Arsenio Elvarendra, mafia kejam yang dihianati orang kepercayaannya, terlahir kembali di sebuah singgasana yang sangat megah sebagai Kaisar Iblis. Di dunia barunya, ia bertemu seorang wanita cantik—Dia seorang dewi yang menyembunyikan identitasnya.
Bisakah Arsenio mengungkap jati diri sang Dewi? Akankah cinta mereka mengubah jalan takdir di antara kegelapan dan cahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUBBLEBUNY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar Rekonsiliasi
Persiapan menyambut utusan surga mengubah atmosfer Kerajaan Iblis menjadi sibuk sekaligus sakral. Di bawah arahan Aurelia, aula sekolah yang sebelumnya memukau Vulcan kini dimodifikasi lebih lanjut. Karpet dari tenunan sutra perak membentang di sepanjang koridor, dan aroma bunga lili surgawi—yang dibawa Raphael secara sembunyi-sembunyi—berpadu dengan wangi kayu cendana dari hutan iblis.
"Ingat, Jangan ada senjata yang terhunus. Kita tidak menyambut musuh, kita hanya menyambut tamu yang penuh prasangka. Jadi biarkan keramahan kita yang menjadi perisainya." Lucifer memberikan instruksi kepada para petinggi militer dan pelayan di lapangan istana
Seminggu kemudian, pilar cahaya keemasan turun dari langit saat lima malaikat, yang dipimpin oleh Sariel, mendarat di Kerajaan Iblis. Meski mereka bersiap untuk bertempur, Sariel terkejut melihat pemandangan damai seperti anak-anak iblis, naga muda, dan para elf berdiri bersama membawa bunga zaitun. Lucifer menyambut mereka tanpa perlengkapan perang, hanya mengenakan jubah hitam dan Cincin Pemimpin Naga. Kehadiran para utusan surga yang penuh ketegangan itu pun disambut oleh suasana harmoni yang tak pernah mereka duga sebelumnya.
"Samael... tempat ini telah banyak berubah sejak kau jatuh, Kami datang bukan untuk berdamai, tapi untuk menyaksikan kebenaran dari laporan Raphael. Apakah benar cahaya bisa bersinar di tempat terkutuk ini?" suara Sariel bergetar antara rasa tidak percaya dan kewaspadaan
Lucifer tersenyum tenang, gestur yang dahulu jarang ia tunjukkan di surga. "Cahaya tidak memilih tempat untuk bersinar, Sariel. Ia hanya butuh ruang untuk tidak dipadamkan. Mari, biarkan anak-anak ini yang menjawab keraguanmu."
Sariel dan rombongannya dibawa berkeliling. Mereka terpaku saat melihat perpustakaan di mana naga muda membantu mendinginkan suhu ruangan bagi para elf yang sedang membaca, atau saat melihat penyihir iblis menggunakan energi kegelapan untuk mempercepat pertumbuhan tanaman pangan guna mengatasi kelaparan. Puncaknya terjadi di Aula Persatuan. Di sana, para malaikat menyaksikan fenomena spektrum pelangi dari penyatuan dua energi. Salah satu malaikat muda dalam rombongan itu, yaitu Uriel, memberanikan diri menyentuh aliran energi tersebut.
"Ini bukan sihir terlarang, tapi Ini adalah sebuah harmoni. Sesuatu yang bahkan mulai jarang kami rasakan di surga karena terlalu sibuk dengan penghakiman." bisik Uriel takjub.
Ketegangan di wajah Sariel mulai luntur. Ia menatap Lilith dan Aurelia yang menjelaskan kurikulum tentang etika lintas ras. Di akhir kunjungan, Sariel menghadap Lucifer di balkon yang sama tempat Lucifer menatap bintang beberapa malam lalu.
"Michael mungkin tidak akan senang mendengar ini, Tapi aku akan melaporkan bahwa dunia bawah telah menemukan sesuatu yang telah surga lupakan yaitu Kasih sayang yang tidak memandang asal-usul. Untuk saat ini, kami akan mengirimkan pengajar dari surga untuk mengisi kelas filsafat cahaya di sekolahmu." ucap Sariel sambil menatap cakrawala.
[SUARA SISTEM MUNCUL]
DING!
Selamat! Anda telah menyelesaikan bagian akhir misi yaitu embangun Persatuan Dunia!
