Di usianya yang masih dua puluh lima tahun, Alice telah menjadi janda. Suaminya meninggal di sebuah kecelakaan dengan wanita lain dan mewariskan banyak hutang gelap yang baru ia ketahui keberadaanya setelah kematian suaminya.
Usahanya terancam bangkrut dan seluruh propertinya terancam hilang sebagai jaminan hutang. Dia tak memiliki apa pun lagi dalam hidupnya.
Dengan penuh tekad, dia memutuskan untuk bertindak gila. Dia akan menawarkan diri menjadi wanita simpanan. Tidak masalah siapa pun yang akan menjadi lelakinya, asalkan ia kaya dan mampu membayarnya dengan mahal.
Jika ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan apa yang masih Tuhan sisakan untuknya, ia tak akan mundur meski moralnya terancam akan hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Zulfya Fauziyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA SEMBILAN
Anson baru saja meninggalkan teman kencanya di malam buta. Dia tak lagi merasa tertarik menjalin hubungan dengan wanita. Semuanya seolah sama saja.
Anson tersenyum getir. Semua ini karena Alice. sepuluh hari telah berlalu semenjak pertemuanya dengan wanita itu tetapi masih saja Alice berhasil merenggut fokus dirinya. Sosoknya terus menari-nari dalam memorinya, mengganggu semua konsentrasi yang ia miliki.
Ya Tuhan. Anson tak pernah mengira dia akan semerana ini karena seorang perempuan. Entah mantra apa yang telah wanita itu ucapkan.
Suara deringan ponsel menyadarkan Anson. William.
"Ada apa William?" sedikit janggal lelaki tua itu menghubunginya larut malam seperti ini.
"Tuan ... Kendrick telah berhasil menyewa pengacara handal dan menyuap sejumlah pejabat publik untuk menaikkan banding tentang sidang hak asuh Axel. Saya baru saja mendapatkan informasi ini dari seseorang yang kususupkan pada mereka. Sidang hak asuh Axel akan kembali digelar empat hari dari sekarang."
Anson mengepalkan jemarinya menahan amarah. Secepat itu mereka bertindak?
"William ... "
"Ya, Tuan ... "
"Bawa Axel ke tempat yang sangat rahasia. Meskipun mereka mendapatkan hak asuh Anson, aku akan membuat mereka kesulitan untuk menemukanya. Semakin tersembunyi, semakin baik."
"Baik, Tuan."
Anson menggeram marah. Axel adalah putranya, tidak ada yang berhak mengambilnya. Apakah Alice cukup bodoh untuk tetap bermain denganya? Wanita itu perlu melihat dirinya lebih serius.
...
Kendrick telah mencoba membantu Alice mengambil hak asuk Axel melalui jalan yang legal. Dia berseteru kuat dengan Anson secara hukum. Namun dua orang tersebut bagaikan lawan yang seimbang. Mereka sama-sama kuat dan sulit untuk terkalahkan.
Setahun lebih sidang itu berjalan tanpa menghasilkan keputusan pasti. Setiap kali Kendrick nyaris berhasil memenangkan kasus, Anson melawanya dengan cara yang kuat dan membuat materi sidang terulang dari awal. Begitu pun sebaliknya.
Suatu sore, Kendrick duduk bersama Alice menikmati pemandangan senja dari balkon lantai atas. Dia menggenggam beberapa lembar berkas yang berisi tentang perkembangan sidang terbaru dari pengacaranya seputar hak asuh Axel.
Alice mengamati lelaki yang tengah serius mempelajari isi berkas lampiran. Sesekali, lelaki itu tampak mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja. Fokus Kendrick patut diacungi jempol.
"Alice ... ," panggilnya kemudian.
Alice mengangguk menjawab panggilan darinya.
"Sepertinya sidang ini tak akan menghasilkan apapun ..., " katanya menggelengkan kepala.
"Apakah ada cara lain?" Alice sedikit tertekan.
Satu setengah tahun lebih dia tak bisa melihat putranya. Dia bahkan tak tahu wajah anak itu telah berkembang sejauh mana. Apa saja yang telah mampu dilakukan bayinya. Mungkinkah dia sudah berjalan? Berlari? Berbicara? Apakah dia sudah mampu memanggilnya?
Pertanyaan menyakitkan satu persatu muncul dari Alice. Kerinduanya telah menganak pinak tak terbendung. Setiap kali dia berjalan melewati sebuah poster balita, dia membayangkan wajah anaknya. Ya Tuhan ... semua itu lama-lama menyakitkan.
"Sepertinya aku bisa menggunakan cara yang illegal." Kendrick memberikan saran, seolah meminta persetujuan dari wanita itu.
