Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Hari pertama bersama.
"Sementara, kalian bertiga tinggal di rumah ini. Kami ada di mess seberang sana. Kalau ada apa-apa, kalian mudah terpantau." Kata Bang Arben.
"Kenapa kita tidak tinggal di mess Abang saja, Abang yang disini." Celetuk Dinda.
"Kau yang korve lapangan??? Kau mau kerja juga berpanas-panasan di lapangan??" Sambar Bang Rama.
"Kita nggak bisa tinggal dalam satu rumah kalau belum nikah. Kalian bisa celaka." Kata Bang Sanca.
"Kami berani, kok. Hanya karena wilayahnya seperti ini, kami hanya minta di temani." Ujar Fia.
"Waaahh.. Bini lu cari penyakit, San. Kalau kita tetap disini, bulan depan mereka semua bisa kembung." Bang Rama langsung beranjak seolah tak mau mendengar rasa takut tiga gadis disana.
"Balik wae yuk..!! Ajak Bang Arben.
"Ayo dah." Bang Sanca beranjak mengikuti kedua sahabatnya."
***
Ketiga Abang perwira tak pernah paham alur kisah hidup mereka. Tentu dalam hati mereka menginginkan gadis sesuai dengan keinginan mereka. Tapi pada kenyataannya, mereka harus mengikuti takdir Tuhan.
"Kita benar-benar memilih mereka ya?" Tanya Bang Sanca berbisik lirih.
"Mau bagaimana lagi??" Bang Arben pun mendesah pasrah.
"Apa kita bisa menyayangi istri-istri seperti mereka? Jujur hatiku kosong melompong, mereka hanya bagai ulat bulu yang menempel pada pakaian kita." Imbuh Bang Rama sambil menghisap rokoknya dalam-dalam lalu menguarkan asapnya asal.
"Ya jawab saja dalam hatimu, jika sudah berurusan dengan Tuhan.. Apakah kau berani melawanNya??? Kutil, ulat bulu, atau cacing kremi yang tak kau sukai itu akan jadi makmum kita." Kata Bang Arben.
Bang Sanca meraup wajahnya sedangkan Bang Rama hanya bisa mengacak rambut cepaknya tanpa bisa berkata apapun.
...
Sungguh ketiga perwira syok melihat penampilan para gadis. Dinda dengan anting panjangnya dan rambut di gerai, Dira dengan sepatu high heels warna merahnya sedangkan Fia dengan tas pestanya.
"Apa-apaan kalian??? Kalian tidak baca aturan istri prajurit????" Tegur Bang Arben.
"Iya nih, pada di ilerin apa bagaimana tuh buku??" Sambung Bang Rama tak habis pikir.
"Masuk dan benahi penampilan kalian. Rambut di cepol rapi semua perlengkapan pakai warna hitam." Kata Bang Sanca.
"Pakai ikat pinggang nggak Bang?" Tanya Dinda dengan wajah polosnya.
"Mau di ikat dimana??? Jidat??" Bang Rama sampai tak habis pikir dengan kelakuan tiga gadis yang suka membuatnya naik darah.
Dinda yang bingung malah balik bertanya. "Jidat Abang???"
"Masuk..!!!!! Masuuuukk dan benahi penampilanmu..!!" Perintah Bang Rama pada Dinda.
Kedua sahabat Bang Rama sampai tertawa sendiri mendengarnya apalagi Dinda bersungut kesal masuk ke dalam rumah.
...
Danyon menyambut para perwira beserta calon istri. Beliau pun sudah mendengar kasus yang terjadi pada para perwira tersebut.
"Ini pelajaran berharga bagi kalian. Ambil hikmah dari setiap kejadian. Di samping kalian ini, apapun alasannya adalah para calon istri yang kalian pilih, yang kalian bawa untuk mendampingi hidup kalian. Calon Nyonya Adinda Rama, Nyonya Nadira Arben dan Nyonya Fia Sanca. Bimbing mereka, kalian adalah kepala keluarga bagi mereka, sekarang..!!"
"Siap."
:
Pembekalan di ruang Danyon cukup menyita waktu. Seharusnya memang mereka melaksanakan setiap tahapan pengajuan nikah secara beruntun. Namun karena satu dan lain hal, mereka menemui Danyon lebih dulu. Selain karena lapor datang, mereka pun mengenalkan para istri secara langsung Danyon.
"Dira capek." Kata Dira mengeluh padahal baru dua jam saja mereka di dalam ruangan.
"Iya, Dinda juga." Dinda pun jadi ikut-ikutan mengeluh.
"Apalagi Fia. Kaki Fia rasanya mau patah memutari Batalyon ini."
"Batalyon hanya seluas karpet masjid saja kau keluhkan." Ujar Bang Sanca merespon keluhan Fia.
Bang Rama ikut menghela nafas panjang. "Makan dulu dah, makaann..!! Pada kelaparan nih Nyonya, jadi ngelantur kemana-mana."
"Yawes, ayo..!! Aku juga lapar nih." Jawab Bang Arben.
...
Para gadis saling lirik melihat calon suami mereka menghabiskan masing-masing lima buah buras di atas meja dan dua mangkok coto Makassar, sedangkan mereka masing-masing hanya mengambil satu buah dan itu pun sudah membuat mereka kekenyangan.
"Abang, perutnya nggak begah??" Tanya Dinda.
"Nggak, lambung Abang mah seluas samudera."
Dinda pun tak ada pertanyaan lain, melihat para om-om itu makan juga langsung membuatnya kenyang.
"Nggak usah ngurusin lambung laki, Din. Makan saja. Satu dandang coto nya pun juga suamimu sanggup bayar." Kata Bang Arben.
"Bukan itu, Bang. Abang juga apa nggak sakit perut makan banyak begitu??" Tanya Dira.
"Nggak lah, ini pas." Jawab Bang Arben.
Fia mengusap perutnya, ia melirik ke arah Bang Sanca.
Bang Sanca tersenyum tipis. "Kenapa?? Kamu penasaran juga. Lambung laki memang luas, untuk isi tenaga, bekal kerja keras, biar lakimu nggak lemes. Mau punya laki let*y??"
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara