Diputusin pas lagi sayang- sayangnya tentu membuat nyesek dan sakit hati. Itulah yang dialami oleh Vina yang di putus oleh Dafa. Putus tanpa kejelasan yang dilakulan Dafa membuat Vina pusing tujuh keliling memikirkan kesalahan yang mungkin diperbuatnya.
Namun, perlakuan Dafa yang sama ketika mereka masih berpacaran menambah pening Vina. Perhatian- perhatian diberikan pada Vina, membuat gadis itu yang belum move on hampir goyah.
Apa sebenarnya alasan Dafa memutuskan hubungan jika masih memberikan perhatian dan harapan? Lalu, apakah Vina dapat bertahan hingga akhir atau malah goyah dan kembali jatuh?
Ikuti kelanjutan hubungan keduanya yang penuh dengan lika- liku dan berbagai emosi yang menguras hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Fujiwara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu Di Bali
Lia menutup telinga saat semua penghuni bus menghujatnya, cewek itu meringkuk di kursi bus. Namun dalam hati Lia tertawa ngakak. Anton dengan sadis menonyor kepala Lia yang duduk didepannya.
“Kok lo nonyor gue?!” nyolot Lia.
“Heh! Itu film Insidious 3 kenapa lo bawa- bawa ke sini? Gue masih sayang nyawa, ya! Kalo tuh supir kaget terus bus oleng bisa- bisa semua…”
PLETAK!
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, bibir Anton disentil oleh Andi. Mata sipit cowok itu berusaha melotot pada Andi.
“Kok lo nyentil mulut gue?!”
“Makanya kalo ngomong jangan sembarangan lo,” ucap Andi dan kembali tidur dengan kedua telinganya tersumpal headset.
Mas Junaid pun mematikan film itu demi kebaikan bersama dan menyita flashdisk Lia untuk sementara. Lalu menyuruh semuanya tidur karena hari makin larut. Anak- anak itu pun menurut, suasana di dalam bus 3 hening. Semuanya tidur, hanya Pak supir yang masih terjaga.
“Hish, Can! Jangan nyender, pala lo berat banyak dosa,” gumam Vina yang matanya masih terpejam, ia menjauhkan kepala Candra dari bahunya.
Vina kembali tidur, kakinya yang terasa pegal pun ia selonjorkan ke jendela. Entah siapa di depan sana yang mencium wangi kakinya.
Udara semakin dingin dan malam bertambah larut. Bahkan kini waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Entah sampai mana perjalanan mereka. Vina mengerjap beberapa kali, dirinya memperhatikan sekitar. Cewek itu mengernyit melihat Lia dan Vivin menggelepar di bawah. Ternyata dua cewek itu tidur terlentang di jalan antar kursi.
“Astagfirullah kelakuan temen gue,” gumam Vina menggelengkan kepala.
Vina pun melihat pemandangan di luar jendela. Kepalanya ia tutup dengan gorden, tapi lama- kelamaan Vina kembali mengantuk.
“Vin… Vina! Kepala lo mana?!” pekik Candra mengguncang tubuh Vina.
“Apa sih, Can?” tanya Vina menoleh pada sahabatnya itu dengan wajah datar.
“Hehehe kirain pala lo ilang.”
“Sembarangan kalo ngomong,” kata Vina menjitak kepala Candra.
“Eherm, tes… tes… baik adek- adek semua. Saat ini kita berada di Pelabuhan K. Kita akan menyeberang, silahkan persiapkan barang seperlunya karena kita akan turun dari bus dan naik Fery,” jelas Mas Junaid, membuat anak- anak spontan membuka mata.
Pak Cahyo yang sedang tidur tamvan pun juga terbangun, melirik ke sebelah. Pak Cahyo mengernyit merasakan bahunya basah dan kaosnya telah membentuk pulau tak berpenghuni.
‘Asyem,’ umpat Pak Cahyo dalam hati.
Wildan yang telah membuat pulau tak berpenghuni di bahu Pak Cahyo, sedangkan Pak Cahyo bersumpah untuk tidak duduk di sebelah Wildan lagi.
Para penghuni bus turun dari bus masing- masing, mereka serempak berjalan menuju kapal. Selama berjalan menuju kapal, Candra membuat live IG yang tidak ada penontonnya. Vina menggelengkan kepala melihat tingkah absurd sahabatnya itu. Lia dan Erin pun juga melongokkan kepala berharap agar wajahnya tersorot kamera lalu menjadi viral. Namun keduanya hanya menelan pil pahit saat tau tidak ada satu pun penonton di sana.
“Heh! Gue dapet penonton satu nih!” pekik Candra heboh.
“Siapa?” tanya Vina malas.
‘Paling juga akun toko online yang numpang promo,’ batin Vina.
“Hilih, Juno. Males gue,” decak Candra segera mengakhiri live IG- nya, “Dia di Bali katanya, Vin,” lanjut Candra.
“Bali luas kagak bakal ketemu,” hibur Vina mencoba menenangkan Candra yang terlihat panik.