Status: 3/3 Selesai (Misi Utama Berhasil)
Hadiah Utama:
1. Mahkota Keseimbangan (Artefak Transenden): Menyatukan otoritas Surga dan Neraka dalam diri pengguna, memungkinkan manipulasi energi Cahaya dan Kegelapan secara simultan.
2. Status Wilayah: "lTanah Suci Terlarang — Kerajaan Iblis kini menjadi zona netral yang tidak bisa diserang oleh faksi mana pun selama hukum perdamaian dijaga.
Lucifer merasakan kekuatan Mahkota Keseimbangan menyatu dengan jiwanya. Langit Kerajaan Iblis yang tadinya gelap abadi, kini untuk pertama kalinya ditembus oleh cahaya bulan yang perak dan lembut, menandai dimulainya era baru.
"Sudah selesai, Lucifer," bisik Lilith di sampingnya.
"Bukan, Lilith, Semua ini baru saja dimulai." jawab Lucifer sambil menggenggam tangan istrinya.
Beberapa bulan setelah pengakuan dari utusan surga, Kerajaan Iblis tidak lagi dikenal sebagai wilayah terkutuk, melainkan sebagai pusat peradaban baru yang disebut Eden Bawah Tanah. Sekolah Persatuan kini telah beroperasi penuh, dengan pemandangan yang dulunya mustahil: seorang malaikat pengajar sedang menjelaskan teori etika cahaya di kelas yang diikuti oleh iblis muda, naga, dan elf. Aurelia berjalan di sepanjang koridor sekolah, mencatat setiap detail perkembangan ini ke dalam buku sejarahnya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Lucifer berdiri sendirian di taman tengah, sedang menatap Mahkota Keseimbangan yang diletakkan di atas meja batu. Mahkota itu berdenyut dengan irama yang tenang, memancarkan cahaya keemasan dan kabut hitam yang saling melilit.
"Yang Mulia, Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anda? Padahal dunia sekarang sedang merayakan kedamaian ini." sapa Aurelia lembut.
Lucifer menoleh dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Kedamaian ini baru saja dimulai, Aurelia. Sangat rapuh. Meskipun Sariel telah memberikan restunya, Michael dan Gabriel di atas sana masih memandang kita dengan penuh kecurigaan. Dan jangan lupakan para raja iblis di wilayah pinggiran yang merasa otoritas kegelapan mereka terancam oleh 'kelembutan' yang aku bawa."
Tiba-tiba, Cincin Pemimpin Naga di jari Lucifer berpijar merah terang, diikuti oleh suara kepakan sayap raksasa yang membelah udara
Sesosok naga muda mendarat dengan tergesa-gesa di tengah taman, debu beterbangan saat cakar besarnya menyentuh lantai batu.
"Yang Mulia! Gawat! Di perbatasan barat, para Raja Iblis dari klan Blood-Fang dan Shadow-Reign telah bersekutu. Mereka membawa pasukan monster yang tidak terkendali! Mereka meneriakkan bahwa Anda adalah pengkhianat ras iblis!"
Aurelia menutup bukunya dengan gemetar. "Mereka... mereka benar-benar datang untuk menghancurkan semua ini?"
Lucifer menghela napas panjang, lalu perlahan mengenakan Mahkota Keseimbangan ke kepalanya. Aura hitam dan emas meledak seketika, menciptakan tekanan yang luar biasa namun tidak menyakitkan. "Mereka takut pada perubahan. Dan ketakutan sering kali berubah menjadi kebencian."
Tak lama kemudian, cakrawala barat berubah menjadi merah darah. Ribuan monster dan prajurit iblis pemberontak muncul, dipimpin oleh Jenderal Malphas yang menunggangi binatang buas. Di sisi lain, dari celah awan, pasukan malaikat radikal yang tidak setuju dengan keputusan Sariel juga mulai turun. Mereka tidak datang untuk membantu, melainkan untuk memanfaatkan kekacauan dan memusnahkan semua yang ada di sana.
"Hancurkan sekolah ini! Kembalikan kegelapan murni ke tanah ini!" teriak Malphas dari kejauhan.
Lucifer melangkah maju ke garis depan gerbang sekolah. "Aurelia, minta semua murid masuk ke dalam aula. Lilith! Jaga bagian belakang!"
