NovelToon NovelToon
REVENGE; The Mad Twin'S

REVENGE; The Mad Twin'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Identitas Tersembunyi / Keluarga / Teen School/College / Crazy Rich/Konglomerat / Dendam Kesumat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Ketika Arbiyan Pramudya pulang untuk melihat saudara kembarnya, Abhinara, terbaring koma, ia bersumpah akan menemukan pelakunya. Dengan menyamar sebagai adiknya yang lembut, ia menyusup ke dalam dunia SMA yang penuh tekanan, di mana setiap sudut menyimpan rahasia kelam. Namun, kebenaran ternyata jauh lebih mengerikan. Di balik tragedi Abhinara, ada konspirasi besar yang didalangi oleh orang terdekat. Kini, Arbiyan harus berpacu dengan waktu untuk membongkar semuanya sebelum ia menjadi target berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

“Kau apa? Jangan bercanda! Kau kira bisa membodohi kami, Hah?! Dasar miskin sialan!” umpat teman mereka yang lain.

Sebelah alis Biyan terangkat naik. “Apa aku terlihat seperti bercanda?”

Bagas terkikik pelan disela-sela acara meringisnya, ia melepaskan rangkulan Rendra dan berusaha berdiri sendiri.

“Jadi kau bukan Abhi? Pantas saja aku merasa ada yang aneh. Tapi aku yakin kau tidak sebodoh itu untuk datang melawan kami semua, kan?”

“Ah, benar. Ini tidak seimbang. Tapi, bukankah malah lebih seru? Lagipula, kami butuh tempat pelampiasan amarah,” Biyan berucap santai.

Neo mendesis tak sabaran. "Kapan berkelahinya, nih? Tanganku sudah gatal!" protesnya.

“Sepertinya kau meremehkan kami, Arbiyan.”

“Harusnya kami yang bilang begitu bodoh,” sungut Dean kesal.

Dan entah bagaimana, Dean sudah mulai mengepalkan tangannya lagi, menarik nafas panjang kemudian berlari kearah mereka tanpa takut dan menghajar mereka dengan brutalnya. Bukan hanya ia bahkan Arbiyan, Eve dan Neo pun tak tinggal diam. Dalam sekejap, ruangan yang tadinya tertata rapi itu kini telah hancur berantakan bagai diterpa tornado.

Suara pukulan yang menggema dimana-mana, rintihan bahkan teriakan dan jangan lupakan suara tawa disertai patahan tulang. Siapapun yang melihat perkelahian mereka akan memilih mengambil langkah seribu.

Ngomong-ngomong, jika penasaran siapa yang tertawa diacara baku hantam itu akan ku beritahu.

Namanya Neo.

Jangan tertipu tampang malaikat dan sikap konyolnya karena diantara mereka ber-4 jiwa pshyco Neo-lah yang lebih diasah oleh Ayah mereka sejak pertama kali ia dimasukkan kedalam keluarga Bramatsya.

Meski begitu Alfa hanya melakukan yang diperintahkan saja, jika ia disuruh diam maka ia akan diam.

Hingga beberapa saat kemudian perkelahian tersebut dimenangkan oleh Biyan dan kawan-kawan. Meski keadaan wajah mereka ber-4 pun tidak bisa dibilang baik juga, tapi setidaknya tidak separah mereka yang terkapar dilantai.

“Woaahh! Ini menyenangkan! Aku ingin lagi!” pekik Neo senang, padahal wajahnya sudah lumayan babak belur.

“Kak, tahan dirimu,” tegur Biyan sambil menghempaskan tubuhnya pada sebuah sofa dibelakangnya sedangkan Neo hanya menggangguk sambil tersenyum.

Setelah itu Biyan meminta mereka untuk mengikat orang-orang tersebut agar tidak ada yang bisa kabur kemana pun.

“Ma-maafkan kami, kami sadar ka-kami sudah keterlaluan pada adikmu, ja-jadi..maafkanlah kami," pinta Bagas yang ternyata masih sadar sambil terbata-bata.

“Kalau aku jadi kau, aku takkan pernah memaafkan mereka,” kata sebuah suara dari lantai atas.

Biyan dan yang lainnya mendongak, mendapati seorang gadis lainnya yang dikenal Biyan. Gadis itu menuruni tangga dengan gaya santai, memasukkan kedua tangannya disaku jaket dan terus menatap Biyan yang hanya menatapnya datar.

“Liona.”

“Wah! Aku senang kau masih mengingatku, Biyan~”

“Kau tahu aku?”

“Tentu saja. Dari awal pertemuan kita, aku sudah menyadari ada yang salah denganmu. Jadi aku menyelidiki tentang dirimu. Wah..silsilah keluargamu benar-benar mengagumkan. Aku tidak menyangka ternyata kau adalah pewaris dari King Corp. Mematahkan semua gosip yang mengatakan kau hanyalah anak seorang dari kelas bawah,” ungkap Liona santai sambil menduduki salah satu sofa kosong dihadapan Biyan.

