WARNING hanya untuk 21+ 🔥🔥🔥 !!!
Keadaan kacau ketika penggerebekan di sebuah club malam, Lana, Sita, Maya, Dion, Putra, Teguh, Marvin dan Surya kocar kacir terpencar yang tadinya satu meja mereka buyar semua entah dimana mereka berada. Mereka semua yang ada di club berusaha keras keluar dari tempat itu berlari sekuat tenaga, bersembunyi untuk menyelamatkan diri dari kepungan razia rutin dari kepolisian.
Karena panik Lana dan Surya bersembunyi di gudang. Maya, Marvin dan Dion berada di dapur club sedangkan Sita, Teguh dan Putra berhasil meloloskan diri keluar dari parkir dan bersembunyi di mobil dan ketika aman mereka pergi meninggalkan mereka semua. Ya memang benar persahabatan kadang terpisah saat razia, disitulah kokoh dan rapuhnya persahabatan dibuktikan. Polisi menyidak sampai dapur dan tak terelakkan Maya, Dion dan Marvin tertangkap dan di gelandang ke Polsek. Seorang satpam karena ingin menyelamatkan miras harus mengunci gudang agar selamat dari razia, tanpa tau di dalam ada Lana dan Surya. Akhir Masa remaja saat yang indah adalah di puncak kelulusan, yaa mereka merayakan kelulusan mereka di club malam, sebuah perayaan untuk melanjutkan hidup mereka atau masalah baru dalam kehidupan mereka. Bagaimana nasib mereka? Dan juga nasib Lana dan Surya yang harus bermalam di gudang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALSIB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback : Flashback OFF
"Huuhhhf kenyangg" kata Lana meletakkan sendok garpunya, menyelesaikan acara makannya, setelah kenikmatan yang panjang dan melelahkan serta tak terhitung jumlahnya.
"Lo tau Lan, i miss you already" kata Surya meminum kopinya.
"Oooohh tidaaak, Surya... udah leceett.. enough" kata Lana merebahkan tubuhnya disofa.
"Hahahaha... lo ngomong lecet juga udah berapa kali entahlah" kata Surya tertawa. Wajah Lana memerah dan senyumnya mengembang indah.
Tookkk.. tookkkk..
"Boosss.. im back!" terdengar suara Dion dari luar pintu.
Surya membuka pintu dan kembali duduk kali ini di atas kepala Lana, dan dengan cepat Lana memakai paha Surya jadi bantal kepalanya.
"Buseeett.. cerah amat kalian.. berapa ronde lo pada" kata Dion.
"Apaan sih orang gue nggak ngapa- ngapain" kata Lana berusaha memejamkan matanya.
"Ya iyalah lo nggak ngapa- ngapain.. orang lo yang diapa- apain hahahahah" kata Dion tertawa dan membuat Surya tertawa di ikuti Lana.
"Hahahahah sialan lo Yon.. Yonoo" kata Lana melempar bantal ke Dion.
"Bos, gue bawain jas dari Mom masih di bawah, gue suruh dryclean lagi" kata Dion sibuk mengambil makanan di meja.
"Besok hari penting lo ya?" kata Lana bangun dari tidurnya dan duduk di pangkuan Surya.
"Iyaa.. gue berharap lo tunda ke ibu kota dan lo ada disana bersama gue" kata Surya menyelipkan rambut Lana ke belakang telinganya.
"Gue ucapkan selamat sekarang ya.. selamat atas hari penting lo besok.. semoga lo menjadi pemimpin yang baik dan bijaksana.. ehmm buat gue bangga ya" kata Lana mencium bibir Surya agak lama.
"I miss you already Lana" kata Surya membalas ciuman Lana.
Mereka pun berpelukan sesaat dengan mata berkaca- kaca. Namun Lana tak dapat menahannya, kemudian menjatuhkan kepalanya di dada Surya dan Suryapun memeluknya hangat.
"Lo pada bikin komitmen nggak sih.. kaya gue sama Intan.. gue sedih liat kalian" kata Dion menikmati makannya.
"Gue udah bikin janji.. besok gue akan buat komitmen secara nyata saat nganter Lana ke bandara" kata Surya.
"Benarkah?" tanya Lana. Surya mengangguk pelan.
"Beberapa hari ini gue sama lo terus dan tidur bareng kalian.. nanti malem kita nggak bareng- bareng lagi, pasti akan beda" kata Lana.
"Makanya gue udah kangen dari tadi" kata Surya dengan penuh kesedihan.
"Lo telat mikir berarti Lan.." kata Dion asal nyeletuk.
"Gue deket Surya jadi bodoh emang" kata Lana.
"Laahh ya sama.. lu berdua 11 12 hahahaha" kata Dion tergelak.
"Dion lo pacaran ama Intan udah berapa lama?" tanya Lana.
