NovelToon NovelToon
Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:25.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.

Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.

Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.

Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.

Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Jumat sore, Keira kembali ke Kantor Biro Khusus dengan kepala yang jauh lebih jernih daripada hari sebelumnya.

Alasannya sederhana dan sangat tidak sederhana.

Semalam ia kembali ke Suite 501.

Ia tidur sambil memegang tangan Edric Liem.

Dan untuk kedua kalinya, dunia diam.

Keira tidak pernah menyangka bahwa tidur bisa terasa seperti minum air setelah berjalan di gurun. Pagi tadi ia bangun sebelum subuh, pulang sebelum Mansion benar-benar hidup, lalu menghabiskan hari dengan mata yang tidak lagi merah seperti hantu ujian akhir.

Ko Kevin tidak banyak bertanya.

Itu hampir lebih menakutkan daripada interogasi.

Sekarang, di ruang pertemuan Biro Khusus, Pak Direktur hanya muncul sebentar untuk menyambutnya.

"Anggota yang ingin bertemu kamu sudah menunggu," katanya.

"Siapa?"

Pak Direktur menatap pintu kaca buram di ujung ruangan. "Dia lebih suka memperkenalkan diri sendiri."

Pintu itu terbuka.

Keira langsung berdiri.

Perempuan yang masuk memakai kebaya sederhana warna hijau lumut, selendang tipis, dan sandal datar. Rambutnya disanggul rapi. Wajahnya muda, tetapi matanya membuat ruangan terasa lebih tua.

Ratih Kusumawardani.

Gadis singkong bakar dari tepi jalan.

Orang yang pernah memberinya puisi empat baris dan menghilang seolah Jakarta punya pintu rahasia.

Yang lebih penting, benda-benda di tubuh Ratih tetap diam.

Selendangnya diam. Jepit rambutnya diam. Sandalnya diam. Bahkan gelang kecil di pergelangan tangannya diam dengan cara yang membuat Keira merinding.

Di ruangan penuh kursi, meja, dan AC yang biasanya rajin berkomentar, area di sekitar Ratih seperti lingkaran air tenang.

Ratih menatap Keira sebentar, lalu berkata, "Kemampuannya nyata. Tidak perlu diuji lagi."

Pak Direktur menghela napas, seolah mendapat cap resmi dari lembaga yang lebih tua daripada negara.

"Baik. Kalau begitu, saya tinggalkan kalian." Ia menoleh ke Kevin. "Jangan ganggu kecuali dipanggil."

Ko Kevin menunjuk dirinya sendiri. "Saya bahkan belum bicara."

"Itu bentuk gangguan."

Kevin mengangkat tangan tanda menyerah, lalu keluar bersama Pak Direktur. Pintu tertutup.

Keira dan Ratih tinggal berdua.

Ratih duduk di kursi seberang, gerakannya pelan. "Kamu masih menyimpan kertas itu?"

Keira mengeluarkan kertas kecil dari dompetnya. Lipatannya sudah mulai halus karena terlalu sering disentuh.

Ia membacanya dalam hati, tetapi suara Ratih terdengar seolah mengiringi.

Langit ungu kehilangan satu bintang cahaya,

Jiwa masuk ke taman fana dan kembali utuh.

Bukan angsa tersesat yang singgah di sarang asing,

Rembulan ini sejak dulu memang milik langit ini.

Keira meletakkan kertas itu di meja.

"Apa maksudnya?"

Ratih menatap kertas itu, lalu menatap Keira. "Kamu selama ini mengira dirimu orang asing yang masuk ke tubuh orang lain."

Keira tidak menjawab.

Tenggorokannya mendadak kering.

Ia tidak pernah mengucapkan ketakutan itu keras-keras kepada siapa pun. Tidak kepada Mei Lin. Tidak kepada Ko Kevin. Tidak kepada Edric. Bahkan kepada dirinya sendiri pun, ia selalu memakai istilah yang lebih rapi.

Datang ke dunia ini.

Masuk ke cerita.

Mengubah takdir.

Tetapi di dasar semuanya ada ketakutan yang tidak pernah tidur.

Apakah ia mencuri hidup seseorang?

Apakah rasa sakit Keira asli hanya menjadi alasan baginya untuk tinggal?

Ratih berkata pelan, "Kamu bukan pencuri tubuh."

Napas Keira berhenti.

"Kamu adalah jiwa yang sama. Hanya pernah terpecah."

Ruangan itu sangat sunyi.

Kursi di bawah Keira tidak bicara. Meja tidak bicara. Entah karena Ratih, entah karena kalimat itu terlalu besar untuk disela benda apa pun.

