NovelToon NovelToon
Terjebak Menjadi Villain Favorit

Terjebak Menjadi Villain Favorit

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Aruna tak menyangka kematiannya justru membawanya bertransmigrasi ke dalam novel kerajaan Eropa sebagai Lady Evelyne Ashcroft, villain yang ditakdirkan berakhir tragis.

Berbekal ingatan akan alur cerita, ia bertekad mengubah nasibnya dan menghindari semua bendera kematian. Namun, rencananya langsung berantakan ketika seluruh keluarganya dan sang tunangan tiba-tiba dapat mendengar isi pikirannya.

Rahasia masa depan yang terus terungkap membuat jalan cerita berubah. Keluarga yang semula membencinya mulai melindunginya, sementara tunangan yang seharusnya meninggalkannya justru semakin tergila-gila padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Aruna terpaku di tempat, tubuhnya kaku seolah tak mampu bergerak sedikit pun. Pandangannya masih terkunci pada sepasang mata tajam yang menatapnya lekat dari kejauhan.

Adrian Valerian, Putra Mahkota yang kelak dalam cerita asli akan menjadi pendamping hidup Isabelle, dan juga orang yang paling membenci Evelyne karena segala tingkah laku yang dilakukannya.

Dengan cepat Aruna menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.

"Yang Mulia."

Adrian tidak segera menyahut. Tatapannya masih tertuju lekat-lekat pada gadis itu, seolah sedang mencoba memahami sesuatu yang tak kasat mata. Tadi... ia mendengar suara Evelyne. Namun bibir wanita itu sama sekali tak bergerak.

[Jangan menatapku seperti itu.]

Suara yang sama kembali terdengar jelas di dalam kepalanya.

[Aku tidak mau berurusan denganmu.]

Alis Adrian perlahan berkerut. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Ia melirik sekilas ke arah Isabelle yang sedang berbincang dengan Duchess Helena. Gadis itu tampak tenang dan tak menyadari apa pun. Hanya dirinyalah yang mendengar suara itu.

"Lady Evelyne," panggilnya akhirnya.

"Ya, Yang Mulia?" Aruna mendongak dengan wajah tenang yang dipaksakan.

"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"

Aruna menggeleng pelan. "Sepertinya belum."

[Tentu saja belum. Kalau mengikuti alur cerita asli, pertemuan pertama kita seharusnya baru terjadi saat aku membuat keributan karena cemburu pada Isabelle]

Adrian terdiam sejenak. Cemburu? Isabelle? Ia kembali menatap gadis di hadapannya. Evelyne berdiri dengan tenang, tak ada sedikit pun tanda permusuhan atau kecemburuan yang terlihat di wajahnya.

"Begitu rupanya," ucap Adrian pelan, lalu mengalihkan pandangan.

Namun hati Aruna justru berdegup semakin kencang karena panik. [Syukurlah, dia pergi. Semoga setelah ini kita tak pernah berpapasan lagi.]

Langkah Adrian yang baru berjalan beberapa langkah tiba-tiba terhenti. Tanpa menoleh sedikit pun, sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyum samar. Entah mengapa... perasaan penasaran justru mulai tumbuh di hatinya.

Acara penyambutan siswa baru pun segera dimulai. Di dalam aula utama yang luas dan megah, para bangsawan muda berkumpul dengan pakaian terbaik mereka. Musik mengalun lembut memenuhi ruangan, sementara para pejabat kerajaan dan guru-guru menyampaikan sambutan dengan penuh khidmat.

Aruna duduk di samping Isabelle, berusaha menikmati suasana tanpa membiarkan pikirannya melayang ke mana-mana. Namun batinnya justru sibuk memutar ulang alur cerita yang ia hafal di luar kepala.

[Seharusnya hari ini adalah hari di mana Isabelle menarik perhatian sang Putra Mahkota. Setelah itu, hubungan mereka akan semakin erat. Lalu... barulah aku mulai cemburu dan melakukan hal-hal bodoh.]

Aruna menahan napas sejenak, lalu mengembuskannya perlahan. [Tapi sekarang aku tidak akan melakukannya. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin hidup tenang.]

Isabelle yang duduk di sampingnya seketika menoleh. "Lady Evelyne, apakah Anda merasa kurang sehat?"

Aruna segera tersenyum lembut. "Tidak, aku baik-baik saja."

