Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.
Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:
[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]
Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.
Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.
Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.
Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?
Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20: Engkong Datang Lagi
Tugas berikutnya: tulis surat cinta untuk partner kalian.
Dua minggu setelah Bu Ratna menjatuhkan kalimat itu seperti bom akademik, Keira masih belum menemukan cara menulis surat cinta yang terdengar ilmiah.
Ia duduk di meja kamarnya pada Sabtu siang, laptop terbuka, dokumen kosong menatap balik.
`Untuk Xavier,`
Ia mengetik dua kata itu.
Menghapusnya.
`Dear partner observasi,`
Lebih buruk.
Menghapus lagi.
Keira menutup wajah. "Bu Ratna, ini bukan pedagogi. Ini percobaan pembunuhan."
Di meja, Nokia tua diam. Mungkin sistem juga ingin tahu bagaimana Keira akan mempermalukan diri sendiri lewat tugas cinta.
Bel pintu berbunyi.
Keira mengira itu kurir. Ia membuka pintu dengan rambut dicepol asal, kaus longgar, dan wajah orang yang baru kalah dari dokumen kosong.
Di depan pintu, Engkong berdiri sambil tersenyum lebar.
"Keira!"
Keira membeku.
Di belakang Engkong ada sopir yang sama, membawa paper bag besar dan kotak kue. Dari unit seberang, pintu Xavier terbuka hampir bersamaan. Xavier muncul dengan wajah seseorang yang baru menyadari bencana keluarga berulang.
"Engkong?"
"Kalian berdua kompak sekali buka pintu." Engkong tampak sangat puas. "Bagus."
Keira, yang dulu hampir panik saat Engkong pertama datang, kini hanya menarik napas, menutup pintu unitnya sebentar untuk mengambil cardigan, lalu kembali keluar.
"Engkong datang dari Jakarta lagi?"
"Iya. Engkong kangen."
Xavier mengambil paper bag dari sopir. "Engkong bisa bilang dulu."
"Kalau bilang, nanti kamu menyiapkan alasan."
"Alasan apa?"
"Alasan untuk tidak membiarkan Keira menemani Engkong ngobrol."
Keira hampir tertawa. Xavier meliriknya, seolah meminta bantuan. Anehnya, kali ini tatapan itu tidak membuatnya panik. Mereka sudah pernah melewati cek lima miliar. Kunjungan mendadak tampak lebih mudah dibanding angka nol yang terlalu banyak.
"Saya sedang kosong, Engkong," kata Keira. "Boleh ngobrol."
Wajah Engkong bersinar. "Nah. Lihat, Xav? Pacarmu lebih sopan."
Kata `pacar` masih membuat dada Keira tersenggol, tetapi ia tidak lagi tersandung karenanya. Xavier juga tidak buru-buru membantah. Ia hanya membuka pintu lebih lebar.
"Masuk dulu."
Di dalam apartemen Xavier, suasana bergerak lebih lancar daripada kunjungan pertama. Keira tahu di mana letak gelas. Ia tahu Mochi akan mencoba masuk ke paper bag jika tidak diawasi. Ia tahu Xavier menyimpan teh hangat di kabinet atas, dan ia tahu Engkong suka duduk di sofa panjang dekat jendela.
Saat Xavier menaruh kotak kue di meja, Keira otomatis mengambil piring kecil dari dapur.
Xavier menoleh. "Piringnya di..."
"Rak kanan atas. Aku tahu."
Kalimat itu keluar biasa saja.
Baru setelah Engkong tertawa kecil, Keira sadar kalimat itu terlalu akrab.
"Wah," kata Engkong, matanya berbinar. "Sudah hafal dapur Xav."
Keira hampir menjatuhkan piring.
Xavier menutup laci dengan tenang. "Dia sering jaga Mochi."
"Mochi saja bisa memilih orang baik."
Mochi, yang baru disebut, melompat ke sofa dan duduk di samping Keira seolah mengonfirmasi.
Engkong makin puas.
Mereka makan kue lapis legit yang dibawa Engkong. Keira mengambil potongan kecil karena perutnya tidak selalu bisa diajak kompromi. Xavier langsung menggeser gelas air hangat lebih dekat ke arahnya tanpa menghentikan percakapan dengan Engkong.
Gerakan itu kecil.
Tetapi Engkong melihat.
"Xav sekarang perhatian ya."
Xavier menatap kue. "Aku selalu perhatian."
