NovelToon NovelToon
Dulu Kakak Iparku, Kini Suamiku

Dulu Kakak Iparku, Kini Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / CEO / Janda / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Itz_zara

Selena tak pernah menyangka hidupnya akan seindah sekaligus serumit ini.

Dulu, Daren adalah kakak iparnya—lelaki pendiam yang selalu menjaga jarak. Tapi sejak suaminya meninggal, hanya Daren yang tetap ada… menjaga dirinya dan Arunika dengan kesabaran yang nyaris tanpa batas.

Cinta itu datang perlahan—bukan untuk menggantikan, tapi untuk menyembuhkan.
Kini, Selena berdiri di antara kenangan masa lalu dan kebahagiaan baru yang Tuhan hadiahkan lewat seseorang yang dulu tak pernah ia bayangkan akan ia panggil suami.

“Kadang cinta kedua bukan berarti menggantikan, tapi melanjutkan doa yang pernah terhenti di tengah kehilangan.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Tak Diterima

Setiap orang punya masa lalu, tapi tidak semua masa lalu tahu kapan harus berhenti.

Bagi Selena, hidupnya kini terasa sempurna — suami yang penuh kasih, anak yang selalu membawa tawa, dan keluarga kecil yang ia impikan. Namun, di balik keseharian yang hangat itu, ada satu nama dari masa lalu yang kembali… membawa badai yang tak disangka.

Raya Ardelina.

Sekali waktu, ia hanya bayangan samar di tepi kehidupan mereka — sahabat Kavi, sosok yang pernah terlihat baik. Tapi ketika pintu masa lalu tertutup, Raya memilih mencari jendela untuk masuk kembali.

Dan kali ini, tujuannya jelas: bukan sekadar pekerjaan… melainkan mengambil alih hidup yang dulu bukan miliknya.

Satu pesan singkat.

Satu tatapan lama.

Satu celah kecil dalam kepercayaan yang nyaris sempurna —

…cukup untuk memulai retakan pertama dalam rumah tangga Daren dan Selena.

---

Raya menatap layar laptopnya tanpa berkedip.

Satu baris kalimat singkat memenuhi layar email, namun cukup untuk menghancurkan seluruh rencananya.

“Dengan ini kami menyesal untuk menyampaikan bahwa Anda tidak terpilih sebagai sekretaris Vance Corporation.”

Tangan Raya mengepal hingga buku-bukunya memutih.

“Ck… sial.”

Rasa manis yang belum sempat ia cicipi berganti dengan getir yang menusuk.

Ia menutup laptopnya dengan kasar—nyaris membanting. Nafasnya berat, bukan semata karena kehilangan pekerjaan impian, melainkan karena kehilangan kesempatan untuk mendekati dia.

Daren.

Nama itu bergema dalam kepalanya seperti mantra beracun.

Pria yang seharusnya bisa ia dekati lewat posisi sekretaris pribadi.

Pria yang setiap langkahnya ia pelajari, setiap ekspresinya ia hafal… bahkan sejak sebelum Kavi tiada.

Ia meraih ponselnya.

Membuka galeri.

Jemarinya menelusuri deretan foto lama hingga berhenti pada satu gambar yang membuat dadanya sesak.

Foto itu diambil beberapa tahun lalu.

Kavi tersenyum hangat di tengah, Selena berdiri di sampingnya—menatap pria itu dengan pandangan yang hanya dimiliki oleh seorang istri yang benar-benar mencintai.

Dan di belakang mereka, berdiri Raya. Dengan senyum kaku, yang kala itu masih bisa ia pura-purakan.

Kini, melihat foto itu lagi, rasanya seperti menelan bara.

Sebenarnya, sudah lama ia ingin memiliki Kavi.

Namun pria itu justru memperkenalkannya pada Selena—perempuan yang kemudian berhasil mencuri segalanya darinya.

Kavi mungkin sahabatnya, tapi yang ia rasakan bukan sekadar persahabatan. Ia mencintainya… dengan tulus, sekaligus dengan ambisi.

Dan kini, setelah Kavi tiada, kabar yang ia dengar membuat darahnya mendidih.

Selena… dekat dengan Daren, kakak Kavi.

Pria yang selama ini diam-diam juga ia incar—sebagai pengganti posisi yang tak pernah bisa ia dapatkan.

Ia menggulir layar ponselnya perlahan.

Matanya berhenti pada satu foto: Daren sedang berdiri di depan gedung kantor, tampak tegas, berwibawa, dan memancarkan pesona yang sulit diabaikan.

