Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.
Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.
Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.
Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.
Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Anak Tanpa Bakat
Tendangan itu menghantam dada Lin Tian dengan keras.
Tubuhnya terpental, menabrak pilar kayu di halaman rumah, lalu jatuh berlutut di atas tanah berdebu. Rasa sakit menjalar dari tulang rusuknya, tetapi ia tidak berteriak. Ia hanya menggigit bibir, mengepalkan tangan, dan bangkit perlahan.
Di hadapannya, tiga pemuda berjubah biru berdiri sambil tertawa. Jubah itu milik Akademi Awan Biru, sekte kecil di Kota Qingshui yang terkenal sompong.
"Lihat, sampah Lin masih mau berdiri," kata pemuda paling tinggi di antara mereka. Namanya Zhou Wei. Usianya mungkin sembilan belas tahun, dua tingkat di atas Lin Tian. "Kau pikir bisa ikut ujian masuk sekte bulan depan? Meridianmu tertutup rapat, bodoh."
Lin Tian tidak menjawab. Ia menyeka darah di sudut bibirnya dengan lengan baju yang sudah lusuh, lalu menatap ketiga pemuda itu dengan tenang.
Matanya tidak memancarkan amarah. Juga tidak memancarkan ketakutan. Hanya keheningan yang dalam, seperti kolam yang tidak berdasar.
Zhou Wei tidak suka tatapan itu. Ia melangkah maju, meraih kerah baju Lin Tian, dan mengangkatnya hingga kaki pemuda enam belas tahun itu nyaris tidak menyentuh tanah.
"Aku dengar ayahmu masih sibuk menyelidiki gulungan tua itu," bisik Zhou Wei. Napasnya berbau arak murah. "Bilang padanya, jangan terlalu dalam menggali. Ada hal-hal yang sebaiknya tetap terkubur."
Lin Tian terdiam. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena firasat yang tiba-tiba muncul. Ayahnya, Lin Hong, memang seorang sarjana yang menghabiskan bertahun-tahun meneliti artefak dan naskah kuno. Beberapa bulan terakhir, ayahnya semakin sering mengurung diri di ruang kerja, keluar hanya untuk makan dan tidur sebentar.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," jawab Lin Tian pelan.
Zhou Wei mendengus, lalu melemparnya ke tanah seperti membuang karung beras. "Terserah. Ayo pergi," katanya pada dua temannya. Mereka berbalik dan melangkah keluar dari gerbang kediaman keluarga Lin.
Lin Tian tetap duduk di tanah, menatap punggung mereka yang menjauh. Kata-kata Zhou Wei terus berputar di kepalanya. Jangan terlalu dalam menggali.
Ancaman? Peringatan? Atau keduanya?
Kediaman keluarga Lin bukan rumah mewah. Hanya sebuah halaman persegi dengan empat bangunan kayu sederhana di pinggiran Kota Qingshui. Dulu, keluarga ini pernah dihormati. Kakek Lin Tian adalah seorang kultivator tingkat menengah yang disegani, dan ayahnya mewarisi perpustakaan kecil berisi naskah-naskah kuno tentang formasi, pil, dan teknik bela diri.
Namun sejak Lin Tian lahir, semuanya berubah.
Meridiannya tertutup. Seluruh tiga ratus enam puluh lima titik qi di tubuhnya seolah disegel oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh tabib maupun kultivator mana pun. Di dunia di mana bahkan petani pun bisa merasakan aliran qi samar, Lin Tian adalah anomali. Kosong. Mati rasa terhadap energi langit dan bumi.
Ibunya, Su Mei, pernah membawa Lin Tian kecil ke tujuh tabib terkenal di tiga kota berbeda. Hasilnya selalu sama. Tidak ada yang bisa dilakukan.
"Tubuhnya sehat," kata tabib terakhir yang mereka temui, seorang pria tua bermata tajam di Kota Lingnan. "Tetapi meridiannya… seolah sengaja dikunci. Maaf, Nyonya. Saya tidak mampu membukanya."
Ibunya menangis sepanjang perjalanan pulang. Ayahnya diam, tetapi Lin Tian melihat tangan pria itu gemetar saat memegang tali kekang kuda.
Lin Tian sendiri tidak pernah menangis karena hal itu. Bukan karena ia tidak sedih, tetapi karena ia tidak ingin menambah beban keluarganya. Sejak usia sepuluh tahun, ia memilih untuk mengisi waktunya dengan hal-hal yang bisa ia lakukan. Membaca. Berlatih fisik. Menghafal formasi dari naskah-naskah ayahnya.
Ia tidak bisa menyerap qi, tetapi ia bisa memukul batu hingga retak. Ia tidak bisa terbang di atas pedang, tetapi ia bisa berlari tiga puluh li tanpa berhenti.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Lin Tian sudah berada di halaman belakang, memukul tiang kayu dengan tinjunya. Ratusan kali. Ribuan kali. Kulit tangannya mengeras, membentuk kapalan tebal yang tidak pernah hilang.
Ayahnya pernah melihatnya berlatih sendirian di tengah hujan, dan malam itu Lin Tian mendengar suara isak tertahan dari balik pintu kamar orang tuanya.
