AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 24
Bahkan trauma yang Wira alami tak pernah sembuh sampai detik ini. Tidak seperti Audrey yang menjalani pengobatan, Wira justru menyembunyikan trauma nya dari sang Ayah. Karena trauma nya itu membuat Wira tidak bisa tidur di kasur yang sama dengan orang lain. Wira takut jika kelak kejadian pada sang Mama yang meninggal disampingnya terulang kembali pada orang yang dia cintai.
Dan, ketika Wira kecil masih terikat emosi serta sulit menerima kenyataan, justru sang Ayah sudah siap untuk melanjutkan hidupnya kembali.
Ayah Bimasena menikah dengan Bunda Santi yang kala itu berstatus sebagai Janda anak satu. Itulah Shena. Anak bawaan Bunda Santi dari pernikahan sebelumnya. Sementara Nabila, dia adalah satu-satunya adik kandung Wira yang memiliki darah yang sama, darah biru Bimasena.
"Sampai kapan ?" Tanya Bunda Santi sambil melangkahkan kaki mendekat ke Wira. "Sampai kapan kamu bisa membuka hati untuk Bunda ? Dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar, Wira. Apa kamu tidak bisa merasakan hati Bunda, nak ?"
Bunda Santi memang bukan sosok ibu tiri yang jahat seperti di film-film. Sejak datang Bunda Santi sudah berusaha untuk mengambil hati Wira. Tapi Wira kecil terlalu takut untuk membuka diri. Baginya, ini sama saja harus melupakan, melupakan kenangan dan perasaan yang belum selesai.
"Maaf." Ucap Wira kembali menghindar untuk kesekian kalinya. Dia pergi begitu saja tanpa menoleh lagi.
Ketika Wira sampai di kediaman mertuanya, ternyata Audrey sudah pergi duluan diantar Kak Vincent. Wira mengepalkan tangannya. Padahal dia sangat ingin bertemu dengan Audrey disaat perasaannya sedang kacau seperti ini.
Wira kembali ke mobil dengan perasaan hampa. Sekali lagi, tidak ada yang pernah benar-benar bisa menjadi tempatnya bersandar, tidak Ayahnya, tidak juga Istrinya.
Sampai di kantor mood Wira sudah sangat buruk.
"Selamat pagi, Bos." Sapa Hendra dengan pandangan hormat seperti biasa.
"Hem." Jawab Wira yang berdiri menatap kota dari balik kaca tanpa menoleh ke Hendra.
"Wah. Sepertinya si Bos lagi badmood, alamat lembur hari ini.." Batin Hendra
Hendra membacakan jadwal kerja hari ini.
"Meeting bulanan dimulai pukul 8, Bos. Kemudian jam 11 siang...."
Wira mengangkat tangannya, isyarat agar Hendra tidak melanjutkan. Perlahan dia berbalik dengan posisi tangan masuk ke saku celana.
"Apa ada agenda ke luar negeri dalam sebulan ini ?" tanya Wira.
Hendra segera mengecek jadwal Wira di tabletnya, "Ada, Bos. Pertemuan dengan Mr. Satoya di Jepang tanggal 4 Februari."
"Itu tiga hari lagi dari hari ini ?"
"Benar, Bos."
Wira terdiam beberapa detik sebelum kembali bicara. "Atur ulang jadwal meeting seminggu ke depan, kita berangkat ke Jepang malam ini juga!"
Hendra terbelalak. "Ma-malam i-ini, Bos ?" tanya nya dengan nada tak percaya
"Kenapa ? Kalau kau keberatan, perintahkan satu orang dari Tim Legal untuk ikut denganku ke Jepang!"
"Ti-tidak, Bos. Siap laksanakan." Hendra buru-buru undur diri. Jika Mood nya sudah buruk begini, Wira tak bisa di debat. Posisinya sebagai asisten pribadi bisa terancam.
Hening.
Ruangan Wira kembali hening setelah Hendra pergi.
Wira menatap layar ponselnya cukup lama. Entah kenapa hati kecilnya berkata, 'Jika Audrey menghubunginya satu kali saja, entah untuk urusan apapun, dia akan langsung mengurungkan niat dan tidak akan pergi kemanapun.'
Tapi tidak berlaku untuk siapapun. Hanya Audrey.
Sementara itu di mobil milik Kak Vincent yang di kendarai supir pribadi menuju desa tempat KKN Audrey.