Foto itu ia ambil diam-diam beberapa hari lalu.

Tatapan Raya berubah—dingin, tajam, dan sarat ambisi.

“Tidak, Selena,” gumamnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.

“Kali ini lo nggak akan bisa dapetin Daren.”

Senyum tipis terbit di wajahnya—bukan senyum bahagia, melainkan senyum seseorang yang siap menyalakan api hanya untuk menonton dunia terbakar.

Raya mengangkat dagunya, menatap pantulan dirinya di layar ponsel.

Matanya memantulkan tekad gila yang tak lagi bisa ia sembunyikan.

“Kalau pintu ditutup…” bisiknya pelan, senyum licik terukir di bibirnya.

“…gue bisa lewat jendela.”

Dan sore itu, untuk pertama kalinya sejak lama, Raya tahu satu hal pasti—

ia tidak akan berhenti sampai Selena kehilangan segalanya.

---

Daren menatap istrinya yang akhir-akhir ini sering melamun.

Entah kenapa, sejak hari ketika ia memberitahu bahwa Raya ikut wawancara di kantornya, Selena jadi lebih banyak diam.

Ada sesuatu yang tampak berbeda dari tatapan mata istrinya — seolah pikirannya selalu berada entah di mana.

Ia tahu Selena bukan tipe yang suka mengeluh, tapi Daren berharap kali ini istrinya mau sedikit terbuka.

Kalau ada yang mengganggu, ia ingin menjadi orang pertama yang tahu.

Mobil berhenti di depan butik.

“Sayang, kita sudah sampai,” ucap Daren lembut sambil menepuk pelan tangan Selena yang sejak tadi terdiam di pangkuannya.

Selena tersentak kecil, tersenyum seadanya. “Oh, iya…” jawabnya lirih, matanya menatap ke luar jendela, ke arah papan bertuliskan Selé Boutique — butik yang menjadi hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun.

Daren menatap wajah itu lama. Ada semburat lelah yang tak biasa.

“Sel…” panggilnya lagi, nada suaranya lebih lembut. “Kamu yakin nggak apa-apa?”

Selena tersenyum tipis. “Aku cuma agak capek aja, Mas. Banyak pesanan akhir-akhir ini.”

Jawaban yang sama seperti sebelumnya — datar, terukur, dan terdengar aman.

Tapi bagi Daren, itu justru terdengar seperti alarm kecil.

Ia tahu benar cara Selena menyembunyikan sesuatu.

Dan malam-malam tanpa tawa Selena beberapa hari terakhir cukup membuat pikirannya gelisah.

“Kalau kamu capek, aku bisa suruh orang buat bantu di butik. Atau kamu istirahat dulu aja sementara, ya?” ucap Daren pelan, mencoba menawarkan solusi tanpa memaksa.

Namun Selena menggeleng. “Nggak usah, Mas. Aku masih bisa kok. Lagi pula… kerja di butik bikin aku tenang.”

Ia turun dari mobil, melangkah perlahan ke arah pintu butik.

Daren hanya bisa menghela napas, memperhatikan punggung istrinya yang menjauh.

Ada sesuatu di balik keheningan itu — sesuatu yang belum Selena ceritakan.

Dan entah kenapa, firasat Daren mengatakan… hal itu ada hubungannya dengan Raya.

Begitu Selena masuk ke dalam butik, Daren memutar arah mobil dan bersiap berangkat ke kantor.

Namun sebelum melajukan mobil, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan baru masuk.

Raya:

“Selamat pagi, Pak Daren. Maaf mengganggu, saya hanya ingin berterima kasih untuk kesempatan interview kemarin. Semoga kita bisa bekerja sama di lain waktu.”

Daren menatap pesan itu sejenak.

Ia hendak mengabaikannya, tapi entah mengapa matanya menangkap kalimat penutup yang terasa janggal:

"Sampaikan salam saya untuk Selena ya, saya rindu sekali suasana dulu waktu kita masih sering bertiga.”

Alis Daren berkerut. Bertiga?

Seingatnya, Raya dan Selena tidak pernah sedekat itu.

Firasat yang tadi hanya sekadar keresahan… kini berubah menjadi rasa tidak tenang yang nyata.

---

Malam itu, suasana rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.

Lampu kamar hanya menyala redup, menyorot lembut ke arah tempat tidur di mana Selena tengah bersandar di dada Daren.

Hujan rintik-rintik di luar menambah kehangatan malam, tapi tidak dengan hati Selena yang terasa berat.