Sore itu, langit di atas Kota Qingshui berwarna kemerahan, seolah terbakar dari ujung ke ujung. Lin Tian sedang duduk di beranda, membaca gulungan tentang formasi pelindung tingkat dasar. Matanya menangkap setiap garis dan simbol dengan teliti, meskipun ia tahu tidak akan pernah bisa mengaktifkannya sendiri.
Ibunya keluar dari dapur, membawa nampan berisi teh hangat dan kue wijen. "Tian'er, istirahatlah sebentar."
Lin Tian tersenyum dan menerima cangkir teh dari tangan ibunya. Jari-jari wanita itu hangat, dan untuk sesaat, dunia terasa tenang.
"Ibu, apakah Ayah masih di ruang kerja?" tanyanya.
Su Mei mengangguk, wajahnya sedikit murung. "Sudah tiga hari tidak keluar. Bahkan makannya hanya sedikit." Ia duduk di samping putranya, menatap langit merah di kejauhan. "Tian'er, ibu merasa tidak enak hati belakangan ini."
Lin Tian meletakkan cangkirnya. "Maksud Ibu?"
"Tidak tahu," jawab Su Mei pelan. "Hanya perasaan tidak nyaman. Seperti ada sesuatu yang mengawasi kita."
Lin Tian teringat kata-kata Zhou Wei siang tadi. Jangan terlalu dalam menggali. Ia ingin memberitahu ibunya, tetapi menahannya. Belum ada bukti. Mungkin Zhou Wei hanya menggertak.
"Aku akan bicara dengan Ayah nanti," katanya.
Su Mei mengangguk dan mengusap rambut putranya, meskipun Lin Tian sudah jauh lebih tinggi darinya sekarang.
Malam turun cepat, membawa udara dingin yang tidak wajar untuk musim ini. Lin Tian berbaring di kamarnya, tetapi tidak bisa tidur. Perasaannya gelisah, seperti ada jarum halus yang menusuk-nusuk tengkuknya.
Ia bangkit, duduk di tepi ranjang, dan mendengarkan.
Hening. Terlalu hening.
Biasanya ia bisa mendengar suara jangkrik dari kebun belakang, atau gonggangan anjing tetangga. Malam ini, tidak ada apa-apa. Hanya keheningan yang menekan, seolah seluruh kota menahan napas.
Lalu ia mendengarnya.
Suara langkah kaki. Banyak langkah kaki. Ringan, terkoordinasi, dan bergerak cepat mendekati kediaman keluarga Lin.
Lin Tian berdiri. Darahnya terasa dingin.
Ia menyambar pisau dapur yang selalu ia letakkan di bawah bantal—kebiasaan yang ia mulai sejak beberapa minggu lalu, tanpa alasan yang jelas—dan berlari ke arah kamar orang tuanya.
Pintu depan meledak.
Bukan didobrak. Meledak. Pecahan kayu beterbangan ke segala arah, dan Lin Tian melihat sesosok bayangan hitam melangkah masuk melalui lubang yang tadinya adalah pintu gerbang rumahnya.
Bayangan itu mengenakan jubah hitam pekat tanpa lambang apa pun. Wajahnya tertutup topeng besi berwarna gelap. Di belakangnya, berdiri setidaknya dua puluh sosok lain dengan pakaian yang sama.
"Istana Langit Hitam," bisik Lin Tian. Ia pernah mendengar nama itu dari percakapan ayahnya dengan seorang tamu beberapa bulan lalu. Ayahnya berkata dengan suara berbisik, dan ekspresinya saat itu adalah ketakutan yang tidak pernah Lin Tian lihat sebelumnya.
Sosok bertopeng itu menoleh ke arah Lin Tian. Di balik topeng besinya, Lin Tian merasa ada sepasang mata yang menatapnya tanpa emosi apa pun. Seperti menatap semut.
"Lin Hong. Gulungan itu. Serahkan, atau semua orang di sini mati."
Suara itu datar. Tenang. Bukan ancaman yang berapi-api, melainkan pernyataan fakta.
Pintu ruang kerja terbuka. Ayahnya muncul, wajah pucat, rambut berantakan, dan di tangannya tergenggam sebuah gulungan kulit yang berkilau samar.
"Tian'er," suara ayahnya bergetar. "Lari."
Lin Tian tidak lari. Kakinya terpaku di lantai, bukan karena keberanian, tetapi karena sesuatu yang lain. Instingnya berkata bahwa lari dari dua puluh kultivator adalah tindakan yang sia-sia.
Sosok bertopeng mengangkat tangan.
"Terakhir kali kami peringatkan. Serahkan gulungan itu."
Lin Hong menatap putranya, lalu menatap istrinya yang baru keluar dari kamar dengan wajah pucat pasi. Untuk sesaat yang terasa seperti selamanya, pria itu menutup matanya.
Ketika ia membukanya kembali, ia melempar gulungan itu ke tanah. "Ambil. Tapi biarkan keluargaku hidup."
Sosok bertopeng menatap gulungan di tanah, lalu menatap Lin Hong. Dan ia tertawa. Tawa pendek, kering, tanpa kegembiraan apa pun.
"Kau pikir aku datang hanya untuk gulungan itu?"
Tangannya bergerak. Cepat. Terlalu cepat untuk mata Lin Tian yang belum pernah berkultivasi.
Suara daging tertembus.
Ibunya berteriak.
Lin Tian melihat darah. Darah di mana-mana. Dan dunia yang ia kenal runtuh dalam satu malam.