Seorang abdi negara yang berusia matang, di pertemukan dengan gadis muda yang tingkahnya mirip petasan.
~
"Okee, kalau gitu kita fix tidak ada apa-apa yaa?"
"Iya, saya fix benar-benar pacar kamu!" jelasnya lagi sambil menirukan gaya bicara gadis di depannya.
"Apa?"
"Ihh, Bapak jangan ngawur yaa!"
"Saya tidak ngawur, sudah kamu sebaiknya cepat istirahat."
"Tidak mau! Saya mau Pak Braja tarik kata-kata barusan."
"Pantang bagi saya menarik ucapan yang sudah saya katakan."
"Uhhh! Ranti over kesal, ia mendelik sambil memukul-mukul dada bidang pria tersebut. "Kalau begitu rasakan bagaimana punya pacar yang rewel dan juga merepotkan, satu lagi jangan sampai siapapun tau perihal ini, kalau tidak saya sunatt ulang burung bapak," ancamnya dengan raut ketus yang sayangnya nampak berkebalikan dan begitu konyol.
Mendengus geli, Braja mengangguk mengiyakan ucapan gadisnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerewelan Ranti 1
Ranti terdiam dengan kepala menengadah, melihat Braja yang berdiri menjulang di hadapannya. Pria itu menunduk, dengan raut yang senantiasa datar menanti jawab dari pertanyaannya barusan.
Lalu gadis itu kembali menunduk, ia lantas berdiri dan siap untuk melenggang pergi.
"Kak Niko," tukasnya sinis kemudian melangkah pergi. Niat hati ingin menghindar, ehh tidak di duga pria itu malah meraih jemarinya.
Aduhh ...
"Tunggu," seru Braja. Pria itu saat ini sedikit menarik tubuh Ranti hingga gadis itu dapat sepenuhnya bersitatap dengannya, tanpa harus berbalik atau sekedar membuang muka.
"A_paa?" Ranti yang beradu pandang langsung dengan Braja seperti ini, kontan di landa gugup. Bayang-bayang kilas balik kecupan semalam kembali melintas di benaknya.
Haduhh, setan mesum! Minggir dulu sana ... Minggir ihh!
Sumpah demi apapun, Ranti benar-benar grogi saat ini.
"Ikut ke ruangan saya."
"Tidak mau!"
"Kenapa tidak mau?"
"Ya pokoknya tidak mau, sudah ahh, aku mau balik ke ruangan keburu di cari yang lain nanti," ia kemudian melepas paksa belitan tangan pria itu. Beruntung Braja saat itu tak menduga akan gerakannya, jadi ia dapat dengan mudah lepas darinya. Namun ...
"Tunggu,"
"Apa lagi?"
"Saya bilang ikut keruangan saya," Braja sedikit menekan ucapannya, pria itu pun nampak menatapnya tajam meski samar tak begitu kentara.
"Ihh, di bilang enggak ya enggak!" tukasnya kesal. Raut Ranti saat ini seperti menahan tangis, bibir mencebik dengan ujung hidung yang merah padam. Entah kenapa, tiba-tiba rasa ingin menangis merambat cepat di ulu hatinya.
Braja yang melihat pun menaikkan sebelah alisnya heran. "Kamu kenapa?"
"Aku gak apa-apa, udah aku mau balik."
"Ranti."
"Apa lagi sihh," dengusnya tak tahan lagi, ia sampai merengek sebal dengan tangis yang siap meledak.
Tanpa pikir panjang, Braja lantas kembali meraih tangannya dan menariknya meninggalkan lapangan. Tak peduli ada beberapa pasang mata yang menaruh kepo akan kedekatan mereka.
Tiba di rungannya Braja lantas mengajak gadis itu masuk. Tak lupa ia sempat mengunci pintu setelahnya.
Melihat itu, Ranti sedikit tersentak sambil tergugu. Dengan wajah merah padam serta tatapan nanar nan hidung mulai berair, saat itu juga Ranti langsung menangis meraung tanpa tahu malu.
"Huaaaa ... Hikss!"
