Berkisah tentang dunia Guide.
Sebuah dunia hitam di mana terdapat para Dewa di kayangannya. Dan tiga belas bangsa, namun tiga di antaranya tenggelam dalam pembantaian. Lima kemampuan, beserta lantunan nyanyian aneh yang mengikat semua makhluk dalam perjanjian berdarah.
Tak disangka, demi mengubah nasib, orang-orang dari dunia manusia pun datang ke sana.
Salah satunya Riz si korban perundungan, bersama Toz dan juga Reve sang pembawa ular, mereka malah bertemu rekan-rekan aneh dan jatuh ke dalam peperangan melawan penyimpang.
IG : miqaela_isqa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isqa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberadaan sang dewa dan ciptaannya
“Teng ... teng ... teng ...” bunyi dari tongkat yang dihentakan membuat Riz tersadar.
Pemandangan di mana altar dengan kelima patung berdiri kokoh sudah menanti Riz saat ia membuka mata. Patung pria, berambut ikal serta mahkota bunga di kepala tampak menyinari Riz dengan cahaya emas lewat telapak tangannya. Sinar emas itu terlalu indah, berkebalikan dengan ekspresi patungnya yang sangat mengerikan.
“Ini,” gumam Riz masih dalam keadaan terbaring. Sekilas, cincin di jarinya juga bersinar terang sama seperti lambang di dada patung itu.
“Sudah sadar?” sela pak tua itu tiba-tiba.
Riz menatapnya diam, lalu bangun dengan ekspresi yang sangat kusut. “Jadi tadi itu eksekusi yang anda maksud?”
“Selamat anak muda, mulai sekarang kamu adalah guider tankzeas (pelindung) level pemula.”
Riz mengernyitkan keningnya karena pak tua itu tak menjawab pertanyaannya. “Jadi apa yang harus kulakukan selanjutnya?”
“Buka mata dan telinga, maka kau akan tahu apa jawabannya.”
“Pak tua ini-” cebik Riz dalam hatinya. “Buka mata dan telinga? Ini bukan pertama kali aku mendengarnya. Kenapa orang-orang di sini suka mengatakan hal yang sama berulang kali? Apa itu perkataan dari petinggi di dunia ini? Tidak! Apa itu perkataan dari dewa yang menumbalkan para guider demi kepuasan mereka?”
Pak tua itu masih terdiam, dan Riz kembali melanjutkan ucapannya. “Aku tidak mengerti, kontrak perjanjian atau apa pun itu, kenapa sepanjang waktu aku merasa sudah salah memasuki dunia ini? Apa yang kalian inginkan? Aku datang ke dunia ini untuk mendapatkan kekuatan dan mencari uang. Lalu sekarang? Aku sudah di sini, tapi kenapa semua seperti ini? Apa yang salah dengan dunia ini?”
“Guider adalah tumbal untuk dewa? Lalu kenapa masih banyak orang yang datang ke sini? Tidak mungkin tak ada satu pun yang tahu dengan cerita ini jika sudah banyak manusia yang keluar masuk di dunia guide,” tatapan Riz semakin menajam.
“Anda bukan binatang seperti Crabius, jadi aku yakin anda memahami perkataanku, karena sorot mata kita tak terlalu berbeda,” tekan Riz.
Pandangan pak tua itu masih tetap sama seperti sebelumnya, tenang dan berwibawa. Riz semakin tak sabaran karena pak tua masih tak bersuara.
Riz pun mulai memasang tampang malas, sejujurnya ia sangat ingin menghajar pak tua yang dari tadi seperti orang tuli itu. Lain pertanyaan lain jawaban, apa yang dikatakan terlalu menyimpang dari harapan. Tapi untung saja Riz masih ingat, kalau yang ada di depannya itu adalah orang tua.
Pak tua pun akhirnya bersuara. “Dunia guide, dunia para dewa. Karena kasih sayang mereka menciptakan semuanya. Karena kebaikan, mereka berikan jiwa untuk kehidupan di dunia. Tapi itulah hidup, saat memberi maka akan ada yang menerima, bukan mengambilnya.”