“Tu-tunggu! Apa maksudmu? Dia siapa?” tanya Bagas yang masih tidak percaya dengan yang didengarnya.

“Dia pewaris King Corp. Salah satu perusahaan terbesar di Asia dan memiliki beberapa cabang. Dan asal kau tahu Bagas, perusahaan kecil keluargamu itu dapat ia hancurkan dengan mudah jika ia mau,” kata Liona lagi santai. Sedangkan Bagas hanya terdiam mendengar penjelasan itu, syok.

"Apa kubilang?" ledek Neo puas sambil terkikik geli.

“Ngomong-ngomong, Liona, soal ucapanmu yang pertama tadi. Kenapa mereka tidak pantas dimaafkan?” tanya Dean heran. Dean memang setuju tapi ia ingin tahu alasan lainnya.

Liona menyeringai kemudian melemparkan sebuah flashdisk dan ditangkap dengan sempurna oleh Biyan. “Lihat itu dan kalian akan tahu maksudku.”

“Dasar penghianat kau Liona!” geram Bagas.

Liona hanya tertawa pelan. “Aku tidak pernah bilang akan setia pada kalian. Lagipula kalian itu memang sudah keterlaluan dan aku tidak bisa diam kali ini.”

Dahi Biyan mengerut, tapi ia memberikan flashdisck tersebut pada Neo. Neo yang mengerti langsung mengeluarkan laptop dari dalam tasnya yang selalu ia bawa kemana-mana dan mulai membuka file tersebut kemudian memberikan benda itu pada Biyan.

Sebuah video.

Awalnya hanya terpampang wajah beberapa orang yang sedang tertawa lalu kemudian terdengar suara rintihan kesakitan. Perlahan kamera tersebut mengarah kearah asal rintihan itu. Seseorang yang tengah terikat telanjang diatas tempat tidur sambil menangis kesakitan dengan keadaan mengenaskan.

Bola mata Biyan membulat saat ia melihat siapa orang tersebut. Ia kehilangan kata-katanya, nafasnya tercekat, bahkan kedua kakinya menjadi lemas untung saja ia dalam keadaan duduk. Jika tidak mungkin sekarang ia sudah terjatuh karena saking lemasnya.

“Ab-Abhi?” lirihnya pelan.

Hatinya bagai dihujam ribuan panah, ditusuk, dan diremas hingga hancur. Matanya buram dan pada akhirnya air mata itu keluar juga. Pertahanannya hancur total, ia menangis. Menangis tanpa suara, memekik tertahan.

Ia seperti bisa merasakan betapa tersiksanya Abhi, betapa takutnya Abhi saat itu dan ia sebagai kakak tidak ada disana untuk membantu dan melindunginya. Biyan tak pernah tahu jika sang adik menderita begitu hebatnya.

Dean yang juga melihat video itu hanya bisa terdiam syok dengan kedua mata berair.

Menyaksikan bagaimana mereka melakukan hal-hal yang tidak seharusnya kepada adik mereka. Melihat begitu jelas bagaimana mereka melecehkan Abhinara dengan tidak tahu malunya.

Bagaimana mungkin manusia bisa sekejam ini?

Hanya satu jawabannya.

Karena mereka bukanlah manusia, mereka lebih rendah dibandingkan binatang sekalipun dan mereka tak seharusnya ada didunia ini.

Tapi Biyan tidak bergeming dari tempatnya, ia masih dalam posisinya dengan wajah yang menunduk.

Bukan karena nyalinya menciut tapi ia sedang berusaha meredam emosinya, emosi yang kapan saja dapat membuatnya menjadi seorang pembunuh brutal. Dan Biyan tidak ingin mereka mati dulu, itu terlalu mudah. Setidaknya mereka harus merasakan apa yang dirasakan adiknya.

Luka fisik dapat sembuh tapi tidak dengan mental.

Jadi Biyan bersumpah akan menghancurkan mental mereka hingga ketitik terendah, bahkan berpikir tentang kematian pun terasa tidak berguna.

“Tunggu! Video apa itu?” tanya Arga heran yang hanya diam sedari tadi, kemudian matanya menoleh kearah Bagas yang tengah menundukkan wajahnya. “Bagas, jawab aku. Apa kalian melakukan sesuatu padanya setelah aku pergi?”

Bagas hanya terdiam, tubuhnya gemetar menahan tangis. Ia bingung harus menjawab apa, ia takut, sangat takut.

“BAGASKARA! JAWAB AKU!” Bentak Arga. Apalagi ia bisa mendengar suara-suara divideo yang tengah terputar. Meski otaknya sudah tahu tapi Arga teta mencoba untuk berpikir positif. Mungkin saja ia salah.