Braja yang saat itu tengah mengambil sesuatu di sekat ruangan lain yang ada di dalam ruangan itu, kontan terjengkit kaget begitu mendengar tangisan Ranti yang cukup kencang.
Ia kemudian tanpa menghiraukan sesuatu yang akan ia ambil, melangkah segera ke sumber suara.
Di sana, di sisi meja Ranti berdiri, menangis meraung hingga pundaknya bergetar naik turun. Suara besutan ingus ikut terdengar dengan raut yang basah serta bibir yang mencebik lucu.
Braja kontan yang melihat itu langsung mendekat dengan raut panik namun sebisa mungkin ia tahan.
"Loh, kenapa nangis?"
"Syutt, diam yaa ... Tenang," bujuk Braja, Ia mendekat dengan raut panik.
"Hiks ... Hiks ... Huaaaa!" bukannya mereda tangis gadis itu malah semakin meraung kencang.
Sontak Braja semakin kalang kabut, ia meraih jemari gadis itu untuk ia bimbing duduk di sofa panjang yang berada di balik tembok pembatas dan Ranti pun nurut-nurut saja.
"Cup, cupp ... Tenang Ranti, sudah jangan nangis. Ya allah sebenarnya kamu ini kenapa?"
Menelan ludah dalam kebingungan, tak pelak ini pertama kalinya ia di hadapkan wanita menangis selain ibunya, dan situasi kali ini terlewat pelik untuk ia tangani.
Terbiasa dengan sosok yang dewasa dan juga santun, membuatnya berpikir keras jika sudah begini. Sosok Ranti ini termasuk pribadi yang keras kepala dan susah di tebak. Meskipun usianya tak jauh berbeda dengan Caca, tapi Ranti cenderung mirip anak kecil di bandingkan dengan gadis seumurannya.
Bingung dengan apa yang harus di lakukan, akhirnya logika harus menyerah mengandalkan hati.
Tubuh seolah memiliki gerak otomatis ketika badan mengikis jarak sambil tangan merentang dan membawa Ranti kedalam dekapannya.
Mulanya terkesan kaku dan ragu, hingga kelamaan Braja mulai terbiasa dan semakin mengeratkan pelukannya. Ia bahkan menepuk pelan punggung ringkih itu sambil mengendus nan mencium lembut puncak kepala Ranti.
"Shutt ... Tenang yaaa,"
"Kalau saya ada salah, saya minta maaf,"
"Jangan menangis meraung begini, nanti di kira saya apa-apa kan kamuu," bujuknya lagi dengan suara yang begitu lembut dan tak lagi ketus seperti biasa.
Ranti lantas membesut hidungnya, ia mengeratkan jemarinya di pinggang Braja sambil menenggelamkan wajahnya di dada pria itu tak perduli jika jejak basah tertinggal di seragam PDH nya. "Hikss .... Sakitt ...,"
"Huhh? Sakit?"
Braja lantas menjauhkan tubuhnya lalu memeriksa rona sembab di wajah Ranti.
"Apanya yang sakit?"
"Ini," sahutnya dengan isak tangis sambil menunjuk area perutnya.
"Perut kamu sakit?"
Gadis itu mengangguk samar sambil sesenggukan.
"Kalau begitu kita ke ruang medis, biar kamu di periksa."
"Gak mau."
"Kenapa tidak mau lagi? Dari tadi hanya itu terus yang kamu ucapkan."
Ranti mendelik. "Katanya siap menghadapi kerewelan ku? tapi baru nangis gini udah keliatan gak sanggup gitu. Ya sudah aku mau balik aja," ketusnya lalu beranjak berdiri.
Dan Braja tentu tak membiarkan hal itu. "Bukannya tidak sanggup, tapi kalau sudah bicara tentang penyakit itu bukan ranah saya lagi. Jadi dari pada terjadi hal yang tidak-tidak kepada kamu, lebih baik saya antarkan kamu ke pihak yang lebih paham," jawabnya kalem, sebisa mungkin ia berlaku sabar untuk mengatasi Ranti yang tengah rewel begini.
