Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8: Cincin dan Janji
"Kamu sudah belikan aku gelang semahal itu," kata Eve begitu mereka sampai di Apartemen Menteng Park, "setidaknya aku harus masak yang enak."
Edric melepas sepatu di dekat pintu. "Gelangnya tidak semahal itu."
Eve menoleh pelan.
"Edric, kalau lima ratus juta tidak mahal, aku takut mendengar definisi mahal menurutmu."
"Relatif."
"Relatif apanya. Itu bisa buat beli mobil."
"Mobil kecil."
Eve menunjuk dapur. "Duduk. Jangan bicara sebelum aku berubah pikiran dan menjual gelang ini."
Edric duduk dengan patuh, tetapi senyum tipis di wajahnya tidak hilang.
Malam itu, apartemen dipenuhi aroma nasi goreng, soto ayam, dan semur daging. Eve memasak dengan lengan digulung, rambut dijepit asal, gelang GEMMA dilepas dan diletakkan hati-hati di mangkuk kecil agar tidak terkena bumbu.
Saat mengaduk semur, tangannya berhenti.
Edric melihatnya. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa." Eve menurunkan api. "Ini masakan Mama."
Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Edric juga tidak memaksa. Namun ketika semur itu disajikan, ia mengambil suapan pertama dengan lebih hati-hati daripada biasanya.
Eve menunggu. "Tidak enak?"
Edric berhenti sebentar. "Enak. Sudah lama saya tidak makan masakan rumah."
Kalimat itu membuat Eve lupa bernapas satu detik. Ia terbiasa memasak untuk diri sendiri. Tidak ada yang menunggu di meja, tidak ada yang berkata masakannya terasa seperti rumah.
"Kalau begitu makan yang banyak."
"Siap."
Mereka makan lebih lama dari yang diperlukan. Eve bercerita tentang Mama Lili yang selalu memasak semur saat hujan, tentang bagaimana Oma Ong akan menyisihkan bagian daging paling empuk untuknya, tentang dapur lama di Cirebon yang dindingnya menghitam karena terlalu sering dipakai.
Edric mendengarkan tanpa memotong.
Itu membuat Eve makin banyak bicara. Ia tidak sadar kapan terakhir kali seseorang membiarkan ceritanya selesai tanpa mengubah topik ke diri sendiri. Rangga dulu selalu mendengar sambil melihat ponsel. Edric justru mengingat detail kecil.
"Oma Ong suka teh apa?"
Eve terkejut. "Kenapa tanya?"
"Kalau suatu hari bertemu, saya tidak mau salah membawa."
Sendok Eve berhenti sebentar. Hal sederhana itu membuat matanya panas lagi, tetapi kali ini ia berhasil tersenyum.
Setelah makan, Eve menyeret satu paket besar dari kamar tamu. "Aku juga beli ini."
Edric menatap plastik Tokopedia itu dengan kewaspadaan seorang prajurit menghadapi benda mencurigakan.
"Apa?"
"Sprei."
Ia membukanya.
Pink.
Sangat pink.
"Kamar kamu terlalu kosong, seperti barak. Ini diskon lima puluh persen."
Edric memandang kain itu, lalu memandang Eve. "Kamar saya?"
"Kamar yang kamu pakai."
"Warnanya..."
"Bagus, kan?"
"Mencolok."
"Itu artinya bagus."
Maka malam itu, kamar Edric resmi kalah dari sprei pink. Eve memasangnya sambil mengomel karena pria itu terlalu tinggi tetapi tidak bisa memasang ujung seprai dengan benar. Edric mengikuti instruksi seperti prajurit teladan, hanya sesekali menatap ranjangnya sendiri dengan wajah orang yang menerima takdir kedua.
Setelah itu mereka duduk di sofa. Drama Korea menyala di televisi. Jakarta berkedip di luar kaca.
Di layar, tokoh perempuan bertemu pria asing di bandara, lalu menikah cepat demi balas dendam.
Eve mengunyah keripik. "Masa iya ketemu di bandara langsung nikah? Tidak masuk akal."
Edric tersedak air.
Eve menoleh. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Kamu sakit?"
"Saya sedang menghadapi ironi."
Eve baru sadar beberapa detik kemudian. Pipinya memerah. "Kita beda. Kita punya alasan."
"Tentu."
"Jangan tertawa."
"Saya tidak tertawa."
"Matamu tertawa."
Edric menunduk, tetapi bahunya bergerak sedikit.
