menghela napas. “Gue datang buat bekerja, Bima. Gue bukan remaja yang masih main-main perasaan.”
Dia mengangkat cangkir kopinya, meneguk perlahan. “Tapi kalau takdir mempertemukan lagi, gue juga nggak akan lari.”
Bima hanya menggeleng kecil, tertawa pelan. “Ya Tuhan, lo masih seanggun dulu, tapi tetap berbahaya.”
Dinda tersenyum samar, matanya menatap ke luar jendela, menembus bayangan lalu lintas Jakarta sore itu. “Gue hanya ingin menutup lingkaran yang belum selesai,” katanya lirih. “Entah giman caranya.”
Bima tidak langsung menjawab, hanya memperhatikan wajah Dinda yang teduh namun menyimpan sesuatu di balik ketenangannya.
Ia tahu, meskipun Dinda terlihat tenang dan profesional, wanita itu masih menyimpan sesuatu untuk Arga. Sesuatu yang belum sepenuhnya usai.
Namun yang Bima lebih tahu lagi, Arga saat ini sedang berada di fase yang berbeda, fase di mana hatinya perlahan mulai terbuka untuk seseorang yang tak pernah ia rencanakan hadir dalam hidupnya.
---
Kini, di ruang meeting, Bima hanya bisa melirik ke arah Dinda dengan tatapan waspada.
Ia memperhatikan bagaimana Dinda menatap Arga, bukan tatapan rekan kerja, tapi tatapan seseorang yang menyimpan masa lalu yang belum selesai.
Sedangkan Arga... tetap fokus pada layar proyektor di depan. Namun di sela-sela kesibukan pikirannya, ada satu hal yang diam-diam membuat ujung bibirnya terangkat kecil: pesan singkat dari Alya di ponselnya.
Alya : Mas Arga, aku sudah sampai di panti sejak jam sembilan tadi, maaf baru ngasih kabar, agak padat. Doakan semua lancar ya. ❤️
Arga mengetik cepat,
Arga : Hati-hati di sana. Jangan terlalu capek. Aku pulang agak malam, ada rapat tambahan. Jangan lupa makan siangnya.
Dinda melihat sekilas layar ponsel Arga yang menyala, namun tidak bisa membaca isi pesannya. Hanya saja, ia tahu Arga sekarang bukan pria yang dulu ia kenal. Ada kelembutan di balik dinginnya, dan entah kenapa, itu membuat hatinya semakin penasaran.
aku aja klo ngomong diceramahi emosi apalagi modelan arga 🤣🤣