Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 : Bayang - Bayang di Sempadan Selatan
Pembersihan Sisa-Sisa Badai
Sinar matahari pagi membias lembut menembus jendela kaca patri Istana Oakhaven yang baru saja diganti. Sisa-sisa bau darah dan uap sihir kehitaman yang semalam memenuhi Aula Matahari kini telah berganti dengan wangi asap dupa lavender dan minyak kayu cendana yang dibakar oleh para pelayan istana. Kendati lantai marmer telah digosok hingga mengilat kembali, jejak-jejak pertempuran dahsyat semalam masih tersisa berupa goresan mendalam di pilar-pilar batu serta bendera-bendera berkain beludru yang terkoyak.
Aurelia berdiri di balkon utama menara kediaman kerajaan, memandang ke arah alun-alun kota Oakhaven di bawah sana. Pasukan berkuda dari Varencia yang mengenakan zirah perak berpelat es nampak berpatroli secara teratur di jalan-jalan utama, berdampingan dengan sisa-sisa Garda Kerajaan Oakhaven yang telah disumpah setia kembali kepada Raja Alistair. Warga kota yang sebelumnya bersembunyi di balik pintu-pintu kayu yang terkunci rapat kini perlahan-lahan mulai keluar, memenuhi pasar-pasar dan menyuarakan rasa syukur mereka atas tumbangnya pemerintahan tiran Duke Valerius.
Sebuah jubah hangat berbahan bulu serigala es mendarat perlahan di atas pundak Aurelia, menyalurkan kehangatan instan yang familiar. Tanpa menoleh pun, Aurelia tahu siapa yang berdiri di belakangnya.
"Angin pagi di Selatan mungkin terasa hangat bagi pasukanku, tetapi bagimu yang baru saja pulih dari ketegangan semalam, udara ini masih bisa membuatmu demam, Aurelia," suara Cassian terdengar lembut di dekat telinganya.
Aurelia menyandarkan kepalanya ke dada bidang Cassian, menghirup aroma khas suaminya—perpaduan antara salju segar, kayu pinus, dan sedikit aroma besi dari zirahnya. "Aku hanya masih merasa seperti bermimpi, Cassian. Semalam kita berjuang di antara hidup dan mati di kamar peraduan Ayah, dan pagi ini... Oakhaven kembali bernapas."
"Ini bukan mimpi," jawab Cassian seraya melingkarkan lengannya di pinggang Aurelia. "Kerajaanmu telah kembali ke tangan pemilik yang sah. Namun, ini barulah awal dari pekerjaan besar kita untuk memulihkan seluruh negeri."
*•*
*•*
Gulungan Kulit Hitam dan Rahasia Valerius
Langkah kaki yang tergesa-gesa memecah kedamaian mereka berdua. Panglima Kaelen bersama beberapa prajurit kepercayaan Nightstalkers berjalan mendekati balkon dengan membawakan sebuah peti kayu jati berukir yang telah dibongkar paksa pakunya.
"Yang Mulia Pangeran, Yang Mulia Putri," Panglima Kaelen memberi hormat dengan menundukkan kepala secara khidmat. "Kami telah menggeledah seluruh ruang kerja rahasia milik Valerius di menara bawah tanah. Di balik ruang penyimpanan barang antik, kami menemukan peti rahasia ini. Tampaknya Valerius menyembunyikan korespondensi paling pentingnya di sini."
Cassian dan Aurelia melangkah kembali ke dalam ruangan. Cassian mengambil sebuah gulungan kulit binatang berwarna hitam pekat yang tersegel dengan lilin berstempel tengkorak melingkar—lambang dari Kultus Darah Hitam yang terlarang.
Dengan satu gerakan cepat belatinya, Cassian merusak segel lilin tersebut dan membuka gulungan kulit itu di atas meja kayu oak. Aurelia mendekatkan dirinya, membacakan baris demi baris tulisan tangan yang terukir dengan tinta merah darah di atas lembaran tua tersebut.