"Dari gue SMP berarti udah 6 tahun" kata Dion.
"Lo nggak bosen Yon? " tanya Lana lagi.
"Nggak pernah.. karena segala sesuatu kalau pake hati pasti lo nggak akan bosen.. gue aja pengen nikah muda, pengen buru- buru sah biar nggak bikin dosa, kan ngocok udah nggak jaman Lan, apalagi jajan widihh ngeri banget" kata Dion membuat Surya dan Lana meledak.
"Aaaaaa.. hahahahah jijikk banget lo Dion.. bahasa lo nggak pake tedeng aling- aling" kata Lana terpingkal- pingkal.
"Ya kali Lan 6 tahun pacaran cuma pegangan tangan" kata Dion lagi.
"Kalau lo gimana Sur" Tanya Lana.
"Kalau ada lo ya ama lo lah.. kalau lo nggak ada ya nggak usah dipikirin.. kalau kepepet banget ya mending ngocok dari pada jajan.. ini sih bicara fakta ya" kata Surya.
"Iiihhh jijik banget sih lu berdua hahahaha" kata Lana tertawa terbahak- bahak.
"Nah lo Lan, bisa gitu pacaran 6 bulan ama Marvin nggak ngapa- ngapain" kata Dion.
"Nggak tau, gue kadang juga ngerasa aneh sih.. tapi gue nggak berhasrat kalau berdua ama dia, gue takut yang ada" kata Lana.
"Kenapa berdua ama gue lo berani banget" kata Surya mengerlingkan matanya.
"Hahahah apaan sih, gue takut juga kok.. takut nambah hahaha" kata Lana di iringi tawa Dion dan Surya.
"Mungkin karena gue kenal lama kali ama lo, jadi nyaman aja, karena lo baik banget, lo banyak berkorban buat gue, tapi gue tuh nggak pengen hubungan yang cuma dilandasi nyaman, harus dengan cinta dong" kata Lana lagi.
"Lana kaya nya lo cuma nggak bisa mengenali wajah cinta lo ke siapa.. saat lo ama Marvin cemburu lo beda saat sama Surya, Lo kayanya dibayangi trauma masa kecil lo.. yang kaya nenek lo bilang" kata Dion
"Aahh lagian Surya juga nggak pernah kok menuntut gue untuk cinta ama dia, ya kan Sur" kata Lana.
"Tanpa syarat Lan, cinta gue ga bisa nuntut dan maksa walaupun gue pengen lo cintai, tapi sejauh ini gue merasa lo cintai gue kok, walaupun kadang samar- samar, gue seneng saat lo cemburu tapi tolong pakai logika dong, kalau ada hal kaya kemaren itu mending lo tanya, nggak ambil kesimpulan sendiri" kata Surya.
"Kalau Lana bukan jodoh lo gimana boss" tanya Dion datar.
"Mending nunggu jandanya, gue nggak mau nikah sama siapapun kecuali Lana, mending hidup sendiri gue" kata Surya.
"Surya.. apapun yang gue kasih, jangan membebani hidup lo, gue mohon.. " kata Lana mencium kening Surya.
"Lo kasih atau enggak kesucian lo, gue akan tetep sendiri kalau lo bukan jodoh gue, ini seperti permohonan yang mengancam kepada Tuhan" kata Surya.
"Suryaa.... gue.." kata- kata Lana tertahan, Surya menatap tajam mata Lana dan tersenyum manis membuat Lana tidak bisa berkata- kata.
Hanya Ciuman Lana yang hangat dan mendarat dengan perasaan mendalam ke bibir Surya sesaat lalu memeluk Surya erat.
Di sisi hatinya berat untuk melepas Surya di sisi lain dia harus melepas Surya agar bisa menjadi sosok yang bertanggung jawab karena Surya adalah Gahardi Rajasa.
Malam semakin larut Lana tak bisa memejamkan matanya, dia masih teringat beberapa jam yang lalu saat Surya mengantarnya pulang, menciumnya di pagar samping dengan posisi Surya memanjat pagarnya. Ciuman yang membawa luka di bibirnya, yang tak boleh dia lupakan.
**Ingatlah ciuman gue yang menyakitkan ini, saat lo menyukai seseorang, lo akan ingat ciuman yang menyakitkan ini! Karena sakit ini yang akan gue rasakan seumur hidup gue.
Lo tau kan.. kalau langit dan bumi ini milik gue.. gue akan kasih semua ke elo.. mungkin itu sekedar kata- kata Lan.. tapi itu sesuatu yang mendalam.. suatu hari nanti lo akan tau apa artinya**
Kata- kata Surya berputar dan menari di kepalanya, sampai ke alam mimpinya, air matanya terus mengalir, kesedihan hatinya yang dia sendiri tak tahu apa penyebabnya.