Terakhir kali ia menghadapi Caca menangis itu saat usia smp, itu pun tangisnya tidak separah ini. Cukup di beri nasihat serta pelukan hangat tangis cepat mereda. Tapi kalau Ranti, Baru 5 menit Braja sudah merasa pusing tujuh keliling.
Sedu sedan masih terdengar dari gadis di dekapannya. Besutan ingus hingga mata sembab tak mampu terbuka nampak jelas di parasnya yang mungil.
"Hiks,"
"Saya tadi ada kue manis dari salah satu ibu persit di sini, bentuk lucu seperti kamu. Kamu mau tidak?"
"Huh?" Ranti menengadah masih dengan sesegukan.
Braja tentu balik menatapnya. "Saya tidak tau nama kue nya itu apa? Tapi warnanya beranekaragam, kamu mau coba?" tanya Braja sekali lagi sambil menyeka air mata gadis itu.
Ranti yang notabennya pecinta semua jenis makanan, kontan mengangguk kecil dengan netra yang berkedip lamat.
Sejurusnya pria itu mengambil sesuatu yang tadi sempat terjeda. Satu buah kotak besar berwarna pastel, ia letakkan di sisi Ranti, sementara dirinya memilih berjongkok agar gadisnya tak susah payah mendongkak untuk berbicara dengannya.
Ingatnya, Braja sedang berusaha menjadi pacar yang pengertian.
"Coba buka."
Melirik sekilas, Ranti lantas meraih kotak itu di pangkuan dan membukanya. Masa bodoh dengan rasa gengsi serta penampakan wajahnya yang ia percaya tak nyaman di pandang, ia tetap membukanya. Begitu terbuka, harum manis serta penampakan yang elok hingga ia enggan berkedip tanpa sengaja membuatnya mengulas senyum tak sabar.
Dengan sorot nampak berbinar meskipun sarat akan gurat tangis yang masih begitu kentara.
Tanpa pikir panjang, jemarinya meraih salah satu potong cookies gang begitu menarik mata, dan happ. Ranti langsung tersenyum lebar ketika satu gigitan penuh masuk ke dalam mulutnya yang mungil.
"Enak?"
Ranti mengangguk.
"Manis," katanya di sela kunyahan.
Braja yang melihat itu sontak mendesah lega, akhirnya si bocah petasan dapat ia jinakkan. Ternyata tidak terlalu susah menarik hati gadis ini jika sudah tau selanya dimana, cukup di beri kudapan manis Ranti langsung auto ceria dan lupa akan yang sudah-sudah.
Satu persatu kue dalam kotak ia tandaskan, hingga tak terasa lebih dari separuh sudah ia makan. bersendawa kecil, Ranti mengulas senyum malu kepada Braja yang sedari tadi memperhatikannya.
"Maaf, aku makannya kebablasan," ucapnya malu.
Braja hanya tersenyum simpul. "Sudah kenyang?"
Gadis itu mengangguk.
"Perutnya masih sakit?"
Gadis itu menggeleng.
"Jadi perut kamu sakit karena kamu lapar?" tanya Braja memastikan.
Kontan, Ranti yang merasa ketahuan hanya nyengir lebar membuang muka. Ia sampai lupa tadinya menangis meraung, ehh tau-tau sekarang senyum-senyum kekenyangan.
Braja yang tak habis pikir langsung terkekeh pelan mendengus geli sambil berdehem menutup bibirnya dengan kepalan tangan.
"Berarti saya sudah berhasil mengatasi kerewelan kamu? Saya sudah sah menjadi pacar kamu." berdehem, "kalau begitu boleh saya minta sesuatu kepada kamu?" ucapnya sembari bergerak mengikis jarak.
Ehh,
Apa?
...----------------🍁🍁🍁----------------...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
hhuuuuaaaaaaa 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
wesss tabok ae Ran....
jan macam² kamu BajaHitam...
s' BajaHitam ini ya...
klo smp rindu beneran ku tabok pake teflon keramat...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🏃🏃
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