NovelToon NovelToon
Mawar di Pinggangnya

Mawar di Pinggangnya

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.

Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.

Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.

Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.

Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.

Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?

(148 kata Indonesia)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 027

Club Monarch

Rayhan tidak melarang Kiara pergi.

Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya malam itu justru, "Kalau ada yang berubah lagi, kamu kabari aku lebih dulu daripada Cici."

Kiara mengangguk, tetapi hatinya tidak lebih ringan.

Keesokan paginya, ia dan Cici berangkat dari Stasiun Kota Barat dengan koper kecil dan tas kerja. Rayhan mengantar sampai peron. Ia tidak banyak bicara. Justru karena itu, Cici yang biasanya cerewet ikut menjaga suara.

"Pak Rayhan," kata Cici sebelum naik, nadanya setengah bercanda setengah sungguh. "Saya jaga Ki. Kalau dia mode detektif, saya tarik rambutnya."

Kiara menoleh tajam. "Cici!"

Rayhan menatap Cici. "Tarik tangannya saja. Rambutnya jangan."

Cici berkedip, lalu berbisik ke Kiara, "Dia serius banget soal rambut lo."

Kiara tidak sempat menjawab karena Rayhan sudah menatapnya.

"Kabarin begitu sampai."

"Iya."

"Location sharing."

"Sudah nyala."

"Alarm pribadi?"

Kiara mengangkat tas selempang. "Di sini."

Rayhan menyerahkan paper bag kecil. "Roti dan air mineral. Jangan beli makanan sembarangan di kereta kalau belum lihat tempatnya."

Cici menerima dengan wajah serius yang jelas dibuat-buat. "Pak Rayhan, kalau ada formulir adopsi untuk teman perjalanan, saya siap tanda tangan."

Rayhan meliriknya. "Jaga dia dulu."

Rayhan akhirnya mengangguk. "Pergi."

Pergi.

Satu kata, tetapi Kiara mendengar hal lain di belakangnya. Aku izinkan. Aku takut. Pulang.

Di kereta menuju Kota Pelangi, Cici baru benar-benar meledak setelah mereka duduk.

"Ki, gue butuh oksigen. Interaksi kalian makin hari makin tidak sehat buat jantung orang luar."

"Jangan mulai."

"Dia bilang rambut lo jangan ditarik. Itu bukan kalimat tetangga biasa."

Kiara membuka laptop. "Aku mau baca bahan Reza."

"Pengalihan isu diterima, tapi tidak disetujui."

Sepanjang perjalanan, Kiara membaca ulang profil Reza. Mantan anggota STELLAR, solois yang sedang berusaha membangun citra bersih, wajah kampanye anti-narkoba, penggemar fanatik yang masih memperlakukannya seperti anak emas yang tidak boleh disentuh kritik. Semuanya terlihat rapi di dokumen redaksi.

Terlalu rapi.

Mereka tiba di Kota Pelangi menjelang siang. Hotel Grand Hyatt menjulang dengan kaca biru dan lobi yang wangi bunga mahal. Panitia memberi media pass, jadwal konferensi, dan voucher makan siang. Cici langsung sibuk memotret papan acara, sementara Kiara mengirim pesan ke Rayhan.

Kiara:

Sudah sampai hotel. Cici bersamaku.

Rayhan:

Makan dulu.

Kiara menatap layar, lalu tertawa kecil.

Cici mengintip. "Dia balas apa? Jangan bilang checklist lagi."

"Makan dulu."

"Ah, klasik."

Konferensi pers dimulai pukul dua. Reza muncul dengan blazer krem, senyum bersih, dan suara yang dibuat hangat untuk kamera. Ia berbicara tentang masa muda, tekanan industri hiburan, dan pentingnya menjauhi narkoba. Kalimatnya halus. Jeda emosinya tepat. Beberapa wartawan perempuan di barisan depan bahkan tersenyum malu saat ia menyapa.

Kiara mencatat tanpa ikut terseret.

Ada sesuatu yang berbeda dari Reza ketika lampu kamera menyala. Ia tampak seperti produk yang sudah dipoles. Tidak ada jejak tatapan lelah yang pernah Kiara lihat saat wawancara pertama.

Sesi media terbatas berlangsung di ruang kecil lantai tiga. Kiara mendapat kesempatan bertanya dua kali. Reza menjawab dengan lancar, lalu tiba-tiba menoleh langsung padanya.

"Mbak Kiara jauh-jauh dari Kota Barat lagi," katanya, masih tersenyum. "Saya tersanjung."

Beberapa wartawan menoleh.

Kiara menjaga nada profesional. "Kota Barat Post mengikuti isu kampanye publik, bukan hanya figur yang membawakannya."

Senyum Reza melebar sedikit. "Tajam seperti biasa."