“Ma-maaf. Kami, kami menyesal.”

Arga terdiam, sekarang ia paham kenapa setelah kejadian memanggil Abhi di gudang olahraga hari itu, pemuda itu malah menghilang selama beberapa waktu dan kembali dengan perubahan total.

“Menyesal katamu!  Dasar kalian Binatang! Kalian menghancurkan mentalnya! Dia bahkan hampir gila karena kalian!” geram Dean marah.

Sungguh rasanya ia ingin sekali mencabik-cabik setiap inci tubuh mereka.

“Ahh..tapi semua ini bersumber dari satu orang asal kalian tahu saja."

Semua langsung menatap Liona bingung, gadis itu hanya tersenyum dan menatap Biyan jenaka.

"Biyan, apa kau tahu kalau adikmu itu menyukai seorang lelaki?"

Biyan melotot syok. "A-apa?! Jangan bercanda! Adikku tak mungkin begitu!"

Liona mengendikkan bahunya pelan. "Tanyakan saja pada Arga. Iya, kan Arga?"

Arga langsung terdiam.

"Bicara yang jelas, sialan!" umpat Dean kesal tapi Arga bahkan tidak mengatakan apapun.

"Abhinara menyukai Arga," kata Liona lagi.

Kali ini semua mata menatap ke arah mereka. Kemudian kembai menatap Arga yang hanya memalingkan wajahnya.

"Liona benar," jawab Arga akhirnya. Kemudian ia mendongak menatap Biyan. "Aku mendengar gosip bahwa Abhi menyukaiku secara romantis. Jadi aku memanggilnya ke gedung olahraga hari itu untuk mengkonfirmasikannya. Aku tak menyangka jika Abhi akan membenarkannya. Meski begitu aku bilang padanya bahwa aku menyukai wanita jadi aku tak bisa membalas perasaannya. Setelahnya aku langsung pergi. Aku tak menyangka jika Bagas dan lainnya malah—," suara Arga tercekat sembari melirik bagas kecewa.

Hening.

“Lalu kau... Apa peranmu dalam hal ini?” Kali ini Eve membuka suaranya. Ia menatap Liona tajam.

“Aku? Aku hanyalah suruhan mereka. Melakukan pekerjaan kotor dan membersihkan kekacauan mereka.”

“Dan alasanmu memberitahu hal ini apa?" tanya Neo bersemangat, sepertinya ia telah menemukan seseorang yang sejenis dengannya.

“Aku hanya muak melihat keangkuhan mereka. Jadi apa aku sudah menjawab pertanyaan kalian?”

“Wah..aku menyukaimu, Liona! Perkenalkan namaku Neo,” ucap Neo sambil mengulurkan tangannya dan disambut senang oleh Liona.

“Biyan, apa selanjutnya?” tanya Dean.

“Hubungi polisi,” jawab Biyan pelan.

“Eh..kita tidak menyiksa mereka dulu? Padahal aku ingin," keluh Neo dengan wajah cemberut.

“Kau..melepaskan mereka begitu saja?” tanya Liona heran. Karena ia pikir pemuda itu akan menyiksa mereka perlahan-lahan.

Biyan menghapus air matanya lalu terkekeh pelan. “Aku bukan malaikat Liona. Ini hanya awalnya saja. Aku masih punya kejutan yang menanti mereka. Bersabarlah,” kata Biyan lalu melangkah pergi.

Sementara Dean mengikuti perintah sepupunya ini.

(Keesokkan harinya disekolah)

Sudah tersiar kabar kalau Arga dan gerombolannya tertangkap polisi dikarenakan beberapa tindakan kriminal yang telah mereka lakukan. Tidak ada yang tahu pasti hal kriminal apa yang mereka lakukan karena Biyan menutupi semuanya dengan baik.

Bukan karena apa, ia hanya tak ingin adiknya semakin merasa dikucilkan jika satu sekolahan tau apa yang sebenarnya terjadi.

Kali ini Dean berjalan sendirian dilorong sekolah, karena Biyan ingin menemani adiknya seharian ini. Beberapa kali ia menarik nafas gusar, masih tidak percaya dengan yang dialami adik kesayangan mereka itu. Kenapa dunia ini begitu kejam? Anak semanis dia harus mengalami hal menyakitkan seperti ini.

Tidak adil.

“Dean?” tegur seseorang dan membuat Dean mendongak. Mendapati paras cantik tengah menatapnya cemas. Ah..hatinya menghangat.

“Alva."

“Ke-kenapa wajahmu? Sudah kau obati? Apa sakit? Kau baik-baik saja? Ayo kita ke UKS,” ajak Alva panik sambil menarik tangan Dean menuju UKS.

