Rhaella Delyth adalah seorang gadis cantik dengan kepribadian dingin dan ekspresi wajah yang selalu datar. Meskipun berasal dari keluarga terpandang, kehidupan yang ia jalani jauh dari kata bahagia. Kehadirannya di dunia tidak pernah diharapkan, membuatnya tumbuh dengan hati yang keras dan kesulitan untuk mempercayai orang lain.
Sementara itu, Gabriel adalah seorang pemuda tampan dan berkarisma yang lahir di lingkungan keluarga kaya dan berpengaruh. Di balik pesonanya, ia memiliki sifat dingin, tak mudah didekati, serta sisi kejam yang tidak banyak diketahui orang.
Bagaimana kisah pertemuan mereka bermula? Ikuti perjalanan mereka dalam cerita ini, yang penuh dengan intrik dan adegan penuh ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Mereka pun kini telah sampai di depan sebuah gerobak penjual sate, karena tadi Rhaella bilang ingin makan sate, jadi Gabriel berhenti saat mendapati penjual sate yang mereka lewati.
"Mau berapa bungkus" tanya Gab begitu mobilnya berhenti.
"Satu aja, buat kamu juga satu" ucap Rhaella yang terdengar aneh di telinganya sendiri.
"Mau makan di sini atau di apartemen?" Tanya Gabriel pada Rhaella.
"Makan di apartemen aja" jawab Rhaella dan Gabriel pun mengangguk kemudian keluar untuk membeli sate.
Saat Gabriel sedang memesan sate, Rhaella menunggu didalam mobil namun matanya melihat ada 2 anak kecil yang sedang duduk tidak jauh dari tempat penjual sate itu, Rhaella meliha salah satu dari mereka memegang beberapa plastik tissue, sepertinya mereka berdua sedang menjual tissue itu, Rhaella melihat salah satu anak yang kecil yang sepertinya usianya sekitar 5 tahun sedang memegang perutnya, dan yang satunya lagi hanya mengelus lembut kepala anak yang kecil, sepertinya kedua anak tersebut Adik dan kakak. Dan Gabriel yang memang melihatnya sejak tadi pun kembali memesan 4 bungkus sate untuk kedua anak tersebut. Rhaella kemudian turun ingin memberi tahu Gabriel agar memesan lagi satenya untuk mereka.
"El kayanya mereka juga pengen makan sate deh, kamu pesen lagi yah buat mereka" ucap elsa yang sudah berdiri di samping Gabriel, Gabriel pun menoleh ke arah sang kekasih dan tersenyum.
"Udah aku pesenin sayang" jawab Gabriel, Rhaella pun kemudian menatap Gabriel yang tengah bermain dengan ponselnya sembari menunggu pesanannya selesai.
'Meskipun dia terlihat cuek dan dingin tapi dia sangat peka dengan keadaan di sekitarnya' ucap Rhaella yang sedang menatap Gabriel dari samping.
"Udah selesai liatinnya?" Tanya Gabriel pada Rhaella tetapi matanya masih menatap pada layar handphonenya. Rhaella gelagapan mendengar pertanyaan Gabriel, dia pun langsung membuang mukanya ke arah lain, karena malu.
"Liatin aja sayang sepuasnya, aku kan punya kamu" ucap Gabriel menggoda Rhaella.
"Nggak usah ge'er gue nggak lagi ngeliatin lo kok" jawab Rhaella dengan wajah memerah.
Cup
Tanpa tahu tempat Gabriel langsung mencium bibir Rhaella, Rhaella langsung di buat melotot dan menutup mulutnya sendri lalu melihat sekelilingnya karena mereka memang masih berada di tempat umum.
"Lo apa-apaan sih El" ucap kesal elsa dan Gabriel kembali mencium bibir Rhaella untuk kedua kalinya.
Cup
"Kalau kamu ngomong lo atau gue lagi, aku bakal cium tanpa tahu tempat lagi, sekarang udah ngerti kan kesalahannya dimana, hm?" Ucap Gabriel pada Rhaella, Rhaella hanya mengangguk patuh ucapan Gabriel.
Pipinya sudah memerah karena malu bercampur salah tingkah.
