NovelToon NovelToon
KUTUKAN GAUN PENGANTIN

KUTUKAN GAUN PENGANTIN

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Kutukan / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 2

​​Pagi di Kota A dimulai lebih cepat daripada biasanya. Sinar matahari baru saja menyentuh sudut jendela ruang kerja ketika Anindiya sudah duduk tegak di depan laptopnya. Secangkir kopi hangat di samping laptop mulai kehilangan asap tipisnya, sementara layar di hadapannya dipenuhi puluhan foto gaun pengantin dari berbagai perancang busana.

​Satu per satu ia memperbesar gambar yang menarik perhatian. Ada gaun bermodel ball gown yang dipenuhi detail payet berkilau, ada pula potongan A-line yang tampak modern dan minimalis. Semuanya indah, tetapi belum ada satu pun yang berhasil mengetuk instingnya.

​Sambil menghela napas, ia menggeser satu demi satu .

​"Masih belum ada yang pas?" gumamnya pelan pada ruangan yang hening.

​Jarinya terus menari , menghentikan kursor pada sebuah gaun bergaya klasik Eropa. Selama beberapa detik Anindiya mengamatinya dengan saksama, sebelum akhirnya kembali menggelengkan kepala.

​"Cantik... tapi rasanya terlalu pasaran. Model seperti ini sudah banyak di tempat lain."

​Buku catatan bergaris di samping laptopnya sudah dipenuhi coretan. Hampir semua sketsa dan nama vendor yang ia catat semalam kini ditandai silang. Bukan karena gaun-gaun itu jelek, melainkan karena Anindiya menginginkan sesuatu yang berbeda—sebuah gaun unik yang mampu membuat calon pengantin jatuh hati pada pandangan pertama.

​Ponsel di samping laptop bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari calon pengantin yang menanyakan ketersediaan jadwal konsultasi untuk bulan depan. Anindiya membalasnya dengan ramah dan cepat, seperti biasa. Tak butuh waktu lama, balasan berisi ucapan terima kasih lengkap dengan stiker senyum kembali diterima.

​Senyum tipis mengukir bibir Anindiya.

​Bagi Anindiya, setiap pengantin yang datang bukan sekadar klien, melainkan seseorang yang mempercayakan momen paling berharga dalam hidup mereka kepadanya. Karena itulah, ia selalu menuntut kesempurnaan pada setiap detail pekerjaannya.

​Suara raungan halus mesin sepeda motor yang berhenti di halaman sanggar membuyarkan konsentrasinya.

​Tak lama kemudian, pintu ruang kerja terdorong. Rina muncul sambil menyunggingkan senyum lebar, memegang dua bungkus nasi uduk hangat di tangannya.

​"Aku sudah tebak Mbak Anin pasti belum sarapan," cerocos Rina langsung meletakkan bungkusan itu di meja konsultasi.

​Anindiya menutup laptopnya sembari tertawa kecil. "Padahal baru mau turun ke dapur, Rin."

​"Untung aku datang tepat waktu. Kalau tidak, bisa-bisa Mbak cuma kenyang minum kopi dari tadi," balas Rina jenaka.

​Merekapun duduk berhadapan di meja kecil dekat jendela. Di sela sela sarapan, suasana pagi terasa begitu ringan. Mereka tertawa pelan saat Rina menceritakan kembali kejadian kemarin sore—tentang seorang calon pengantin pria yang saking gugupnya sampai tiga kali salah menyebutkan nama calon istrinya saat gladi bersih akad.

​Bagi Anindiya, momen-momen sederhana seperti inilah yang menjadi jeda penenang sebelum mereka kembali tenggelam dalam riuk-pikuk pekerjaan.

​Selesai sarapan, Anindiya membuka kembali buku catatan usahanya. Ia meneliti beberapa halaman daftar pengeluaran dan rencana penambahan inventaris sanggar. Pandangannya berhenti pada satu kalimat yang ia beri garis bawah tebal semalam: Koleksi Gaun Utama Baru.

​Ia menarik napas panjang, merapikan letak kacamata bacanya, lalu menutup buku tersebut. "Yuk, siap-siap. Hari ini kita berburu," ujarnya.

​Rina mengangguk antusias. "Siap, Mbak. Siapa tahu keberuntungan lagi di pihak kita hari ini."

​Sebelum berangkat, mereka turun sebentar ke lantai bawah tempat ruang koleksi berada. Cahaya matahari pagi menembus kaca depan sanggar, memantulkan pendar lembut di atas deretan gaun yang tersusun rapi di dalam etalase.

​Anindiya berjalan perlahan melintasi barisan manekin tersebut. Jemarinya dengan lembut merapikan lipatan kain salah satu gaun sutra. Gaun-gaun ini telah menjadi saksi dari begitu banyak air mata bahagia dan senyuman pengantinnya. Namun, zaman terus bergulir, selera pasar berubah, dan Anindiya sadar bahwa agar sanggarnya tetap bertahan, ia harus berani menghadirkan sesuatu yang baru.

​Ia mematikan lampu ruang koleksi, memutus aliran listrik, lalu meraih kunci mobil dan tasnya dari meja resepsionis.