Lucifer merentangkan kedua tangannya. Mahkota di kepalanya bersinar menyilaukan. "Jika kalian datang untuk berdialog, pintu ini terbuka. Tapi jika kalian datang untuk menghancurkan harapan anak-anak ini, maka kalian akan berhadapan dengan dinding yang tidak akan pernah bisa kalian tembus!"
WUSSS!
Sebuah kubah raksasa berwarna perak transparan menyelimuti seluruh kompleks sekolah dan istana. Itu adalah Barrier Keseimbangan. Pasukan pemberontak mencoba menghantamnya dengan tombak api dan sihir hitam, namun serangan mereka hanya memantul seperti kerikil yang dilempar ke gunung. Pasukan malaikat di atas juga melepaskan panah cahaya, namun barrier itu justru menyerap energi tersebut dan menjadi semakin kuat.
"Mustahil! Perisai macam apa ini?!" teriak salah satu komandan pemberontak.
Namun, di tengah kekacauan itu, seorang anak kecil dari ras elf tertinggal di luar gerbang taman saat sedang mengejar kelinci peliharaannya. Anak itu membeku ketakutan di tengah lapangan terbuka. Malphas, yang melihat kesempatan untuk memancing Lucifer, melepaskan sebuah tombak terkutuk yang dilapisi racun pemusnah jiwa tepat ke arah anak itu.
"TIDAK!" teriak Aurelia dari balik barrier.
Lucifer melihatnya. Barrier itu terlalu luas untuk ditarik seketika tanpa melukai mereka yang di dalam. Tanpa ragu, Lucifer menonaktifkan sebagian kecil perisai di depannya dan melesat keluar dengan kecepatan kilat.
JLEB!
Tombak hitam itu tidak menyentuh sang anak. Lucifer berdiri membelakanginya, memeluk anak kecil itu dengan sayap hitamnya yang besar. Namun, tombak itu tertancap tepat di punggung Lucifer, menembus hingga ke dekat jantungnya. Racun hitam mulai merambat di pembuluh darahnya.
"Yang Mulia!" teriak para pengawal dari balik dinding.
Lucifer terbatuk, darah berwarna ungu gelap menetes dari bibirnya. Ia menurunkan anak itu dengan lembut. "Lari... cepat masuklah ke dalam, Nak..."
Anak itu berlari sambil menangis masuk ke dalam barrier yang segera tertutup rapat kembali. Lucifer berlutut, satu tangannya menumpu pada tanah, sementara tangannya yang lain memegang dadanya. Racun itu bukan sihir biasa; itu adalah racun kuno yang dirancang khusus untuk melumpuhkan entitas tingkat tinggi.
"Hahaha! Lihat! Sang Kaisar yang agung tumbang demi seorang pelayan kecil!" Malphas tertawa puas, namun ia tidak bisa mendekat karena aura Mahkota Keseimbangan meledak secara otomatis, menciptakan ledakan energi yang memukul mundur seluruh pasukan musuh hingga berkilo-kilometer jauhnya.
Lilith berlari keluar, menangkap tubuh Lucifer sebelum terjatuh ke tanah. "Lucifer! Bertahanlah! Raphael! Sariel! Tolong dia!"
Raphael mendarat dengan wajah pucat. Ia segera memeriksa luka itu. "Ini racun Soul-Wither. Dia... dia memaksakan seluruh energinya untuk memperkuat barrier tadi agar tidak hancur saat dia terkena serangan ini. Jiwanya kelelahan, Lilith."
Lucifer menatap Lilith dengan pandangan yang mulai kabur. "Jangan... jangan balas dendam. Jaga... sekolah ini. Biarkan mereka... melihat bahwa kita tidak akan... goyah..."
"Ssh, jangan bicara lagi," tangis Lilith pecah. "Kau sudah melakukan tugasmu."
Mata Lucifer perlahan tertutup. Tubuhnya menjadi sangat dingin, namun Mahkota Keseimbangan di kepalanya tetap bersinar redup, seolah-olah sedang menjaga sisa-sisa kehidupan di dalamnya.
"Berapa lama dia akan seperti ini, Raphael?" tanya Aurelia dengan suara bergetar.
"Aku tidak tahu," jawab Raphael sedih. "Bisa beberapa hari, beberapa tahun, atau bahkan selamanya. Dia telah memasuki tidur panjang untuk memulihkan jiwanya yang terkoyak demi melindungi perdamaian ini."