Malam makin larut. Setelah mencuci piring bersama, Eve masuk kamar untuk mandi. Saat keluar, ia melihat Edric berdiri di lorong antara dua kamar. Lampunya redup, membuat wajahnya lebih tenang dari biasanya.
"Selamat malam," kata Eve.
"Eve."
Ia berhenti.
Jarak mereka kurang dari setengah langkah. Edric tidak bergerak, tetapi tatapannya turun sebentar ke bibirnya, lalu kembali ke mata. Eve mendengar detak jantungnya sendiri, terlalu keras untuk lorong yang sunyi.
Ia hampir maju.
Hampir.
Namun kenangan Rangga, Catatan Sipil, dan semua yang terjadi terlalu cepat menariknya mundur di detik terakhir.
"Selamat malam, Edric."
Suaranya lebih pelan dari niatnya. Ia masuk kamar, menutup pintu, lalu bersandar di sana dengan telapak tangan di dada.
Di luar, Edric juga bersandar pada dinding. Ia memejamkan mata sebentar.
Setengah jam kemudian, Eve keluar untuk mengambil air. Lampu ruang tamu masih menyala. Edric duduk di sofa, di depannya ada dua kotak kecil.
"Kamu belum tidur?"
"Belum."
"Apa itu?"
Edric membuka kotak pertama.
Di dalamnya ada cincin platinum sederhana. Bukan perhiasan mewah seperti GEMMA. Tidak mencuri perhatian. Justru karena itu terlihat lebih serius. Di bagian dalam terukir tanggal mereka mendaftarkan pernikahan.
Eve duduk pelan. "Kapan kamu beli?"
"Hari kita daftar di Catatan Sipil. Setelah keluar, saya pesan."
"Kamu sudah pesan saat aku masih bingung dengan hidupku?"
"Saya tidak bingung."
Eve menatapnya. Matanya mulai panas.
Edric mengambil tangan kirinya. Cincin lama yang ia pasangkan saat Eve mabuk diganti dengan cincin baru yang ukurannya pas. Saat lingkaran dingin itu masuk ke jari, Eve merasa sesuatu di dalam dirinya ikut terkunci, bukan terjebak, melainkan ditambatkan.
"Eve," kata Edric, "seorang prajurit menikah hanya sekali seumur hidup. Di kartu keluarga saya, hanya ada cerai mati. Tidak ada perceraian."
Air mata Eve jatuh.
Ia dan Rangga bersama tiga tahun. Selama itu, ia menerima alasan, penundaan, janji yang selalu memakai kata nanti. Pria di depannya baru ia kenal beberapa hari, tetapi memberi tanggal, cincin, dan kalimat yang beratnya seperti seumur hidup.
"Kamu tahu itu menakutkan?" bisiknya.
"Saya tahu."
"Aku belum siap percaya sejauh itu."
"Tidak apa-apa. Saya tunggu."
Eve menangis lebih banyak karena kalimat itu.
Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengambil cincin kedua dari kotak, memegang tangan Edric, lalu memasangkannya. Jari pria itu hangat. Saat cincin itu terpasang, mata Edric berubah dengan cara yang membuat Eve harus menunduk.
Malam itu, Eve berbaring di kamar dengan selimut sampai dagu. Ia menatap cincin di tangannya berkali-kali. Lalu membuka WhatsApp.
Dan, kayaknya aku mulai suka sama suamiku.
Balasan Dan datang kurang dari sepuluh detik.
SIAPA?! SUAMI?! APA?!
Eve menutup mulut agar tawanya tidak terdengar keluar kamar.
Di ruang tamu, Edric duduk sendirian, memandang cincin di jarinya.
Untuk seorang pria yang biasa menang dalam perang dan rapat, malam itu ia merasa kalah dengan sangat rela.
Ponsel Eve bergetar lagi.
Dan: Jelaskan. Sekarang.
Eve mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.
Besok. Aku sendiri masih belajar mengerti.
Balasan Dan kali ini lebih lama.
Dan: Dia baik sama kamu?
Eve menatap pintu kamar. Di luar sana, pria yang sama sedang duduk sendirian setelah memberinya cincin dan janji seumur hidup.
Eve: Iya.
Dan: Kalau dia bikin kamu nangis, aku pukul.
Eve tersenyum di balik selimut.
Eve: Aku sudah nangis. Tapi bukan karena dia jahat.
Setelah mengirim pesan itu, ia meletakkan ponsel di dada. Untuk pertama kalinya sejak putus dari Rangga, air matanya tidak terasa seperti kekalahan.