Serka Davis mencintai adiknya, hal ini membuat sang mama meradang.
"Kamu tidak bisa mencintai Silvani, karena dia adikmu," cegah sang mama tidak suka.
"Kenapa tidak boleh, Ma? Silvani bukan adik kandungku?"
Serka Davis tidak bisa menolak gejolak, ketika rasa cinta itu begitu menggebu terhadap adiknya sendiri, Silvani yang baru saja lulus sekolah SMA.
Lalu kenapa, sang mama tidak mengijinkan Davis mencintai Silvana? Lantas anak siapa sebenarnya Silvana? Ikuti kisah Serka Davis bersama Silvani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Davis Makan Berdua Dengan Perempuan Muda
"Papa, lihat. Itu sepertinya Davis. Davis sedang makan di kafe yang sama. Kita samperin, yuk, Pa!" ajak Mama Verli ketika matanya menangkap sosok Davis tengah duduk menempati sebuah meja di kafe yang sama, dengan seorang perempuan muda. Mata Papa Vero dan Silva bergulir ke arah yang ditunjukkan Mama Verli.
Silva menatap ke arah meja yang ditunjukkan Mama Verli, benar saja, di sana ada Davis dan salah satu perempuan muda. Kalau ditaksir dari umur, sepertinya tidak jauh darinya.
Silva seperti berusaha mengenali perempuan itu, dan ia mengenalinya. "Bukankah itu pacarnya Ardo? Apakah mereka sudah putus?" batinnya heran.
Tiba-tiba saja, seperti ada rasa tidak rela dalam diri Silva melihat kebersamaan Davis dengan perempuan bernama Rara itu. Silva memang tidak kenal dengan Rara, dia hanya pernah melihat Ardo beberapa kali jalan dengan perempuan itu.
Secara kebetulan Mama Verli dan Papa Vero serta Silva, saat ini sedang makan di luar. Memang kegiatan makan di luar ini sering dilakukan keluarga ini paling sedikit sebulan sekali. Dan saat ini mereka makan di kafe Delicious, kafe yang juga disambangi Davis.
"Apakah itu pacarnya Davis? Sepertinya Davis memang serius sedang mencari istri, buktinya dia sudah membawa perempuan itu makan bersama. Syukurlah kalau memang dia sudah menemukan yang cocok," ujar Papa Verli.
"Mama pengen tahu seperti apa perempuannya. Mama ingin menghampirinya dan berkenalan dengannya," ucap Mama Verli girang.
"Jangan dong, Ma. Siapa tahu mereka masih baru berkenalan dan masih penjajakan. Bagaimana kalau Davis tidak suka diganggu," larang Papa Vero mencegah Mama Verli untuk bangkit.
"Mama hanya ingin lihat seperti apa perempuan itu, biar mama bisa menilai. Mama hanya takut Davis memilih perempuan yang sembarangan. Maksud mama dapat nemu dari biro jodoh atau tempat yang tidak jelas," kekeuh Mama Verli terdengar khawatir.
"Biarkan. Mama jangan ke sana. Kita jangan ganggu dulu mereka. Davis juga bukan anak kecil yang bodoh dan tidak bisa menilai mana yang baik dan tidak," cegah Papa Vero. Kali ini Mama Verli patuh dan duduk kembali dari bangkitnya, tapi wajahnya memperlihatkan kecewa.
Silva hanya bisa diam dan sesekali tatapnya terus menuju Davis dan Rara, yang dia ketahui pacarnya Ardo. Ardo yang pernah mengatainya anak pungut.
"Kak Davis, sudah menemukan tambatan hatinya sekarang," gumamnya dalam hati sedih.
Pesanan mereka bertiga akhirnya datang. Mama Verli yang sejak tadi ingin menghampiri Davis dan perempuan yang sedang bersamanya, sedikit terhibur dengan makanan yang sudah datang dan disajikan pramusaji.
"Silahkan dinikmati," ucap pramusaji seraya berlalu.
"Terimakasih," ucap Mama Verli. Dengan tidak sabar ia segera menyantap makanan di meja itu.
Mereka bertiga makan sesekali mata mereka mencuri tatap ke arah meja Davis.
Mama Verli menyudahi makannya. Setelah itu ia bangkit karena ingin ke toilet.
"Mama mau ke mana?" tanya Papa Vero resah, takutnya Mama Verli pergi menghampiri Davis.
"Papa ini curigaan, mama mau ke toilet. Mama mau buang urin," cetus Mama Verli sedikit kesal. Papa Vero tersenyum malu-malu karena sudah salah duga.