Candra dan Vina memilih tempat duduk di dalam kapal yang akan membawa rombongan menyeberang. Sementara Pak Agung lagi- lagi terjebak dengan anak yang mabuk laut kali ini, beliau menghembuskan nafas lelahnya.
‘Karma karena ngarep liburan gratis,’ batin Mas Junaid melirik Pak Agung.
Cewek- cewek IPA 5 heboh selfi di dalam kapal dengan berbagai pose. Mereka bodo amat di tonton oleh penumpang lain.
Tidak terasa rombongan telah sampai Pulau Dewata. Setelah turun dari kapal dan masuk bus masing- masing, mereka melanjutkan perjalanan menuju resto untuk sarapan. Candra yang tadinya hendak nge- vlog pun mengurungkan niatnya. Cewek itu trauma jika nanti Juno komentar lagi.
“Baik, sebentar lagi kita akan sampai di Resto Numpang Makan. Resto itu menyajikan masakan khas Bali. Namun nanti yang akan kita makan untuk sarapan adalah nasi, sayur sop, ayam goreng, telur kecap, kerupuk, dan minumnya teh hangat,” jelas Mas Junaid dengan toa meminjam milik Pak Agung.
“Lalu setelah dari resto, kita akan menuju tempat wisata yang pertama yaitu Tanah Lot. Nanti akan ada tour guide asal Bali yang akan mendampingi. Terima kasih, selamat menikmati perjalanan. Oh ya, untuk Dek Lia yang semalam menyumbang film ini flashdisk- nya saya kembalikan. Maaf ternyata flashdisk- nya terkena virus,” ucap Mas Junaid memberikan flashdisk itu pada Lia.
Lia menerima flashdisk- nya dengan wajah dongkol. Ia yakin Mas Junaid sengaja menanam virus pada flashdisk- nya.
Rombongan sampai di Resto Numpang Makan. Mereka bergegas menuju kamar mandi untuk antre mandi. Vina melotot saat ternyata antreannya sudah sangat panjang. Toilet wanita itu sudah seperti pasar tumpah. Suara hiruk- pikuk di tambah gedoran pintu mewarnai indahnya pagi di Bali.
“Heh cepet mandinya! Nggak usah sok luluran lo!” bentak seorang cewek entah dari kelas mana.
Lia juga ikut menggedor pintu kamar mandi, menyuruh yang di dalam untuk cepat. Namun seketika wajahnya memerah menahan malu saat ada seorang petugas memasang tanda jika kamar mandi itu rusak.
“Nanti pertama kita ke Tanah Lot, kan? Gue harus bisa foto sama bule. Gue udah buat rencana. Setiap tempat yang kita kunjungi, gue harus foto sama bule,” ucap seorang anak dengan semangat.
“Ih, gue juga mau foto sama bule. Tapi gue nggak tau cara ngomongnya,” timpal temannya.
“Suruh aja si Wati yang ngomong, dia pinter bahasa asing.”
“Eh iya ya. Yes, bisa pamer ke kakak gue nih.”
Vina menggelengkan kepala mendnegar obrolan ciwi- ciwi di sebelah. Pintu kamar mandi di depan Vina terbuka, seketika ia menatap datar seseorang yang keluar dari kamar mandi itu. Fena tersenyum manis untuk menyapa Vina.
“Cepet, Fen. Gue mau mandi, udah laper banget gue. Antre lama,” ucap Vina dan langsung masuk kamar mandi.
Setelah mandi, Vina bersama dengan Candra menuju resto dan segera mengambil sarapan. Benar saja, menu sarapan mereka sama dengan yang diucapkan Mas Junaid saat di bus tadi. Candra dan Vina duduk bersama ciwi- ciwi IPA 5. Lila dan Vivin masih sibuk selfi, biasanya dua anak itu semangat memotret makanan sebelum menyantapnya untuk di posting di sosial media. Namun karena menunya spesial, mereka mengurungkan niatnya. Fokus mereka teralihkan saat mendengar pekikan dari mulut Lia.
“Weh siapa itu sama Mas Junaid? Bening amat,” pekik Lia berbinar.
...🐈🐈🐈...
Hai kenalkan ini Wati yang pintar Bahasa Inggris medok Korea
dah punya gc ayo gunakan para membernya
😂😂😂😂 lagi seru-seru, baca pertarungan mereka....tegang dengan emosinya Juno. Eh kox gambar mas Kardi mendelik 🤣🤣🤣
Si bunda juga iseng banget, sampe nyuruh semua anaknya beli minyak goreng promo
Untung sukses bund 👍👍😂😂
Eh Ekky, kamu kox sepertiku, yang suka maling mangga 🤣🤣 dan selalu sukses juga 😂😂 sumpah deh, nih cerita eh, episode....judulnya Maling Mangga yang Gesrek 🤣🤣🤣
pagi pagi absen dimari
kolom misi tertera karya Author lain 🤦🤦🤦
Omegot NT mah
duh....nostalgila dehh
kalian bikin kepengen 😥😥