"'Kepada Valerius, Penguasa Sementara Oakhaven,'" Aurelia membaca dengan suara bergetar pelan. "'Kesepakatan kita tetap berlaku. Begitu kau berhasil menghabisi Alistair dan mengamankan Putri Aurelia untuk dikorbankan dalam Ritual Gerhana, benteng perbatasan Selatan akan dibuka untuk pasukan ekspedisi kami. Seluruh wilayah Lembah Obsidian akan menjadi milikmu, sementara takdir benua ini akan ditentukan oleh Sang Tuan Kegelapan Malakor.'"
Mata Cassian menyipit tajam, matanya berkilat bagai es yang menyerap cahaya. "Malakor... Lord Malakor dari Benteng Obsidian. Jadi kecurigaan ayahku di Varencia selama ini benar. Valerius tidak bertindak sendirian. Dia hanyalah sebuah bidak kecil di papan catur yang dimainkan oleh kekuatan yang jauh lebih gelap dari perbatasan selatan."
"Lembah Obsidian?" tanya Aurelia, wajahnya berubah agak pucat. "Itu adalah wilayah perbatasan paling liar di ujung selatan Oakhaven. Tempat itu dipenuhi oleh jurang-jurang terjal dan benteng tua yang terbengkalai sejak Perang Tiga Kerajaan seratus tahun lalu. Jika sekutu Valerius berkumpul di sana, artinya mereka sedang membangun kekuatan tempur yang sangat besar!"
"Dan jika mereka mendengar kabar bahwa Valerius telah tewas dan rencananya gagal, mereka tidak akan tinggal diam," tambah Panglima Kaelen dengan nada berat. "Lord Malakor pasti akan bergerak cepat untuk menyerang Oakhaven sebelum pasukan Varencia dan Oakhaven sempat berkonsolidasi sepenuhnya."
*•*
*•*
Dewan Perang di Aula Matahari
Beberapa jam kemudian, Aula Matahari yang megah kembali dipenuhi oleh para bangsawan senior, jenderal perang, dan tetua Oakhaven yang telah menyatakan kesetiaan kembali kepada mahkota. Di puncak singgasana, Raja Alistair duduk dengan jubah kebesarannya. Kendati masih harus ditopang oleh bantal-bantal tebal dan dipandu oleh tabib istana, keberadaan sang Raja membawa aura ketenangan dan wibawa yang luar biasa di dalam ruangan.
Di sebelah kanan singgasana, Cassian dan Aurelia berdiri sejajar. Kedudukan mereka berdua bukan lagi sekadar sebagai Pangeran Utara dan Putri Selatan, melainkan sebagai pasangan penguasa yang telah teruji dalam api pertempuran.
"Para bangsawan dan jenderal Oakhaven," Raja Alistair membuka suara, suaranya yang dalam bergema di seluruh ruangan yang tinggi. "Pengkhianatan Valerius telah mencoreng kehormatan tanah air kita. Namun, berkat keberanian Putri Aurelia dan bantuan yang tak terhitung harganya dari Pangeran Cassian serta prajurit Varencia, Oakhaven berhasil diselamatkan dari kehancuran total."
Para bangsawan menundukkan kepala mereka serentak, menyuarakan penghormatan mereka. Salah seorang tetua dewan, Lord Roderick, melangkah maju.
"Yang Mulia Raja," kata Lord Roderick dengan khidmat. "Kami rakyat Oakhaven berutang nyawa kepada Pangeran Cassian dan pasukan Kerajaan Utara. Namun, kabar angin menyebutkan bahwa sisa-sisa pasukan pemberontak dan sekutu gelap Valerius dari perbatasan selatan mulai bergerak menuju ibu kota. Apa tindakan kita selanjutnya?"
Cassian melangkah maju satu langkah, menarik perhatian seluruh hadirin di dalam aula. Ketegasan pada wajah pemuda Utara itu memancarkan karisma alami seorang raja masa depan.