"Ya sudah, Mama segeralah ke toilet." Mama Verli tidak menjawab, ia segera bergegas menuju toilet. Sepanjang melewati lorong meja kafe, Mama Verli berharap kalau Davis melihat ke arahnya. Sayang, sepertinya Davis fokusnya pada perempuan di depannya, jadi sejak tadi Davis tidak menyadari kalau di kafe yang sama ada kedua orang tuanya, terlebih kafe Delicious semakin malam semakin ramai.
"Tega banget Davis tidak melihat mamanya sendiri di kafe ini. Mentang-mentang sudah punya gandengan," rutuk Mama Verli dongkol.
Tiba di toilet, Mama Verli segera menuntaskan hajatnya. Beberapa saat kemudian, Mama Verli merasa lega karena beban di dalam kantung kemihnya sirna.
Buru-buru Mama Verli keluar dari toilet untuk menuju mejanya tadi. Namun, di pertengahan lorong antara meja, Mama Verli berpapasan dengan seorang perempuan muda yang berlari kecil, sepertinya perempuan itu akan ke toilet juga. Sehingga sebuah insiden tabrakan tidak terelakkan lagi.
"Aduhhhh." Mama Verli mengaduh, tubuhnya sedikit terhuyung. Sepertinya perempuan muda itu tanpa sengaja menendang betis Mama Verli.
Tanpa meminta maaf, perempuan muda seumuran Silva itu menatap sejenak Mama Verli lalu berlalu begitu saja sambil berlari seperti tadi.
"Aduhhh." Mama Verli masih mengaduh, lututnya yang kadang-kadang memang suka sakit, kini tiba-tiba kambuh lagi sakitnya gara-gara tendangan kaki perempuan muda tadi.
"Seperti perempuan yang bersama Davis. Amit-amit jika Davis jadian sama perempuan itu, tidak ramah sama sekali. Jangankan senyum, minta maaf saja tidak.
"Mama, Mama kenapa? Kenap merunduk di sini, Mama sakit?" Tiba-tiba Silva menghampiri, karena matanya sempat menoleh ke arah lorong meja, saat bersamaan Davis yang masih di mejanya kebetulan melihat ke arah Mama Verli. Davis terlihat bangkit dan berjalan menghampiri Mama Verli yang saat ini sudah didampingi Silva.
"Mama, Mama ada di sini? Dek, Mama kenapa? Mama Sakit?" tanya Davis beralih pada Silva.
"Aku tidak tahu, Kak. Mama tadi habis dari toilet, tapi aku justru melihat Mama di sini, sepertinya lutut Mama kesakitan," sahut Silva seraya meraih tangan Mama Verli.
Davis membantu Mama Verli berdiri dengan benar, lalu memapahnya menuju meja yang ditempati sang mama.
"Kalian sedang makan di sini juga?" kaget Davis setelah sampai di meja yang ditempati keluarganya.
"Iya, kami sedang makan di sini. Bahkan sejak tadi kami juga sudah melihat kamu duduk satu meja dengan seorang gadis muda di meja sana. Tahu tidak, Mamamu sejak tadi ingin menghampiri kalian, tapi papa mencegahnya karena takut mengganggu kalian. Apakah perempuan itu pacar kamu?" tutur Papa Vero menatap Davis.
Davis tidak menjawab, dia melepaskan tangannya di bahu sang mama yang baru saja didudukkan kembali di kursinya.
"Davis, barusan mama hampir terjatuh. Dan kamu tahu, mama kena tendang kaki seorang perempuan. Perempuan itu bukan minta maaf, malah menatap mama lalu pergi. Lutut mama sampai sakit. Dasar perempuan tidak beretika, minta maaf apa salahnya. Amit-amit deh kalau perempuan itu jadian sama kamu," dumel Mama Verli kesal.
"Mama kena tendang siapa? Perempuan mana? Sebentar, ya, Davis ke sana dulu." Belum selesai obrolan antara Davis dan sang mama, Davis terpaksa harus pergi karena Rara sudah terlihat di mejanya dan mencari dirinya.
"Davisss." Panggilan Mama Verli tidak dihiraukan Davis karena Davis keburu pergi.
"Papa mau tahu siapa yang menendang betis mama tadi? Perempuan yang bersama Davis tadi pelakunya. Dia berlari kecil mau ke toilet, saat berpapasan dengan mama, kaki dia menendang betis mama sampai mama kesakitan. Saat mama mengaduh, dia hanya menatap tapi tidak minta maaf. Amit-amit kalau sampai Davis jadian sama perempuan itu. Mama tidak sudi," cerita Mama Verli dengan nada kesal.
akhirnya direstui juga...
nunggu Davis tantrum dulu ya ma
berhasil ya Davis 😆😆😆👍👍