Daren mengusap rambut istrinya perlahan, gerakannya lembut seperti biasa.

Namun ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda dari cara Selena bernafas — pendek, gugup, dan tidak tenang.

“Mas…” suara Selena lirih memecah keheningan.

“Hm?” sahut Daren lembut tanpa mengalihkan pandangannya dari langit-langit.

“Aku boleh jujur sesuatu?”

Daren menunduk, menatap wajah istrinya yang terlihat ragu. “Tentu boleh. Kamu tahu kan, apa pun itu, aku pengin kamu cerita ke aku.”

Selena menarik napas pelan, lalu menatap suaminya. “Aku takut, Mas.”

Alis Daren berkerut. “Takut? Takut kenapa, sayang?”

“Dengan kembalinya Raya…” ucap Selena akhirnya, suaranya hampir bergetar.

Daren diam, menatapnya serius.

Selena melanjutkan, “Sejak kamu bilang dia datang ke kantor, aku nggak tahu kenapa perasaanku nggak enak. Aku takut dia bakal ganggu kamu… atau bahkan, ganggu kita.”

Daren menggenggam tangan istrinya erat. “Hey… kamu denger aku, ya?” ucapnya lembut. “Aku nggak sembunyiin apa pun darimu. Termasuk tadi, aku memang dapat pesan dari Raya sore tadi.”

Selena menatapnya terkejut. “Pesan?”

Daren mengangguk pelan. “Dia cuma bilang terima kasih karena udah dikasih kesempatan interview. Tapi… di akhir pesannya, dia bilang sesuatu yang agak aneh.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Dia titip salam buat kamu. Katanya, dia kangen suasana dulu waktu kalian masih sering bertiga.”

Selena menatap Daren tak percaya. “Bertiga? Kami nggak pernah sedekat itu, Mas. Aku bahkan cuma pernah ketemu dia beberapa kali karena dia temannya Kavi, bukan temanku.”

Daren mengangguk pelan, ekspresinya menegang. “Aku tahu. Makanya aku langsung hapus pesannya, aku nggak mau kamu jadi kepikiran. Tapi aku juga nggak mau nyembunyiin apa pun darimu.”

Selena terdiam. Air matanya hampir menetes, bukan karena cemburu, tapi karena lega.

“Mas…” panggilnya pelan. “Makasih udah jujur.”

Daren mengusap pipinya lembut. “Aku janji, nggak ada yang bisa ganggu rumah tangga kita, Sel. Aku cinta kamu, bukan siapa pun. Raya cuma bagian dari masa lalu yang udah selesai. Dan aku nggak akan biarin dia bikin kamu takut.”

Selena menunduk, menahan isak kecil. Ia memeluk Daren erat.

“Janji ya, Mas… kalau suatu hari dia mulai aneh atau berusaha mendekat, kamu janji bakal bilang ke aku duluan.”

Daren tersenyum tipis, mencium kening istrinya.

“Janji. Kamu nggak sendirian, Sel. Aku di sini. Selalu.”

Pelukan mereka terasa hangat di tengah udara malam yang dingin.

---

Gimana bab hari ini? Seru?

1
Favmatcha_girl
Seru💪
Favmatcha_girl
Excited banget kamu
Favmatcha_girl
Lucu banget si kamu Aru
Favmatcha_girl
Daren😍
Favmatcha_girl
bagus thor 😍
Favmatcha_girl
apapun akan daren lakukan untuk kamu Sel🤭
Favmatcha_girl
ngidam mu gak susah ya😊
Favmatcha_girl
hahaha ketahuan kamu Daren
Favmatcha_girl
so sweet amat
Favmatcha_girl
lanjutkan thor 💪
Favmatcha_girl
sksd banget ya🤭
Favmatcha_girl
Ganggu banget nih orang
kalea rizuky
istri g punya basic bisnis yg g bs bantu apapun bisanya diem. aja di rmh dih
Itz_zara: punya dong, kan dia punya butik🫠
total 1 replies
kalea rizuky
klo selingkuh buang aja nay
Itz_zara: 🤭daren ijo neon kak
total 1 replies
kalea rizuky
abis ne keguguran karena g jujur halahh
Favmatcha_girl
jendela nya gue gembok Ray🤭
Favmatcha_girl
yah kasihan nggak diterima 🤭
Favmatcha_girl
ternyata ada udang di balik batu🤭
Favmatcha_girl
ada bau-bau aneh nihh
Favmatcha_girl
waduh🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!