"Sebagian dirimu hidup di dunia yang kamu ingat sebagai asalmu," lanjut Ratih. "Sebagian dirimu tetap di sini, menanggung hidup yang keras, menanggung keluarga Santoso, menanggung rasa ditinggalkan. Saat kamu datang, dua bagian itu menyatu."

Keira menggenggam ujung meja.

"Jadi... dia?"

"Kamu."

"Ingatan dan emosinya?"

"Kamu."

"Rasa sakit saat Gunawan mengusirku hujan-hujan?"

Mata Ratih melembut. "Kamu."

Kata itu menghantam lebih dalam daripada yang Keira kira.

Ia selalu marah untuk "Keira yang lama". Selalu berkata pada diri sendiri bahwa ia membalas demi gadis malang yang tubuhnya ia pinjam, demi pemilik asli yang terlalu banyak disakiti.

Ternyata tidak ada gadis lain yang perlu dipisahkan dari dirinya.

Semua malam di rumah Santoso.

Semua meja makan tempat ia diabaikan.

Semua kalimat Alvin.

Semua senyum Seline yang menusuk dari balik wajah lembut.

Semua itu terjadi pada dirinya.

Bukan kepada orang asing.

Kepada Keira.

Kepada dirinya sendiri.

Matanya panas.

Ratih tidak menghibur dengan kalimat kosong. Ia hanya menunggu, tenang seperti orang yang tahu beberapa luka harus diberi ruang untuk bernapas.

"Kenapa aku punya ingatan dunia lain?" tanya Keira akhirnya.

"Karena dua dunia itu sama nyata." Ratih menyentuh kertas puisi dengan ujung jari. "Jangan paksa dirimu memilih mana yang palsu. Manusia suka memotong kenyataan agar mudah dimengerti. Jiwa tidak sependek itu."

Keira tertawa kecil, tetapi suaranya bergetar. "Jawabanmu selalu seperti teka-teki."

"Kalau terlalu sederhana, kamu tidak akan percaya."

Itu benar.

Keira menunduk lama.

Rasa bersalah yang selama ini menempel di dasar dadanya tidak langsung hilang. Namun bentuknya berubah. Ia bukan lagi batu hitam yang menekan, melainkan pintu yang dibuka dari dalam.

Ia bukan tamu.

Ia pulang.

Kalimat itu tidak membuat masa lalu menjadi ringan. Hujan malam itu tetap dingin. Tatapan Gunawan tetap tajam. Suara pintu Santoso yang tertutup tetap menyakitkan. Tetapi sekarang, ketika Keira mengingat semuanya, ia tidak lagi berdiri di luar rasa sakit itu sebagai saksi.

Ia berada di pusatnya.

Dan anehnya, justru karena itu, ia merasa lebih utuh.

Ketika Keira keluar dari ruang pertemuan, Ko Kevin langsung berdiri dari kursi tunggu.

"Kamu pucat," katanya.

Keira menatap kakaknya. Untuk sesaat, ia hampir ingin menyimpan semuanya sendiri. Tetapi Kevin adalah orang pertama di keluarga ini yang percaya kemampuan mustahilnya tanpa syarat.

Jadi ia bercerita dalam perjalanan pulang.

Tidak semua detail. Tidak nama dunia lain. Tidak struktur rumit yang bahkan ia sendiri belum paham sepenuhnya. Tetapi cukup agar Kevin mengerti satu hal.

Keira bukan mengambil hidup siapa pun.

Keira adalah Keira.

Ko Kevin mendengarkan tanpa menyela. Setelah mobil berhenti di depan Mansion, ia hanya berkata, "Kalau begitu, mereka menyakitimu dua kali. Dulu, dan saat kamu harus merasa bersalah karena bertahan hidup."

Kalimat itu membuat dada Keira kembali sesak.

Ia turun dari mobil dan menatap rumah Tanuwijaya yang terang, hangat, dan tidak pernah menjadi milik Santoso.

Di tempat lain, Gunawan mungkin masih merasa dirinya ayah yang pernah dikhianati anak.

Alvin mungkin masih merasa malu karena ditinggalkan adik yang dulu bisa ia injak.

Seline mungkin masih percaya semua luka bisa ditutup dengan wajah polos.

Keira menggenggam kertas puisi di saku.

Sekarang ia tahu.

Semua yang mereka lakukan bukan terjadi pada "Keira lama".

Semua itu terjadi padanya.

Dan ia tidak akan memaafkan.

1
lin sya
kluarga gk tahu malu, stlh tau kbnarannya ngomong ttg kluarga. pdhl dulu kei anak yg diabaikan dan disakitin. skrg dtg dgn tmpg gk brsalah🤭
Dey77
baru awal baca,
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!