Pengusaha muda, Kevin Martine Abraham bertemu dengan penulis novel Sarah Nicole. Kevin yang memiliki segalanya, berusaha mendapatkan hati Sarah, pria itu diam-diam mengikuti Sarah hingga membuat Sarah risih.
Mungkinkah Sarah akan menerima Kevin masuk ke dalam kehidupan sederhananya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyu Ela Safitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Kamar bernuansa mewah dengan warna dominan putih mengisi sore wanita yang tengah berdiri di depan jendela besar mengarah langsung ke lapangan golf yang tak jauh dari sana, lapangan milik keluarga Marley. Sarah teringat seseorang yang beberapa hari ini membuat tidurnya tidak nyenyak.
Seorang pelayan mengetuk kamar Sarah pelan.
“ya masuk”.
“nona Nicole, sudah ditunggu tuan Barom di bawah”.
“sebentar lagi aku turun”.
Pelayan tersebut mengangguk dan keluar dari kamar Sarah.
Dress hitam selutut dengan lengan pendek dan flatshoes menambah kadar kecantikan wanita itu. Keluar dari kamar menuju lantai utama menemui Barom yang menunggu di ruang tamu. Pria tampan itu sangat cocok dengan tuxedo hitam yang dipakainya.
Tersenyum manis pada Sarah yang menuruni tangga.
“sudah siap?”.
“kita akan pergi kemana?”.
“suatu tempat, peninggalan ayah dan ibu”.
Barom menggandeng tangan Sarah keluar dari rumah memasuki mobil mewah milik Barom yang tersimpan rapi di garasi mobil. Beberapa mobil mewahnya yang ia pilih adalah mobil anti peluru, banyak yang menginginkan kematian Sarah karena suatu hal dari masa lalu orang tuanya.
Tanpa pengawalan, Barom membawa Sarah ke sebuah tempat yang jarang diketahui orang. Sebuah rumah biasa, bercat putih agak usang, layaknya rumah kosong tak berpenghuni.
“kita ada dimana?”.
“rumah ayah dan ibu”.
Sarah dan Barom keluar dari mobil, memang rumah tersebut seperti tidak berpenghuni, namun beberapa rumah yang dekat dengan rumah tersebut diisi semua anak buah Barom, mereka yang menjaga rumah itu dari jauh agar tidak ada yang curiga dengan rumah tersebut.
Barom membuka rumah tersebut dengan kunci yang dibawanya, mengajak Sarah untuk masuk dan menguncinya kembali dari dalam. Gelap, itulah yang menggambarkan dalam rumah sederhana tersebut.
“sentuh buku tersebut”. Perintah Barom
Sarah pun mengikuti apa yang diucapkan Barom, dia menyentuhnya lembut, tiba-tiba lantai yang ada di depannya terbuka, dan perlahan lampu di bawah nyala satu persatu.
“bagaimana mungkin?”.
“ayo masuk”.
Mereka turun ke bawah menggunakan tangga, sebuah ruangan luas berada di bawah tanah.
Sarah mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Tiba-tiba pintu tertutup tat kala mereka menginjakkan kaki ditangga terakhir.
“bagaimana kita bisa keluar?”.
“tenang saja, disana ada buku yang sama, itu untuk membukanya”.
Sarah mengangguk.
“aku baru pertama maasuk kesini”.
“hah?”.
“hanya kau yang bisa membukanya, karena pintu ini hanya menggunakan telapak tanganmu, aku mendengar semua dari paman. Disini harusnya ada rahasia ayah dan ibu”.
Barom melangkahkan kakinya menuju sebuah lingkaran yang berada di tengah ruangan, disana juga ada sebuah kaca di lantai, dari dalam kaca tersebut keluar cahaya yang sangat terang tat kala Barom menginjakkan kakinya, namun kala Barom turun, tabung yang terbuat dari kaca muncul dari lantai, di dalamnya ada sebuah berlian, berlian yang hilang beberapa tahun yang lalu milik museum, buku, dan juga sebuah memori.
“apa itu?”.
“entahlah aku tidak tau”.
Sarah menyentuh tabung tersebut, tiba-tiba atas tabung terbuka dan cahaya menjadi redup.
Barom mengambil buku itu dan membukanya lembar demi lembar.
Sebuah catatan yang ditulis oleh tuan Marley, ayah mereka berdua. Tentang keluarga dan bagaimana mereka menyayangi kedua anak mereka, bagaimana mereka merelakan mati asalkan anaknya selamat.
