Nur Ratih, gadis kampung yang nekat pergi ke ibukota demi melunasi hutang alm. Ayahnya agar ia tidak dijadikan istri kesekian oleh juragan di kampungnya. Melalui sebuah agen PRT, Ratih berhasil mendapat pekerjaan untuk menjadi pembantu di salah satu keluarga kaya disana.
Awal bekerja disana, Ratih merasa nyaman dengan lingkungan barunya, namun hal itu tidak berjalan lama. Kepulangan sang majikan muda dari perjalanan bisnisnya, membuat hari-hari Ratih terasa sesak. Dialah, Nathaniel Ryker, sang majikan yang terobsesi padanya sejak pertemuan pertama mereka.
Ratih merasa tidak kuat dalam melakukan pekerjaannya, sang majikan terus saja menganggu dirinya. Ia ingin pulang, namun kala teringat hutang-hutangnya ia merasa harus bertahan.
Bagaimanakah kehidupan Ratih di rumah itu? Apakah ia bisa menghentikan obsesi majikannya? Ataukah ia malah terjerumus di dalamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Kebenaran baru
Nathan mengendarai mobilnya dengan tenang. Cahaya matahari baru saja menyapu langit timur dan jalanan yang dilewatinya terpantau masih lengang. Namun ketenangan itu dibuyarkan oleh ponselnya yang tiba-tiba berdering. Nama yang tertera di layar ponselnya membuat dadanya berdegup lebih cepat.
“Tuan, orang itu sudah dipindahkan,” ucap Sam.
Seketika napas Nathan menjadi berat, hari ini ia akan bertemu dengan orang itu lagi.
“Wanita itu bersamanya?”
“Tidak, dia sendiri.”
“Berikan lokasinya, aku ke sana sekarang,” ucap Nathan lalu mematikan ponselnya sepihak.
Nathan mencermati sekilas lokasi yang dikirimkan Sam, lalu ia membelokkan mobilnya menjauh dari rute menuju ke kantornya. Tangannya menggenggam kemudi dengan erat dan matanya menatap lurus ke depan.
GPS di layar dashboard mobil Nathan berbunyi dan memberikan isyarat untuk belok ke kanan. Tanpa ragu, ia memutar setir dan membelokkan mobilnya ke arah jalan yang ditunjukkan sistem navigasi. Ia melirik sekilas layar itu lalu ke jalur yang ia lewati yang bukan lagi jalur utama namun jalur sempit yang nyaris bersinggungan dengan batas hutan. Asap tipis knalpot mengepul di udara dan jalur yang ia lewati semakin sunyi.
Aspal berganti menjadi kerikil yang menggetarkan kabin, lalu semakin ke depan berubah menjadi tanah liat yang lembab. Dari bekas ban di tanah itu, Nathan yakin jalur ini jarang dilewati. Di kiri dan kanan jalur, pepohonan rimbun menjulang tinggi yang mempunyai bayangan pekat karena sinar matahari tidak mampu menembusnya.
Nathan kembali memastikan titik lokasi yang ditampilkan, tidak jauh lagi, hanya sekitar lima ratus meter ia akan sampai di tempat itu. Tidak lama, ia melihat bangunan tua berdiri di ujung jalur itu. Atap bangunan itu nyaris runtuh, catnya sudah mengelupas, dan pagar besi di depannya sudah berkarat. Bangunan itu nyaris tidak terlihat karena dipenuhi semak belukar dan dikelilingi pepohonan yang rimbun.
Nathan memakirkan mobilnya di depan sebuah mobil yang sebelumnya sudah terparkir di sana. Mesin ia matikan dan suara burung serta dedaunan yang tertiup angin menggantikan suara deru mesin. Ia turun dan menutup pintu mobil, lalu berjalan memasuki bangunan itu. Di depan pagar, ia disambut oleh anak buahnya yang sudah berjaga di sana.
Suara pagar yang berderit membuat Sam yang sedang berjaga di dalam, langsung berjalan menghampiri Nathan.
