Maharaya, sosok gadis yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya.
Tiap hari dia diharuskan mengalah pada Mira, adiknya. Hanya karena statusnya sebagai seorang kakak.
Bahkan ketika kekasihnya direbut oleh Mira dia tetap diam.
Arga, adalah pria yang telah dicampakkan oleh Mira, karena profesinya yang hanya seorang tukang ojek online. Arga mendekati Maharaya, dan keduanya pun menjalin hubungan.
Akan tetapi tanpa di sadarinya dia memiliki satu
rahasia yang bahkan dia sendiri pun tidak mengetahuinya. Dan tanpa diketahui siapapun, ternyata Arga juga menyimpan satu rahasia.
Rahasia apa yang sebenarnya dimiliki oleh MAHARAYA dan Arga. Dan apakah akhirnya keduanya benar-benar bersatu. Bagaimana reaksi Mira ketika rahasia mereka akhirnya terungkap?
Ikuti kelanjutan kisahnya dalam
Hanya Karena Aku Anak Pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
meminta bantuan
"Bukankah kita akan ke bandara? Kenapa malah ke rooftop?" tanya Raya bingung, karena Ayah dan Kakaknya justru mengajaknya ke atas atap.
"Kau akan tahu setelah kita sampai di atas, Princess!" jawab Ben santai. Raya pun tak bertanya lagi; dia hanya terus berjalan sambil bergelayut manja di tangan Daddy-nya itu. Dan begitu sampai di atas atap, betapa terkejutnya Raya; di sana ada landasan pesawat yang sangat luas, berikut dengan pesawatnya juga.
"Salam Raja, salam Pangeran, salam Putri!" sapa beberapa pria berbaju hitam, dan juga tiga orang pria berseragam putih. Mungkin mereka yang berseragam putih itulah pilot dan awak pesawat.
Raya mengangguk canggung. Seumur hidupnya dia belum pernah diperlakukan seperti ini. Dia merasa seperti berada di film negeri dongeng.
Ben segera memapah adiknya itu untuk naik ke atas pesawat pribadi. Dan itu semakin membuat Raya tercengang. Tidak seperti pesawat pada umumnya, yang hanya ada kursi berjajar, tapi ruangan pesawat itu lebih layak diibaratkan sebuah kamar hotel, prediksi Presidential Suite yang sangat mewah.
"Kau boleh tidur jika mengantuk, Princess. Daddy akan membangunkan kamu jika kita telah sampai, karena perjalanan kita ini akan menempuh waktu selama enam belas jam!" tutur Tuan Abdullah.
Raya menggeleng; dia masih ingin menikmati dunia barunya, yang baru saja dia temui.
"Entah kebaikan apa yang telah aku lakukan di kehidupanku yang sebelumnya, hingga aku mendapatkan semua kebahagiaan dan keindahan ini!" ucap Raya sambil tersenyum, membuat Tuan Abdullah dan Ben tertawa mendengarnya. "Ada-ada saja putrinya ini," begitu pikir Tuan Abdullah.
Tapi tiba-tiba saja Raya menjadi murung.
"Ada apa, Princess?" tanya Ben; dia sangat hafal sifat adiknya itu jika sedang ada sesuatu yang tidak baik dengan suasana hatinya.
Raya menggeleng sambil mengusap air matanya. Dia teringat dengan Bapak angkatnya.
Tadi sebelum berangkat, dia sempat meminta waktu untuk menelepon, dan Ben meminjamkan ponselnya, karena ponsel Raya sendiri tertinggal bersama tas kerjanya di rumah itu.
Raya berharap Bapaknya itu akan mengatakan bahwa Dia merindukannya, atau setidaknya mengatakan padanya untuk berhati-hati dan baik-baik di jalan. Ataupun mungkin pesan yang baik yang lainnya.
Tapi ternyata Bapaknya itu malah berkata, "Ada apa lagi kau menelepon?! Sudah saya katakan, saya ingin hidup dengan damai bersama keluarga kecil saya! Dan itu baru saja terjadi, tapi kamu malah mengganggu. Apa kamu tahu kamu baru saja membuat selera sarapan saya hilang?!" Pak Hamid marah-marah di telepon dan langsung menutup panggilan tanpa mau mendengar ucapan Raya. Padahal Raya baru saja bilang halo. Air mata Raya menetes kembali mengingatnya.
"Sudahlah... Suatu saat jika keadaan sudah kondusif, kau boleh mengunjunginya. Bawakan dia uang dan hadiah yang sangat banyak!" ucap Ben sambil memeluk adiknya. Dia sendiri menatap ke atas agar air matanya tidak ikut menetes. Ben sangat tahu persis; Pak Hamid bukan orang seperti itu. Ben tahu Pak Hamid hanya bersandiwara, agar Raya mau ikut pergi bersama keluarga kandungnya, karena Ben juga sempat menelepon Pak Hamid kemarin, saat Raya sedang membersihkan dirinya di kamar atas.