Alvaro berdecak jengkel saat mendapati keadaan UKS yang kosong. Kemana sih yang bertugas? Seharusnya mereka siap siaga..dasar makan gaji buta.

“Duduklah diatas ranjang. Akan kucari obat dulu,” kata Alva kemudian ia berjalan kelemari obat. Mengambil beberapa alkohol dan kapas serta anti septik. Lalu berjalan menuju Dean yang sedari tadi hanya memperhatikan gerak-geriknya saja.

“Ini akan sedikit perih,” Kata Alva lagi lalu dengan telaten mulai membersihkan luka-luka diseluruh wajah Alvaro.

Sedangkan Dean sendiri hanya sibuk memandangi wajah rupawan yang hanya berjarak beberapa centi saja. Kemudian entah kenapa matanya turun kearah bibir berisi Alva, sedikit memicing untuk melihat bekas luka disudut bibir bawah pemuda tampan itu. Tangannya terangkat dan menyentuh bekas luka itu dengan lembut, membuat Alva tersentak kaget.

“De-Dean? Apa yang ka—?”

“Apa sakit? Kau baik-baik saja kan?” tanya Dean cemas. Mendengar ucapan Dean, seketika membuat Alva menundukkan kepalanya. Entah kenapa ia meras malu diperlakukan selembut ini oleh Dean.

Padahal ia yang lelaki tapi kenapa begitu lemah?

***

(Di Rumah Sakit)

Semenjak kejadian perkelahian hari itu, Biyan merasa sikap Abhi berubah menjadi lebih dingin. Ia bahkan tidak mau bicara kepada siapapun termasuk kepada Biyan. Mereka semua bingung karena memang tidak mengerti.

Anehnya, beberapa kali Biyan mencoba menyentuh tangan atau kepalanya. Abhi akan refleks menghindar dan menatapnya tajam.

Berapa kalipun Biyan menegurnya, Abhi tidak merespon sama sekali dan memilih untuk diam saja.

Maka disinilah Biyan yang terduduk di kafetaria kantin rumah sakit dengan helaan napas lelah. Ia benar-benar kebingungan dengan tingkah sang adik.

Mengetahui fakta yang sebenarnya tentang apa yang terjadi pada sang adik saja sudah membuatnya sangat stress. Sejujurnya Biyan bahkan tak berani untuk bertemu dengan Abhi karena ia merasa begitu bersalah.

Tapi menjauhi anak itu juga bukan pilihan yang tepat.

Lalu apa yang harus ia lakukan?

Ketika sedang berpikir, tiba-tiba saja terdengar suara keras yang seperti terjatuh dari ketinggian menghantam beton.

Suara apa itu?

Berikutnya seseorang berteriak panik dan membuat semua orang terkejut. Menghampiri wanita tersebut yang langsung jatuh terduduk karena kaget.

"Seseorang melompat dari lantai atas!" teriak wanita itu. Hal itu langsung menarik perhatian Biyan dan membuatnya jadi kepikiran. Awalnya ia ingin mengabaikan tapi entah kenapa tubuhnya menolak.  Membuatnya tanpa sadar sudah berdiri ke arah sana.

Tidak mungkin.

Batinnya terus menerus mengatakan itu tapi pada akhirnya Biyan tetap berdiri dan menghampiri kerumunan tersebut.

Ketika ia tepat berdiri disana, Biyan terdiam.

Seluruh tubuhnya mendingin dan pandangannya jadi mengabur. Ia berjalan lunglai mendekati tubuh yang sudah tergeletak bersimbah darah di lantai beton rumah sakit.

Dalam sekejap Biyan kesulitan bernapas.

"Ab-Abhi?"

Biyan jatuh berlutut di sebelah tubuh itu, lalu kedua tangannya yang gemetar mencoba menyentuh tubuh tersebut. Saat tangannya menyentuh kulitnya, Biyan tahu bahwa ini kenyataan. Kenyataan langsung menamparnya begitu sadis, mengatakan dengan jelas padanya bahwa tubuh yang tergeletak dihadapannya saat ini adalah tubuh adiknya.

Dan seluruh jiwa Biyan langsung hancur berkeping-keping tanpa ampun.

"Abhi?! ABHINARA!"

1
Ryo gunawan
dabel up lah thor
Helmi Sintya Junaedi
beruntung abhi punya kakak yg sangat menyayanginya,,, cari pelakunya sampai dapat balas kn perbuatan nya,,
CutiePie
next! 😊
CutiePie
curiga sih mereka pelakunya 😡
CutiePie
heh 😂😂
CutiePie
bguss
CutiePie
Ini bagus sekali!
Tidak sabar untuk selanjutnya!
semangat ya!
CutiePie
😍😍
CutiePie
😭😭
CutiePie
semangat!
QueenBwi
💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!