Isabelle pun mengangguk puas.

Namun di barisan depan, Adrian kembali menoleh ke arah mereka. Kalimat itu terdengar begitu jelas di telinganya.

[Aku hanya ingin hidup.]

Kalimat sederhana itu membuatnya terdiam. Mengapa seorang gadis bangsawan terhormat seperti Evelyne mengucapkan hal yang seolah kematian sedang mengintainya dari dekat?

Setelah acara berakhir, para siswa mulai beranjak meninggalkan aula. Aruna berniat berjalan menuju taman untuk mencari udara segar, ketika seorang pelayan kerajaan berjalan mendekat dengan langkah teratur.

"Lady Evelyne."

Aruna berhenti. "Ya?"

"Yang Mulia Putra Mahkota memohon kehadiran Anda di ruang baca."

Wajah Aruna seketika berubah. "Apa?!"

[Kenapa dia mencariku?]

Pelayan itu tetap menunduk sopan. "Beliau menyampaikan ingin menanyakan sesuatu kepada Anda."

Kepanikan mulai merambat di dadanya. [Tidak boleh! Kalau aku menemui dia sendirian, alur cerita bisa berubah menjadi jauh lebih kacau!]

Ia hendak mencari alasan untuk menolak, namun suara seseorang terdengar dari ujung lorong yang luas.

"Biarkan dia datang."

Adrian berdiri di sana dengan sikap tenang namun penuh wibawa. Tatapannya tajam dan serius, seolah tak memberi ruang untuk penolakan. Aruna menyadari bahwa ia tak memiliki pilihan lain.

"Baik, Yang Mulia."

Ruang baca kerajaan begitu luas dan sunyi, berbau harum kayu jati tua dan kertas buku yang tersimpan rapi di rak-rak menjulang tinggi. Adrian berdiri dekat jendela besar yang membiarkan cahaya sore masuk dengan lembut, saat Aruna melangkah masuk ke dalam ruangan.

"Yang Mulia."

"Panggil aku Adrian," ucapnya tanpa berbalik badan.

Aruna tertegun. Dalam cerita asli, Evelyne bahkan tak pernah diizinkan menyebut nama sang Putra Mahkota secara langsung.

"Baik... Yang Mulia," jawabnya ragu.

Adrian pun berbalik perlahan menatapnya. "Aku ingin menanyakan sesuatu."

Aruna menelan ludah dengan susah payah. "Silakan."

"Apakah kau membenci Isabelle?"

"Tidak." Jawaban itu terlontar begitu cepat hingga Adrian nyaris tak mampu menahan senyum tipis yang muncul di bibirnya.

"Benarkah?"

"Tentu saja. Untuk apa aku membencinya? Bukankah dia calon pendampingmu?"

Adrian kembali terdiam. Calon pendampingnya? Ia menatap Evelyne dengan pandangan yang semakin tajam dan menyelidik.

"Kalau begitu, kau tidak keberatan jika aku menjalin kedekatan dengan Lady Isabelle?"

Aruna mengangguk mantap. "Sama sekali tidak keberatan."

[Malah itu bagus. Kalau kalian segera bersatu, aku bisa hidup tenang tanpa takut terseret masalah]

Adrian justru merasa bingung. Seharusnya ia merasa lega mendengar jawaban itu. Namun kenyataannya, perasaan di dadanya justru terasa ganjil dan tak menentu. Ia melangkah perlahan mendekat ke arah gadis itu.

"Bagaimana jika aku tidak ingin menjalin kedekatan dengannya?"

Aruna menatapnya bingung. "Kenapa?"

"Entahlah." Adrian menatap lekat ke dalam mata biru jernih milik Evelyne. "Bagaimana jika aku justru lebih tertarik pada orang lain?"

Aruna seketika membeku di tempat.

[Jangan bercanda! Jangan bilang dia sudah menyukai wanita lain?! Siapa? Siapa wanita itu?!]

1
Wahyuningsih
mampir q thor
haruuu
udahh kebongkar kocakk🤭
Fahreziy
👣👣👣
lin sya
sebastian penulis novel, atau pembaca novel yg nyasar kyk aruna, klo aruna bsa ubah alur ceritanya, otomatis dia bisa gk ya ttp selamat dan kluarganya ttp baik2 aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!