Apa mungkin itu Cinta?
************
Entah kelelahan atau memang doyan tidurnya saat sedih datang, Lana benar- benar kesiangan hari ini.
Keluarganya hari ini tidak menjalankan aktifitas seperti biasanya, karena akan mengantar Lana ke bandara.
Lana menyiapkan segala sesuatu nya untuk keberangkatannya, walaupun sebelumnya sudah packing tapi Lana memeriksa kembali koper demi koper agar tak ada yang ketinggalan.
Lana memasukkan laptop dan ponsel barunya dari Surya ke tas yang akan diletakkan di kabin pesawat, tak lupa memeriksa kembali dokumen- dokumen yang akan di bawanya. Saking sibuknya Lana lupa mengaktifkan ponsel lamanya, dia juga belum memindahkan datanya ke ponsel yang baru pemberian Surya.
"Lan telpon dari Surya" kata Ryan memasuki kamarnya.
Lana : " Halloo.. Haii.."
Surya : "Nyalain ponsel lo Lan!! .. jangan bikin gue gilaa!!".
Ponsel dijauhkan dari telinganya karena suara Surya seakan memecahkan gendang telinganya.
Lana : "Iyaa lupa.. soalnya lagi ribet.. gimana acara lo, udah selesai belum?"
Surya : "Belom Lan.. nanti ketemu dibandara yaa.. gue cuma izin ke toilet ini, nyalain ponselnya, stres gue ini acara lama banget, udah dulu.. Lan gue sayang lo.. muaachhh"
Lana : "Gue ju-....."
Baru akan menjawab ponsel di matikan Surya.
Lana menuju ruang makan mencari abangnya.
"Nih bang.. " kata Lana memberikan ponsel abangnya.
"Lan udah beres semua?" kata Maryam.
"Udah bu" kata Lana.
"Kamu kok sedih gitu kaya lagi jatuh cinta" kata ibunya lagi.
"Sedih pasti bu.. ninggalin keluarga dan sahabatnya, padahal kamu bisa aja kuliah sama Surya di jurusan internasional" kata pak Aldi.
"Mahal banget yah.. itu kan nggak ada beasiswanya, Kepintaran Lana sayang yah kalau nggak di gunakan, ngapain Lana pinter- pinter kalau cuma kuliah di swasta, ini jalur internasional yang menghubungkan universitas di Harvard yah, Lana ngincer pertukaran pelajarnya" kata Lana.
"Ya udah jangan nangis gitu dong" kata Ryann.
"Apaan orang belom, hiks" isak Lana akhirnya pecah.
"Yaahh bocor juga tuh mata kamu Lan" kata pak Aldi.
Mereka memeluk Lana semua yang terisak karena harus berpisah dengan orang- orang yang dicintainya.
"Lyl.. ponselnya nggak jadi kakak kasih ke kamu, karena kakak belum mindahin data, nanti aja kakak kirim dari sana ya" kata Lana.
"Iya Kak.. lagian Lyla belum rusak kok ponselnya, masih bagus" kata Lyla.
"Okay semuanyaa.. saatnya mengantar putri salju meraih mimpinya" kata pak Aldi.
"Lan kamu nanti di jemput budhe Lastri, kalau kamu nggak betah bilang ya Lan" kata bu Maryam.
Cuaca cerah setelah tadi pagi ini hujan, mobil yang dikendarai Ryan melaju ke arah Bandara, membawa Lana meninggalkan semua kenangannya di kota ini.
Sesampainya disana, Lana berulang kali menelpon Surya namun ponsel Surya tidak aktif, menelpon Dion pun juga sama.
"Kita tunggu disini dulu ya.. Lana nunggu Surya" kata Lana duduk di luar keberangkatan.
"Mending kamu check in dulu biar tenang Lan, nanti kamu balik kesini lagi" kata Ryan.
'Iya deh kalau gitu" kata Lana.
Setelah check in dan koper di daftarkan di bagasi pesawat, Lana keluar lagi dan bergabung dengan keluarganya.
Lana bergelayut dilengan Ryan dan mencoba menghubungi Surya dan hasilnya nihil.
Saat ada pemberitahuan bahwa penumpang di persilahkan memasuki pesawat, Lana pun berpamitan dengan keluarga tercintanya.
Isak tangis Maryam mengiringi kepergiannya, Lana bahkan sudah tak bisa menangis lagi karena hatinya menanti Surya dan melelahkan, perasaannya hanya ada satu yaitu marah.
Lana memasuki ruang tunggu dan banyak yang sedang mengantri, untuk masuk ke pesawat, Lana sengaja di barisan belakang dan berharap Surya akan hadir tapi nihil, akhirnya dia menyerah.
"Baanggg.. Lana mana bang!" teriak Surya berlarian dengan Dion saat melihat Ryan.
