Mentari Jingga atau yang biasa di panggil MJ, merupakan anak broken home yang mempunyai tekanan besar di hidupnya. Selepas ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dengan ibu dari mantan kekasihnya.
Hari-harinya bertambah buruk karena harus bertemu setiap hari dengan sang mantan yang telah ia lupakan mati-matian. Hingga pada akhirnya ia menjadi rajin melepas stress dengan berjalan-jalan di taman setiap malam.
Ia cukup akrab dengan beberapa penjual ditaman, berada ditengah-tengah mereka membuatnya lupa akan permasalahan hidup. Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan Mas Purnama, seorang pedagang jagung bakar yang baru saja mangkal di area taman.
Mas Pur berusia 5 tahun diatas MJ, tapi dia bisa menjadi teman curhat yang menyenangkan. Mereka sering menghabiskan waktu berdua sambil memandangi langit malam itu.
Hingga setelah 3 bulan bersahabat, malam itu MJ tak pernah menemukan sosok Mas Pur lagi berdiri di tempat ia biasa berjualan. Kemana Mas Pur menghilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan Ibu
Semalaman MJ menangis karena kekecewaan yang mendalam terhadap ayahnya, untung saja hari ini libur sekolah. Ia tak harus menjelaskan apapun pada sahabatnya karena matanya yang sembab, hari ini MJ mau menenangkan diri saja.
Jam 8 pagi rumah masih senyap, tapi meja makan sudah rapi dari bekas makanan MJ kemarin sore. Mungkin teh Rania yang membereskan semuanya sepulang kerja, rantang bu Nawang dan milik bu Nia juga sudah di cuci bersih.
MJ memasak nasi dan mengecek isi kulkas, hanya ada telur dan nugget saja sebab belum belanja mingguan. Uang yang ada di kantong hanya tinggal 80 ribu lagi, tidak mungkin ia terus-terusan minta sama Aa Rama yang sedang bertahan hidup di tempat yang jauh.
" Ini gimana gue bisa bertahan hidup beberapa hari kedepan? Belanja mingguan nggak akan cukup bawa uang 80 ribu, belum lagi ongkos sekolah nanti" gumam MJ
Suara langkah teh Rania terdengar menuruni tangga, hari ini ia memang libur kerja, tapi sepertinya ia sudah bersiap untuk pergi keluar.
" Dek, lauknya tinggal dipanaskan aja. Semalam ada dua rantang di meja, yang satu masih utuh dan yang satu sudah tinggal setengah. Teteh habisin rantang yang tinggal setengah, tapi kalau yang masih segelan itu teteh panasin semalam di panci" ujar Teh Rania
" Itu dari istrinya ayah, aku nggak mau makan"
Rania tersenyum lalu duduk di meja makan, ia tahu jika hubungan MJ makin memanas dengan ayahnya. Pak Abdul sempat menelpon Rania untuk menitipkan MJ yang sedang marah karena kejadian kemarin.
" Yaudah nggak apa-apa kalau nggak mau makan itu. Ini beli nasi uduk aja buat sarapan, sisanya buat beli makan nanti siang. Nggak usah masak dek, karena hari ini teteh mau main sama teman kerja" ujarnya sambil memberikan uang lima puluh ribu pada adik sepupunya
" Nggak usah teh, aku masih ada uang kok. Teteh simpan aja uangnya buat kebutuhan teteh " ujar MJ, ia tau keadaan Rania di Sukabumi tak lebih baik darinya
" Udah nggak apa-apa, sesekali aja kok. Maaf teteh belum bisa kasih uang banyak-banyak, soalnya gajian belum full"
" Ya Allah teh nggak apa-apa atuh, bukan kewajiban teteh buat kasih aku uang"
" Anggap aja teteh kasih buat kamu jajan. yaudah kalau gitu teteh berangkat dulu, jangan lupa makan ya dek"
" Terima kasih ya teh, hati-hati dijalan"
MJ langsung pergi ke tukang nasi uduk yang berjualan dekat warung Bu Oyoh, tak lupa membawa rantang Bu Nawang untuk dikembalikan.
" Kamu sudah sarapan belum?" tanya Bu Nawang
MJ menggeleng cepat,
" Ini aku mau ke Bik Anih nyari uduk" jawab MJ
" Walah dalah, Bik Anih nggak jualan Tari. Kemarin dia udah bikin pengumuman kalau hari ini nggak jualan, katanya mau pergi besanan ke Jonggol"
" Oh gitu, yaudah aku ke Mas Awang beli bubur deh"
" Ini sudah jam setengah 9, si Awang udah pergi keliling "
" Waduh! terus aku sarapan apa? Masa harus ke taman, males banget sih"
" Sini masuk ke rumahku, tadi ibu sudah masak ayam goreng sama oseng kangkung. Makan sini aja, kasihan kamu terlunta-lunta gini. Piye kalau ibumu tau nduk" ajak Bu Nawang sambil menarik tangan MJ
Rumah Bu Nawang sangat sepi, suaminya sudah pergi buka toko alat listrik di dekat pasar. Sementara anak lelakinya masih tidur karena habis bergadang di warung Bu Oyoh. MJ makan dengan lahap karena masakan Bu Nawang memang cocok di lidahnya.
" Tari, habis ini ikut ibu yuk. Kamu bawa motornya Mas Sultan aja, orangnya lagi latihan mati di kamarnya " ajak Bu Nawang
" Mau kemana bu? kalau mau shopping aku nggak punya duit, semenjak ayah nikah dia jadi pelit "
" Justru ibu mau ajak kamu ke rumah bu Romlah buat ambil uang investasi bodong. Kita harus cepet-cepet sebelum korban yang lain claim ke dia, ini sistemnya kuota"
Tari mengernyit heran sama konsep Bu Nawang yang mbak masuk nalar.
" Maksudnya gimana sih bu? Kenapa harus pake kuota kayak terima bansos? Coba tolong jelasin biar aku mudeng"
" Ish kamu ini. Jadi gini loh ceritanya, 4 tahun lalu aku dan ibumu pernah ikutan investasi gitu sama Bu Yayuk. Intinya kita tertipu karena Bu Yayuk itu kabur entah kemana, para suami nggak tau karena kita para istri ketakutan untuk jujur.
Seminggu lalu bu Romlah kakaknya bu Yayuk sempat bilang sama Bu RW, kayanya siapa aja yang pernah ketipu sama adiknya hadap melapor disertai bukti kwitansi. Kabarnya bu Yayuk sakit keras dan sekarat tapi nggak bisa mati. Kata orang pinter, bu Yayuk masih punya sangkutan yang belum terbayarkan. Maka dari itu sekarang kita harus datangin bu Romlah untuk claim uang kita"
" Oh gitu, tapi aku dapat komisi kan?" tanya MJ
" Piye to kamu ini Tari, kamu juga harus mencairkan punya almarhum ibumu loh. Sebelum Mbak Sintia meninggal, dia sempat menitipkan kwitansi ini padaku. Dia bilang uang itu buat biaya kuliahmu kalau cair, makanya nanti kalau uangnya sudah ada, kamu nggak usah bilang sama ayahmu. Nanti uangnya malah dipakai buat istri mudanya foya-foya " ujar Bu Nawang
" Lah emang berapa duit uang yang sudah disetor ibu?"
Bu Nawang mengeluarkan kertas dari dompetnya, di sana ada tanda tangan almarhum ibu dan bu Yayuk juga. Namun yang bikin tercengang adalah nominal yang cukup besar.
" Dulu waktu almarhum kakekmu jual tanah, ibumu mendapatkan bagian yang tidak diketahui Pak Abdul. Mbak Sintia langsung deposito 250 juta ke bu Yayuk dengan maksud mengamankan. Ini loh bukti serah terimanya, Tar"
" Ya Allah bu, banyak banget. Masa ayah nggak tau mengenai uang ini?"
" Lah itu kan tanah dari pihak mbak Sintia, jadi memang Pak Abdul tidak tau menahu masalah ini. Ibumu sengaja nggak bilang sebab waktu itu ayahmu mau bikin usaha ternak lele. Mbak Sintia takut uang buat biaya kuliahmu di pinjam buat modal usaha"
" Yaudah bu, ayo kita kesana"
" Oke habiskan makan mu sekarang nduk. Bismillah kita jemput rejeki"
" Let's go!"
" Ohya Tari, jangan lupa bawa KK dan akte kelahiranmu untuk bukti kepada yang bersangkutan, kalau kamu adalah anaknya almarhum. Kalau ada, KTP ibumu juga dibawa"
" Adanya fotocopy KTP ibu, soalnya yang asli dibawa ayah"
" Yaudah bawa aja, Insya Allah itu sudah cukup meyakinkan bu Romlah "
Setelah semua bukti selesai dikumpulkan, MJ langsung bawa motor meski tangannya gemetaran, ia tak menyangka jika ibunya mempersiapkan biaya pendidikan sejak masih sehat. Beliau bahkan tak mengizinkan ayah untuk tau perihal harta pribadinya, untung saja bu Nawang adalah orang yang jujur.
Bisa saja ia mencairkan punya ibu karena ia memiliki kwitansi asli. Namun bu Nawang tidak mungkin tega memakan uang sahabatnya sendiri. Ia malah membantu MJ untuk mengambil apa yang menjadi miliknya.
Hanya 15 menit untuk sampai ke rumah bu Romlah, tempatnya besar dan terawat. Di sana sudah ada 3 orang lainnya yang jadi korban bu Yayuk, mereka mau mencairkan uang yang tak seberapa tapi sangat berharga untuk menyambung hidup.
" Saya kena tipu 30 juta bu, ini hasil saya jual emas-emas tanpa sepengetahuan suami saya" ujar Bu Nawang
Bu Romlah memperhatikan kwitansi dengan seksama, ada tanda tangan autentik adiknya dan juga cap perusahaan PT Angin Mamiri.
" Oke saya transfer uangnya ke rekening bu Nawang" ucapnya setelah yakin jika kwitansi itu asli
" Alhamdulillah" ujarnya lega "Lalu ada satu lagi atas nama bu Sintia yang mau sekalian di klaim. Ini adalah kwitansinya aslinya dan ini adalah Mentari yang merupakan ahli warisnya...."
" Loh, sudah meninggal to?" tanya Bu Yayuk
" Iya bu, beliau meninggal setahun lalu. Untuk itu saya lampirkan dokumen yang menguatkan ahli warisnya adalah Mentari Jingga " ujar bu Nawang
" Kalau begitu harus ada keterangan surat keterangan ahli waris yang ada tembusan desa dan kecamatan" ujar Bu Romlah
" Ya Allah bu, tolong jangan dipersulit prosesnya. Ini kan masuk kategori kriminal, ibu mau saya viralkan terus adik ibu sekaratnya dibalik jeruji besi?" MJ menakuti
" Betul itu bu, kasian Bu Yayuk bisa dipersulit meninggalnya nanti. Barang siapa yang mempersulit hidup orang lain, maka Allah akan mempersulit hidupnya. Inget Bu, hukum dunia bisa di kelabui, tapi tidak ada yang bisa melewati hukum Allah. Jangan sampai ibu berakhir seperti Bu Yayuk " tambah Bu Nawang menakut-nakuti
Wajah Bu Romlah langsung tegang dan pucat seketika, ia bingung karena nominalnya sangat banyak. Namun ia tidak mau berakhir seperti adiknya yang sekarat bertahun-tahun.
" Yaudah yaudah, saya bayar setengahnya dulu karena nominalnya banyak sekali " ujar Bu Romlah
" Ikhlas ora kamu Tari kalau dibayar setengah?" tanya Bu Nawang
" Ya nggak ikhlas lah, nanti aku akan tuntut di akhirat atas......"
" Oke oke! biar aku transfer hari ini juga, awas kalau kalian berdua sampai berdoa yang aneh-aneh tentang aku" ujar Bu Romlah yang ketakutan nasibnya seperti model majalah hidayah
" Yaudah aku tunggu di sini sampai uangnya masuk ke rekening aku" ujar MJ
Ternyata urusannya jadi gampang kalau orang yang bersangkutan sudah mode taubat takut sama akhirat. Tak sampai 5 menit mereka sudah selesai berurusan dengan Bu Romlah, MJ langsung menangis sambil memeluk Bu Nawang karena mendapatkan kelapangan rezeki tak terduga dari almarhum ibu.
" Bu Nawang, setelah ini aku mau bagi-bagi nasi kotak di panti asuhan atas nama ibu"
" Iya nduk, nanti ibu bantu untuk pengadaan nasi kotaknya. Tapi ingat pesan ibu untuk merahasiakan dengan siapapun, termasuk dengan Rama dan Rania. Cuma kamu dan ibu yang tau, karena satu orang saja tau, uangmu bisa dirampas "
" Tapi A Rama itu kakakku..."
" Kali ini nurut sama ibu ya nduk. Urusan warisan ini sensitif, sesama saudara bisa saling melawan satu sama lain. Uang ini sudah diniatkan Mbak Sintia untuk kuliah kamu, Tari. Bukan untuk Rama atau siapapun juga, jadi kamu yang berhak atas harta ini"
" Iya bu aku paham"
" Bagus! Kamu harus sukses karena ini adalah harapan ibumu, nduk " ujar Bu Nawang memberikan semangat
mungkin di platform ini saya bisa menulis dengan tema yang beda dari sebelah.
Jadi para reader sekalian, kalau mau cerita happy dan ringan bisa mampir di tetangga ya.😍