"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"
Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.
Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.
Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...
siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 : DEBARAN DI BALIK DENYUT KOTA
Suasana di dalam mobil malam itu begitu hening, hanya diisi oleh suara halus mesin dan deretan lampu jalanan yang membias bergantian di kaca depan. Lulu duduk kaku di kursi penumpang, meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. Jarak beberapa senti antara dirinya dan Angga terasa begitu sempit hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar.
Saat mobil berhenti di lampu merah, Angga perlahan menoleh. Pandangan pria itu jatuh pada Lulu yang berada di sampingnya menatap lekat ke arah wajahnya yang diterangi remang cahaya kota.
"Capek ya, Lu?" Bisik Angga. Suaranya terdengar jauh lebih dalam dan lembut dibanding saat ia bicara di kantor.
"Ya Tuhan, apa baru saja dia menyebut nama ku dengan lembut ? Batin Lulu hanya mampu mengangguk pelan, tak berani menatap mata Angga terlalu lama karena takut desiran halus di dadanya makin tak terkendali.
Aroma parfum Angga yang maskulin memenuhi seluruh kabin mobil, membuat fokus Lulu makin buyar. Saat Lulu hendak menarik sabuk pengaman yang tersangkut, jemari Angga mendadak terulur untuk membantunya.
Refleks, kulit tangan mereka bersentuhan. Desir setruman halus seketika menjalar ke seluruh tubuh Lulu, membuatnya menahan napas. Angga tidak langsung menarik tangannya. pria itu memiringkan tubuhnya sedikit lebih dekat, menatap mata Lulu dari jarak yang begitu rapat.
"Makasih ya, sudah mau datang dan bikin Ami sebahagia itu malam ini," ucap Angga tulus dengan senyum tipis di bibirnya.
"Ya Tuhan, sadar Lu.. Pria disamping mu saat ini adalah manager mu ?" Batinnya, Jantung Lulu serasa merosot ke perut. Di dalam ruang tertutup itu, benteng profesionalitas di antara manajer dan bawahan itu rasanya telah sepenuhnya luluh.
Mobil terus membelah kegelapan malam, namun bagi Lulu, perjalanan pulang ini terasa seperti waktu yang dihentikan secara sengaja. Lirik lagu yang mengalun pelan dari radio mobil seolah menjadi latar dari riuh pikiran di kepalanya. Angga menyetir dengan satu tangan, sesekali melirik Lulu lewat kaca spion tengah untuk memastikan gadis di sampingnya merasa nyaman. Tatapan penuh perhatian dan kelembutan yang Angga tunjukkan malam itu sangatlah berbeda dari sosoknya yang dingin dan tegas di kantor sukses membuat perasaan Lulu acak-adut. Malam itu, Lulu tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa memandang Angga dengan cara yang sama lagi.
Suasana di dalam mobil begitu hening. Angga menatap lurus ke jalanan malam, namun fokusnya sepenuhnya terpecah. Di sampingnya, Lulu duduk tenang, sementara di dada Angga ada gejolak hebat yang sukar dijelaskan. Sabuk pengaman yang tak sengaja tersangkut, wangi lembut dari rambut Lulu hingga tatapan mata gadis itu saat bersitatap dengannya di bawah remang lampu jalan sukses memicu debaran yang membuat nafasnya tertahan.Angga meremas kemudi makin erat.
"Nggak mungkin, ini bukan rasa suka," Batinnya tegas, mencoba menepis desiran aneh itu.
Ia menyakini debaran itu hanyalah bentuk rasa terima kasih yang teramat sangat. Lulu sudah bersedia hadir menjadi pelipur sepi untuk dirinya dan mengalirkan kehangatan yang sudah lama hilang di keluarganya.
Lagi pula, di sudut hatinya yang paling dalam, masih ada ukiran nama wanita lain yang belum usai. Angga menolak percaya bahwa hatinya bisa bergetar untuk orang baru. Ia berharap penuh debaran asing malam ini hanyalah bentuk emosi sesaat karena suasana yang sentimental.
Mobil terus membelah kegelapan kota, tapi pikiran Angga melayang jauh. Setiup angin AC mobil terasa dingin, kontras dengan hangatnya perasaan yang tadi sempat membuncah saat melihat Lulu tertawa bersama keluarganya.
Setiap kali pandangannya secara refleks melirik Lulu di kursi penumpang, ada rasa debar yang langsung menyengat di dadanya sebuah debaran yang membuat Angga merasa panik sekaligus bersalah.
Ada sesak yang menghimpit batinnya. Nama wanita dari masa lalunya itu masih tersimpan rapi di hatinya dan menjaga benteng yang selama ini ia pertahankan.
"Rasa ini hanya sebatas rasa terimah kasih dan tidak lebih" bisik Angga dalam hati, lebih seperti mantra untuk membujuk dirinya sendiri. Pria itu takut takut jika rasa bersyukur yang meluap ini perlahan-lahan mengikis kesetiaannya pada kenangan lama yang masih ia peluk erat.