"Lana nungguin kamu dari tadi, pesawatnya berangkat beberapa menit lagi kayanya" kata Ryan.
"Dion, lakukan sesuatu agar gue bisa masuk" kata Surya.
Seseorang keluar dari pintu keberangkatan dan membawa Surya dan Dion masuk dan berlarian menuju ruang boarding tapi nihil semua tempat kosong.
Surya melihat pesawat terparkir, beberapa penumpang menaiki tangga, Surya terus memandangi dari balik kaca.
"Dion, hentikan pesawat yang membawa Lana" Kata Surya menahan kemarahannya, sebuah kotak merah di keluarkan dari jasnya.
Penumpang yang menaiki tangga pintu masuk pesawat telah habis, namun Lana tak terlihat sama sekali.
Mungkin Lana sudah naik dari awal. Siaalll.
Saat menyerah justru Surya melihat Lana sedang berjalan ke arah tangga pintu masuk pesawat.
Dion kenapa lo lama sekali. Surya semakin kesal
Lanaa.. berbaliklaahh lihat lah guee Lan.. ini gue disini. Batin Surya memohon.
Saat Lana hendak menaiki tangga, Lana menghela nafasnya begitu dalam, dilihat disekitarnya dan dilihatnya di atas sana sosok laki- laki yang dikenalnya.
"Suryaaa!! Dia datang" gumam Lana.
Surya meniup kaca sehingga mengembun dan di tulis 'I ♡ U, Lana tersenyum dan melambaikan tangannya. Surya berlutut disana dan memperlihat kotak merah., Entah apa maksudnya Lana lalu menaiki tangga dan berlalu dihadapan Surya
Surya terpaku disana dan menatap pesawat yang ditumpanginya Lana menghilang di angkasa, air mata Surya mengalir perlahan.
"Huft.. pesawat nggak bisa dihentikan bos, akan mengacaukan seluruh penerbangan di negara ini, bisa membahayakan penumpang lain bos huft" kata Dion terengah- engah setelah berlarian kesana kemari.
"Hubungi om Mahardhika di ibukota, hubungi Paul, Lena dan pilih 10 orang terbaik di Mahardhika, lo besok berangkat penerbangan pagi, urus sekolah lo" kata Surya dengan sedih.
"Okay bos.. tenang boss, dia akan baik- baik saja disana, kalau lo yakin, dia akan jadi milik lo, yakin aja bos jangan goyah, lo bisa kesana kalau urusan perusahaan selesai" kata Dion.
**Flashback Off**
Pesawat berjalan perlahan dan meninggalkan kotanya, bisingnya pesawat saat melaju kencang akan take off memekakkan telinga, air matanya berderai akhirnya, saat terbang dan pesawat melesat ke angkasa, suaranya bergemuruh dan...
"Haaaaaahhhhh!!!!!"
Lana terbangun dari mimpinya, dia berada di kamar Hotel Garden City, di kota yang ditinggalkan 5 tahun yang lalu.
Lana menatap langit- langit kamar hotelnya yang dipesan sekretarisnya, dia mengedarkan pandangannya, dia masih memakai baju yang sama saat terakhir bertemu Surya dan Marvin di cafe Domino yang telah berubah nama menjadi cafe Corner.
Mimpinya seakan nyata membawanya di kejadian 5 tahun yang lalu. Banyak yang telah di laluinya saat di ibukota, masa kuliah yang padat dan pertukaran pelajar yang di impikannya bekerja di perusahaan ternama dan menjadi wakil kepala di Departemen Accounting Public.
5 tahun menjaga hatinya entah untuk siapa, untuk Marvin atau kah untuk Surya, berita demi berita tentang Surya melalui sosial media membuatnya menjauh perlahan dan akhirnya Lana menempatkan Surya kembali menjadi sahabat di hatinya.
Sesekali dia mengaktifkan ponsel lamanya namun dia lebih banyak mematikannya. Dia lebih suka dengan ponsel barunya dengan nomer barunya.
Saat kembali ke masa lalu, hatinya kembali canggung dengan perasaannya dahulu, kenangan manis dengan Surya dan rasa kagum yang mendalam kepada Marvin kembali menghantuinya.
Namun ketika kenyataan bahwa Marvin akan menikah juga sangat melukainya, dia ingat bagaimana Marvin akan menunggunya namun tak terbukti, hanya Surya dan dirinya lah yang menepati janji.
Mungkin ini lah yang namanya Takdir yang di maksud neneknya dulu, tapi apakah Surya masih sama seperti yang dulu dan bagaimana perasaannya Lana masih tidak tahu pasti.
Aahh bodoamat nggak mau mikirin cowok, itu semua cuma akan bikin otak nggak berfungsi dengan baik. Gue harus bekerja dan bekerja. Ayo Lanaaa.. semangat yaa.. jangan lemah!