"Illegal?'' Alice mengulang.
"Anson orang yang cukup kuat. Sulit untuk mengalahkanya secara langsung. Mungkin cara yang cukup efektif adalah mengalahkanya secara diam-diam. Kita bisa menyusupkan seseorang dan memberinya misi untuk mengambil putramu."
Menyusupkan orang? Alice menggeleng putus asa.
"Apa kau fikir aku belum pernah mencoba, Ken ... orang yang kukirim hanya namanya yang kembali. Nyawanya tidak pernah kembali."
Apakah sesulit ini untuk mempertahankan tekadnya mengambil darah dagingnya sendiri?
"Mungin orang yang kau gunakan bukanlah orang yang cukup kuat." Kendric melambaikan tangan seolah meremehkan.
"Tidak. Dia cukup kuat. Hanya saja Anson lebih kuat."
Alice teringat kembali teman Daniel yang tewas karena misi yang sama beberapa waktu lalu. Saat itu Daniel mengatakan temanya cukup kuat untuk bisa mengemban misi tersebut. Nyatanya tetap saja dia berakhir tragis.
"Aku yang akan mengambilnya sendiri, Alice."
Alice terkejut. Kendrick akan turun langsung? benarkah?
"Kau--"
"Aku sudah mendapat sedikit petunjuk dimana Anson menyembunyikan Axel. Kemungkinan antara Inggris atau Indonesia. Dia memiliki koneksi yang cukup hebat di dua negara tersebut. Jika orangku sudah mendapat informasi pasti, aku yang akan menanganinya langsung. Salah satu keahlian terbesarku adalah menyelinap, kau tahu?" Kendrick tersenyum bangga.
Alice mendekat seolah sulit percaya.
"Kau yakin?" tanyanya.
"Sangat." Kendrick mengangguk mantap.
Alice menatap wajah lelaki yang telah menemani hari-harinya setahun lebih. Dia sosok yang cukup pengertian dan sabar nyaris dalam semua hal. Alice selalu tersentuh atas semua tindakan Kendrick.
"Kenapa kau bersedia melakuan sejauh ini untukku, Ken?"
Kendrick tersenyum memandang Alice. Sorot matanya menawarkan kehangatan. Dia merengkuh jari jemari Alice, meremasnya pelan. Tiga bulan terakhir, kondisi Kendrick mengalami peningkatan. Dia bisa melakukan kontak fisik dengan Alice. Kondisi itu semakin berkembang, hingga mereka nyaris percaya mungkin saja gynophobia yang Kendrick derita telah berhasil disembuhkan. Mereka belum mencobanya sejauh mana Kendrick bisa menyentuh Alice, namun Alice yakin lelaki itu mampu memilikinya. Hanya saja, Kendrick memilih menahan diri karena alasan-alasan tertentu.
"Jika Axel berhasil kita dapatkan, apakah kau bersedia hidup denganku disuatu tempat dan membentuk keluarga yang sesungguhnya?" Kendrick menawarkan sesuatu yang mampu membuat hati Alice berdesir.
"Sudah kubilang aku akan meninggalkan dunia gelap, Alice. Mari kita menetap di suatu tempat yang tak bisa dijangkau oleh Anson, membentuk kehidupan baru, dan cobalah menjadikan pernikahan ini berhasil." Kendrick mengecup punggung tangan Alice.
"Alice ... "
Alice mengerjap beberapa kali. Kendrick adalah lelaki yang teramat baik. Bisakah ia menolak harapan tulus darinya?
"Setelah aku berhasil membawa Axel, aku akan menjadikan pernikahan kita sempurna Alice. Aku akan mengklaim dirimu menjadi milikku seutuhnya. Kau telah membuatku mampu merasakan kembali emosi-emosi yang dulu pernah kumiliki ... "
Kendrick mengusap puncak kepala Alice penuh perasaan. Dia mengecupnya lembut dan membisikkan banyak janji indah untuk wanitanya.
"Kau tahu, aku lelaki yang sangat pengertian
Aku akan menunggumu siap untuk menyempurnakan pernikahan kita," kata Kendrick berhasil membuat Alice memerah.
...
Hari demi hari berlalu dengan berbagai peristiwa yang terlewati. Alice melepas kepergian Kendrick di suatu pagi di musim panas untuk melakukan apa yang telah ia janjikan. Katanya, lelaki itu telah berhasil mendapatkan tempat persembunyian Axel. Diluar dugaan, Anson justru menyembunyikanya dikota ini. Suatu tempat yang bahkan tak pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya.
Siapa sangka Anson memilih kota yang sama untuk menyembunyikan putranya. Dari semua tempat yang Alice bayangkan, New York adalah kota terakhir dalam dafarnya.
Empat hari setelah kepergian Kendrick, Alice membuat janji makan siang dengan Rachel dan Daniel di suatu tempat. Semenjak Daniel keluar dari penjara, hubungan mereka bertiga semakin erat. Mereka seolah mulai terhubung dengan sebuah benang merah tak kasat mata.
Alice menunggu kedatangan dua orang temanya dengan memutar sebuah lagu slow rock melalui ear phone. Suasana hatinya sedang membaik saat ini. Bisnisnya semakin lancar, dan impianya bertemu dengan putranya semakin dekat. Keajaiban benar-benar telah terjadi dalam hidupnya.
"Menunggu lama?" Rachel menyapa Alice dengan suara sedikit keras. Setiap menggunakan ear phone, respon indra pendengaran Alice seolah tidak berfungsi dengan dunia luar. Dia seperti terjebak dalam dimensi sendiri.
"Cukup lama. Mana Daniel?" Alice melepas ear phone dan berkonsentrasi menyambut kedatangan Rachel.
"Kau tak akan percaya jika kukatakan." Rachel tersenyum penuh teka teki.
"Ada apa? Kau menyembunyikan sesuatu lagi dariku?" Rachel benar-benar mengesalkan.
"Kau tahu? seminggu yang lalu dia berkenalan dengan seorang wanita, putri dari kolega bisnisnya. Dan tebak sekarang dia dimana? Mereka sedang keluar bersama ke sebuah tempat. Sepertinya kali ini wanita itu berhasil membuat Daniel bertekuk lutut." Rachel berbinar menceritakan perkembangan terbaru Daniel. Alice tersenyum senang, ikut merasa lega akhirnya lelaki baik itu menemukan persinggahan hatinya.
"Baguslah. Aku bersyukur dia menemukan wanita yang baik. Dia pantas mendapatkanya," aku Alice.
"Kau benar. Setidaknya, dia berhasil move on dari dirimu. Sebelumnya aku pernah khawatir dia tak akan bisa berhenti mencintaimu," Rachel terkekeh geli. Dia teringat bagaimana Daniel sempat tergila-gila terlalu lama dengan temanya itu.
"Setiap orang butuh waktu untuk menyembuhkan sakit hati, Rachel," Alice berkata bijak. Dia memanggil seorang pelayan dan memesan beberapa menu sebagai hidangan utama.
"Bagaimana perkembangan usahamu untuk mengambil Axel?" Rachel membuka topik yang selama satu setengah tahun ini menjadi momok bagi hidup mereka.
"Kendrick sedang berusaha mengambilnya. Doakan saja dia berhasil kali ini. Aku sudah tak tahu lagi harus bagaimana jika gagal lagi." Alice memain-mainkan hiasan meja didepanya dengan perasaan sedikit kalut.
"Kuharap kali ini berhasil, Alice. " Rachel ikut bersimpati.
Mereka terdiam cukup lama, tenggelam dalam fikiran masing-masing. Hingga kemudian Rachel memberikan sebuah pertanyaan.
"Jika ini tak berhasil, bisakah kau melepaskanya saja? Setidaknya, terimalah keadaan dan cobalah membangun hidupmu kembali. Bukankah kau bisa memiliki anak lagi?"
Melepaskan dan menerima keadaan? Seandainya saja semudah itu, Alice pasti tergoda untuk menyerah sejak dulu. Namun setiap kali dia ingin berhenti, bayangan putranya yang masih kecil menghantui nuraninya. Dia tak sanggup untuk berhenti mengejar bayinya sendiri. Tidak akan pernah.
"Aku tidak bisa, Rachel," jawab Alice lirih. Dia menggeleng memikirkan kemungkinan tersebut.
"Bagaimana jika masih saja tak berhasil? Apakah kau akan menghabiskan sepanjang hidupmu hanya untuk melakukan pencarian sia-sia ini? Akankah kau membuang semua kesempatan yang kau miliki hanya untuk mengejar suatu ketidak pastian?" Rachel memandang Alice, mencari kejujuran disana.
"Entahlah Rachel,"
Apakah kehidupanya memang akan sesuram ini? masa depan yang seperti apa yang menantinya? kehilangan yang ia alami telah lama membuat emosinya kacau.
Sebuah panggilan dari Kendrick berhasil mengembalikan kesadaran mereka. Alice segera merespon panggilan tersebut, mengalihkan pikiranya dari pembicaraan sebelumnya.
"Aku sudah berhasil membawa Axel. Pulanglah sekarang."
...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Kok ga pernah up cerita lagi di NT??