“Tuan, anda sudah sampai,” ucap Sam.
“Kau sudah bekerja keras,” ucap Nathan sambil menepuk bahu Sam dua kali.
“Di mana dia?” Tanya Nathan.
“Mari Tuan, saya antar,” ucap Sam yang memberi isyarat agar Nathan mengikutinya.
Mereka berjalan menyusuri sisi luar bangunan tua itu dan melewati jendela-jendela yang tertutup papan. Sam membuka pintu samping bangunan itu yang suaranya memekikkan telinga karena berderit keras saat engselnya dipaksa bergerak. Di baliknya, lorong sempit terbentang dan Sam meminta Nathan untuk masuk terlebih dahulu. Setelah Sam menutup pintu itu kembali, cahaya menjadi redup karena hanya diterangi lampu kuning yang menggantung miring di langit-langit. Bau lembab masuk ke dalam indera penciuman mereka, campuran antara tanah basah dan kayu tua.
Sam meminta Nathan untuk berhati-hati saat mereka menuruni anak tangga yang rapuh yang berjejer menuju ke bawah tanah. Akhirnya, mereka berhenti di sebuah pintu besi tua.
Sam menatap Nathan sejenak, “Apakah Tuan siap?”
Nathan hanya mengangguk dengan sorot mata yang tidak dimengerti Sam. Kemudian Sam memutar tuas pintu dengan iringan suara gemeretak dan dentingan logam lalu membukanya perlahan. Ruangan itu gelap dengan hanya satu lampu redup di sudut-sudut langit. Di bawah lampu itu, seseorang yang masih memakai pakaian rumah sakit tengah duduk tertunduk dengan tangan dan kaki terikat di atas tikar yang digerai.
Nathan melangkah masuk dan Sam menutup pintu itu, lalu ia memilih untuk menunggu diluar.
Nathan berjalan menuju sudut ruangan dan seseorang yang ada di sana mengangkat kepalanya saat bayangan Nathan menghalangi cahaya redup di kakinya. Tatapan mereka pun bertemu, untuk sejenak waktu ikut berhenti. Setelah sadar siapa yang ada dihadapannya, tatapan orang itu langsung berubah. Mata tuanya yang redup langsung membelalak, tampaknya ia tidak percaya dengan seseorang yang menemuinya.
“Kau----” perkataan orang itu tercekat.
“Kudengar kau koma, sepertinya karma dari Tuhan sudah tepat sasaran, tapi kenapa kau tidak mati saja,” ucap Nathan sambil menyeringai.
Orang itu tertunduk dalam dan hanya diam tidak membalas.
“Kau senang bertemu wanita itu? Ck, dasar tidak tahu malu! Wanita itu masih menganggapmu sebagai suaminya! Sementara kau saja tidak memperdulikannya!” Ucap Nathan dengan sedikit emosi.
Mendengar hal itu, lawan bicara Nathan langsung memunculkan wajahnya lagi, “Kau tidak mengusirnya kan? Dia tidak bersalah.”
“Untuk apa kau peduli? Apa kau mendapat hikmah saat kau koma?”
“Aku sudah menyuruhnya untuk pergi tapi tetap saja ia memaksa untuk menemuiku, tapi aku bersumpah setelah itu kami tidak bertemu lagi, dan hari ini anak buahmu membawaku ke tempat ini.”
Nathan mendengarkan orang itu.
“Sungguh, semakin umurku bertambah, aku sangat menyesali perbuatanku padanya, jika saja waktu bisa diputar kembali---” Orang itu tidak mampu menyelesaikan perkataannya.
“Apa gunanya penyesalanmu? Itu tidak akan menggantikan air mata yang sudah dia keluarkan.”
“Aku minta maaf.”
“Minta maaflah padanya!”
Orang itu menatap Nathan, “Soal Sarah---”
“Jangan sebut nama itu! Mulut kotormu itu tidak pantas!”
Rahang Nathan mengeras, tangannya mengepal, dan nafasnya mulai tidak teratur. Nama itu, nama yang sudah lama ia tidak sebut dan tidak ia dengar kembali membuat hatinya bergejolak. Itulah nama ibunya.