“Semua sudah sesuai takarannya, tapi inilah yang disebut hidup. Sifat-sifat yang tercipta mewakilkan perilaku pemiliknya. Entah itu suatu kebaikan atau keburukan, semua sudah sesuai alurnya. Akan tetapi, saat sesuatu yang tak seharusnya diinginkan, semua alur akan menyimpang dan kehendak mulai berlawanan.”
“Akankah kalian memahami arti keberadaan kalian? Tidak bisakah kalian menghargainya? Jawabannya hanya ada pada masing-masing pikiran. Apa yang ditanam itulah yang akan diterima."
"Jangan menyalahkan mereka karena tak ada hubungannya, ini adalah hadiah, dosa yang dilakukan akan menuai karma, dan itu berlaku untuk semuanya. Entah itu untuk dewa, atau ciptaannya, entah itu suatu kebaikan atau keburukan, semua menerima harganya.”
Riz terbungkam, perkataan pak tua yang panjang lebar itu menusuk raganya. Itu bukanlah sebuah cerita untuk penghias pertanyaannya, itu adalah kenyataan hidup yang ada di dunia, entah baginya atau bagi siapa pun juga.
“Dunia guide, dengan tiga belas jenis penghuninya. Hidup sesuai aturan namun tak saling mengganggu, kecuali dalam satu malam yang sudah di sepakati semuanya. Hanya satu malam, harga dari dosa-dosa mereka, hanya satu malam yang tak akan dinantikan mereka secara berulang-ulang, hanya satu malam siksaan memecah semuanya, hanya satu malam di saat bulan mulai menyatu dengan kembarannya.”
Pak tua itu pun terdiam begitu selesai mengatakan apa yang ia inginkan, sementara hati Riz merasa terguncang. Satu malam, perkataan itu membuat bulu kuduknya berdiri.
“Jadi apa yang harus kulakukan untuk menghindari malam itu?” tanya Riz akhirnya mengeluarkan suara.
“Dunia tak sekejam angan, dewa tak sekejam bayangan, suara takkan selalu membenarkannya. Sampai berjumpa lagi wahai anak manusia, sang guider tankzeas (pelindung) level pemula yang dianugerahi oleh dewa,” ucap pak tua sambil menghentakkan tongkatnya tiga kali ke lantai.
“Tu-tunggu!” cegat Riz.
“Bwuush!” sebuah cahaya yang tiba-tiba meledak di tempat itu membutakan Riz sesaat. Ia mengerjapkan mata berkali-kali, mencoba memperbaiki pandangan yang terasa silau di mata.
“Plaaak!” tamparan keras yang dilayangkan ke pipi menyadarkan Riz saat itu juga.
“Sial*n! Sakit bodoh!” teriak Riz kesakitan. Ia menyentuh kedua pipinya yang terasa berdenyut karena kejutan gila yang tiba-tiba di dapat.
“Oh! Sudah bangun? Akhirnya, kau benar-benar membuatku cemas,” ucap Doxia senang. Di tangannya tampak kapak yang diangkat tinggi-tinggi.
“O-oi, kenapa anda mengangkat kapak seperti itu tuan?” tanya Riz dengan tampang aneh.
“Ah! Ini? Tidak ada apa-apa,” Doxia pun menurunkan kapaknya.
“Tunggu, jangan bilang anda akan menghajarku dengan itu?”
“T-tidak! Bagaimana mungkin aku melakukannya?” kilah Doxia panik.
“Kalau begitu kenapa anda tampak panik begitu? Apa anda yang tadi menamparku?” Riz pun menyeringai aneh.
“Hei, kenapa tampangmu mengerikan begitu? Aku tidak sengaja, aku bermaksud menolongmu, karena kamu tidak bangun-bangun juga.”
“Sekarang aku sudah bangunkan?” tukas Riz dengan raut wajah yang menggelap.