"Kita tidak akan menunggu mereka menyerang ibu kota ini!" tegas Cassian, suaranya memotong keraguan di dalam ruang perundingan. "Bertahan di balik dinding istana hanya akan memberi Lord Malakor waktu untuk mengumpulkan lebih banyak monster dan sihir hitam di Lembah Obsidian. Kita harus mengambil inisiatif. Kita akan membawa pasukan gabungan Varencia dan Oakhaven langsung ke jantung kekuatan mereka di Selatan!"
Sorak setuju bergema dari para jenderal perang Varencia dan perwira Oakhaven. Semangat tempur yang sempat padam di bawah kekuasaan tiran Valerius kini membara kembali.
Aurelia memandang ke arah ayahnya, lalu mengangguk mantap. Ia melangkah ke samping Cassian, menggenggam erat tangan suaminya di hadapan seluruh Dewan Kerajaan.
"Aku sendiri yang akan memimpin pasukan Oakhaven bersama Cassian," umum Aurelia dengan lantang, mengejutkan beberapa bangsawan tua. "Sebagai putri dari Oakhaven dan Ratu masa depan dari persekutuan kita, aku tidak akan bersembunyi di balik benteng ini sementara rakyat dan prajurit kita mempertaruhkan nyawa mereka demi masa depan benua ini."
Raja Alistair menatap putrinya dengan rasa bangga yang luar biasa. "Maka biarlah keputusannya ditetapkan. Panji Mawar Emas Oakhaven dan Panji Serigala Es Varencia akan berkibar berdampingan dalam Ekspedisi Selatan!"
*•*
*•*
Janji di Bawah Menara Mawar
Malam harinya, sebelum keberangkatan pasukan besar esok subuh, Aurelia dan Cassian berjalan di sepanjang koridor Taman Rahasia Ratu. Bunga-bunga mawar putih yang sebelumnya mengering dan layu kini mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan kembali setelah disiram dan dirawat oleh para tukang kebun istana, seolah merespons energi positif yang kembali ke istana tersebut.
Angin malam berembus perlahan, membawa aroma kelopak mawar yang bermekaran. Cassian menghentikan langkahnya di dekat kolam marmer, memegang kedua bahu Aurelia dan menatap dalam-dalam ke dalam manik mata kecokelatan istrinya.
"Aurelia," bisik Cassian, suaranya sarat dengan kehangatan yang sangat kontras dengan pembawaannya yang dingin di depan para jenderal. "Di perbatasan Selatan nanti, pertempuran yang akan kita hadapi tidak akan seperti pertarungan di istana ini. Lord Malakor adalah ahli sihir kegelapan yang telah hidup selama ratusan tahun. Perjalanan menuju Benteng Obsidian dipenuhi dengan marabahaya."
Aurelia tersenyum tipis, merawat pipi Cassian dengan jemarinya yang halus. "Aku tahu, Cassian. Saat pertama kali kau membawaku ke Varencia dalam ikatan pertunangan kita, aku hanyalah seorang putri manja yang ketakutan. Tapi berdiri di sisimu, melewati dinginnya Frosthelm, dan bertarung bersama di kamar Ayah... aku menyadari bahwa takdir telah menempa kita berdua untuk perjalanan ini."
Cassian menarik Aurelia ke dalam pelukannya yang erat, mencium keningnya dengan penuh kelembutan dan tekad yang tak tergoyahkan. "Apapun yang menanti kita di Lembah Obsidian—entah itu kegelapan, sihir hitam, atau pasukan monster—aku bersumpah atas nama leluhur Varencia bahwa aku akan selalu bertarung di depanmu dan melindungimu hingga napas terakhirku."
"Dan aku akan menjadi pedang serta perisaimu, Cassian," janji Aurelia lembut. "Kita akan menghadapi Lord Malakor bersama-sama, merebut kedamaian sejati bagi Oakhaven dan Varencia “
Di bawah naungan bintang-bintang malam Oakhaven yang terang, pasangan suami istri itu berdiri tegak, menyatukan tekad dan cinta mereka untuk menghadapi pertempuran terbesar yang akan menentukan nasib seluruh benua.
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*
ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"