"Kenapa ? Dari semalam sejak Wira pamit pulang kamu murung terus ?"
"Kak,..."
"Hem ?!" Kak Vincent menatap Audrey lebih serius,
"Sejujurnya aku bingung sama perasaanku sendiri." Audrey mengalihkan pandangan ke luar jendela. "Kak Wira itu terlalu dingin, bahkan lebih dingin dari Kakak."
Kemudian terdengar hembusan nafas panjang dari gadis itu.
"Dek, lihat sini kakak mau ngomong sama kamu." Nada bicara Kak Vincent berubah tegas tapi tetap lembut.
Audrey memperbaiki duduknya, kemudian fokus menatap wajah sang kakak.
"Dek, kamu tau nggak ada tipe laki-laki yang sulit mengungkapkan perasaan nya ?!"
"Maksudnya......seperti kakak ?"
"Iya, seperti kakak." Senyum tipis tersungging di bibir Kak Vincent. "dan.....suami kamu."
Kak Vincent mengusap kepala Audrey sebelum melanjutkan, "Jika dibanding kakak, mungkin suami kamu memiliki beban hidup yang jauh lebih berat. Mungkin saja ketika kecil Wira pernah dipaksa untuk 'tidak menangis' dan harus menyimpan masalah nya sendiri. Ini yang ngebentuk kebiasaan menekan emosi hingga dewasa." Kak Vincent menggantung kalimat nya untuk melihat bagaimana respon sang adik, tapi karena Audrey begitu serius mendengarkan, Kak Vincent memutuskan untuk melanjutkan,
"Kakak akan kasih tau kamu satu rahasia yang mungkin akan membuat sikap kamu berubah pada suami mu."
Audrey mengerutkan dahi, wajahnya berubah cemas.
Kak Vincent kemudian menceritakan tentang latar belakang Wira. Bagaimana Wira tumbuh hingga siapa Bunda Santi dan juga Shena dihidup Wira.
Audrey membeku sambil menutup mulutnya. Nafasnya tertahan sampai beberapa detik dengan wajah yang terlihat shock.
"Ka-kakak tau dari mana semua itu ?"
"Sebelum kamu menikah Papa menceritakan semuanya pada Kakak dan Mama."
"Ja-jadi....hanya aku yang belum tau ?"
"Maaf. Mungkin ini terdengar kejam. Tapi kamu harus tau, dek, Kakak sudah menyelidiki Wira, semuanya, dia tidak memiliki catatan buruk apapun untuk menjadi alasan kami menolak perjodohan yang ditawarkan Om Bimasena pada Papa. Wira bahkan tidak pernah memiliki kekasih, tidak akan pernah ada cerita dimana nanti tiba-tiba mantan Wira datang untuk merusak hubungan kalian. Sikap dinginnya mungkin hanya berlaku pada orang lain, tapi tidak untuk mu."
Audrey terdiam.
Benar juga yang dikatakan Kak Vincent, awal pertemuan mereka Wira memang selalu bersikap dingin dan acuh, tapi perlahan pria itu mulai berubah, tatapannya tak lagi tajam, nada suaranya mulai melembut bahkan sedikit demi sedikit mulai memberikan perhatian lebih.
Ingatan Audrey tiba-tiba melompat ke waktu dimana Wira secara sukarela memperbaiki jalan desa setelah malamnya Audrey mengeluh soal dia yang sampai mual karena melewati jalan desa yang rusak parah.
Belum lagi kemarin, saat suami nya itu datang tiba-tiba untuk mengajak Audrey makan malam, meski dengan wajah datar, cuek tanpa ekspresi tapi Wira tidak lupa membawakan makanan untuk teman-teman nya di 'posko'.
"Kak! Aku nggak jadi ke posko. Antar aku ketemu Kak Wira. Cepet, Kak! Ayo.."
Kak Vincent tersenyum lega, ternyata tidak terlalu sulit menjelaskan pada sang adik tentang rahasia Wira. Sebelumnya Papa dan Mama sempat khawatir, takut Audrey akan marah lalu meminta untuk berpisah dari Wira.
"Pak, tolong putar balik." Kata Kak Vincent pada supir.
"Baik, Den." Jawab Pak Supir yang langsung memutar balik di persimpangan jalan. Untunglah perjalanan mereka belum sampai masuk ke tol.
"Jam segini kayanya Kak Wira sudah sampai kantor. Antar aku ke kantor nya saja ya, Kak."