"Good girl" Gabriel kembali mengelus lembut pipi Rhaella yang memerah dan tersenyum tipis.
'jantuuuung... Jangan dulu meledak doong' ucap Rhaella dalam hati karena di buat salah tingkah oleh kelakuan Gabriel.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya pesanan sate Gabriel pun telah selesai.
"Ini den satenya enam porsi" ucap penjual sate itu. Kemudian Gabriel mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu kepada penjual itu.
"Kembaliannya ambil aja"
"Wah makasih banyak den" ucap penjual sate tersebut, Gabriel hanya menganggukkan kepalanya lalu menggandeng Rhaella untuk berjalan menuju tempat kedua anak tadi duduk.
Saat mereka sampai Gabriel langsung bertanya pada kedua anak tersebut tanpa ada embel-embel basa-basi. "Kalian berdua suka sate nggak?" Tanya Gabriel, dan kedua anak tersebut mendongak ke arah Gabriel hmyang bertanya.
Kedua anak tersebut lalu mengangguk antusias atas pertanyaan Gabriel "Nih sate buat kalian" Gabriel memberikan empat bungkus sate tadi kepada kedua anak tersebut.
Salah satu anak sudah menangis terharu karena mendapatkan sesuatu yang mahal menurutnya.
"Yang benar kak? Tapi Kak ini pasti mahal, kami ambil satu saja cukup untuk kami berdua" ucap sang kakak pada Gabriel.
Gabriel dan Rhaella pun saling pandang detik berikutnya Rhaella langsung berjongkok agak lebih leluasa melihat wajah kedua anak tersebut.
"Kamu kenapa nangis?" Tanya Rhaella pada sang kakak.
"Aku dan adik aku ingin sekali mencoba makan makanan ini kak, tapi uang kami selalu tidak cukup, uang hasil berjualan tisu orang ini tidak sampai 10 ribu setiap harinya, jadi hanya cukup untuk kami berdua membeli nasi sebungkus dan air minum untuk kami makan berdua. Aku menangis karena kakak-kakak berdua sangat baik telah memberikan kami makanan yang menurut kami sangat mahal ini, terima kasih kak atas kebaikan kakak" ucap sang kakak sambil menyeka air matanya. Rhaella di buat tersentuh hingga menetaskan air matanya dengan cerita pilu anak tersebut namun dengan cepat dia menghapus air matanya.
"Dimana orang tua kalian" tanya Rhaella pada kedua anak tersebut.
"Kami hanya berdua kak, orang tua kami sudah meninggal satu tahun yang lalu" ucap sang kakak kepada Rhaella. Rhaella dan Gabriel kembali saling memandang.
Rhaella begitu salut dengan anak di depannya ini, mereka lebih memilih untuk berusaha dengan berjualan milik orang lain di tengah terik panas matahari menahan lapar dan haus dari pada harus mengemis tanpa ada usaha apapun.
"Kalian ambil ini, kakak tadi memang sengaja membeli ini untuk kalian berdua" ucap Gabriel pada kedua anak tersebut dan di angguki oleh Rhaella. Kemudian sang kakak pun menatap berganti Gabriel dan elsa kemudian kembali menatap bungkus sate tadi.
"Terima kasih kak" ucap sang kakak pada Gabriel dan juga Rhaella.
Mereka pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Kalian tinggal dimana? Biar kakak yang antar" ucap Gabriel pada anak itu.
"Lumayan jauh kak dari sini kalau jalan kaki" ucap anak tersebut.
"Kakak aku haus" mereka semua pun menoleh ke arah anak yang satu lagi.
"Sabar yah dek nanti kakak beli air yah "
"Ayo kakak antar ke tempat tinggal kalian naik mobil, di dalam mobil ada air minum nanti kamu bisa minum di dalam sana" ucap Rhaella lembut pada kedua anak itu.
"Nggak papa kak? Baju kami kotor" ucap sang kakak pada Rhaella dan Gabriel.
"Nggak papa, ayo" ajak Rhaella kemudian di angguki pelan oleh kedua anak itu. Saat dalam mobil sang kakak terus memeluk sang adik, Gabriel dan Rhaella pun tersenyum tipis melihat mereka dari kaca depan.
"Nama kamu siapa?" Tanya Rhaella pada sang kakak.