Ia tidak boleh menyukai Lulu. Hatinya masih terikat pada sosok wanita lain yang belum bisa ia lepaskan. Angga memejamkan mata sejenak di balik lampu merah, berdoa dalam hati agar desiran ajaib di dalam mobil malam ini murni karena rasa haru bukan karena hatinya mulai berpaling.
Deru halus mesin mobil Angga akhirnya berhenti tepat di depan pagar kosan. Lulu bernapas lega meski debaran di dadanya belum sepenuhnya surut. Lampu sorot mobil Angga menyinari teras kosan tepat menerangi sosok Ibu Ina yang sedang duduk santai di kursi goyang.
"Makasih banyak ya, Pak Angga... untuk malam ini.." Ucap Lulu dengan pelan dan tingkahnya nampak canggung sebelum menutup pintu mobil. Angga hanya mengangguk pelan dengan senyum tipis yang membikin jantung Lulu makin tak karuan.
Namun, saat Lulu baru saja membuka pintu mobil, sosok Ibu Ina sang pemilik kos yang sedang terbelalak kaget. Begitu melihat siapa yang turun dari mobil megah itu, Ibu Ina sampai membetulkan letak kacamatanya berulang kali. Penampilan Lulu malam ini benar-benar membuat siapapun yang melihatnya akan pangling. Jauh berbeda dari kesehariannya yang biasa tampil polos dengan kemeja kantor sederhana.
"Ya Tuhan, Lulu?!" pekik Ibu Ina setengah berbisik. Wajah Lulu yang dipoles riasan halus serta gaun anggun yang melekat cantik di tubuhnya benar-benar berkilau di bawah lampu teras. Dan saat kaca mobil perlahan terbuka memperlihatkan pria tampan berkemeja rapi yang pernah mengantarnya dulu, mata Ibu Ina makin membulat.
"Ini mah pria tampan yang waktu itu lagi!" batin Ibu Ina gemas.
Sambil memperhatikan ketampanan Angga dari kejauhan yang tampak begitu serasi bersanding dengan Lulu, senyum jahil menyungging di bibir Ibu Ina. Ia tahu betul sepulangnya mobil itu nanti, Lulu tidak akan bisa lolos begitu saja dari interogasi manis khas ibu kos malam ini.
Begitu mobil Angga berlalu membelah kegelapan jalan, Ibu Ina langsung melangkah seribu membuntut di belakang Lulu sambil menepuk tangan.
"Aduh, Lu! Ini beneran Lulu anak kos Kamar 3?" goda Ibu Ina dengan mata berbinar-binar.
"Cantik banget bak putri raja begini! Terus itu... cowok ganteng yang waktu itu antar kamu tengah malam juga, kan? Hayo, ada hubungan apa kamu sama cowok ganteng itu?"
Wajah Lulu yang tadinya sudah merona makin membara seperti kepiting rebus. Pagi di kantor nanti saja sudah bikin pusing, sekarang ia harus menghadapi rentetan pertanyaan "pemeriksaan" dari ibu kosnya dulu.
"Ngg... enggak kok, Bu Ina. Itu cuma Pak Angga, atasan Lulu di kantor. Tadi cuma sebatas urusan pekerjaan.." Jawab Lulu terbata-bata, membetulkan letak tasnya untuk menutupi rasa canggung yang mendadak membakar pipinya.
Ibu Ina mendengus pelan sambil bersedekap, menatap Lulu dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan tidak percaya.
"Halah..., masa urusan kantor tampilannya anggun dan cantik begini, Lu? Bedak kamu aja masih nempel kinclong begini. Kamu habis dari mana malam-malam begini? Dari pesta kerajaan?" goda Ibu Ina dengan mata berbinar-binar.
"Lagian ya, Ibu kan nggak pikun! Mana ada cowok ganteng kayak gitu bela-belain nganter stafnya sampai depan pagar kosan tengah malam begini, terus dua kali lagi!"
Lulu hanya bisa tersenyum meringis, mengutuk dalam hati kenapa radar rasa ingin tahu ibu kosnya malam ini bisa setajam itu.
Lulu pun akhirnya meninggalkan ibu kosnya tersebut dengan segudang pertanyaan di kepalanya yang belum bisa ia jawab. Sesampainya di kamar ia segera masuk dan mengunci pintu kamarnya dan langsung membanting tubuhnya di kasur empuknya.
"Brak"
Lulu mengembuskan napas panjang yang sedari tadi seperti tertahan di dada. Gaun anggun yang melekat di tubuhnya kini terhampar berantakan di atas sprei. Lulu menatap langit-langit kamar yang remang, menyentuh dadanya yang masih berdegup kencang bukan cuma karena cecaran pertanyaan Ibu Ina tadi, tetapi karena sisa-sisa desiran asing saat bersama Angga di mobil.