Cici yang duduk di belakang kamera menggumam pelan, "Red flag pakai blazer."

Setelah sesi selesai, Mbak Yuni menghampiri mereka. Manajer Reza itu tampak rapi, tetapi matanya gelisah.

"Malam nanti media terpilih masuk Club Monarch pukul delapan," katanya. "Tidak lama. Hanya ambil suasana sponsor."

"Apakah semua area boleh diliput?" tanya Kiara.

"Area utama saja. Jangan naik ke lantai VIP kecuali dipanggil."

"Dipanggil siapa?"

Mbak Yuni tersenyum terlalu cepat. "Pihak sponsor."

Jawaban itu membuat pena Kiara berhenti.

Di kamar hotel, Cici melempar tubuh ke kasur sambil mengangkat kamera. "Gue nggak suka manajernya."

"Aku juga."

"Dan Reza sengaja banget nyebut nama lo di depan orang."

"Untuk bikin akrab?"

"Untuk bikin orang mikir kalian punya hubungan lebih dari narasumber-reporter."

Kiara membuka koper dan mengambil atasan hitam sederhana. Dress code black. Ia tiba-tiba merindukan ruang keluarga rumahnya, suara napas Kopi, dan Rayhan yang akan menyuruhnya makan sebelum memikirkan apa pun.

Ia mengirim pesan lagi.

Kiara:

Press conference selesai. Malam ke Club Monarch. Aku dan Cici tetap bersama.

Rayhan:

Jangan naik VIP.

Kiara:

Aku tahu.

Rayhan:

Kalau dipaksa, keluar.

Kiara:

Iya.

Cici melihat layar dari kasur. "Kak Rayhan punya radar bahaya."

"Dia polisi."

"Dan dia peduli sama lo."

Kiara tidak menjawab.

Club Monarch menyambut mereka dengan lampu gelap, musik terlalu keras, dan aroma parfum bercampur asap panggung. Media ditempatkan di area samping dengan minuman nonalkohol dan backdrop sponsor. Kiara menyalakan perekam suara untuk catatan suasana, bukan wawancara. Cici mengambil foto panggung, gelas mocktail, dan tamu yang tertawa terlalu keras.

Reza muncul pukul sembilan lewat, kali ini tanpa blazer krem. Kemeja hitamnya terbuka satu kancing lebih banyak, senyumnya lebih malas. Ia menyapa kamera, tetapi matanya sempat mencari sesuatu di kerumunan.

Saat menemukan Kiara, ia mengangkat gelas.

Kiara tidak membalas.

"Bagus," bisik Cici. "Jangan kasih bahan."

Sekitar setengah jam kemudian, seorang staf sponsor membagikan wristband tambahan.

"Untuk beberapa media," katanya. "Akses dokumentasi koridor atas. Tidak semua boleh naik."

Kiara memandangi wristband itu. "Bukankah tadi area utama saja?"

Staf itu tersenyum kaku. "Arahan baru."

Cici mencondongkan tubuh. "Ki, kita tolak aja?"

Sebelum Kiara menjawab, Mbak Yuni muncul dari arah tangga. Wajahnya tegang.

"Yang dapat wristband, naik sebentar. Foto suasana lounge. Lima menit."

"Apakah Bu Ratna sudah diberi tahu?" tanya Kiara.

"Ini bagian dari paket liputan," jawab Mbak Yuni cepat. "Kalau kalian tidak mau, media lain bisa ambil."

Cici mencengkeram kamera. "Ki."

Kiara menyalakan location sharing sekali lagi, memastikan statusnya aktif. "Kita naik berdua. Kalau ada yang aneh, turun."

Tangga menuju lantai atas lebih sepi. Musik berubah menjadi dentuman samar di bawah kaki. Koridor VIP berkarpet gelap, dengan pintu-pintu tertutup dan lampu kuning tipis di sepanjang dinding.

Mbak Yuni berjalan di depan, lalu berhenti ketika seorang pria berjas hitam membisikkan sesuatu padanya. Wajahnya langsung berubah pucat.

"Bukan sekarang," desisnya. "Masih banyak media."

Pria itu menjawab terlalu pelan untuk jelas, tetapi Kiara menangkap satu kata.

Barang.

Cici menoleh ke Kiara.

Mbak Yuni sadar mereka memperhatikan. "Toilet di ujung sana kalau perlu. Lounge sebelah kiri."

Kiara sebenarnya tidak perlu ke toilet.

Namun pintu di samping kanan koridor terbuka sedikit ketika pria berjas itu masuk. Dari celahnya, Kiara melihat Reza berdiri di dekat meja kaca, senyumnya hilang, tangannya gemetar kecil.

Lalu Mbak Yuni berbisik tajam dari dalam ruangan, "Cepat. Sebelum media naik semua."

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!