“Heh, sepertinya gerbang sudah terbuka,” timpal seseorang tiba-tiba. Riz pun menoleh ke sumber suara, dan tampaklah sosok yang tak asing lagi wajahnya.
“Kamu, mata-mata itu,” lirih Riz padanya.
Selanjutnya, ia pun beralih menatap pemuda berambut merah yang juga berdiri di samping mata-mata itu.
“Bagus sekali, dua assandia (petarung), satu elftraz (penyembuh) dan tankzeas (pelindung). Ini akan jadi kombinasi yang bagus,” tutur mata-mata itu.
“Heh, makhluk sial*n! Siapa juga yang ingin satu kelompok denganmu? Lebih baik aku sekelompok dengan beruang yang tadi,” gerutu Doxia kesal.
“Doxia, sepertinya kamu lupa kalau aku sudah membantumu. Jangan bilang kau lupa dengan itu.”
“Aku juga sudah membantumu! Sekarang kita impas! Jadi jangan bawa-bawa aku lagi! Kalau kau mau mati ya mati saja sendiri!” jengkel Doxia.
“Perjanjiannya kita akan bekerja sama sampai semua ini selesai, dan sekarang kau berkhianat? Aku tak tahu jika manusia seburuk itu,” sindir mata-mata itu.
“Hei! Jangan bawa-bawa manusia! Tidak semua manusia itu buruk! Seperti kau saja yang bersih, padahal mungkin saja kau orang yang jahat,” potong Riz tiba-tiba.
“Ada apa dengan anak ini? Apa dia bodoh?” mata-mata itu memandangnya remeh.
“Apa kau bilang!” Riz pun tersulut emosinya.
“Bagus bocah! Ayo hajar bersama-sama lalu kita panggang dia! Aku sudah tak sabar ingin melakukannya dari tadi,” Doxia tampak bersemangat.
“Aneh.”
“Hah! Apa yang kau gumamkan kepala merah? Kau juga ingin menghajarnya? Si siren ini memang menyebalkan, aku yakin kau juga tidak tahan dengannya,” ucap Doxia sambil menatap pemuda berambut merah itu.
“Tanahnya berteriak.”
“Hah? Apa yang kau katakan? Dasar bodoh!” ledek Doxia.
“Tunggu! Jangan-jangan!” mata-mata itu tampak cemas.
“Kenapa? Sekarang kau takut? Tentu saja kau harus takut saat menghadap-”
“Diam bodoh!” sang mata-mata memotong perkataan Doxia. Doxia pun memasang wajah geram karena ucapannya itu. “Apa kau merasakan sesuatu?” tanyanya pada pemuda berambut merah.
“Merasakan apa?” Riz memandang heran.
“Benar juga, kau seorang elftraz (penyembuh).” Wajah Doxia berubah panik menyadari kemampuan pemuda berambut merah.
“Ada apa? Aku tak menger-” Riz tak melanjutkan ucapannya karena pemuda berambut merah itu mengangkat tangan sebagai tanda menyuruh mereka diam.
“Dracula!” ucap pemuda berambut merah itu tiba-tiba yang membuat ketiganya kaget.
“Cih! Ayo kita lari sebelum tertangkap!” Doxia menatap panik ke sekelilingnya.
“Berpeganglah!” sahut pemuda berambut merah tiba-tiba.
“Tu-tunggu! Jangan bilang-” mata-mata itu kaget saat pemuda berambut merah menempelkan kedua telapak tangannya ke tanah.
“Ap-” mulut Riz tiba-tiba ditutup mata-mata itu dengan tangannya. Sebuah getaran aneh muncul di tanah yang mengagetkan mereka. Tiba-tiba, sulur-sulur tanaman yang besar mengikat mereka berempat dan naik ke langit-langit seperti pohon besar yang sedang tumbuh subur.