Orang itu terdiam dan tatapan ketakutan muncul dari sorot matanya. Sorot mata yang menunjukkan rasa bersalah yang telah lama ia kubur.
“Kau yang membunuhnya,” ucap Nathan dengan emosi yang tertahan bahkan urat tubuhnya muncul di permukaan kulitnya, “Aku sudah mendengar laporan dan melihat fotomu di sana, semua jejak mengarah pada satu orang yaitu KAU!”
Orang itu menarik napas panjang, “Tidak, Nathan. Apa yang kau lihat hanya separuh dari kebenaran, aku tidak----”
“Kau telah membunuh ibuku! Dan sekarang kau pura-pura tidak tahu? Kau lupa pekerjaanmu sebagai pembunuh bayaran, huh?” Ucap Nathan sambil maju satu langkah mendekati orang itu.
“Aku memang pembunuh bayaran tapi bukan aku yang membunuh ibumu, ada orang lain dibalik ini semua.”
Nathan diam, dunianya terasa membeku. Kata-kata itu sungguh bertolak belakang dengan apa yang ia yakini selama ini.
“Sungguh bukan aku, bahkan kecelakaan yang membuatku koma pasti ada yang merencanakannya.”
“Siapa dia?”
Orang itu menggeleng, “Aku tidak tahu.”
“Dan aku harus memercayaimu?”
“Aku berkata jujur, aku dijebak oleh seseorang, aku memang disewa untuk membunuh seseorang tapi aku bersumpah aku tidak tahu kalau itu ibumu. Dan saat aku sampai di tempat itu, ibumu sudah tiada, ada darah di mana-mana. Jika kau bertanya kenapa aku kabur? Karena setelah aku tahu itu ibumu, aku tidak ingin Adhisti tahu bahwa aku disewa untuk membunuh ibu majikannya. Selama ini aku juga tahu kau yang telah membantu Adhisti dan aku sangat berterima kasih akan hal itu,” jelas orang itu dengan penuh penyesalan.
Nathan terpaku, kepingan masa lalu tentang kematian ibunya yang dulu banyak disiarkan media kini membentuk gambaran baru.
“Tapi dia tahu. Aku yang mengatakannya.”
Orang itu sedikit menaikkan ujung bibirnya, “Tentu, keadaanmu yang tidak baik pasti membutuhkan pelampiasan.”
“Dia menangis dan merasa bersalah.”
“Padahal itu bukan kesalahannya.”
Nathan memandang orang itu, penjelasannya terdengar begitu meyakinkan, “Siapa yang menyewamu?”
“Aku ingat ada dua orang, semua memakai pakaian tertutup dan memakai masker, sebagai pembunuh bayaran aku tidak peduli dengan orang yang menyewaku, aku hanya peduli pada uang.”
Nathan tersenyum miris, “Bagaimana Adhisti bisa menikah dengan pria sepertimu, aku sangat bingung dengan seleranya.”
“Kami dulu saling mencintai,” jawab orang itu.
Nathan berjongkok di depan orang itu, “Aku masih belum percaya dengan apa yang kau katakan, membusuklah disini sampai aku mengetahui kebenarannya, dan saat itu aku akan membalasnya, baik soal Adhisti ataupun soal… ibuku.”
Nathan berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Sam yang berjaga tersentak kaget saat pintu di sampingnya terbuka dari dalam.
“Periksa keadaannya dengan rutin, aku belum selesai dengannya dan juga lepaskan ikatannya.”
Dahi Sam mengkerut, “Apa tidak beresiko?”
“Aku percaya dengan penjagaanmu.”
“Baik Tuan.”
“Cari keberadaan Adhisti,” ucap Nathan lalu pergi dari tempat itu.
Sam yang masih setia berdiri di depan ruangan itu, menatap punggung Nathan yang semakin jauh. Sam yakin, Nathan punya alasannya sendiri, jadi ia harus segera melaksanakan perintahnya.