"Dulu kamu perhatian sama nilai, buku, sama kucing. Sekarang ada manusia."
Keira menunduk, pura-pura sibuk mengusap Mochi. Pipinya panas.
Engkong bertanya tentang kuliah, tentang pameran Keira, tentang kelas yang mereka ambil bersama. Xavier menjawab sebagian, Keira menambahkan ketika Xavier terlalu hemat kata.
"Bu Ratna suka tugas aneh," kata Keira.
"Tugas apa?"
Xavier menatap Keira. Keira menatap Xavier. Surat cinta melayang di antara mereka seperti hantu kertas.
"Observasi," jawab mereka hampir bersamaan.
Engkong memicingkan mata. "Kenapa kompak begitu?"
"Karena benar," kata Xavier.
"Karena trauma," tambah Keira.
Engkong tertawa. "Bagus. Pasangan harus bisa punya trauma bersama."
"Engkong," Xavier memperingatkan.
"Apa? Itu nasihat pernikahan."
Keira tersedak air.
Xavier langsung menyodorkan tisu. "Pelan-pelan."
"Aku baik," kata Keira cepat, tetapi mengambil tisu itu.
Lagi-lagi, Engkong melihat.
Makin lama, Keira menyadari sesuatu yang membuatnya takut sekaligus hangat: ia tidak perlu berpikir keras untuk memainkan peran. Saat Engkong bertanya apakah Xavier makan teratur, ia menjawab sebelum Xavier bisa membantah. Saat Engkong ingin tahu apakah Xavier masih terlalu banyak minum kopi, Keira berkata, "Masih, tapi sudah berkurang." Saat Xavier bilang Keira sering lupa makan kalau menggambar, Keira membalas, "Karena seseorang suka datang membawa bubur seperti satpam gizi."
Mereka terdengar seperti dua orang yang benar-benar saling memperhatikan.
Bukan seperti sandiwara.
Engkong bersandar di sofa, senyumnya lembut. "Engkong senang lihat kalian begini."
Keira berhenti mengusap Mochi.
Xavier juga tidak langsung menjawab.
"Xav dari kecil pendiam," lanjut Engkong. "Kalau suka sesuatu, dia simpan sendiri. Kalau sedih, juga simpan sendiri. Engkong selalu khawatir nanti dia terlalu pintar menjaga jarak sampai lupa cara membiarkan orang masuk."
Suara ruang tamu mendadak mengecil.
Xavier menatap meja, rahangnya sedikit mengeras. Keira melihat itu dan tanpa berpikir menggeser piring kue menjauh dari Mochi yang mulai mengendus, memberi Xavier beberapa detik untuk tidak menjawab.
"Tapi sekarang," kata Engkong, menatap Keira, "Engkong lihat dia tidak sendirian."
Keira merasa ada sesuatu menyentuh bagian paling lembut di dadanya.
Ia ingin berkata, Engkong, ini tidak seperti yang Engkong pikirkan.
Tetapi jika ia mengatakan itu, mengapa dadanya terasa sakit?
Engkong tiba-tiba mengambil HP dari saku kemejanya. "Foto dulu."
Xavier langsung mengangkat kepala. "Engkong."
"Apa? Engkong mau simpan foto. Masa punya calon cucu menantu tidak boleh foto?"
Keira hampir menelan udara. "Engkong, saya belum siap."
"Kamu sudah cantik. Xav yang biasanya tidak siap difoto."
"Aku memang tidak mau difoto," kata Xavier.
"Makanya harus dipaksa."
Engkong menyerahkan HP kepada sopir yang sejak tadi menunggu di dekat pintu dengan sabar. "Tolong fotokan."
Keira berdiri kaku di samping sofa. Xavier berdiri di sebelahnya, jarak mereka terlalu sopan untuk pasangan. Engkong langsung menggeleng.
"Dekat sedikit. Kalian ini pacaran atau antre administrasi?"
Sopir menunduk, bahunya bergetar menahan tawa.
Keira melangkah setengah jengkal. Xavier juga. Bahu mereka hampir bersentuhan. Keira bisa mencium aroma sabun dari kaus Xavier, bersih dan familiar. Ketika ia tidak tahu harus menaruh tangan di mana, Xavier bergerak lebih dulu. Tangannya berhenti sebentar di udara, meminta izin tanpa suara.
Keira mengangguk sangat kecil.