Malam ini benar-benar terasa seperti mimpi yang riuh sekaligus menakutkan. Kehangatan keluarga Pak Mahenra, senyum manis Ami, tatapan intimidasi dari pria asing tersebut dan terlebih lagi tatapan hangat Angga... semuanya berputar tanpa henti di kepalanya.
"Jangan kepedean Lu... Dia itu atasanmu dan dia cuma bersikap baik," Bisiknya pada sunyinya kamar, mencoba membumikan hatinya yang mulai melayang, bersiap membentengi diri agar tak jatuh pada rasa percaya diri yang salah.
Masih memeluk bantalnya, Lulu memiringkan badan, menatap bayangan dirinya di cermin rias yang berdiri di sudut kamar. Wajahnya masih terpoles riasan cantik sisa-sisa penampilan yang sukses membuat semua orang terpesona malam ini. Namun, bukan gaun ini yang membuat kepalanya serasa mau pecah, melainkan teka-teki dari sikap Angga.
Mengapa pria yang biasanya begitu dingin dan berjarak di kantor itu bisa menatapnya selembut itu di mobil? Mengapa genggaman atau perhatian kecilnya terasa begitu tulus? Lulu memejamkan mata rapat-rapat, membenamkan wajahnya di bantal. Ia takut, takut jika kebaikan Pak Angga malam ini murni karena rasa terima kasih atas bantuan pekerjaan sementara hatinya sendiri sudah terlanjur melangkah terlalu jauh.
Langkah kaki Ibu Ina di luar kamar perlahan memudar, meninggalkan Lulu dalam keheningan total yang menenangkan. Di atas tempat tidurnya, Lulu meringkuk lalu meremas ujung bantalnya kuat-kuat. Malam ini terlalu banyak emosi yang tumpah ruah. Ada rasa bahagia karena diterima begitu hangat oleh keluarga Angga, namun ada pula ketakutan besar yang membayangi pikirannya.
Lulu menyadari satu hal pasti sebelum matanya terpejam besok pagi di kantor, berdiri di hadapan "Manajer Angga Pradipta" tak akan pernah sama lagi. Dan ia harus pintar-pintar menata hatinya agar tidak salah paham pada kebaikan sang atasan.
Masih dengan dada yang berdebar, Lulu merebahkan tubuhnya di kasur. Saat mengambil ponselnya dari dalam tas, sebuah notifikasi pesan singkat dari Lastri muncul di layar. Seketika rasa bersalah yang teramat sangat menyengat dada Lulu. Sahabatnya itu sedang terbaring sakit sendirian di kamar rumah sakit, sementara ia sendiri baru saja pulang dari acara pesta.
Tanpa membuang waktu, Lulu segera menekan tombol panggilan.
"Lastri... maafin aku ya," Bisik Lulu begitu suara lemah sahabatnya terdengar di seberang telepon. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku benar-benar nggak bisa mampir malam ini, sudah kemalaman banget. Tapi aku janji, besok pas jam istirahat kantor aku langsung meluncur ke rumah sakit!"
Terdengar terkekeh pelan dari ujung telepon.
"Aduh Lulu, santai aja kali. Aku paham kok, pekerjaan kantor kamu kan lagi menumpuk banget akhir-akhir ini. Kamu nggak usah paksain datang besok kalau capek. Mending kamu istirahat yang cukup buat besok pagi," Sahut Lastri tulus, sama sekali tidak menaruh curiga.
Pengertian dari Lastri justru membuat Lulu makin memeluk bantalnya erat. Ia merasa bersalah karena harus "menyembunyikan" alasan sebenarnya bahwa ia tertahan oleh gaun pesta dan kehebohan bersama atasan mereka.
"Kamu sudah makan malam belum, Las?" suara Lulu terdengar begitu cemas di dalam kamarnya yang hening.
"Sudah kok, Lu. Tadi suster sudah antar makanan," Jawab Lastri lembut.
"Kamu baru selesai urusan kantor ya? Dengarnya aja aku sudah kebayang capeknya kamu..."
Lulu menggigit bibir bawahnya, merasa tidak enak hati karena Lastri mengira ia sibuk lembur pekerjaan.
"Besok siang pokoknya aku ke sana ya, Las. Pas jam istirahat...."
"Nggak usah aneh-aneh deh, Lulu sayang"potong Lastri cepat... "
"Kamu itu kerja dari pagi sampai malam. Mending jam istirahat besok kamu pakai buat makan dan napas sebentar. Aku di sini aman kok, banyak suster"
Panggilan telepon itu pun ditutup dengan janji Lulu yang tetap terkunci. bagaimanapun Lastri melarangnya, besok siang ia harus tetap datang menjenguk sahabat terbaiknya itu.
semangat thor
jadi penasaran nih lanjut baca..