"Nama aku James kak, kalau adik aku namanya Jasper" jawab James sang kakak memperkenalkan juga adiknya.
"Kalau nama kakak-kakak siapa?" Tanya James.
" Nama kakak Rhaella, kalau yang ini namanya Gabriel" jawab Rhaella yang memperkenalkan dirinya dan juga Gabriel.
"Apa kamu putus sekolah James?" Tanya Rhaella.
"Aku ngga sekolah kak, waktu ibu sama bapak masih hidup mereka berdua pun ngga punya uang untuk biaya sekolah James kak, jadi James ngga pernah sekolah"
"Apa kamu mau sekolah?"
"Aku Mau kak, tapi aku ngga bisa bayar buat uang sekolah nanti, terus nanti adik aku juga mau tinggal sama siapa kalau aku sekolah"
"Kalau kakak yang bayarin uang sekolah kamu, kamu mau?"
"Yang bener kak?" Tanya James kegirangan.
"Iya bener, kamu mau?"
"Mau kak, tapi... Adik aku gimana nanti kak" ucap James dengan menatap wajah adiknya.
"Kamu tinggal sekolah aja nanti ada yang akan urus adik kamu" kali ini Gabriel yang bersuara, Rhaella pun menatap wajah tampan Gabriel dan di balas senyuman manis oleh Gabriel.
"Iya kak aku mau sekolah, aku pengen rasain gimana rasanya sekolah" ucap antusias James dengan senyuman yang merekah sehingga membuat Gabriel dan elsa pun ikut tersenyum.
"Terima kasih kak Rhaella dan kak Gabriel atas kebaikannya, kalian benar-benar seperti malaikat " ucap James tulus mereka berdua hanya tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Kak berhenti di sini kak, yang itu rumah kami" ucap James pada Gabriel dan menunjuk ke arah tempat tinggalnya. Gabriel pun kemudian memberhentikan mobilnya dan melihat tempat tinggal James dan Jasper.
Rhaella dan Gabriel melihat sebuah rumah yang lebih mirip seperti sebuah gubuk kecil, Rhaella bahkan sekarang sudah merasa sesak melihat itu semua.
"Terima kasih kak sudah antar kami pulang" ucap tulus James.
"Sama-sama" jawab Rhaella dengan tersenyum. Sedangkan Gabriel tengah menghubungi seseorang melalui pesan.
"Sekarang kalian masuk, besok akan ada yang menjemput kalian berdua" ucap Gabriel pada James dan Jasper.
"Memangnya besok kami kemana kak Gabriel?" Tanya bingung James mendongak pada Gabriel yang jauh lebih tinggi darinya.
"Kamu ikut saja, kamu mau sekolah kan?" Tanya Gabriel pada James.
"Iya kak mau" James menganggukkan kepalanya.
"Ya udah sekarang kalian masuk, tunggu ada yang menjemput kalian besok"
"Baik kak kami masuk dulu kalau begitu, sekali lagi terimakasih banyak kak" kemudian James dan Jasper pun melambaikan tangannya dan masuk ke dalam tempat tinggalnya.
"Ayo kita juga pulang, kamu pasti juga sudah lapar kan" ucap Gabriel pada Rhaella, elsa pun mengangguk dan kemudian berjalan kembali menuju mobil.
"Kamu mau bawa mereka kemana El besok?" Tanya Rhaella penasaran dengan rencana Gabriel.
"Aku mau bawa dia tinggal ke markas, di sana dekat dengan sekolah dasar James bisa gampang ke sekolahnya, di sana juga masih banyak kamar kosong untuk mereka tinggal. Nanti biar aku cari pengasuh untuk mengurus adiknya" jawab Gabriel sambil mengendarai mobilnya, dan Rhaella menatap wajah Gabriel intens setelah mendengar penjelasannya.
"Kenapa kamu mau lakuin itu?"
"Bukannya kamu tadi mau membantu mereka, aku akan melakukan apapun agar kamu senang" jawab datar Gabriel tapi terdengar tulus. Rhaella pun tersenyum mendengar ucapan Gabriel.
"Makasih" ucap tulus Rhaella, Gabriel pun mengangguk dan mengelus lembut pipi Rhaella.