​Beberapa menit kemudian, sedan putih Anindiya sudah melaju membelah jalanan Kota A. Keriuhan pagi mulai terasa; toko-toko mulai membuka tirai besinya, anak-anak sekolah menyeberang jalan, dan deretan kendaraan merayap pelan di persimpangan.

​Semakin jauh mereka berkendara meninggalkan pusat kota, pemandangan di balik jendela perlahan berubah. Gedung-gedung bertingkat dan papan reklame modern berganti dengan deretan ruko tua berarsitektur era kolonial. Cat dindingnya yang mengelupas dan papan nama kayu yang lapuk dimakan usia justru memberi kesan magis dan nostalgia tersendiri.

​Menurut alamat yang didapat Anindiya dari salah satu senior MUA yang ia hubungi semalam, butik yang mereka tuju berada di sudut kawasan kota lama ini—sebuah butik rumahan yang jarang tersentuh media sosial tetapi konon menyimpan koleksi gaun-gaun berkelas.

​Mobil memelankan laju saat memasuki jalanan yang lebih sempit dan teduh oleh pepohonan tua.

​"Itu tempatnya bukan, Mbak?" tunjuk Rina ke arah sisi kanan jalan.

​Sebuah bangunan tua berdiri megah di antara deretan toko lainnya. Halamannya bersih terawat dengan jendela kaca yang lebar. Di balik kaca depan, beberapa gaun pengantin dipajang anggun pada manekin kayu.

​Anindiya memarkir mobilnya tepat di depan ruko tersebut.

​Sebelum turun, ia sempat memperhatikan butik itu dari balik kemudi. Tidak ada yang aneh. Tempat itu terlihat tenang, bersih, dan memancarkan aura nostalgia yang menenangkan.

​Namun, saat Anindiya melangkah keluar dari mobil dan pandangannya menyapu bagian dalam butik lewat jendela kaca, matanya tertahan pada sebuah manekin di sudut paling belakang ruangan.

​Letaknya cukup jauh dari etalase depan, tersembunyi di balik pilar kayu tebal. Gaun yang dikenakan manekin itu tidak terlihat utuh karena tertutup remang bayangan ruangan.

​Meski begitu, ada sesuatu yang mendadak menahan napas Anindiya.

​Bukan karena gaun itu terlihat paling mewah, bukan pula karena kilaunya. Ada perasaan asing yang mendadak menjalar di dadanya—sebuah tarikan aneh yang sulit dijelaskan kata-kata, seolah gaun di sudut gelap itu secara diam-diam sedang memanggilnya untuk mendekat.

​"Mbak Anin? Jadi masuk sekarang?" tegur Rina, membuyarkan lamunan Anindiya.

​Anindiya berkedip pelan, menetralkan desiran aneh di dadanya, lalu mengangguk. "Iya, ayo."

​Ia mendorong gagang pintu kaca butik tersebut.

​Kling!

​Bunyi bel kecil di atas pintu berbunyi pelan, memecah keheningan butik yang sejak tadi terasa begitu sunyi.

1
Mega Arum
bagus kak.. cm kurang dlm dialog dan tokoh pemeran
andhig Rosdiana: siap kak ,sudah memberikan dukungan like dan komen ..untuk kedepannya saya akan lebih baik lagi dalam berkarya 💪
total 1 replies
MARQUES
semoga author lekas sembuh dan tetap semangat berkarya saya menantikan karya terbarunya 🙏
MARQUES
karya yang bagus author
andhig Rosdiana
jelas padat dan tamat 🤭
MARQUES
nah gitu dong cari tahu setelah kehilangan orang yang bisa di andalkan baru ngerasa janggal kan kalau ga sadar juga dah lha selanjutnya Anindya aja yang di incar🤣🙏
andhig Rosdiana
untuk beberapa hari kedepan author belum bisa melanjutkan bab berikutnya ,asam lambung author kambuh ,doain author cepat sembuh ya .jangan lupa tinggalkan like dan koment ya ...🙏
MARQUES: semangat terus buat author semoga lekas sembuh dan bisa up cerita baru🙏
total 1 replies
MARQUES
asli kesal banget sama Anindya jelas depan mata kenyataan begitu hadeh kalau didunia nyata ada orng begitu juga ku gaplok beneran kepalanya kesel asli🤣🙏
MARQUES: susah buat sabar Thor karna cerita nya menarik🤣🙏
total 2 replies
MARQUES
keras banget kepala si Anindya pingin ku gapluk biar sadar 🤣
MARQUES: sama sama author tetap semangat upload walaupun masih sepi pembaca terus up jangan berhenti ya author soalnya cerita nya bagus tanpa ada drama percintaan 🤣🙏
total 2 replies
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen supaya author tambah semangat berkarya👍🤭
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya suy🤭 supaya author lebih semangat lagi nulisnya 💪
MARQUES
mantap author sekali up banyak saya sangat senang tapi ga ada notif nya jadi telat baca🙏
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak ya suy like dan koment, terimakasih sudah memberikan dukungan
MARQUES
biasanya cewe keras kepala gini yang suka mencari masalah
MARQUES
absen author keliatan bagus nih ceritanya 🙏
andhig Rosdiana: siap .... terimakasih udah hadir dan memberikan dukungan ,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!