Malam hari di kediaman keluarga Randy Raharja
Rendy baru saja menyelesaikan makan malam bersama Maya, dan keduanya sedang menonton TV di ruang keluarga.
Rendy dan Maya heran melihat Arga pulang dengan raut wajah yang kusut.
"Lo ga... kamu pulang?" tanya Maya. "Ibu kira kamu pulang ke tempat Pak Adi!" ucap Maya.
"Tahu gitu kan kita bisa menunggu kamu untuk makan malam!" lanjut Maya.
Arga hanya diam, lalu mencium tangan Ayah dan Ibunya tanpa suara. Rendy dan Maya saling pandang; ada apa dengan anaknya ini? Begitu pikir mereka. Sampai kemudian tiba-tiba saja...
Brugh...
Arga menjatuhkan tubuhnya, berlutut di hadapan Ayahnya. Tentu saja hal itu membuat Rendy dan Maya kaget.
"Hei... Ada apa, Sayang?"
Rendy mencekal tangan Maya yang hendak bangkit menghampiri putranya. Rendy menggelengkan kepala, sebagai isyarat agar Maya tetap diam di tempat duduknya. Rendy menarik napas lalu menghadap ke arah putranya.
"Katakan...!" Hanya satu kata yang terucap dari mulut Rendy. Dalam tebakan Rendy, mungkin sedang terjadi masalah yang sangat serius.
"Tolong aku, Ayah...!" Arga menangis memohon; sesuatu yang tak pernah dia lakukan seumur hidup. Rendy masih diam menunggu kelanjutan maksud dari putranya; se genting apa masalahnya, hingga rela berlutut memohon.
"Tolong temukan Maharaya untukku...!" lanjut Arga. Rendy dan Maya saling pandang.
"Memangnya calon mantu Ibu hilang...?"
Rendy menggelengkan kepala menatap istrinya. Istrinya yang cantik itu sungguh tak berubah sama sekali; masih saja suka ceplos-ceplos tanpa berpikir.
"Sebagai gantinya, Aku akan melakukan apa pun perintah Ayah. Aku tak akan lagi jadi sopir ojek online jika Ayah keberatan. Aku akan memimpin perusahaan jika itu yang Ayah mau. Aku akan menurut jika Ayah akan menunjukkanku kepada dunia. Aku tak akan menyembunyikan identitas lagi!"
Rendy tercengang mendengar ucapan putranya. Ternyata putranya itu sudah terkena virus bucin parah; sama sekali sudah tidak ada obat. Kalau tidak, tidak mungkin putranya itu akan pasrah seperti itu.
Tadi setelah gagal menemukan Bejo di tempat kontrakannya, Arga kembali ke perusahaan dan menemui bagian ahli IT untuk membantunya mengungkap identitas Mas Bejo.
Sampai-sampai kedatangan Arga yang bolak-balik wira-wiri di perusahaan membuat teman-teman Raya merasa bingung.
Tapi sayang mereka gagal, dan ahli IT menyatakan identitas Mas Bejo dan Raya tertutup rapat; tak bisa dikuak sama sekali. Bahkan mengakibatkan server mereka terkena virus balasan dari IT milik Mas Bejo.
Dan jika sudah seperti itu, tak akan ada yang bisa menolongnya selain orang yang saat ini duduk di sofa di hadapannya, yang tak lain dan tak bukan adalah Ayahnya sendiri. Untuk itulah saat ini dia berada di sini, berlutut di hadapan Ayahnya memohon belas kasih dan pertolongan Ayahnya. Dia benar-benar tak ingin kehilangan Maharaya, cinta pertamanya.
Rendy menghembuskan napasnya; masih belum ingin menjawab keinginan putranya.
Tiba-tiba saja Arga bangkit; dia menarik tangan Ibunya.
"Eh... Ibu mau dibawa ke mana?!" tanya Maya panik, tapi menurut juga.
"Hei...!" Rendy melongo, tak jadi bersuara saat melihat putranya itu sudah membawa istrinya untuk ikut berlutut.
Rendy memijit pelipisnya yang tiba-tiba pening. Jika istrinya itu adalah Ratu drama, maka putranya itu adalah Putra Mahkota dari sang Ratu. Tentu saja mereka sama-sama pandai berdrama.
"Kenapa Ibu juga harus ikut berlutut?!" Maya bingung.
"Ibu harus menemaniku, kalau tidak Ibu akan kehilangan calon mantu Ibu!" bisik Arga di telinga Maya. Maya menatap melas pada suaminya.
"Sayang, temukan calon mantuku...?" rengek Maya.
Rendy menggeram; putranya itu sungguh pintar menggunakan koneksinya.