Beberapa tahun yang lalu ada pencurian di museum oleh golongan putih, berlian tersebut dicuri oleh golongan putih. Tuan Marley adalah salah satu anggota golongan putih, sebelum bergabung dengan golongan mereka, tuan Marley berteman baik dengan tuan Abraham sejak kecil, mereka hidup bersama di Singapura, karena tuntutan, tuan Marley ikut dengan golongan putih, namun hanya satu tahun bergabung, tuan Marley sudah membuat anggota Mafia yang sekarang sangat di takuti di Asia.
Hingga satu rapat besar
Flashback
Seorang pria paruh baya dengan luka bakar ditangan kanannya memimpin sebuah rapat besar yang didatangi banyak orang pengikutnya.
“saya menginginkan batu berlian yang ada di museum, kita akan mengusai dunia jika mendapatkan batu tersebut”. Ucap pria tersebut dengan tegas pada semua anggota yang terdiri dari 20 orang penting di seluruh dunia.
“saya tidak setuju”. Ucap Marley berdiri dari duduknya dan menatap semua orang yang memandangnya tidak suka “batu itu bukan milik siapapun, batu itu akan tetap menjadi peninggalan”.
“bodoh, kalau kau tidak setuju maka kau harus meninggalkan golong putih dan pergi ke neraka”.
“tidak, saya tidak akan membiarkan batu berlian tersebut mengakibatkan dunia hancur”.
“baiklah, kalau bbegitu kau keluar dari golongan putih dan tunggu tanggal kematianmu”.
Marley keluar dari ruangan tersebut, menemui Abraham di kantornya yang masih berpusat di Singapura.
“kenapa kau datang kemari?”. Cecar Abraham dengan wajah tidak suka, dari awal Abraham tidak ingin sahabatnya ikut golongan putih.
“aku sudah dikeluarkan dari golongan”.
“apa? kau tau konsekuensinya?”.
“ya aku tau”. Marley menunduk “tolong selamatkan baru berlian yang ada di museum”.
“kenapa batu berlian?”.
“batu itu berisi sebuah chip yang bisa menghancurkan dunia, siapapun yang memegangnya dengan tak bertanggung jawab mereka akan memanfaatkan untuk hal yang tidak baik. Golongan putih menginginkannya”.
“lalu? Kau sadar dengan nyawamu, anak-anakmu?”.
“ya aku tau”.
“lalu?”.
“tolong bantu aku”.
“baiklah bagaimana aku bisa membantumu?”.
“mengambil batu berlian tersebut dan menyimpannya di ruang bawah tanah milikku di Hongkong”.
“tolong jaga juga anakku Barom sewaktu aku tidak ada”.
“bagaimana dengan Nicole, dia masih terlalu kecil”.
“aku akan membawanya ke New York, Golongan putih jarang berfikir untuk ke New York”.
“baiklah kalau itu keputusanmu”.
Flashback off
Barom memandangi berlian tersebut, memang ada sebuah chip rahasia didalamnya, namun dia sendiri tidak tau apa kegunaan chip tersebut, sedangkan dunia tengah baik-baik saja.
Tat kala Barom mencoba menghubungi Zhiyang, ponsel nya tidak ada koneksi internet sama sekali, bahkan layaknya mode pesawat.
“apa gunanya hal ini?”. Tanya Sarah pada sebuah memori yang juga ada di dalam tabung tersebut.
Barom mengambilnya dan memutarnya di layar kecil disana.
Sebuah gambar kedua orang tuanya di depan kamera.
Hi, Barom
Hi, Nicole
Ini ayah dan ibu, maaf kalian tidak mendapatkan hak kalian yaitu kasih sangat dari kami, dan untuk Nicole, maafkan ayah dan ibu telah meninggalkanmu di panti, ayah yakin Micella menyayangimu dengan baik.
Ucap tuan Marley sembari menggandeng tangan istrinya.
Ibu hanya berharap kalian saling menyayangi ssatu sama lain, kalian adalah saudara kandung. Ibu sangat bersalah pada kalian karena tidak disisi kalian selama perkembangan kalian menuju rmaja ke dewasa.
Jelas nyonya Marley dengan air mata yang turun ke pipinya
Barom, jaga adikmu baik-baik.
Dan untuk berlian itu, di dalam nya adalah sebuah Chip penting, jangan sampai ada yang tau tentang chip tersebut.
dan inilah yang bnyak terjadi novel2
*kalau pemeran utama wanita meninggalkan pemeran utama pria, itu dianggap bukan kesalahan, kalau pun salah minta maaf semua beres yang parah lagi mereka akan menyalahkan pemeran utama pria
*tapi jika pemeran utama pria yang tinggalkan pemeran utama wanita itu adalah kesalahn paling besar, tidak akan mudah dimaafkan, pemeran akan dibuat mengemis2 maaf
gk suka sama klakuannya thoooor.......suka nabur benih🤣🤣🤣