NovelToon NovelToon
PARIS NOIR

PARIS NOIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan alternatif / Komedi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Yossi anugrah

Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.

Entahlah.

Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.

Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.

Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.

Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...

Bienvenue à Paris.

Aku akan menjadi pemandu kalian.

Oh, dan satu lagi...

Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 Rumah Tanpa Alamat

Rumah tua itu sunyi.

Terlalu sunyi.

Di luar sana helikopter masih berputar di atas langit Paris.

Namun di dalam...

Yang terdengar hanya suara kayu tua yang berderit setiap kali kami melangkah.

Aku memperhatikan setiap sudut ruangan.

Rak buku memenuhi dinding.

Jam antik berdetak pelan.

Di atas perapian terdapat puluhan foto hitam putih.

Beberapa memperlihatkan jalanan Paris tahun-tahun yang lalu.

Ada anak-anak menjual bunga.

Ada pengamen.

Ada pencuci sepatu.

Dan...

Ada foto Marcel.

Masih muda.

Rambutnya masih hitam.

Di sampingnya berdiri Henri.

Mereka sedang tertawa.

"Jadi..."

kataku pelan.

"...kalian memang saling kenal sejak lama."

Henri mengangguk.

"Lima puluh tahun."

Aku hampir tersedak.

"LIMA PULUH?"

Léo bersiul.

"Wah..."

"Persahabatan kalian lebih tua daripada Menara Eiffel."

Henri menoleh.

"Menara Eiffel lebih tua."

"Oh."

Léo mengangguk.

"Kalau begitu aku gagal jadi orang pintar hari ini."

Aku menepuk bahunya.

"Hari ini?"

"Hampir setiap hari."

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Marcel akhirnya tertawa kecil.

Suara tawanya membuat rumah tua itu terasa hidup.

"Silakan duduk."

kata perempuan tua tadi.

Namanya ternyata Madame Odette.

Ia membawa teko cokelat panas dan sekeranjang roti yang baru dipanggang.

Begitu aroma mentega memenuhi ruangan...

Perutku langsung berbunyi.

Grrrrkk...

Semua orang menoleh kepadaku.

Aku tersenyum canggung.

"Itu..."

"...pendapat perutku."

Madame Odette terkekeh.

"Kalian pasti belum makan."

Aku langsung menunjuk Léo.

"Dia sudah."

"Maël!"

"Apa?"

"Kau mengkhianatiku."

"Maaf."

"Tidak diterima."

Madame Odette meletakkan keranjang roti di meja.

"Silakan."

Aku baru saja hendak mengambil satu.

"Eh!"

Suara Marcel menghentikanku.

"Apa?"

"Cuci tangan."

Aku menatap telapak tanganku.

Penuh debu.

Sedikit darah.

Dan...

Entah saus apa yang menempel sejak pasar tadi.

"Baik..."

gumamku.

"Masuk akal."

── Maël kepada kalian ──

Lucu ya.

Dikejar orang bersenjata tidak masalah.

Tapi makan tanpa cuci tangan...

Marcel bisa berubah menjadi monster.

Aku tidak pernah mengerti logikanya.

── Kembali ke cerita ──

Beberapa menit kemudian...

Kami duduk melingkari meja kayu tua.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

Aku makan tanpa terburu-buru.

Tidak perlu melihat ke belakang.

Tidak perlu takut ada polisi.

Tidak perlu menyembunyikan roti di balik jaket.

Aku memejamkan mata.

"Enak?"

tanya Madame Odette.

Aku mengangguk.

"Enak sekali."

"Kau tahu?"

katanya sambil tersenyum.

"Dulu ibumu juga selalu bilang begitu."

Aku berhenti mengunyah.

Lagi.

Lagi-lagi tentang ibu.

"Madame."

kataku hati-hati.

"Tolong."

"Ceritakan sedikit saja."

"Seperti apa beliau?"

Madame Odette tidak langsung menjawab.

Ia justru melihat Marcel.

Marcel mengangguk pelan.

Perempuan tua itu menarik napas.

"Ibumu..."

"...adalah perempuan yang paling keras kepala yang pernah kukenal."

Aku berkedip.

"Hah?"

Henri tertawa pelan.

"Itu benar."

"Kalau sudah punya tujuan..."

"...tidak ada yang bisa menghentikannya."

Aku tersenyum tipis.

"Kalau begitu..."

"...aku mewarisinya."

Léo langsung menunjukku.

"Iya."

"Keras kepala."

"Cerewet."

"Kadang menyebalkan."

"Hei."

"Apa?"

"Itu terlalu jujur."

Kami semua tertawa.

Suasana yang sejak tadi tegang perlahan mencair.

Namun tawa itu tidak bertahan lama.

Madame Odette mengambil sebuah kotak kayu kecil dari lemari.

Kotak itu tampak tua.

Di bagian atasnya terukir gambar...

Burung layang-layang.

Sama persis seperti pin milikku.

Jantungku kembali berdetak lebih cepat.

"Ini..."

gumamku.

"Kenapa lambangnya sama?"

Madame Odette meletakkan kotak itu di hadapanku.

"Karena..."

"...kotak ini memang menunggumu."

Aku menatap kotak itu.

"Untukku?"

Henri mengangguk.

"Selama dua belas tahun."

Tanganku perlahan menyentuh tutup kotak.

Aneh.

Entah kenapa tanganku gemetar.

Aku belum tahu apa isinya.

Surat?

Foto?

Atau jawaban yang selama ini kucari?

"Silakan."

kata Henri.

"Tidak ada seorang pun di ruangan ini yang berhak membukanya selain dirimu."

Aku menarik napas panjang.

Pelan-pelan kubuka penguncinya.

Klik.

Tutup kayu itu terbuka sedikit.

Belum sempat aku melihat isinya...

Terdengar suara kaca pecah dari lantai bawah.

PRANG!

Semua orang langsung berdiri.

Marcel refleks mematikan lampu.

Henri mencabut revolvernya.

Léo menelan ludah.

"Itu..."

bisiknya.

"...bukan suara kucing, kan?"

Belum ada yang sempat menjawab.

Terdengar suara langkah kaki.

Satu.

Dua.

Tiga.

Semakin dekat.

Lalu sebuah suara pria terdengar dari bawah.

"Temukan anak itu."

"Jangan biarkan dia membuka kotaknya."

Aku memejamkan mata.

Lalu menatap kotak kayu yang masih terbuka di depanku.

Ternyata...

Bahkan jawaban tentang hidupku pun...

Harus diperebutkan.

── Maël kepada kalian ──

Kalian pernah merasa hidup sedang mempermainkan kalian?

Aku baru saja mau membuka rahasia terbesar dalam hidupku.

Dan tentu saja...

Ada orang yang memilih waktu itu untuk datang merusak semuanya.

Kadang aku curiga...

Semesta memang tidak suka melihatku hidup tenang.

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku 🤍 di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka 💙
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!