NovelToon NovelToon
Buah Hati Sang Pewaris

Buah Hati Sang Pewaris

Status: tamat
Genre:CEO / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: EPI

Demi biaya operasi ibunya,kiran menjual sel telurnya.Matthew salah paham dan menidurinya,padahal ia yakin mandul hendak mengalihkan hartanya pada yoris ponakan nya tapi tak di sangka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EPI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang hancur dan yg menanti

Langit malam mendung, tanpa bintang. Angin dingin berembus menelusup di sela-sela jalanan kota yang mulai sepi. Diyyah berjalan sendirian, langkahnya gontai, mata sembab, dan wajahnya basah bukan hanya karena sisa hujan — tapi karena air mata yang tak berhenti turun.

Ponselnya terus bergetar di genggaman, notifikasi datang bertubi-tubi.

Twitter: “#PelakorKampus trending nomor 2 di Indonesia.”

Instagram: mention baru dari akun gosip kampus.

Pesan masuk: “Lu udah di DO, Dy. Suratnya baru turun. Jangan balik kampus lagi.”

Diyyah terhenti di trotoar, tubuhnya lemas.

Ia menatap layar ponsel itu lama — pesan dari dosen pembimbing pun muncul.

Pak Reno: “Saya kecewa, Diyyah. Apa pun alasanmu, perilakumu sudah mencoreng nama fakultas.”

Ia menelan ludah, suaranya tercekat, “Aku cuma salah jalan sedikit, kenapa semuanya tiba-tiba musnah…”

Matanya nanar. Orang-orang yang lewat memandanginya aneh — wajahnya terlukis kacau antara marah, takut, dan malu.

Setibanya di kos, ia membuka pintu dengan tangan gemetar.

Kamar mungil itu kini terasa asing. Dinding yang dulu penuh foto dan catatan kampus kini seperti menertawakan.

Tasnya ia lempar ke lantai.

Ia duduk di kasur, menarik napas dalam, lalu berteriak pelan sambil menekan wajah ke bantal, “KENAPA sih semuanya kayak gini!? Aku cuma pengen hidup enak, nggak mau miskin! Apa itu salah!?”

Ia menatap langit-langit, matanya kosong.

Sekilas bayangan Aringga muncul di pikirannya — lelaki paruh baya yang dulu menjanjikan “kehidupan yang lebih baik”. Janji yang kini menjelma kutukan.

“Om itu cuma omong doang,” bisiknya lirih, “semua orang ninggalin aku sekarang.”

Suara notifikasi kembali terdengar, tapi ia abaikan.

Tangannya hanya memeluk lutut, tubuhnya gemetar, dan malam terasa panjang sekali bagi seseorang yang baru kehilangan segalanya.

Sementara itu — di sisi lain kota, suasana di rumah besar keluarga Andres terasa jauh berbeda.

Kiran sedang duduk di ruang santai bersama Matthew. Perutnya kini semakin besar; masa kelahiran diperkirakan hanya tinggal beberapa minggu lagi.

Cahaya lampu kuning membuat ruangan tampak hangat.

Matthew, yang sejak tadi menatap layar laptop, akhirnya menutupnya lalu memutar tubuh ke arah Kiran.

“Sayang, kamu udah siap buat semuanya?” suaranya pelan, tapi serius.

Kiran menoleh, senyum lembut terukir di wajahnya. “Siap apanya nih? Lahiran, atau mental ngadepin empat bayi sekaligus?”

Matthew tertawa kecil, tapi matanya menatapnya penuh rasa sayang. “Dua-duanya. Aku cuma… pengin pastiin kamu nggak terlalu stres. Akhir-akhir ini kamu gampang capek.”

Kiran mengangkat bahu santai, tapi wajahnya terlihat sedikit tegang. “Aku cuma takut… apa aku bisa jadi ibu yang baik buat mereka? Kadang aku masih belum percaya, Mat. Semua ini terasa cepat banget.”

Matthew mencondongkan tubuhnya, memegang tangan Kiran.

“Nggak ada ibu yang langsung bisa, Ki. Tapi aku yakin kamu bakal jadi yang terbaik. Kamu udah kuat dari awal.”

Kiran menatapnya lama. “Kamu selalu ngomong gitu, tapi kadang aku ngerasa… kayak aku masih sendirian ngelawan dunia.”

“Eh, lihat aku.” Matthew mendekat, menatap matanya lekat. “Selama aku masih di sini, kamu nggak akan sendirian. Kita berdua. Kita sama-sama lawan dunia itu, oke?”

Kiran menahan senyum. “Kamu romantis banget akhir-akhir ini. Tumben.”

Matthew tertawa pelan. “Bukan romantis, realistis. Aku cuma takut kehilangan kamu dan anak-anak.”

Suasana hening sejenak. Hanya suara angin dari luar jendela yang terdengar.

Kiran menyandarkan kepalanya di bahu Matthew. “Kadang aku masih kebayang waktu awal kita semua… penuh tekanan, banyak yang salah paham.”

“Dan sekarang?” tanya Matthew lembut.

“Sekarang aku cuma pengin tenang,” jawab Kiran pelan. “Nggak ada drama, nggak ada kebencian, cuma keluarga kecil kita.”

Matthew memeluknya lebih erat. “Kamu bakal dapet itu. Aku janji.”

Mereka diam lama, menikmati keheningan malam.

Namun jauh di dalam hati Kiran, masih ada kegelisahan samar — seolah ia tahu ketenangan ini tidak akan bertahan lama.

Di waktu yang sama, di kamar sempit yang lampunya berkedip lemah, Diyyah menatap dirinya di cermin.

Wajahnya tampak asing.

Matanya bengkak, rambut acak-acakan.

Ponsel di atas meja kembali bergetar — kali ini satu pesan baru masuk.

Pesan tidak dikenal:

“Aku tahu semua tentangmu. Tapi aku juga tahu siapa yang bikin video itu viral. Mau tahu? Temui aku besok jam 8 malam di taman.”

Diyyah menatap pesan itu lama.

Lalu senyum samar muncul di wajahnya yang kacau.

“Kalau dunia udah ngebuang aku…” katanya pelan, suaranya serak. “…mungkin udah waktunya aku mulai balas satu-satu.”

...****************...

...Jangan lupa baca novel baru ku yah 👇🏻👇🏻...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!