Riz tak percaya dengan pemandangan ajaib yang sedang terjadi di depannya. Mereka sekarang berdiri di atas dahan pohon raksasa yang tumbuh cepat begitu saja. Bahkan juga ada tanaman merambat yang mengikat tubuh masing-masing ke batang pohon agar tak jatuh ke bawah.
“I-ini bagaimana bisa?” gumam Riz kagum. Sekarang mereka berdiri di atas pohon yang ketinggiannya melebihi enam puluh meter.
“Bocah ini, sepertinya dia pintar,” batin Doxia saat menyadari pohon yang dipakai mereka untuk berpijak dan bersembunyi sekarang adalah pohon kamper.
Pohon itu pun menjulang tinggi di antar pohon-pohon lainnya, sehingga tak akan begitu menarik perhatian serta bisa mengintai keadaan dari atas dengan baik.
“Kenapa kita di sini?” tanya Riz memecah suasana.
“Ada dracula, jika tetap di sana maka kita akan mati,” jelas Doxia.
“Dracula? Dracula penghisap darah itu?”
“Ya,” balas Doxia.
“Ma-makhluk itu bukan sekedar mitos belaka?”
“Setelah hidup di sini, bagaimana bisa kau mengatakan mitos? Dasar bocah bodoh!” jengkel Doxia.
Mata-mata itu pun mengeluarkan botol kristal dan membukanya. Lalu menabur isinya ke sekeliling mereka. “Cih, sial*n! Untung saja kau punya cairan snakeya (racun ular) karena punyaku sudah habis,” puji Doxia pada mata-mata yang menatap malas padanya.
Kristal pelindung dari cairan snakeya (racun ular) pun tiba-tiba muncul mengelilingi mereka.
“Cairan ini bau sekali!” umpat Riz.
“Itu lebih baik daripada kita ketahuan oleh dracula,” sambung mata-mata itu. “Hussh!” lanjutnya menyuruh yang lainnya tutup mulut.
Bayangan dari empat orang yang sedang melangkah di bawah mereka mengejutkan Riz. Ia tak berbicara, kecuali menatap cemas dengan pemandangan di depan matanya.
Di bawah, di tempat mereka berdiri sebelumnya ....
“Jejaknya sudah tak ada lagi! Apa yang harus kita lakukan?” tanya seorang perempuan dengan pakaian yang sangat terbuka.
“Entahlah, mungkin kita harus minum darah binatang lagi,” sambung pria dengan kumis yang sangat tebal. Penampilannya berkarisma, namun gaya rambut jabrik keriting malah menambah keanehan di wajahnya.
“Yang benar saja! Aku sudah bosan! Kenapa kita tidak ke tempat bangsa lain dan menculik salah satu penghuninya? Kita bisa kenyang cuma dengan itu. Ayolah! Sekali ini saja. Ayolah, kumohon,” rengek laki-laki bertato di wajah itu pada semuanya.
“Jangan gila! Apa kau mau memicu perang? Apa kau tidak dengar berita dari bangsa hydra yang sedang mencari pembunuh salah satu anggotanya? Padahal yang mati hanya bawahan, tapi kehebohan itu sudah memicu kewaspadaan bangsa lain karenanya,” tegas pria yang memegang tombak besar dilumuri api.
“Tapi aku penasaran, berani juga orang itu membunuh pemburu dari hydra, itu berarti musuhnya pasti orang yang luar biasa.”
“Kau benar Crea. Jika tidak, takkan ada yang mau memicu kemarahan bangsa itu kecuali orang gila,” sambung Aos, laki-laki yang merengek-rengek tadi pada perempuan berpakaian terbuka.
maunya season duanya dong
masa udah habis thor
😭😭
aq nungguin lama loooo
kalau dilanjut pasti masih seruu poool
berarti ini beneran dah end apa masih ada boncap bang?
lanjut semangat💪
masih setia menunggu kelanjutan ceritanya
lanjutkan author
semangaaat
semangat bang,💪💪
semangat yaaa
biar bisa tetep lanjut ceritanya
ditunggu up nya