Baru setelah itu Xavier meletakkan tangan ringan di belakang bahunya. Tidak merangkul penuh. Hanya cukup untuk membuat foto itu terlihat wajar dan membuat jantung Keira lupa tata krama.
"Senyum," kata Engkong.
Keira tersenyum.
Xavier tidak.
"Xav."
"Aku sudah."
"Itu bukan senyum. Itu tanda tangan digital."
Keira tertawa. Xavier menoleh padanya, dan saat itulah sopir memotret. Di layar HP, hasilnya bukan pose rapi. Keira tertawa sambil menunduk sedikit, Xavier menatapnya dengan sudut bibir yang akhirnya naik.
Engkong melihat foto itu dan terdiam sejenak.
"Nah," katanya lebih pelan. "Ini bagus."
Keira melihat sekilas dari samping. Dadanya langsung bergetar. Foto itu terlihat terlalu benar.
Terlalu mudah dipercaya.
Setelah foto, Engkong makin semangat bertanya. "Pertama kali jalan berdua ke mana?"
Keira dan Xavier sama-sama menjawab, "Braga."
Mereka saling menatap.
Engkong menepuk lutut. "Kompak lagi."
"Itu karena memang kejadian," kata Xavier.
"Makan apa?"
"Pasta," jawab Keira.
"Dia makan yang tidak pedas," tambah Xavier otomatis. "Perutnya sensitif."
Kalimat itu keluar begitu natural sampai Keira tidak sempat menyiapkan wajah biasa. Engkong mendengarnya, lalu tersenyum dengan cara yang tidak menggoda. Lebih lembut. Lebih yakin.
"Xav ingat hal kecil begitu," katanya. "Bagus."
Xavier diam.
Keira menatap gelas airnya, dan untuk pertama kalinya siang itu, ia tidak tahu mana yang sandiwara dan mana yang bukan.
Sore menjelang ketika Engkong akhirnya bersiap pulang. Di lobi, sopir sudah menunggu. Kali ini tidak ada cek. Hanya kotak kue sisa yang dipaksa Engkong untuk dibawa Keira, dan nomor telepon Engkong yang akhirnya benar-benar ia simpan.
"Kalau Xav menyebalkan, telepon Engkong," kata Engkong.
Keira tersenyum. "Baik, Engkong."
"Jangan cuma baik-baik saja di depan dia. Kalau dia dingin, laporkan."
"Engkong," kata Xavier, "aku berdiri di sini."
"Bagus. Dengarkan juga."
Keira tertawa. Xavier menatapnya, dan untuk sesaat, ekspresi lelahnya melunak.
Sebelum masuk mobil, Engkong menarik Xavier sedikit menjauh. Keira tidak berniat mendengar, tetapi suara Engkong cukup jelas.
"Engkong percaya pilihanmu."
Xavier diam.
"Jaga dia. Bukan karena Engkong suka dia. Tapi karena kamu terlihat lebih hidup saat dia ada."
Xavier menatap Keira yang berdiri di dekat pilar lobi sambil memegang kotak kue. Ia sedang menunduk, berbicara pelan pada Mochi yang ikut dibawa turun dalam pelukan.
Sesuatu di dada Xavier bergerak lagi.
Kalau saja ini bukan sandiwara.
Pikiran itu datang terlalu jelas.
Mobil Engkong pergi tidak lama kemudian. Keira dan Xavier naik lift dalam diam. Tidak canggung, tetapi penuh sesuatu yang sulit diberi nama. Di lantai 16, Mochi melompat turun dan berjalan lebih dulu ke pintu Xavier.
Keira berhenti di depan unitnya sendiri. "Aku masuk dulu."
"Keira."
Ia menoleh.
Xavier berdiri di depan pintunya, satu tangan masih memegang kotak kue dari Engkong. Wajahnya serius, terlalu serius untuk kalimat yang ia ucapkan dengan nada seolah hanya bercanda.
"Kalau suatu hari..."
Keira menahan napas.
Xavier menatap matanya.
"Sandiwara ini jadi kenyataan, kamu mau tidak?"
Koridor lantai 16 mendadak sunyi.
Keira tahu seharusnya ia tertawa. Seharusnya ia membalas dengan candaan, menuduh Xavier kebanyakan makan lapis legit, atau mengingatkan bahwa Engkong sudah pulang jadi mereka boleh berhenti berakting.
Tapi mata Xavier tidak bercanda.
Jantung Keira melewatkan satu detak.